DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
..... .....


__ADS_3

Kereta kuda telah sampai di depan gerbang kediaman Yong. Segera para penjaga gerbang membuka lebar pintunya agar kereta kuda Yong Yan dapat masuk dengan mudah tanpa harus menunggu terlalu lama. Mereka masih sayang akan pekerjaan sehingga tidak berani lalai dalam tugasnya. Yong Yan segera turun, sebelumnya memerintahkan para pelayan menyiapkan paviliun samping sebagai tempat istirahat nona Chen selama disini.


Lu Hairan sendiri diam seribu bahasa semenjak di perjalanan. Yong Yan tidak ambil pusing, menurutnya lebih baik seperti itu daripada setiap saat mendengar ocehan memekakkan telinga yang tiada henti berdengung. Lu Hairan sendiri tidak ingin berlama-lama di sana bersama nona Chen. Lu Hairan segera berlari menyusul langkah Yong Yan. Melihat tingkah Lu Hairan, nona Chen sudah menebak apa yang akan di lakukan oleh Lu Hairan. Sebelum Lu Hairan melangkah terlalu jauh, nona Chen menghentikannya.


" Nyonya bagaimana anda bisa melupakan saya yang notabennya tamu disini. Jika saya berjalan sendiri kemungkinan akan tersesat, tempat ini masih asing untuk saya. Bisakah nyonya memimpin jalan untuk saya."


Yong Yan sendiri yang memang belum jauh segera terhenti mendengar suara nona Chen.


" Lu Hairan apa yang kau lakukan dengan berjalan mengikuti ku seperti ini. Bukankah kau seharusnya mengatur tempat untuk nona Chen. Kau ini sebagai nyonya rumah harus mampu melakukannya tanpa harus diminta. Tugas mu untuk mengatur kediaman belakang, jika tidak mampu serahkan saja urusan ini kepada ibu dan kau bisa bebas dari tanggung jawab."


" Tuan bukan seperti itu, saya hanya ingin mengantar tuan terlebih dahulu lalu selepasnya mengantarkan nona Chen. Tuan mohon jangan bahas urusan rumah di depan tamu. Jika sampai terdengar keluar, mereka akan mengatakan saya tidak berkompeten. Semua itu juga akan mempengaruhi citra tuan juga pada akhirnya."

__ADS_1


" Bagus ya kau mulai pandai berbicara" Yong Yan mulai merebak emosinya.


" Tuan, tuan, jangan marah. Baiklah saya akan menemani nona Chen berkeliling sebentar sebelum paviliun samping siap."


" Memang seharusnya." Lalu Yong Yan berlalu pergi.


Setelah kepergian Yong Yan, nona Chen berjalan dengan anggun mendekati Lu Hairan.


" Apa yang anda maksudkan tuan, sungguh saya tidak mengerti?" Sebenarnya Lu Hairan tahu jika nona Chen sudah membahas tentang Shuilin.


" Jangan berpura-pura bodoh di hadapan ku Hairan, jika kamu mau hidup mu tenang cukup turuti kataku jangan terus menerus membantah perintah ku. Kapan waktunya ku pastikan kau akan mati di tangan ku, jika tidak bisa ku andalkan. Camkan baik-baik."

__ADS_1


" Baik tuan."


" Seharusnya memang begitu, ingat kamu adalah budak saya. Turuti kata majikan, jangan bertingkah seenaknya. Kau telah mengacaukan rencana ku. Namun aku masih berbaik hati memberi kesempatan untuk mu. Jangan sampai kau bernasib sama seperti Shuilin."


" Shuilin, apa yang terjadi dengannya tuan?"


" Kau tidak pantas bertanya apapun."


Nona Chen berbicara yang mana hanya dapat didengar oleh Lu Hairan saja, nada ancaman dari nona Chen membuat Lu Hairan membatu. Lu Hairan langsung tidak mampu berkata-kata. Nona Chen mengabaikan Lu Hairan, sehingga nona Chen langsung berjalan meninggalkan Lu Hairan yang sedang mematung. Nona Chen tanpa harus di pandu jalannya pun sudah hapal betul tata letak kediaman Yong. Nona Chen langsung menuju paviliun samping, disaat bersamaan paviliun samping telah selesai di bersihkan. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, nona Chen langsung masuk dan membaringkan tubuhnya. Nona Chen menerawang jauh ke masa silam mengingat kehancuran keluarganya. Nona Chen bertekad akan mengobrak-abrik kediaman Yong lebih parah.


Nona Chen tidak peduli dengan nasib orang-orang di dalamnya. Yang terpenting balas dendam nya tercapai. Nona Chen tertidur dengan senyum mengembang diwajahnya.

__ADS_1


__ADS_2