
Tak beda dengan Lisda, Angia malah mendapatkan tugas yang terbilang sangat berat. Bayangkan saja, dirinya harus bisa mendekat bahkan mencari cela agar bisa menaruh alat perekam di tubuh Ayu.
Jangankan pernah berdekatan, berbicara pun rasanya enggan. Wanita baya yang selalu tampil glamor bak pemilik toko tersebut memang suka pilih pilih dalam berbicara dengan orang lain. Menurutnya, berbicara dengan para karyawan itu tak harus dengan lembut dan sopan santun. Toh mereka hanya karyawan yang tak akan bisa melawan. Ayu memang lebih sering bicara dengan cara berteriak atau membentak lawan bicaranya.
Angia menarik nafasnya berat. Tak cukup banyak waktu untuknya bertindak karena instruksi yang diterimanya harus cepat dan berjalan setidaknya 1 jam kedepan. Melihat kode dari Lisda yang sudah berhasil dengan misinya pada Dira akhirnya Angia tetap harus maju.
Mengantarkan jus yang diminta Ayu sebenarnya bukanlah tugasnya. Namun demi misi dia mengambil semua langkah untuk bisa mendekati wanita baya tersebut.
Entah keberuntungan apa yang menghampiri Angia pagi ini. Ayu yang biasanya anti pada karyawan yang tak masuk kriteria nya saat ini meminta bantuan pada Angia untuk memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing. Bukan meminta bantuan, lebih tepatnya dia menyuruh Angia untuk memijit kepalanya.
Ayu yang beberapa waktu tak banyak berbuat ulah terutama pada Jenita lebih memilih berdiam diri di meja pojok toko dan memperhatikan orang yang berlalu lalang. Kehadirannya yang sebenarnya tak begitu dibutuhkan tak membuat oprasional toko tersendat. Beruntungnya dia tak banyak berkomentar ini itu dan mencaci sana sini. Entah setan apa yang menempel padanya hingga dia bisa bersikap sedikit tenang meski mulutnya tak pernah berubah untuk berkata pedas.
Tanpa pikir panjang, Angia langsung melakukan apa yang diminta wanita paruh baya tersebut sambil terus berusaha mencari cela meletakkan alat perekamnya agar lebih sempurna.
Angia tersenyum kala berhasil menempatkan benda kecil tersebut disela sela rambut Ayu dan menggunakannya sebagai penjepit. Alat tersebut akan langsung terhubung dengan ponsel Alex dan langsung mengirimkan rekamannya secara otomatis. Butuh waktu 20 menit baginya untuk memijat sampai Ayu sempat tertidur.
__ADS_1
Bernafas dengan lega, pada akhirnya Angia mengirimkan pesan sebagai kode pada Alex jika misi nya dan juga Lisda telah berhasil. Alex tersenyum dengan hasil kerja mereka. Selanjutnya adalah tugas Aldi untuk mengaktifkan alat tersebut dan akan menghancurkannya apabila sampai keberatannya terlacak. Aldi yang pada saat itu masih dalam perjalanan tak membuatnya kesusahan. Tugas tersebut sudah sering dia lakukan guna menghadapi lawan lawan bisnis yang mengganggu perusahaan Alex.
Hingga pada saatnya Lidia datang ke toko disusul oleh kedatangan Alex 30 menit kemudian. Semua atas rekayasa dan skenario yang telah dibuat oleh Lidia sendiri.
Flasback Lisda dan Angia Off.
🍃🍃🍃🍃🍃
Andrian yang kecewa pada awalnya bisa menerima semua akhirnya. Dia bahkan tercengang ketika Lidia menceritakan semua kisah perjalanannya bersama dengan Ikbar. Rasa simpati tentu saja dirasakannya namun rasa sedih dan kecewa lebih mendominasi perasaannya kini.
Dia yang merasa menjadi teman dekat Jenita ternyata tak tahu banyak tentang gadis yang harus dia paksa keluar dari dalam hatinya. Andrian bahkan tersenyum kala Alex memberinya sebuah map yang berisi semua rangkuman cerita tentang Lidia dan apa yang sedang mereka lakukan saat ini.
Anto yang sudah berada didalam rumah tersebut bahkan terus berpura-pura menjadi pengawal. Beruntungnya, diantara pengawal satu dan lainnya jarang sekali terlibat percakapan hingga mempermudah tugasnya.
Rendi yang sempat keluar beberapa waktu lalu untuk menghubungi Alex kembali masuk dan mencoba beberapa sandi yang mungkin cocok. Lidia memang mengetahui bahwa sandi yang digunakan adalah sandi morse namun apa kata sandinya dirinya pun tak tahu menahu karena mereka belum sempat membahas hal itu.
__ADS_1
Dari nama dirinya, mendiang sangat suami sampai tanggal lahir mereka sudah Lidia sampaikan. Namun sampai detik ini tak ada satupun yang pas dan bisa membuka pintu rahasia tersebut.
Rendi memencet tombol tombol yang terdapat di balik lampu yang menempel di dinding. Sebenarnya dia sudah berputus asa namun juga tak mau lalai dalam tugasnya.
"• - - - • - •" ( JEN)
Lapisan dinding sedikit bergetar dan mulai bergeser. Rendi yang sempat putus asa tersenyum lebar disambut seorang anggotanya yang setia mendampinginya.
Keduanya segera masuk dicela yang bergerak mengecil setelah dinding terbalik. Masuk kedalam yang mereka yakini adalah ruang bawah tanah yang bisa diakses dari ruang kerja lantai 2 itu. Rasa pengap dan bau tak sedap mulai tercium di indra penciuman keduanya. Rendi segera mengirim sinyal pada kelompok 1 dan 2 yang berada dalam penyamaran di rumah mewah tersebut. Anto yang menerima sinyal berupa kedipan alat di jam tangannya segera melanjutkan sinyal tersebut kepada seluruh timnya.
Semua bersiap pada tempatnya masing-masing tanpa menimbulkan kecurigaan. Rendi yang masih bergerak maju menghentikan langkahnya karena sayup-sayup mendengar suara tak jauh dari tempatnya berada. Ruang gelap dan pengap tersebut membuat pandangan mereka tak begitu jelas. Namun Rendi yang sudah membekali diri dengan berbagai persiapan tak kala cerdik. Dia mengaktifkan alat perekam suara dan terus bergerak maju secara perlahan.
Tak ada alat komunikasi yang mereka bawa jika masuk kedalam. Mereka hanya akan saling memberikan kode pada jam tangan masing-masing.
Anggukan kepala dari Rendi membuat rekannya maju dan mulai melihat situasi. Mereka berhenti kala suara suara yang tadinya samar semakin terdengar jelas. Namun mereka tak lantas bergerak dan memilih menunggu kode dari Anto dan timnya. Hingga 20 menit berlalu tak ada balasan yang diterimanya dari Anto. Namun mereka masih menunggu demi meminimalisir resiko yang mungkin akan terjadi.
__ADS_1
Di dalam rumah, Anto yang sedang berdiri disamping ruang kerja dilantai dua dikejutkan dengan kedatangan Hermawan yang nampak sedang marah. Terlihat dari raut mukanya yang tak bersahabat dan juga matanya yang merah. Anto menunduk memberi salam tanpa mengucapkan kata-kata. Dia memilih menunggu hingga lelaki paru baya tersebut masuk dan hilang dibalik pintu yang kembali tertutup.
Buru buru Anto berlalu ke arah toilet dan masuk kedalamnya. Di hidupkan kran air, setelahnya barulah dirinya mengirim sinyal kepada Rendi yang dia yakini tengah menunggunya. Ketegangan kembali terjadi kala dirinya mendengar beberapa langkah kaki yang terdengar. Dengan langkah tegap Anto keluar dari toilet dan mencoba bergabung dalam kelompok pengawal yang entah untuk apa mereka berkumpul diruang tengah rumah besar tersebut.