
Perkataan Gina barusan sontak saja membuat kedua mata Saka melebar. Starla yang sedang makan juga sampai tersedak mendengarnya. Bagaimana bisa Gina bicara sembarangan begitu.
Sementara si Presdir JY Grup yaitu Julian Moreno, hanya tersenyum manis saat mendengar ucapan Gina. Malah dia berdoa dalam hati agar bisa menjadi pacar Starla atau malah menjadi pria yang paling penting dalam hidup Starla. Jadi ayah dari anak-anaknya pun, ia rela.
"Uhuk..uhuk..."
"Mommy telcedak! Ini minumnya Mom." Aluna menyerahkan segelas air minum untuk Starla.
"Makasih sayang," ucap Starla lalu meneguk air minum didalam gelas dengan perlahan. Julian menatap Starla dengan cemas.
"Are you all right, Star?" tanya Julian setelah Starla menenggak setengah air didalam gelasnya.
"I'm fine, bos." jawab Starla ramah dan formal.
Saka masih berdiri mematung disana, nafasnya memburu melihat interaksi antara Starla dan Julian. Dia tidak suka mantan istrinya didekati pria lain, apalagi tatapan Julian pada Starla adalah tatapan lain. Sebagai seorang pria, Saka tahu arti tatapan itu. Julian menyukai Starla.
"Be careful, Star." ucap Julian lembut, seraya tersenyum dan membuat pria itu berkali-kali tampannya. Gina, Starla dan Aluna memang mengagumi visual Julian bak aktor Hollywood Chris Evan. Oemji, sang kapten Amerika.
"Woah...paman tampan cekalih, Luna cuka!" Aluna tersenyum manis, lalu duduk dipangkuan Julian. Biasalah, Aluna suka begini kalau lihat yang tampan tampan sebelas dua belas dengan visual papanya. Tepe tepe, alias tebar pesona.
'Sialan! Siapa cowok ini? Kenapa dia mau merebut princessku juga? Woah ini tidak bisa dibiarkan. Dan aku yakin, dia bukan pacar Starla...barusan dia memanggilnya bos, bukan nama' Saka si hot Daddy duda muda dengan satu anak itu mulai merasa ketar-ketir, tatkala dua belahan jiwanya terpesona pada sosok Julian. Dia merasa tersingkirkan, padahal dia baru akan memulai mengejar mantan istrinya.
"Jadi anda Presdir JY grup, perusahaan yang mengelola fashion di bidang pakaian itu?" tanya Saka yang masih berusaha untuk mempertahankan ketenangannya didepan pria itu. Saka tidak boleh kehilangan wibawanya, apalagi ada Axelo dan pria yang di klaim sebagai calon papa mertuanya, Adrian.
"Ya, anda siapa ya?" tanya Julian.
Saka mengulurkan tangannya lebih dulu, pria itu mengulum senyum tipis yang menyiratkan kewibawaan. Ia tak boleh kalah dengan pria spek Chris Evans ini. Bukankah Saka juga spek aktor Korea Cha Eun woo, mungkin juga Hwang In Yeop dan sekarang dia merasa rada-rada mirip opa Hyun Bin.
"Saya adalah ayah kandung Aluna dan Axelo, Arshaka Delano." kata Saka percaya diri dan menekankan bahwasanya ia adalah orang yang penting untuk Starla. Bahwa ia adalah orang yang memiliki posisi penting bagi si kembar.
'Jadi pria ini adalah mantan suami Starla? Masih muda sekali, bukankah dia adalah pengusaha muda yang terkenal di Jakarta. Berapa ya usianya?' batin Julian yang heran melihat Saka. Pria itu terlihat sangat muda.
Julian menyambut uluran tangan Saka, dia masih memasang senyum dan wajahnya tampak tenang. "Oh, saya Julian Moreno. Bosnya Starla di tempatnya bekerja."
__ADS_1
Pria itu tidak mengatakan Starla pacarnya seperti apa yang dikatakan Gina. Julian tahu benar bahwa Starla akan merasa tak nyaman bila dia bicara begitu. Julian juga bukan pria yang kurang ajar, dia bermartabat, dewasa, memiliki pembawaan tenang, sesuai dengan umurnya.
"Oh cuma Bos." gumam Saka pelan, tapi Julian mendengarnya dengan jelas. Ada rasa tak nyaman pada diri Julian saat mendengar itu. Seakan ia diremehkan dan bukan apa-apa bagi Starla. Memang bukan apa-apa sih, tapi Julian ingin menjadi apa-apanya Starla.
'Si Julian ini, harusnya dia bilang aja pacarnya Starla. Biar lebih menantang gitu' kata Gina gemas dalam hatinya. Adrian yang memang sudah mengetahui sedari awal bagaimana isi otak Gina, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Saka mengambil tempat duduk disamping Axelo setelah dia mengambil Aluna dari pangkuan Julian dan mendudukkan gadis kecil itu di pangkuannya.
"Daddy, kenapa bawa Luna? Luna macih mau duduk cama paman ganteng." keluh Aluna dengan bibir yang mencebik.
"Duduk sama Daddy aja princess, Daddy lebih ganteng dari dia."
"Ck, pede banget sih. Padahal gantungan juga dia." decak Gina yang berusaha memeriahkan suasana.
"Mom." bisik Starla seraya melihat mama mudanya untuk diam.
"Aku kan cuma bicara fakta, sayangku Starla." tanpa rasa bersalah, Gina tersenyum pada putri sambungnya itu. Starla hanya bisa geleng-geleng kepala dan menghela nafas berat.
"Ayo makan! Luna udah laper, tapi mau dicuapin mommy." Aluna melihat ke arah Starla yang duduk di seberangnya.
"Sini sayang." sambut Starla pada putrinya. Aluna pun berpindah dari pangkuan Saka ke pangkuan Starla. Saka tersenyum melihat interaksi antara putrinya dan Starla.
'Aluna bisa merebut hati kamu, aku juga pasti bisa Star. Semuanya hanya masalah waktu' kata Saka dalam hatinya.
"Oh ya, Axe mau disuapin Daddy juga?" tanya Saka pada putranya yang duduk tepat disampingnya.
"Ogah, aku bukan bayi." celetuk Axelo yang memang bibirnya pedas, lebih pedas dari sambalado. Saka sampai speechless mendengarnya, meluluhkan hati Axelo sepertinya tidak mudah juga.
"Apa kakak galak bilang aku bayi?" Aluna melihat ke arah kakaknya, ia merasa disindir oleh Axelo.
"Aku nggak bilang begitu, kamu yang bilang ya!" sahut Axelo jutek sekali pada Aluna.
"Kakak nyebelin banget! Aku ndak cuka kakak galak, ish!" gerutu Aluna kesal.
__ADS_1
"Aluna cukanya cama Gio aja, hehe." kekeh Gio yang sedang duduk dipangkuan Gina. Anak laki-laki itu juga ikut menyahut ucapan Aluna dan Axelo.
Setelah acara sarapan pagi selesai, Starla pamit kepada papanya dan semua orang di rumah, dia akan pergi ke kantor untuk mengurus beberapa pekerjaan sebelum dia resign dan lagi-lagi keberangkatannya ke Jakarta harus ditunda.
Dia harus membimbing sekretaris baru yang menggantikannya nanti. Sekretaris itu akan menggantikan posisi Starla untuk membantu Julian.
"Pa, Mom, Starla pamit dulu ya." kata Starla pada Adrian dan Gina, setelah ia selesai berpakaian.
"Ya, hati-hati ya."
"Aku titip Axel sama Aluna ya," pesan Starla pada kedua orang tuanya.
"Siap! Kamu yang lama aja di kantornya Starla sayang, biar ada waktu berduaan sama pak Julian." kata Gina sambil terkekeh-kekeh menggoda anaknya itu.
"Ish, apaan sih! Udah ah aku mau berangkat dulu mom." Starla mendengus kesal mendengar apa yang dikatakan mama sambungnya. Dia selalu menggodanya dengan Julian.
Wanita itu tiba-tiba saja menepuk jidatnya sendiri, dia teringat sesuatu."Astaga! Aku lupa bawa tasku diatas." Akhirnya Starla pun kembali ke lantai atas untuk mengambil tas dan hpnya.
Sementara itu Saka sedang berada di depan rumah Adrian bersama dengan Julian. Kedua pria berbeda usia dan tentunya berbeda generasi itu, terlihat mengobrol dengan dingin.
"Hanya karena Starla berhenti bekerja, anda sampai repot-repot datang kemari untuk menjemput seorang sekretaris. Pak Julian ini sangat totalitas sekali ya." sindir Saka dengan bibir yang tersenyum miring. Dia menatap pria itu tidak suka.
"Starla bukan hanya seorang sekretaris untuk saya, tentu saja saya harus totalitas. Dia spesial." ungkap Julian jujur didepan Saka. Sebab ia merasakan ada hawa lain dari mantan suami Starla ini.
"Apa maksud anda Pak Julian?" tanya Saka mulai cemas.
"Apa saya harus mengatakannya secara gamblang didepan anda? Saya kira anda cerdas dan cukup paham situasinya," kata Julian yang tampan meremehkan Saka, mengatainya bodoh secara tak langsung.
"Fine saya akan katakan langsung. Saya menyukai Starla, I love her...dan saya berniat menjadikan dia sebagai istri saya." ungkap Julian yang membuat kedua kelopak mata Saka melebar. Tangannya terkepal membentuk sebuah gumpalan, ia menahan amarah di dalam dirinya.
Shitt! Ini adalah pernyataan perang, ini sudah fiks dan Saka harus waspada.
****
__ADS_1