
Seringaian tipis nampak di bibir Alex. Lelaki dingin tersebut telah bersiap dan telah menduga semuanya. Tebakannya tak pernah meleset dan justru itu semakin membuatnya selalu tertantang.
Event yang diadakan sebagai ajang promosi tengah di persiapan. Seperti yang terjadi waktu lalu, event serupa tentunya akan menyedot banyak banyak peminat terutama ibu ibu dan para remaja putri. Selain karena produk yang dikeluarkan mendapat diskon, mereka juga akan berkesempatan untuk bisa bertemu langsung dengan Chef Andrian.
Jenita menandatangani usulan tersebut tentunya dengan ijin dari Alex. Andrian bahkan tak di perbolehkan tahu apa yang akan mereka lakukan nantinya. Tugasnya hanya membuat acara tersebut sukses dan menarik banyak pengunjung.
"Ada apa, nak?" Kuncoro mendekati putranya.
Lelaki paruh baya tersebut sejak tadi memperhatikan sang putra yang berkutat dengan laptop dan juga ponselnya. Beberapa kali juga dirinya mendengar Alex menyebut nama Aldi yang asisten dan itu menunjukkan bahwa keduanya tengah terlibat dalam pembicaraan penting.
Aldi akan datang dan turun tangan jika memang hal yang Alex hadapi sedikit rumit dan juga perlu pengamanan ekstra. Tak banyak yang tahu, bahwa dibalik ke suksesan seorang Alex. Ada Aldi sang asisten yang patut diperhitungkan keberadaannya. Dia yang selalu berada di belakang siapa sangka memiliki kekuasaan terbesar di balik punggung Alex.
Tak memerlukan perintah langsung dari Alex pun, Aldi bisa dengan mudahnya menggerakkan anak buahnya.
"Papa juga harus bersiap!! Sebentar lagi kita akan mengakhiri semuanya. Alex sudah tak sabar lagi untuk menahan semua ini. Sebelum pernikahan Alex nanti, semua sudah harus bersih dan kembali normal." Ucapnya pelan.
"Papa dukung apapun keputusan yang kamu ambil. Papa yakin semua sudah kamu pikirkan matang matang sebelum bertindak. Jadi, papa percayakan semuanya."
"Makasih, pa. Aku hanya ingin wanitaku bahagia." Alex berujar tegas dengan sorot mata yang tak lepas dari Jenita yang tengah bercerita dengan sang ayah di depan sana. Bibirnya melengkungkan senyum yang tipis, hatinya ikut bahagia melihat wanitanya tertawa.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Jalan hidup tak selamanya mudah. Dan baru kali ini Andrian bisa merasakannya. Menyesalkah dia? tentu saja tidak.
Andrian semakin bersemangat menghadapi segala perubahan dalam hidupnya. Hidup yang monoton dengan hal yang sama setiap harinya terasa sangat membosankan. Andrian ingin lepas dari segala hal yang membuatnya selalu terlihat manis. Dia ingin merasakan bagaimana menjalani hari penuh dengan tantangan dan juga debaran yang menggila.
Mungkin sebagian orang akan berpikir jika dirinya tak waras. Namun justru Andrian ingin seperti itu. Kehidupan sempurna yang dilihatnya dalam sosok Alex membuat Andrian merasa termotivasi. Di balik segala kesempurnaan yang dimilikinya, Alex mempunyai sifat lain yang orang lain tak mengetahuinya.
Bertanggungjawab melindungi apa yang menjadi miliknya juga hal positif yang bisa Andrian tangkap dari sosok Alex. Lelaki yang bahkan umurnya tak berbeda jauh darinya.
"Apa yang Alex katakan benar. Yang kurasakan padamu bukanlah cinta akan tetapi nafsu dan juga hasrat yang selama ini kuanggap sebagai cinta. Hasratku untuk menaklukkan segalanya membuatku buta. Aku hanya memikirkan kesenangan ku sendiri tanpa berpikir sebaliknya." Andrian menatap foto Jenita yang tersenyum dalam ponselnya. Chef tampan itu ikut tersenyum.
"Kau tahu. Aku mengagumi caramu berpikir dan bertindak, hingga aku mempunyai keinginan untuk menaklukkan mu. Sekarang aku sadar, Cinta yang kamu butuhkan ada padanya. Dia yang mampu melindungi dan menjagamu. Sita juga benar, dia pernah mengatakan padaku bahwa hidup yang sempurna itu ketika kita bisa menikmati apa yang kita miliki dengan sepenuh hati dan kebahagiaan selalu berada di dalamnya. Bukan karena harta dan tahta namun lebih kepada dengan siapa kita menghabiskan waktu dalam hidup. Dia yang menemani kita dengan tulus maka dialah yang akan membuat hidup kita lebih berwarna."
"Alex, bisa memberikan semua kenyamanan itu padamu. Dan sekarang, sudah saatnya bagiku untuk memilih jalan hidup yang aku mau. Bahagia selalu Jen, tetaplah menjadi teman untukku." Senyum Andrian mengembang, jemari nya bergerak menghapus satu demi satu foto Jenita yang diambilnya secara diam-diam.
*
*
*
"Kau yakin akan melakukannya?" Kuncoro kembali bertanya hal yang sama. Bukan hanya ingin memastikan namun lelaki paruh baya tersebut tak ingin putranya gegabah dalam hal besar seperti ini.
__ADS_1
Dia percaya pada kemampuan yang dimiliki Alex. Namun demikian, kondisi Ikbar yang baru saja pulih membuatnya sedikit khawatir. Meski sahabatnya itu antusias menyambut rencana Alex.
"Sekarang atau besok, hasilnya akan sama saja Pa. Aku hanya ingin semua ini segera usai, karena aku sudah ingin memberikan mama dan papa seorang cucu. Apa papa tak menginginkannya?" Jawabnya tengil membuat Kuncoro mendengus.
"Tentu saja papa sangat menginginkannya. Masalahnya, keselamatan mereka menjadi taruhannya. Nak, kamu tahu maksud papa kan?"
Alex mengangguk, tentu saja lelaki itu tahu apa yang membuat sang papa cemas. Namun Alex tetaplah Alex, dia tak akan menyerah dengan mudah.
"Papa tenang saja. Cukup bantu Alex untuk membuat Om Ikbar siap memiliki seorang cucu yang memanggilnya kakek."
"Kenapa hanya seorang? bagaimana jika kalian memberiku banyak cucu? menjadi seorang anak tunggal sangatlah tak enak. Jadi papa ingin kalian memberi banyak cucu untuk papa."
Ikbar datang bersama dengan Lidia yang mendorong pria tersebut bersama kursi rodanya. Keduanya tersenyum lebar kala mendengar perdebatan sabahat baiknya itu dengan sang putra.
Alex bangun dari duduknya dan menyambut kedua calon mertuanya tersebut. Sedangkan Kuncoro tergelak. Pembicaraan ini mengingatkan mereka tentang obrolan absurd beberapa tahun lalu. Keduanya yang sama-sama anak tunggal seringkali merasa kesepian, hingga tercetuslah keinginan jika mereka menikah nanti harus memiliki anak yang banyak. Namun jalan hidup mereka menentukan lain, baik Kuncoro maupun Ikbar hanya memiliki seorang putra.
Alex mengedarkan pandangan nya, wanita nya tak nampak disana. Gelagat tersebut tak luput dari tatapan Ikbar, pria baya dengan senyum yang masih terlihat menawan meski tubuhnya terlihat lemah tersebut dapat melihat ketulusan pemuda dihadapannya itu kepada putrinya.
"Dia ada disebelah, tadi mengeluh sedikit pusing. Mungkin sekarang sedang tidur." Ucapnya masih menatap Alex.
"Pusing?" Alex berguman sebentar sebelum melangkah pergi tanpa kata membuat semua orang yang berada disana menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jadi ingat saat muda dulu." Celetuk Kuncoro diikuti gelak tawa mereka semua.
Lidia menatap suaminya yang terpingkal diatas kursi rodanya. Rasa tak percaya masih seringkali datang menghantui jiwanya. Bertahun-tahun menganggap suaminya telah tiada, siapa sangka hari ini dirinya masih bisa melihat bagaimana sang suami tertawa bahagia.