DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 38


__ADS_3

Hermawan keluar dari mobilnya. Lelaki paru baya tersebut tersenyum lebar kala melihat anak dan istrinya yang sedang berdiri menyambut kedatangannya.


Lebih dari 4 bulan lamanya Hermawan pergi keluar kota untuk menjalani pengobatan. Tekanan darah yang tak stabil membuatnya mengambil keputusan untuk mengasingkan dirinya ke tempat lain sambil menjalani pengobatan.


"Aku kangen kalian. Bagaimana kabar kalian disini? semua baik baik saja kan?"


Pelukan dan ciuman hangat di labukan kepada sang istri. Tangannya juga merengkuh Dira yang berdiri di samping sang mama. Ke tiganya berpelukan melepas rindu.


"Bagaimana keadaan papa? apa sudah lebih baik?"


"Ya.Sudah lebih dari baik sayang."


Ketiganya melangkahkan kaki memasuki rumah berlantai 2 yang berada di sebelah rumah eyang. Dengan senyum yang tak pernah pudar, Hermawan menyantap makanan yang dimasak sang istri khusus untuknya. Dia yang berbulan-bulan lamanya harus berjauhan dengan mereka merasa sangat bahagia. Hal itu terlihat dari banyaknya makanan yang masuk ke dalam perutnya.


"Kamu tahu ma, papa sangat merindukan masakan mama di sana. Rasanya beda sekali nikmatnya." Ucapnya sambil menggigit tempe goreng di tangannya.


"Dokter bilang apa, pa? apa ada pantangan yang harus kamu jauhi?" Ayu tentu senang akan kepulangan sang suami. Selama 4 bulan dirinya sendiri dengan pemikiran pemikiran yang tak pasti mengenai kesehatan suaminya.


Hermawan yang berpamitan untuk pergi berobat tak mengizinkan siapapun menjenguknya dengan alasan tak ingin semakin terbeban dan ingin fokus pada penyembuhannya.


"Hanya nggak boleh terlalu banyak pikiran dan stress. Lalu istirahat juga harus dijaga dengan baik. Kalau makanan nggak ada pantangan, cuma ya harus di atur porsinya. Mama nggak perlu khawatir lagi ya." Senyumnya menenangkan.


Dira hanya menjadi penyimak pembicaraan ke dua orang tuanya tersebut. Rasa bahagia terselip di hatinya melihat keduanya yang saling menunjukkan kasih sayang meski sering kali masih ada perdebatan.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Jenita kembali ke ruangannya setelah menyelesaikan sebuah adonan kue pesanan yang akan diambil pemesannya di sore hari. Dia yang baru saja masuk langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Tak seperti biasa, karena Jenita mencoba menekan perasaannya sendiri. Semalam, Lidia menceritakan kisah yang membuatnya sedikit terguncang. Kisah antara ke dua orang tuanya yang penuh dengan ujian hingga dirinya terlahir ke dunia ini.


Suara ketukan di pintu memaksanya untuk membuka mata dan menoleh. Angia masuk dengan membawa jus jeruk di dalam sebuah nampan.


"Mbak, just nya." Ucapnya sambil tersenyum.


Jenita yang pada akhirnya mengetahui jika Angia adalah salah satu orang-orang Alex membalas tersenyum dan menerima jus tersebut. Terkadang ingin bertanya karena seolah selalu merasa diawasi. Namun mengingat siapa Alex, Jenita tak lagi melakukan hal tersebut.


"Apa pesanan yang lain sudah selesai di packing?" Ucapnya seraya menyeruput jus nya perlahan.


"Untuk pesanan kue keringnya sudah siap semua mbak. Tinggal menunggu bolunya saja. Lisda dan mbak Dira sedang mengecek ulang semuanya takut ada yang tertinggal."


Jenita mengangguk tanda mengerti. Angia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Jenita untuk beristirahat.


Belum lama Jenita memejamkan matanya suara ketukan di pintu membuatnya kembali membuka mata.


Hermawan menyembulkan kepalanya sedikit. Senyum terukir di wajahnya yang tak lagi muda. Jenita yang memang mengetahui kepergian sang paman kala itu tentu langsung berdiri dan masuk ke dalam dekapan sang paman yang sudah merentangkan ke dua tangannya.


"Paman.Bagaimana keadaan paman? apa sudah lebih baik?" Ucapnya seraya keduanya melangkah menuju sofa tempat tadi Jenita mendudukkan dirinya.


"Tentu, paman sudah lebih baik sekarang. Bagaimana dengan kabar kamu, nak? wow, apa ini? paman baru sadar bahwa keponakan paman ini terlihat sangat cantik sekarang."


Hermawan berdecak sambil menatap penampilan Jenita yang tak pagi memakai kacamata dan juga wig. Jenita tersenyum menanggapi ucapan Hermawan yang kembali memeluknya penuh sayang.


"Jen baik baik saja paman." Jenita tersenyum semakin lebar mana kala Hermawan mencubit pipinya.


Hahahahaha

__ADS_1


Pria paruh baya tersebut tertawa kala Jenita memanyunkan bibirnya. Saling bercengkrama antara ke duanya terus berlanjut hingga Dira nampak masuk dengan membawa buku laporan yang biasa dia kerjakan.


"Kalian bahagia sendiri, kenapa nggak ajak ajak." Ucapnya seraya pura-pura cemberut.


Gelak tawa kembali terdengar diantara ke tiganya. Jenita menatap paman dan sepupunya silih berganti. Rasa bahagia dia dapatkan namun sedikit terbesit rasa iri karena dia tak lagi mampu merasakan kasih sayang seorang ayah.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Alex sedang bersama Anto dan juga Rendi saat ini. Ke tiganya kembali mencari cela guna menambah informasi yang sudah terkumpul. Tak pernah bertatapan langsung dengan si penyewa tenaga membuat Anto sedikit kesulitan membantu Alex. Namun mereka tak putus asa dan tetap mencari segala kemungkinan yang mungkin didapatkan.


"Kamu yakin mobil tersebut masuk dan keluar di rumah ini?"


"Benar Tuan. Dan kemarin malam mobil tersebut terakhir masuk di jam 6 sore. Namun hingga saat ini belum terlihat keluar kembali. Hanya saja ada sebuah mobil lain yang juga berwarna hitam keluar di jam 8 malam." Anto memutar rekaman CCTV yang terpasang di balik pohon di depan rumah mewah tersebut.


Alex mengernyitkan dahinya. Tak mengenali mobil tersebut tentu saja, karena Alex sendiri tak begitu familiar dengan orang-orang di kota C. Dia yang datang hanya untuk bertemu dan membatalkan janji pertunangannya dengan Jenita waktu itu tentu membuatnya hanya fokus dalam 1 masalah saja.


"Simpan dulu semua datanya, siapa tahu nanti kita akan membutuhkan semua info ini. Yang terpenting pantau terus dan usahakan untuk tetap bisa masuk kedalamnya. Aku yakin ada sesuatu di dalam sana yang mencurigakan."


Alex menatap rumah mewah dengan dua lantai tersebut dengan seksama. Rumah yang di lindungi pagar pembatas yang tinggi disisi kanan kiri dan belakangnya tersebut mempunyai tingkat pengamanan yang ketat. Hal itu semakin membuat Alex curiga meski tanpa tahu apa sebabnya.


"Baik, Tuan." Anto mengangguk paham.


"Lalu apa kita perlu menyuruh orang untuk mengikuti mobil yang tadi tuan?" Kali ini Rendi yang membuka suara. Dia yang sedari tadi hanya diam mendengarkan tak bisa banyak komentar karena hal ini memang tugas dari Anto.


"Boleh, kita harus memanfaatkan cela meski hanya dengan sedikit kemungkinan." Alex berujar diikuti anggukan ke dua anak buahnya.


Alex meminta Anto untuk membawa ibunya pindah ke luar kota. Lelaki tersebut bahkan memberikan modal kepada wanita tersebut untuk membuka usaha. Namun Anto masih di minta untuk membantunya menemukan dalang dibalik peristiwa penculikan Jenita beberapa waktu lalu. Tentu saja Anto segera menyanggupi semuanya, bukan karena rasa terimakasih nya namun lebih ke rasa tanggungjawab dan perasaan bersalah yang selalu menghantuinya selama ini. Bahkan dukungan dari ibunya membuat Anto semakin membulatkan tekatnya.

__ADS_1


__ADS_2