
🍀🍀🍀
Cahaya mentari mulai masuk melalui celah-celah jendela kamar berukuran luas dengan interior mewah. Seorang pria tampan dengan posisi tidur tengkurap, masih setia memejamkan mata. Cahaya mentari itu tak kunjung membangunkannya, malah membuat nya semakin enggan membuka mata. Kepalanya ia tutupi dengan bantal, menolak cahaya mentari membangunkannya dari ranjang empuk itu.
"Daddy! Daddy ayo bangun Daddy...katanya daddy mau main cama Luna!" seorang gadis kecil cantik, kulit putih bersih, berkuncir dua menarik bantal yang menutupi wajah pria itu.
"Daddy...bangun ih! Luna mau jalan-jalan." rengek gadis kecil bernama Aluna itu kepada papanya, Arshaka Delano, pria yang tahun ini usianya sudah menginjak 23 tahun. Dia adalah CEO termuda di sebuah perusahaan makanan bernama D'food.
"5 menit lagi ya princess. Daddy masih ngantuk, semalam daddy lembur." keluh Saka sambil merasakan tangannya mungil putrinya mulai memukul-mukul tangannya.
Plak! Plak!
"Sakit princessku sayang, hentikan." keluh Saka yang terpaksa membuka matanya.
"Daddy bangun, kalau Daddy nggak bangun. Nanti Daddy nggak boleh sun aku." ancam gadis kecil dengan berang. Kedua tangannya kini berkacak pinggang dan menatap papanya dengan tajam.
Saka melihat putrinya yang imut itu, lalu menaikkan Aluna ke atas pangkuannya. Setiap kali melihat sepasang mata coklat muda milik Aluna, dia teringat ada seseorang yang selama 5 tahun ini dia rindukan.
Daddy little star, kamu mau bangun nggak? Kalau nggak mau bangun, kamu nggak boleh sun aku sama little star! Cepetan bangun!
"Cara bicara Aluna benar-benar mirip kamu Star, sebenarnya kamu ada di mana?" tanya Saka dalam hatinya.
Setiap kali melihat Aluna, Saka selalu teringat dengan Starla. Mantan istrinya yang masih bersemayam didalam hatinya sampai saat ini. Disaat dia baru menyadari apa itu cinta dan nafsu, hubungannya dan Starla berakhir dengan cara yang tidak baik menurutnya. Hanya Aluna, Putri kecilnya yang selama ini menjadi obat dikala rasa rindu hampir membunuhnya.
Aluna benar-benar mirip sikap dan wajahnya dengan Starla, padahal sewaktu kecil, Aluna lebih mirip dengan ayahnya. Kini semua hal yang ada pada diri Aluna, memiliki kemiripan dengan Starla. Bahkan dari cara mereka bicara dan juga bagaimana cara mereka marah.
"Daddy, aku ngambek nih. Aku nggak mau bicala cama Daddy, kalau Daddy nggak ngajak aku jalan-jalan. Daddy udah janji, janji nggak boleh diingkali daddy." gadis kecil itu mengomeli ayahnya, masih dengan raut wajah kesal.
"Baiklah princessnya Daddy. Hari ini kita jalan-jalan ya. Princess mau ketaman kan?" tanya Saka seraya mengelus pipi Aluna dengan gemas.
"Iya."
"Ya sudah kalau begitu Daddy mandi dulu sebentar, princess tunggu diluar sama Bi Imah." ucap Saka lembut kepada putrinya. BI Imah adalah art di rumah Saka, sekaligus pengasuh Aluna. Dulu, bi Imah pun sangat dekat dengan Starla dan kini dekat dengan Aluna.
"Ya udah, jangan lama-lama ya Daddy. 5 menit aja halus udah beles ya." cetus gadis itu memperingati papanya, lalu ia turun dari pangkuan Saka.
"I'm promise princess." kata Saka sambil tersenyum dan mengacungkan dua jarinya.
"Oceh, Luna tunggu dibawah. Awas lama!"
"Ets...tunggu dulu sayang, jangan pergi dulu. Kamu lupa sesuatu loh." Saka kembali memanggil putrinya dan gadis kecil itu kembali mendekat.
"Luna lupa apa dad?" tanya Aluna polos.
"Luna belum kasih morning kiss sama Daddy!" seru Saka seraya menyodorkan pipinya untuk mendapatkan morning kiss dari Aluna.
Muach!
Bibir mungil Aluna mengecup pipi papanya yang ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus itu.
"Cudah ya Dad."
"Makasih sayangnya Daddy." Saka tersenyum kemudian melihat kaki mungil putrinya yang berusia 5 tahun itu meninggalkan kamarnya. Tak lama setelah itu, Saka pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan dia akan mengajak Aluna main ke taman setelah ini.
Setelah 10 menit berada di kamar mandi, Saka langsung memakai pakaian santainya dan turun ke lantai bawah rumahnya. Sekarang Saka tinggal terpisah dari kedua orang tuanya, dia tinggal di rumah bersama Aluna, Bi Imah dan salah satu pembantu rumah tangga bernama Winda yang suka beres-beres rumah. Winda adalah anak bi Imah.
Alangkah kagetnya Saka saat ia melihat sosok yang tidak ingin ia lihat sedang bermain bersama Aluna di sofa ruang tengah. Matang menajam melihat orang itu, dia juga tidak sendiri, tapi datang bersama suaminya Jeffry.
"Pagi Saka." sapa Anggun sambil tersenyum, tapi diacuhkan oleh Saka.
"Dad, lihat! Ada Oma dan Opa. Meleka bawain Luna mainan, dad." wajah Aluna tampak ceria saat mengatakannya. Dia bahkan memeluk Saka untuk membagi kebahagiaan mendapatkan mainan dari Jeffry dan Anggun.
"Iya sayang."
Saka melihat ibunya dengan tatapan yang sinis dan tajam, selama 5 tahun ini hubungan Saka dan ibunya memburuk. Sejak Anggun mengambil hak asuh Aluna dan memisahkan Aluna dari Starla. Padahal menurut hukum, anak dibawah umur 7 tahun masih berada didalam asuhan ibunya. Apalagi saat itu Aluna masih berusia sekitar 4 bulan dan sedang membutuhkan kasih sayang ibunya. Tapi, saat itu keadaan Saka yang frustasi membuat Anggun memohon kepada Starla untuk menyerahkan salah satu bayinya kepada Saka. Anggun takut kalau Starla membawa kabur Aluna dan Axelo. Saat itu intinya, Anggun sangat membenci Starla.
Padahal Starla sama sekali tidak akan pergi kemana-mana, dia akan tetap mengizinkan Saka maupun keluarganya untuk melihat Axelo dan Aluna. Namun Anggun memilih egois, dia juga menuduh Starla berselingkuh dengan Galang kala itu.
Ini hanya persepsi Saka atau memang benar, Starla pergi membawa Axelo dan menghilang karena sakit hati dengan sikap Anggun. Sampai saat ini Saka terus menyalahkan Anggun. Perihnya lagi, saat Saka akan mencari Starla dan memberikan penjelasan pada mantan istrinya itu, Starla sudah pergi bersama dengan Gina, Axelo dan Adrian, entah kemana.
"Mau apa Mama sama Papa datang pagi-pagi begini ke rumahku?" tanya Saka kepada kedua orang tuanya.
Jeffry tersenyum, kemudian menjelaskan. "Mama sama Papa cuma mau melihat Aluna dan kebetulan...mama kamu lihat mainan buat Aluna jadi dia--"
"Makasih. Tapi lain kali nggak usah...Aluna udah punya banyak mainan. Aku masih mampu membelikan Aluna mainan seperti ini." sela Saka seraya menatap tajam pada Anggun.
Anggun terlihat sedih dengan sikap dingin Saka padanya. Sepertinya Saka akan tetap seperti ini, sebelum Starla dan Axelo ditemukan.
"Saka, tolong jangan--" Jeffry hendak menegur putranya, namun Anggun menahan tangan Jeffry dan memintanya untuk diam.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Pa, Mama nggak apa-apa." Mata Anggun mulai berkaca-kaca, dia menyesal karena sudah mengusir Starla dan Axelo dari hidup Saka meski secara tidak langsung.
"Bik Imah, tolong bawa Luna ke belakang sambil ambil skuternya. Nanti saya nyusul!" ujar Saka kepada Bi Imah. Saka terlihat lebih dewasa sekarang, beda dengan dulu.
"Baik tuan. Ayo nona cantik, ikut bik Imah dulu yuk! Kita ambil skuternya." ucap Bi Imah kepada gadis kecil itu. Tangan Bi Imah menuntun tangan mungil Aluna.
"Iya." Aluna mengangguk patuh, sebelum ia pergi ke belakang bersama Bi Imah, gadis kecil itu melambaikan tangannya pada Jeffry, papanya dan juga Anggun.
Tak lama setelah Aluna pergi, Saka barulah menunjukkan sifat aslinya di depan Anggun dan Jeffry. Rasa tidak sukanya terlihat sangat jelas pada Anggun.
"Saka, Mama kamu udah minta maaf, bahkan menyesal dengan perbuatannya. Tapi kamu, sama sekali tidak menghargai mama kamu!" tegur Jeffry kepada putranya. Ia tidak terima istrinya dibuat menangis oleh putranya sendiri. Lihat saja, Anggun sekarang sudah menangis. Mungkin didepan cucunya dia tidak bisa begini.
"Maaf nggak akan buat Starla sama Axelo kembali." jawab pria itu dengan dingin dan menusuk ke dalam hati Anggun.
"Mama pasti akan menemukan Starla dan cucu Mama, mama akan meminta maaf sama Starla. Maafkan Mama Saka, mama khilaf saat itu karena dibutakan oleh kebencian." jelas Anggun dengan suara terisak yang terdengar menyakitkan.
"Kalau aja saat itu Mama nggak ikut campur, Starla sama Axelo nggak akan pergi. Tapi..ya sudahlah, apa gunanya maaf dan penyesalan Mama." Saka menghela nafas berat.
"Saka, minta maaf sama Mama kamu! Kamu sudah membuat Mama kamu menangis dan sakit hati! Papa tidak terima dan sakit hati... istri Papa, kamu buat menangis!" sentak Jeffry emosi.
"Pah, udah!" seru Anggun.
"Papa tidak terima, Papa sakit hati istri Papa menangis? Begitu pula dengan aku Pa! Aku juga nggak terima saat ada yang buat orang yang aku cintai menangis. Aku sakit hati saat mama menampar Starla dan aku tidak dapat membayangkan saat itu, ketika Mama mengusir Starla dan meminta hak asuh Aluna. Apa Papa dan Mama, pernah memikirkan bagaimana perasaan Starla kala itu? Starla seorang ibu... dipisahkan dari anaknya, apa dia tidak sakit hati?" Saka meluapkan semua emosi yang ada di dalam dirinya terhadap Anggun.
Dia tidak menyalahkan mantan istrinya sama sekali, yang pergi membawa putra mereka tanpa kabar. Sebab disinilah Saka yang salah, Saka selingkuh, tapi Anggun bertindak seolah-olah Saka yang tersakiti dan Starla yang bersalah. Saka sangat menyayangkan sikap Anggun, apa Anggun lupa kalau Starla adalah putri dari sahabat mamanya sendiri?
****
Singapore, pukul 08.00.
Didalam rumah bertingkat dua dengan halaman yang luas, terlihat dua orang anak sedang bermain lari-larian di taman itu bersama dengan ibu mereka.
Gina dan Starla, mereka tinggal di Singapore selama 5 tahun ini. Gina sudah melahirkan anak laki-laki yang kini sudah berusia 4 tahun, hanya beda 1 tahun dengan Axelo.
"Mommy! Lihat apa yang uncle Gio lakukan? Kenapa dia sangat jahil mom? Aku kesal dengannya!" ucap seorang anak laki-laki sambil memperlihatkan kedua telapak tangannya yang kotor terkena lumpur kepada ibunya. Dia adalah Axelo, wajah tampan anak laki-laki ini menurun dari ayahnya Saka. Persis seperti Saka, alias Saka junior.
"Sudahlah sayang, itu hanya kotor saja! Kan bisa dibersihkan." Starla menjelaskan kepada putranya yang sedang kesal itu.
"Gio, kamu jangan begitu sama keponakanmu dong," ujar Gina menegur putra kecilnya yang memang memiliki sikap jahil. Bahkan tanpa rasa bersalah, Gio tersenyum lebar setelah mengerjai keponakannya itu.
"Hihi..." Gio malah cengengesan dan menunjukkan gigi depannya yang ompong. Dia terlihat tengil dan menggemaskan.
"Ndak mau...bwekk.." bukannya meminta maaf pada Axelo, Gio malah menjulurkan lidahnya mengejek Gina. Gio berlari-lari kecil di taman itu.
"Astaga! Anak itu mirip siapa sih? Pasti mirip daddy-nya." celetuk Gina yang sontak saja membuat Starla terkekeh.
"Haha..."
"Aku rasa Gio lebih mirip sama kamu Gin, Papaku kan kalem orangnya. Sedangkan Gio, dia sangat aktif, jahil dan genit kayak ibunya. Hehe." kekeh Starla.
"Kamu benar juga, kenapa Gio tidak mewarisi sifat Mas popeyeku?" keluh Gina karena putranya tidak mewarisi sifat Adrian yang kalem dan irit bicara. Tapi tentu saja kalau di ranjang, Adrian sangat agresif dan mendominasi.
"Eh...tapi dia mewarisi wajah Papa, kamu lihat saja. Adikku itu sangat tampan seperti Papa." puji Starla tulus.
"Benar juga! Anakku itu memang tampan," kali ini giliran Gina yang terkekeh.
"Mom, kenapa malah mengobrol? Ini gimana tanganku, Mom." tanya Axelo yang merasa dicuekin oleh Starla.
"Maaf sayang...ayo Mommy bantu bersihkan." tawar Starla seraya menatap kepara putranya.
Axelo menggelengkan kepalanya. "Aku bisa sendiri. Mommy disini saja sama Oma." Axelo adalah anak yang mandiri, di usianya yang masih sangat muda yaitu 5 tahun. Axelo sudah belajar mandi sendiri, bahkan ia bisa berhitung dan membaca. Hanya saja anak itu irit bicara.
"Star, apa kamu yakin mau kembali ke Indonesia?" tanya Gina begitu melihat Axelo pergi mendekati keran air untuk membersihkan tangannya.
"Aku nggak bisa selamanya disini. Aku rindu Aluna, aku ingin melihatnya secara langsung." Starla terlihat sedih saat membicarakan putrinya.
"Itu artinya kamu akan mengingkari janji kamu sama Tante Anggun untuk menjauhi Saka!" ujar Gina mengingatkan Starla akan luka lamanya, yaitu kebencian Anggun padanya.
"Mom, aku kesana bukan untuk bertemu dengan Saka. Bukan untuk kembali bersama dengan Saka, tapi untuk Aluna. Aku rasa Aluna sedang membutuhkan aku, Mom." Starla mengingat anak perempuannya, dia merasa bersalah karena sudah pergi meninggalkan Aluna di Indonesia. Entah seperti apa rupanya sekarang.
Apalagi sebentar lagi adalah ulang tahun Aluna dan Axelo. Sungguh, Starla tidak bisa menahan rindu pada putrinya itu.
****
Jakarta, di taman perumahan tempat Saka tinggal. Ayah dan anak itu berjalan bergandengan tangan. Sebelah tangan Saka memegang skuter pink milik Aluna.
Terlihat beberapa orang sedang lari pagi di kawasan taman itu, hari Minggu memang selalu banyak orang di sana. Ada pedagang juga yang menjajakan makanan ditempat itu.
"Kamu mau jajan nggak sayang?" tanya Saka kepada putrinya.
__ADS_1
Aluna menggelengkan kepalanya. "Aku mau main ckuter lagi dad!"
"Ya sudah, ini. Daddy temenin juga tapi ya?" tanya Saka.
"Ndak mau, Luna mau main cendiri...oh ya Luna main sama teman-teman dicana Dad. Ndak jauh kok." jelas Aluna seraya menunjuk ke arah beberapa anak kecil seumurannya sedang bermain skuter juga di depan sana.
"Ya udah, Daddy lihat dari sini ya sayang. Kalau ada apa-apa, Aluna teriak ya!" seru Saka sambil tersenyum. Saka duduk di sebuah bangku panjang, dimana dia bisa melihat putrinya dari sana.
Aluna kecil menghampiri teman-temannya sambil mengendarai skuter pink-nya. Anak-anak berusia 5-6 tahun itu sedang asyik bermain di sana.
"Halo ceman-ceman, Luna boleh ikut main gak?" tanya Aluna seraya menyapa ke 5 anak itu dengan ramah.
"Eh...ada anak yang nggak punya Mama. Kita nggak mau main sama anak yang nggak punya Mama." kata seorang anak perempuan pada Aluna.
"Iya, kita nggak mau main sama kamu." ketus seorang anak laki-laki.
"Kamu bilang apa balusan? Siapa yang nggak punya Mama? Kenapa kamu bicala begitu sama Luna? Apa salah Luna?" Aluna meninggalkan skuternya begitu saja, lalu ia mendekati ke 5 teman seumurannya dengan raut wajah marah.
"Kamu memang tidak punya Mama kan? Mama kamu kabur karena selingkuh." kata seorang anak perempuan yang usianya jauh lebih tua sedikit dari Aluna.
"Celingkuh? Apa itu celingkuh? Luna ndak tau." kata Aluna polos.
"Selingkuh itu, pergi dengan pria lain. Mama kamu kabur dengan pria lain, makanya kamu nggak punya Mama. Kata mamaku sih gitu," ucap anak perempuan yang namanya Sheryl.
Ucapan seorang anak perempuan itu, membuat Aluna sedih. Aluna marah lalu menjambak rambut panjang sebahu Sheryl dengan kasar.
"Luna punya Mama, mama Luna nggak mungkin celingkuh. Jahat... Sheryl jahat..."
"Sakit! Lepasin aku Luna!" Sheryl berteriak kesakitan.
Akhirnya terjadi aksi jambak dan cakar-cakaran antara Sheryl, Luna dan satu orang anak laki-laki yang menghina Aluna tadi. Aluna tidak takut sama sekali, meskipun badan anak laki-laki itu lebih besar darinya. Bahkan gadis kecil itu tidak menangis, walaupun matanya sudah merah menahan tangis.
Tak berselang lama kemudian, sebelum terjadi hal yang lebih jauh. Saka dan kedua orang tua dari dua anak yang berkelahi dengan Aluna segera memisahkan mereka bertiga.
Penampilan ketiganya acak-acakan, tapi Sheryl dan anak laki-laki itu lebih parah karena wajah mereka terkena cakaran maut dari kuku-kuku Aluna yang belum dipotong oleh Saka.
"Mama, lihat ini! Aluna cakar aku sampai berdarah Ma." adu Sheryl pada mamanya.
"Ma, lihat...Aluna cakar tangan aku sampe berdarah!" anak laki-laki yang bernama Devan itu juga mengadu pada mamanya. Dia memperlihatkan tangannya yang dicakar oleh Aluna.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar?" tanya ibu Devan kepada ketiga anak itu untuk menengahi.
"Dia duluan!" Mereka bertiga saling menunjuk dan menyalahkan.
"Aluna yang mulai dia jambak rambut Sheryl, tante." kata seorang anak perempuan yang bermain di sana dan melihat kejadiannya.
"Iya Tante, Aluna duluan yang menyerang!"
Pernyataan dari para saksi menyudutkan Aluna, padahal gadis kecil itu hanya melampiaskan kemarahannya pada mereka yang bicara tidak-tidak tentang ibunya.
"Sayang, apa kamu yang menyerang Sheryl dan Devan lebih dulu?" tanya Saka hati-hati sambil duduk berjongkok didepan putrinya.
"Iya." jawab Luna jujur.
"Bisa Daddy tau kenapa?"
Gadis itu hampir menangis, hidungnya merah dan kembang kempis. "Meleka...meleka bilang kalau Luna ndak punya Mama. Mereka bilang mama Luna celingkuh...Mama Luna baik kan dad? Mama Luna ndak selingkuh dan Luna punya mama!" seru Aluna seraya menatap papanya dengan mata berkaca-kaca.
Sontak saja Saka terkejut mendengar apa yang dikatakan putrinya. Benarkah teman-teman Aluna berkata begitu? Kenapa bisa?
"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu pada Aluna, Sheryl, Devan?" tanya Saka seraya menatap kedua anak itu dengan tajam, saat ini mereka bersama kedua orang tua mereka.
"Mama yang bilang, kalau Mamanya Aluna selingkuh terus kabur." jawaban Sheryl membuat Saka menatap tajam pada ibu Sheryl.
"Apa benar, ibu bicara seperti itu sama Sheryl?" kali ini giliran ibu Sheryl yang ditatap tajam oleh Saka. Dia tidak akan membiarkan siapapun menjelekkan Starla, apalagi ini semua ngaco dan tidak berdasar.
Ibu Sheryl pun meminta maaf karena ia mendengar ini dari Anggun, saat acara arisan ibu-ibu. Dimana para ibu ibu itu bertanya kenapa Saka bercerai dan ditinggalkan oleh Starla. Anggun mengatakan pada mereka semua bahwa Starla berselingkuh dan kabur.
Saka sangat marah mendengarnya, lalu ia meminta anak-anak disana untuk tutup telinga. Ia tidak mau anak-anak mendengar ucapan orang dewasa.
"Saya peringatkan sama ibu! Jangan sekali-kali mengatakan hal buruk kepada anak ibu, atau ibu akan terima akibatnya. Itu semua tidak benar! Mantan istri saya adalah orang yang sangat baik, saya...sayalah yang berselingkuh dari istri saya."
"Saya minta maaf Mas, saya hanya mendengarnya dari Bu Anggun." kata Ibu Sheryl minta maaf. Namun sepertinya Saka enggan bicara lagi, ia langsung menggendong Aluna sambil membawa skuternya juga. Saka sakit hati karena ibunya menjelek-jelekkan Starla karena malu dengan anaknya sendiri yang berselingkuh. Saka kecewa, kenapa ibunya jadi seperti ini?
"Dad, Luna pengen ketemu mommy...hiks..." tangis Aluna yang sedari tadi ditahannya, akhirnya pecah didalam pelukan papanya begitu sampai di rumah.
Saka sedih melihat putrinya, tangannya mengusap lembut air mata di pipi Aluna. Saka bingung harus menjawab apa, sedangkan dia sendiri tidak tahu kabar Starla selama 5 tahun ini.
"Dad, Luna mau mommy....Luna mau mommy...huahhh..."
__ADS_1
****