
Kuncoro kembali datang berkunjung. Namun kali ini dirinya tak lagi sendiri. Bersama sang istri dirinya melangkah menuju lantai paling atas rumah sakit dimana kamar Ikbar berada.
Hanya ada 3 kamar disana namun tak ada orang lain yang mengisi karena lantai tersebut sudah dikhususkan untuk orang-orang yang menjaga Lidia dan Ikbar. Tentu saja semua atas kuasa Alex.
Winarni yang pernah menyimpan rasa cemburu pada wanita yang menjadi perhatian suami nya beberapa waktu lalu itu. Meski berusaha menepis semuanya demi sang anak namun hati Winarni terkadang sakit manakala sang suami lebih mementingkan sesuatu yang berhubungan dengan Lidia.
Wajah yang memang cantik alami tersebut menyambut mereka dengan sumringah. Lidia yang kesehariannya hanya sendiri begitu senangnya. Wanita baya tersebut menggandeng lengan Winarni memasuki ruangan dimana Ikbar masih terbaring.
"Wah kemajuan nampaknya." Kuncoro berseru ketika telah sampai disamping brangkar dimana Ikbar terbaring masih dengan tenangnya.
Winarni menoleh tak mengerti, wanita tersebut memang tak mengetahui tentang apa yang dilakukan oleh suaminya selama ini. Hanya saja dirinya memberontak dua hari yang lalu ketika mengetahui bahwa sang suami akan melakukan perjalanan kembali, terlebih saat dirinya mengetahui bahwa Kuncoro akan menemui Lidia tanpa mengajak dirinya.
Pertengkaran kecil sempat terjadi antara dirinya dengan sang suami yang pada akhirnya mengala dan membawanya serta.
"Iya, dokter Wirya sudah melepas alat bantu nafas dan juga mengatakan bahwa paru-paru mas Ikbar sudah mulai bersih. Untuk jantungnya semua masih aman hanya saja aliran darahnya masih sedikit tersendat. Namun untuk kesemuanya sudah semakin baik. Pengaruh obat dalam darahnya juga sudah bisa ditekan. Hanya saja untuk motoriknya membutuhkan banyak waktu untuk pemulihan."
"Dokter menyarankan agar aku membantunya untuk menggerakkan otot otot jari tangan dan juga kakinya demi merangsang kinerja otot yang sudah kaku agar kembali rileks."
Lidia menjelaskan semua yang didengarnya dari dokter Wirya. Wanita itu juga tersenyum kala tatapannya tertuju pada wajah Ikbar yang teduh.
"Dia.." Winarni yang berada di sisi Lidia membuka mulutnya ingin mengucapkan sesuatu namun kembali tertelan begitu saja.
"Dia mas Ikbar, suamiku Win." Lidia menjawab serta tersenyum ke arah Winarni yang menatapnya penuh tanya.
"Aku belum menceritakan apapun padanya." Kuncoro mengatakan hal itu pada Lidia yang disambut anggukan kepala wanita baya tersebut.
__ADS_1
"Kalau begitu biar Aku yang menceritakan. Ayo Win, kita mencari tempat untuk mengobrol. Ah iya Kuncoro, dokter Wirya juga mengatakan jika kita harus selalu mengajak mas Ikbar untuk bercerita guna merangsang kinerja otaknya dan juga kesadarannya."
Kuncoro mengangguk dan memilih duduk disebuah bangku yang baru saja ditariknya lebih mendekat ke brangkar Ikbar.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Hermawan meraup wajahnya kasar. Pria baya yang masih gagah tersebut berulang kali menarik nafasnya dengan pelan. Rasanya sangat penuh dalam dadanya hingga dirinya tak mampu lagi untuk bersuara.
Di sebuah kamar yang terletak tak jauh dari kamar pribadinya nampak sesosok tubuh wanita sedang dipasung dengan mulut yang ditutup lakban.
Dia adalah Ayunita, wanita itu terpaksa Hermawan pasung agar tak lagi membuat onar. Beberapa saat setelah pertengkaran hebat mereka terjadi. Ayu kembali histeris dan berteriak seperti orang kesetanan. Dengan terpaksa Hermawan mengikat Ayu dan membawanya ke dalam kamar tersebut. Kamar dimana dulu memang tempat Ayu tinggal untuk waktu yang lama.
Hermawan kembali menghembuskan nafasnya kasar. Belum adanya kabar dari anak buahnya tentang keberadaan Ikbar membuatnya sangat gelisah. Semua sudah coba dirinya lakukan agar semua baik baik saja. Namun Hermawan tak pernah menduga semuanya kembali terbongkar sebelum dirinya bisa bertindak lebih jauh.
Ditatapnya langit langit kamar dengan bola lampu yang menyala redup. Segala ingatan masa lalu kembali terulang dan berputar dalam benaknya. Senyum tipis terukir dibibirnya dengan guratan kesedihan dan rasa kecewa yang mendalam.
Kilasan bayangan bayangan masa lalu kembali hadir dalam benaknya. Rasa sedih, kecewa, terluka dan marah kembali menerjang jiwanya. Sungguh dirinya ingin menyerah namun semua tak bisa dilakukannya. Hermawan kembali mendesah pelan.
Dira tersenyum ketika mendapatkan kabar tentang apa yang diinginkannya dari orang-orang suruhannya. Dia yang tak pernah keluar dari ruko tersebut sangat yakin bahwa semuanya telah berjalan sesuai dengan apa yang sudah direncanakannya.
Gadis manis tersebut bersikap seolah tak terjadi apapun. Tanpa dirinya sadari, segala gerak geriknya sudah terpantau dengan begitu jelasnya.
Tak ada yang mengusiknya, karena semua dibiarkan berjalan sesuai dengan hal yang di mau. Marni, dan kedua rekannya pun bersikap sangat profesional. Bahkan Marni yang adalah satu-satunya orang yang tak mempunyai kemampuan bela diri menjadi berani demi untuk menjaga Jenita dan juga orang terdekatnya.
"Chef Andrian sudah datang?" Dira melangkah menuju ruang produksi dimana biasanya para karyawan berkumpul disana.
__ADS_1
Ruko yang hanya dipusatkan sebagai tempat pengolahan pesanan saja tersebut memang selalu ramai dengan para pekerja. Mereka tertawa dan saling bercerita. Guratan lelah diwajah mereka nampak tak begitu terlihat ketika tawa kembali menggema disana.
"Belum mbak. Mungkin masih diperjalanan, kalau tidak mampir dulu ke toko utama biasanya mbak baru kemari." Marni menjawab seraya tersenyum.
Istri security tersebut menjadi orang kepercayaan Jenita karena kebaikan dan juga ketelatenannya selama ini. Bersama dengan Marni lah Jenita berhasil membuka toko online dengan mengatasnamakan toko kue eyang sebagai toko utamanya.
"Kalau sudah datang, tolong kasih tahu kalau saya menunggunya ya."
Dira kembali melangkahkan kakinya ke lantai 2 setelah mendapatkan anggukan kepala dari Marni.
tiga puluh menit kemudian nampak mobil yang dikendarai Andrian masuk ke dalam halaman ruko dan segera terparkir rapi disana.
Chef tampan tersebut tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah security yang berada tak jauh dari tempatnya saat ini. Setelahnya dia bergegas masuk ke dalam ruko dan menyapa semua orang.
Andrian melangkah menuju lantai 2 dimana terdapat ruangan yang dijadikan kantor Dira sementara selama dirinya tinggal diruko tersebut. Diketuknya pintu beberapa saat sebelum akhirnya menampakkan wajah manis Dira yang tersenyum menyambutnya disana.
Keduanya duduk di sofa yang terdapat di ruangan tersebut. Awalnya Andrian tak mengerti apa maksud Dira memintanya untuk datang. Namun sekarang pemuda tersebut mulai bisa menerka ke arah mana pembicaraan mereka berdua.
"Jadi bagaimana chef?"
"Toko ini milik Jenita secara mutlak dan seharusnya kita membicarakan ini langsung kepadanya terlebih dahulu. Aku rasa itu lebih baik kalau menurutku."
"Tapi chef tahu sendiri bagaimana sibuknya Jenita saat ini. Belum lagi dirinya harus bolak balik kota S demi mengurus perusahaannya. Aku rasa dia tak akan keberatan dengan semua yang kita lakukan." Dira kembali menekan Andrian namun chef tampan tersebut masih bersikap tenang.
Rupanya benar dugaan Alex sebelumnya. Lelaki muka datar tersebut mengatakan jika ada sesuatu pada diri Dira dan gadis tersebut tak nampak benar-benar polos seperti yang terlihat.
__ADS_1
Hal itu terbukti dengan secara antusias mengajukan keinginannya dan meminta dukungan dari Andrian. Itu dia lakukan untuk mencuci tangan jika nanti terjadi masalah dikemudian hari dan mengkambing hitamkan Andrian dalam hal ini karena posisi Andrian pun menjadi penanggung jawab, sekaligus orang kepercayaan Jenita.