Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 95. Tidak butuh daddy


__ADS_3

Anggun menangis sedih karena suaminya masih begitu kesal padanya, mengira ia berubah. Ya, Anggun begini karena sayang pada Saka. Dia tidak terima anaknya disakiti, tapi apakah Starla tidak lebih sakit? Dia diselingkuhi saat hamil besar, dia hampir kehilangan nyawanya dan nyawa bayinya kala itu. Bahkan Anggun sengaja memutar balikan cerita seolah Starla yang bersalah demi melindungi nama baik Saka dan keluarganya. Tindakannya ini salah dan Anggun menyesal sudah menyakiti Starla dan Saka.


"Mama kan sudah minta maaf Pa. Mama menyesal." lirih Anggun menyesal.


"Ya, papa tahu mama sudah meminta maaf dan menyesal. Tapi apa gunanya Ma? Kalau Starla dan cucu papa Axelo tidak ada disini. Semua yang Mama lakukan sudah membuat mereka pergi. Mama sadar nggak sih, kalau nggak ada perempuan sebaik Starla untuk Saka? Dia bahkan tidak dendam walaupun Saka sudah berbuat kesalahan besar padanya. Dia memilih pergi ketika mama mengusirnya dan membawa Aluna, pikirkan betapa berat dan sakitnya hati Starla saat itu Ma. Starla pergi karena dia sudah terlalu sakit dengan sikap Mama. Kalau saja Mama tidak semakin ikut campur urusan mereka, ini semua nggak akan terjadi. Tapi ya sudahlah...jangan salahin sifat Saka yang cuek sama Mama. Karena Mama sendiri yang membuat ini terjadi." tutur Jeffry panjang lebar, lalu ia pun masuk ke dalam rumah dengan wajah lelah karena baru pulang bekerja. Anggun menatap punggung suaminya yang sudah mulai menjauh,air matanya turun membasahi pipinya.


Dia berjanji kalau Starla dan Axelo sudah ditemukan, Anggun akan memohon-mohon pada Starla untuk kembali tinggal dengan Saka dan menjadi menantu keluarga Delano. Tentunya dia juga akan meminta maaf atas semua kesalahannya di masa lalu. Dia menyesal sudah membuat semua orang membencinya karena sifatnya ini.


"Mama sudah menyesal Pa, mama janji akan memperbaiki semuanya. Sikap kalian sama mama sudah cukup menyadarkan mama, bahwa aku salah." Anggun berucap begitu lirih. Putra dan suami yang ia cintai, selalu bersikap dingin padanya selama 5 tahun terakhir ini.


****


Singapura, sore hari di kediaman Adrian.


Aluna terlihat senang bisa memiliki saudara dan juga paman muda bernama Gio. Jadi, mulai sekarang dia tidak akan kesepian lagi.


"Ayo cini tangkap aku!" ujar Aluna sambil berlari-lari kecil menghindari Gio. Ceritanya, mereka sedang main kejar-kejaran. Disaat kedua anak itu sedang bermain layaknya anak seumuran mereka, beda halnya dengan Axelo yang asyik sendiri dengan video gamenya.


'Huh! Ada untungnya juga ada si pendek, jadi aku tidak diganggu lagi oleh paman kecil. Tenang deh hidupku" kata Axelo dalam hatinya.


Tanpa Axelo sadari, sedari tadi Saka terus memperhatikannya yang sedang main video game. "Wah, jadi kamu suka main game itu juga?" tanya Saka yang berusaha mengakrabkan dirinya dengan putranya itu. Axelo hanya menganggukkan kepala dengan pelan sebagai respon. Tanpa mau menunjukkan respon lainnya. Hal itu semakin membuat Saka heran dan penasaran, mengapa anak itu terlihat seperti memusuhinya, padahal ini pertama kalinya mereka bertemu setelah sekian lama.


'Anak ini kenapa sih? Kenapa dia bersikap seperti memusuhiku? Apa Starla mengatakan sesuatu tentangku padanya yang bukan-bukan? Tidak, aku tidak boleh berprasangka buruk pada Starla, nggak mungkin dia mempengaruhi Axelo untuk membenciku' pikir Saka dalam hatinya. Ia mulai berpikir yang bukan-bukan karena sikap Axelo yang dingin, namun Saka menepis pikiran itu dan percaya pada Starla. Tidak mungkin gadis yang ia cintai memiliki hati seperti itu.


"Daddy dengar ada video game terbaru, apa kamu nggak beli di mall?" tanya Saka.


Barulah kali ini Axelo bicara, walaupun masih dengan suara dingin. "Mommy pingsan tadi, tidak jadi beli."


Meskipun kata-kata Axelo tidak memakai kata penyambung, namun Saka paham apa maksud Axelo. "Karena Starla pingsan, jadi Axelo tidak jadi membeli video game itu." Begitulah artinya.


"Oh begitu." bibir Saka membulat membentuk huruf O. Axelo jadi jengkel karena Saka hanya bereaksi seperti itu saja, ia pikir Saka akan melakukan sesuatu yang terduga, misalnya memberikan video game terbaru itu. Tapi, ah tidak mungkin sih. Pasti video game nya sudah habis terjual, tadi saja yang mengantri banyak.


Lantas, Saka pun meninggalkan Axelo seorang diri yang sedang asyik dengan video gamenya. Ia pun menelepon seseorang di sebrang sana, sedangkan Starla sedang berada di dapur dan menyiapkan makan malam seorang diri. Sebab Gina sendiri diminta untuk menjaga anak-anak saja, Gina kan tidak pandai memasak. Ya, walaupun begitu Adrian sangat mencintainya.


"Kamu sibuk?" ucapan Saka mengagetkan Starla yang sedang memotong-motong bawang.


"Auw!" tanpa sengaja wanita itu mengiris jarinya sendiri. Starla menarik jarinya dan melihat ada darah mengucur di sana.


"Astaga! Apa kamu terluka?" pekik Saka kaget dan langsung memegang tangan Starla. "Kamu berdarah. Maafin aku Star."


"Its okay, nggak apa-apa. Cuma luka kecil doang kok.'' ucap Starla sambil menarik tangannya kembali dari genggaman Saka. Namun Saka kembali menarik tangan Starla yang terluka itu, ia menghisap jari tengah Starla yang terluka dengan lembut.


"Saka, ka-kamu ngapain? Lepas!" pinta Starla, tapi sayangnya pria itu tidak mengindahkan permintaan Starla dan masih terus menghisap darah di jari tengah Starla.


Darah dan degup jantung Starla berhasil dibuat karuan oleh sikap Saka saat ini. Dan tanpa sengaja, Starla melihat wajah mantan suaminya yang tampan itu.

__ADS_1


"Dimana kotak obatnya?" tanya Saka begitu dia selesai menghentikan pendarahan di jari tengah Starla.


"Gak usah diobatin! Lagian kamu kayak Edwards Cullen aja main hisap hisap." tukas Starla yang kembali memotong-motong bumbu dapur.


"Kalau aku Edward, kamu Bella-nya dong?" seloroh Saka sambil terkekeh melihat raut wajah Starla yang seperti menahan senyum itu.


"Ish, kamu apaan sih?"


"Udah ah, kotak p3knya dimana?" tanya Saka memaksa. Akhirnya Starla memberitahu dimana kotak p3knya pada Saka. Setelah Saka mengambil kotak p3k itu, Saka langsung meminta Starla untuk menghentikan kegiatan memasaknya dulu.


"Bella sini, duduk dulu. Nanti aja masaknya!"


"Siapa sih Bella? Nggak mau." tolaknya yang masih memotong-motong bawang.


"Kalau nggak mau, aku cium." ancamnya dengan wajah mesum, ia menatap Starla tajam. Seakan-akan ucapannya tidak bisa dibantah.


"Saka stop! Aku lagi masak buat makan malam," ucap Starla menolak menuruti Saka. Ia menganggap ancaman Saka tidaklah serius.


Tiba-tiba saja Saka dengan berani mencium pipi Starla dan memeluknya dari belakang, ketika wanita itu sedang berkutat dengan acara potong bawangnya.


"Saka, kamu mesum banget!" akhirnya atensi Starla tertuju pada Saka dan dia meninggalkan pekerjaan potong memotong bawangnya.


"Aku serius Star, ancamanku nggak pernah main-main. Bahkan sekarang kalau kamu berani kabur dari aku lagi, aku nggak akan segan-segan kurung kamu." Saka menarik tubuh Starla dan memeluknya dengan seduktif, dia menatap wajah cantik yang hanya berjarak beberapa senti lagi untuk bersentuhan dengannya.


Saka pernah depresi karena kehilangan Starla dan Axelo dulu, jika tidak Aluna. Mungkin ia sudah tidak waras dan tidak bisa berdiri sampai saat ini. Alasan ia bertahan selama ini demi Starla, Axelo dan Aluna.


"Saka, lepas..." lirih Starla seraya memalingkan wajahnya dari Saka. Dia tidak mau melihat Saka, wajah yang membuatnya terluka sekaligus mencintai dalam satu waktu yang sama.


"Nggak mau. Janji dulu kamu mau berhenti masak dan tangannya aku obatin." kata Saka dengan posesif, dia semakin mengeratkan pelukannya pada Starla.


'Aku nggak akan lepasin kamu lagi Star' batinnya.


"Saka kamu tuh ya nyebelin banget--"


"Mau terus kayak gini, terus aku cium. Atau kamu nurut sama aku dan aku lepasin!" ancam Saka lagi yang membuat wanita itu berdecak kesal dan mengalah padanya.


"Oke, fine. Aku ngalah, aku janji bakal diobatin sama kamu dan stop masak."


Senyuman jahil terbit dibibir Saka, dan membuat pria itu berkali-kali lipat tampannya jika dilihat seperti ini. Starla menghela nafas, berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup kencang kala dirinya berada didekat Saka.


Akhirnya Saka melepaskan pelukannya dari Starla, lalu menuntun wanita itu ke wastafel. Dengan perhatian Saka membantu Starla membasuh tangannya yang habis memotong bawang tadi dengan air keran.


"Biar aku aj-"


"Sstt... diam saja." sela Saka yang masih fokus membasuh tangan Starla dengan air, lalu ia pun mengeringkannya dengan handuk kecil di sana.

__ADS_1


Kini Saka dan Starla duduk di kursi pantry, dan Saka dengan telaten mengobati luka di jari Starla yang tidak seberapa. Starla hanya diam dan tidak bicara apa-apa.


"Star...aku mau tanya tentang Axelo." ucap Saka disela-sela fokusnya membalut luka ditangan Starla dengan pembalut luka.


"Apa?"


"Apa Axelo benci aku Star?" tanya Saka dengan lirih dan mata yang sendu.


"Kenapa kamu bisa berpikiran begitu Saka?" Starla balik bertanya. Dia sedikit heran dengan pertanyaan Saka. "Aku nggak pernah ngomong apapun tentang kamu yang enggak-enggak sama Axel. Kamu nuduh aku, Saka?" tutur Starla sensitif.


"Enggak, aku nggak ada bilang begitu Star. Aku cuma nanya aja, apa Axel benci sama aku. Aku nggak nuduh kamu!" seru Saka menyanggah.


"Tapi kamu tadi kayak nuduh aku, seolah-olah kamu mengatakan aku mempengaruhi Axel buat bersikap seperti itu sama kamu!" ujar Starla emosi.


"Nggak Star, aku nggak bermaksud--"


"Udahlah! Kamu memang nuduh aku kan? Sumpah demi tuhan, aku nggak pernah ngomong hal buruk tengah kamu sama Axel. Malah setiap aku mau cerita tentang kamu, Axel selalu menolaknya!" Starla memotong ucapan Saka dan dia terlihat emosi. Tanpa wanita itu sadari, air matanya sudah berjatuhan.


"Star...dengerin aku dulu, aku--"


"Mommy kenapa nangis?" tanya Axelo setengah berteriak. Anak laki-laki itu menghampiri mommynya dan langsung memeluk.


Starla dan Saka kaget melihat Axelo berada di sana. Axel datang bersama dengan Aluna ke dapur. Axelo cemas saat melihat ibunya menangis, Aluna juga turut menghampiri kedua orang tuanya yang masih berada dalam posisi duduk di sofa.


Buru-buru Starla menyeka air matanya, dia tersenyum menyambut kedua anaknya. "Eh, kenapa kalian kemari? Mommy belum selesai masaknya."


"Mommy kenapa menangis?" tanya Axelo penuh kasih sayang pada Starla.


"Kak Axel, lihat tangan mommy beldalah!" tunjuk Aluna pada jari tengah Starla bagian tangan kanan yang diperban.


Axel melihatnya juga, lalu dia menghampiri Saka dengan tatapan marah. "Apa yang Paman lakukan pada mommyku?!" sentak Axelo marah.


Deg!


Jantung Saka seakan dicuri dari dirinya saat anaknya sendiri memanggilnya paman, bukannya ayah. Hatinya mencelos karena Axel memang tidak menyukainya.


"Axel, Daddy tidak melakukan apa-apa. Kenapa kamu bicara begitu nak?" tegur Starla pada putranya.


"Karena cuma dia yang selalu membuat Mommy menangis. Aku tidak suka dia," ujar Axelo.


"Axel, yang sopan pada papamu!" seru Starla tegas. Starla heran, kenapa putranya bisa bicara seperti itu?


"Dia bukan Daddy ku, aku tidak butuh Daddy!" perkataan Axelo membuat Saka sakit hati, matanya berkaca-kaca menatap Axelo yang tampak membencinya. Starla juga tidak paham kenapa Axelo bersikap seperti ini pada Saka. Apa yang membuat Axelo membenci Saka?


...****...

__ADS_1


__ADS_2