
"Sak, kayaknya Lo harus hati-hati sama tuh orang. Menurut penerawangan insting gue sebagai laki, gue lihat dia kayak suka sama kak Starla," ucap Fero setelah melihat bagaimana sikap Bisma tadi yang terkesan menantang Saka dan bagaimana tatapan pria itu pada Starla. Penuh cinta di sana.
"Gue tau." jawab Saka menyahut.
"Lo tau? Emang dia siapanya Bu ayang? Kok kayaknya deket gitu?" tanya Malvin penasaran. Ya, kedua sahabat Saka ini masih belum tau kalau Bisma adalah mantan Starla. Saka belum bercerita pada mereka tentang hal ini.
"Dia mantan tunangannya," jawab Saka dan membuat Malvin Fero terkejut.
"What? Mantan tunangan?" Fero dan Malvin ternganga.
"Gila! Kak Starla keren banget, dia punya mantan tunangan yang udah mapan mana punya mall lagi, dia ganteng dan--" ucapan Fero terhenti saat Malvin menyenggol tangannya. Itu karena tatapan Saka yang tajam pada keduanya, Saka tidak suka ada yang memuji rivalnya. Lihat saja wajah Saka yang bete saat ini.
"Ha ha ha...tetap aja kok gantengan temen gue ini. Dia juga bakal mapan kok nanti! Haha." Fero tertawa tawanya dibuat-buat dan dia memuji Saka agar temannya itu tidak marah. Tapi sayangnya Saka sudah bete duluan, dia berjalan pergi meninggalkan kedua temannya di sana. Mereka harus masuk kelas karena bell masuk sudah berbunyi.
Saka berharap agar Starla tidak bicara lama dengan Bisma dan tidak berbuat macam-macam. Saka tidak mau Starla tergoda dengan mantan tunangannya lagi. Meski itu tak mungkin karena Starla sudah berjanji, apalagi Starla sedang mengandung anaknya.
****
Bisma dan Starla kini berada didalam mobil Bisma agar pembicaraan mereka tidak didengar orang lain. Padahal Bisma sudah mengajak Starla untuk makan bersama dan bicara di restoran, tapi Starla menolak. Lagipula wanita itu tidak akan bicara lama-lama dengan pria ini.
"Maksud kak Bisma apa sih? Kenapa kak Bisma datang ke sekolah dan ngaku-ngaku sebagai suami dan ayah dari anakku?" tanya Starla dengan emosi yang masih menggebu.
"Aku kan udah bilang, aku cuma nolong kamu. Aku lihat berita di medsos, aku tau kamu pasti kesulitan...makanya aku datang--"
"Stop! Ini bukan urusan kakak, kenapa kakak datang? Kenapa kakak ikut campur dan buat rumit semuanya?" cecar Starla dengan tatapan tajam pada mantan tunangannya itu.
"Bagian mananya hal yang aku lakukan ini membuat rumit? Aku cuma bantuin kamu dari kekacauan itu. Memangnya suami kamu bisa melakukannya? Aku tau dia tidak akan bisa Star, karena nggak mampu! Dia cuma anak kecil yang bahkan belum dewasa, Star! Nggak ada gunanya tau." Bisma berujar demikian dan malah menjelekkan suami Starla yang tidak akan mampu melindungi Starla dalam keadaan seperti tadi. Diman Starla dipojokkan oleh semua orang.
"Jangan pernah bicara seperti itu tentang suamiku. Meskipun usia Saka masih muda, tapi dia bertanggungjawab dan baik sama aku. Dia juga sangat menyayangi calon anak kami!" ucap Starla membela suaminya, dia tidak akan biarkan siapapun menginjak-injak harga diri Saka. Beraninya Bisma mengatakan hal buruk tentang Saka.
'Kenapa kamu sangat membelanya Star? Aku yakin itu pasti karena rasa iba kan? Atau kamu mau memperlihatkan semuanya baik-baik saja di depanku. Karena aku yakin, kamu masih mencintaiku jika bukan karena ada bayi itu, dasar bayi sialan!' batin Bisma dengan mata mengarah pada perut Starla.
"Oh begitu ya, kalau dia bertanggungjawab seperti apa yang kamu pikirkan. Kenapa dia malah diem aja saat semua orang menyudutkanmu? Harusnya dia ngaku dong, kalau kamu adalah istrinya!" terpatri senyum tipis dan ucapan merendahkan Saka diwajahnya itu.
"Aku yang memintanya begitu dan aku nggak perlu menjelaskannya sama kakak. Kalau kakak lupa, aku perlu ingatkan...lagi dan lagi. Bahwa aku sudah menikah kak, aku sudah berumah tangga. Tidak seharusnya kak Bisma ikut campur urusanku, kita udah bukan siapa-siapa lagi!" ujar Starla sembari menunjukkan cincin kawin yang melingkar ditangannya. Awalnya ia tidak memakai cincin itu, tapi hari ini kebetulan dia ingin memakainya. Apalagi hubungannya dan Saka sudah membaik dari sebelumnya.
Setiap kata-kata Starla selalu menyakiti Bisma, apalagi soal pernikahannya dengan Saka. Bisma, masih belum menerima mantan tunangannya sudah menikah. Pria itu terdiam cukup lama, hingga ia pun memberanikan diri bicara sesuatu yang mungkin Starla akan membencinya.
"Aku tau kamu udah nikah. Tapi apa arti pernikahan itu bila kalian menikah terpaksa. Dan aku yakin dia tidak akan bisa melindungi kamu dan bayi kamu Star. Dia masih belum dewasa, tidak bisa diandalkan, kamu nggak akan bahagia sama dia..." ucap Bisma yang membuat Starla marah.
"Urusan bahagia dan tidak, itu bukan URUSAN KAKAK." ketus Starla. "Aku tekankan sekali lagi kak, aku sudah menikah. Apapun masalah pernikahanku, kakak nggak boleh ikut campur! Paham?" sentak Starla yang sudah terbawa emosi dan tidak tenang lagi.
"Tapi Star, kamu nggak akan bahagia sama dia!" kata Bisma lugas.
"Cukup kak Bisma! Jangan bahas ini lagi. Ternyata percuma aku bicara sama kakak, kalau kakaknya nggak paham-paham." dada Starla bergemuruh karena emosi. Rupanya percuma saja ia bicara panjang lebar dengan pria ini, tak ada gunanya dan Bisma tak paham.
Lantas, Starla memilih untuk membuka pintu mobil agar bisa keluar dari sana. Namun pintunya dikunci oleh Bisma si pemilik mobil.
"Buka pintunya kak Bisma!" seru Starla dengan tatapan tajam pada Bisma. Namun sial, pria itu bergeming dan malah menatap Starla dengan tatapan seolah ia terluka dengan sikap Starla.
'Kenapa aku nggak bisa melihat tatapan mata yang penuh cinta dari mata kamu Star? Kenapa sekarang tatapan kamu seperti itu?' Bisma bergeming dan termenung dengan pikirannya sendiri. Melihat tatapan mata Starla yang dulu selalu menatapnya penuh cinta. Sekarang melihatnya seperti orang asing. Bisma tidak mau seperti ini, dia pernah memimpikan hari indah masa tua bersama Starla. Tapi semuanya musnah begitu saja.
Bisma jadi teringat dengan masa lalunya dan Starla dulu. Dimana setiap kali Starla selalu tersenyum dan perhatian padanya, tapi sekarang tidak ada lagi Starla yang seperti itu. Starla sudah menjadi milik orang lain.
"Kak Bisma, buka pintunya nggak? Jangan buat aku makin marah sama kakak--"
Hmphh~
__ADS_1
Kedua mata Starla melebar saat tiba-tiba saja Bisma menarik tubuhnya, memeluknya erat dan mencium bibirnya dengan paksa. Starla berusaha berontak, tapi tenaga Bisma jelas jauh lebih kuat. Starla meneteskan air mata, dia tidak terima diperlakukan seperti ini. Starla merasa berdosa pada suaminya.
'Maafin aku Saka' batin Starla.
Merasakan buliran hangat basah dari Starla, akhirnya Bisma melepaskan tautan bibir keduanya. Wajah Starla merah, matanya mengeluarkan buliran bening itu begitu deras.
Plakk!
Tangan Starla melayang di pipi Bisma, dia menamparnya sekuat tenaga. Meskipun tenaga Starla bukan apa-apanya bagi Bisma, rasa sakit di pipinya jauh dengan rasa sakit dihatinya. Tapi tindakan Bisma yang terbawa nafsu tadi, membuatnya kalap dan mencium Starla. Wanita yang sudah menjadi istri orang lain.
"Keterlaluan kamu kak Bisma! Brengsek!" umpat Starla dengan nafas yang terengah-engah dan memburu. Ia emosi dengan tindakan kurang ajar Bisma barusan.
"Maaf, aku masih mencintai kamu Star. Maafin aku!" lirih Bisma menyesal karena sudah bersikap kurang ajar pada Starla. "Tapi Star, aku pengen kamu tau...aku rela jadi ayah bayi kamu. Jadi kamu bisa cerai sama bocah itu dan nikah sama aku," ucap Bisma yang membuat Starla mendelik tak percaya.
"STOP KAK! BUKA PINTUNYA!" teriak Starla marah.
Bisma pun membuka pintu mobil dan membiarkan Starla pergi dari sana. Setelahnya Starla pergi dengan menggunakan taksi, dia merasa tidak bisa melanjutkan aktivitasnya hari ini. Dan memilih untuk pulang ke rumah saja.
Sesampainya di rumah, Starla melangkah masuk begitu saja ke dalam rumah tanpa melihat papanya yang sedang merawat tanaman di halaman depan. "Starla? Kenapa dia nangis?"
Adrian meninggalkan semua pekerjaannya merawat tanaman. Lalu menyusul anaknya ke dalam rumah untuk melihat apa yang terjadi. Sebelum Starla masuk ke dalam kamar, Adrian menahan anaknya lebih dulu.
"Sayang, ada apa? Kenapa kamu nangis?" tanya Adrian yang sedih melihat wajah putrinya basah karena air mata.
"A-aku nggak apa-apa Pa." Starla terlihat terkejut melihat papanya ada di rumah. Mana papanya melihat ia menangis.
'Aku pikir Papa nggak ada di rumah. Kenapa papa ada di rumah?' batin Starla heran melihat papanya ada disini. Setahu Starla, tadi pagi papanya bilang mau pergi ke rumah temannya.
"Sayang, jangan bilang kamu nggak apa-apa. Kamu nangis kayak gini," lirih Adrian seraya menangkup kedua pipi Starla dengan lembut.
"Nggak pah, ini bukan salah dia. Pa, Starla mohon...beri waktu Starla buat sendiri, aku nggak bisa bicara sekarang." pinta Starla lembut.
"Tapi sayang--"
Starla menepis tangan papanya, lalu masuk ke dalam kamar dan mengunci kamarnya. Adrian berusaha bicara bahkan mengetuk pintu kamar Starla, namun wanita itu tak kunjung membuka pintunya. Sebagai seorang ayah, pastinya Adrian merasa cemas melihat putrinya seperti ini. Meskipun Starla sudah menikah.
"Ada apa sama Starla? Apa aku tanya Gina aja ya?" pikir Adrian yang ingin menelepon Gina untuk menanyakan Starla.
****
Di rumah Gina.
Terdengar suara musik kencang di kamar Gina, gadis itu dalam posisi tengkurap. Bayangan Adrian tersenyum dengan wanita lain, masih membuat Gina sakit hati. Hari ini Gina sedang dalam mode mageran dan tidak mau kemana-mana karena galau.
"Siapa sih cewek itu? Kenapa dia deket banget sama om Adrian?" gerutu Gina kesal. "Masa sih aku kalah sebelum berperang? Aku bahkan belum menyatakan perasaanku sama om Adrian."
Sementara itu lagu di kamar Gina yang tadinya roker berubah jadi lagu-lagu mellow sesuai dengan isi hatinya saat ini.
🎶🎶🎶
Kau membuatku berantakan, kau membuat ku tak karuan...
Kau membuatku tak berdaya, kau menolakku...acuhkan diriku
Bagaimana caranya untuk meruntuhkan kerasnya hatimu. Kusadari, ku tak sempurna, ku tak seperti yang kau inginkan...
Kau hancurkan aku dengan sikapmu, tak sadarkah kau telah menyakitiku..Lelah hati meyakinkanmu...
__ADS_1
Cinta ini membunuhku...
🎶🎶
"Nggak, aku harus mencoba dulu sebelum mendapatkan penolakan yang pasti. Aku bakal nyatain perasaanku sama om Adrian!" cetus Gina pada akhirnya. Sekarang jaman emansipasi wanita dan tidak peduli siapa yang mengatakan cinta duluan.
Saat Gina akan melihat ponselnya, dia melihat panggilan tak terjawab dari Adrian. Berkali-kali Gina mengucek matanya untuk memastikan ini benar atau tidak. "Om Adrian nelpon aku?" tanya Gina. "A-apa aku nggak salah lihat?"
Gadis itu beranjak dari ranjangnya, kemudian mengambil kacamata untuk memastikannya. Ia melihat ponselnya. "Beneran om Adrian! Ada apa ya dia nelpon aku?"
Satu detik kemudian, ponsel Gina kembali berdering. Dia pun langsung mengangkatnya, dengan tambahan senyuman di bibirnya. Seolah Adrian sedang berhadapan dengannya saat ini. Gina sangat bahagia dengan panggilan telpon dari Adrian.
"Halo Om, maaf ya tadi aku lagi di kamar mandi. Makanya telat angkat telpon, om." ucap Gina menjelaskan.
"Oh gitu, maafin om ya kalau udah ganggu kamu. Om cuma mau tanya, kamu bisa datang ke rumah om sekarang?" tanya Adrian sopan.
"Hem...ada apa ya om?" tanya Gina heran. 'Mau ngapain om Adrian suruh aku ke rumah?' batin Gina.
"Kalau kamu lagi sibuk, nggak apa-apa Gin. Nggak usah datang," ucap Adrian lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Gina.
"Iya om! Aku ke rumah sekarang, kebetulan aku lagi nggak sibuk kok. Tunggu ya om!" seru Gina yang langsung setuju dengan Adrian.
"Ya sudah om tunggu disini ya. Kalau kamu mau datang dan tidak keberatan!" ujar Adrian.
"Aku akan datang, Om."
"Ya udah, hati-hati ya Gin." ucap Adrian. Sebenarnya Adrian bingung harus menelpon siapa disaat menanyakan putrinya. Hanya Gina, satu orang yang bisa ditanyai olehnya. Gina yang paling dekat dengan Starla. Mungkin dulu, Adrian akan menelpon Vita lebih dulu kalau tanya-tanya soal Starla. Sejak tau Vita yang membuat hidup anaknya seperti ini, Adrian marah.
****
Gina langsung tancap gas menuju ke rumah Starla setelah mendapatkan telpon dari . Di sana Gina langsung menanyakan ada apa Adrian meneleponnya. Adrian pun menjelaskan bahwa Starla pulang dalam keadaan menangis. Adrian lalu menanyakan pada Gina, mungkinkah Gina tau kenapa Starla begini.
"Gin, kamu pasti tau apa yang terjadi kan?"
"Jujur om, Gina emang tau. Tapi lebih baik hal itu, nanti Starla sama Saka aja yang kasih tau." ucap Gina sopan. Ia tidak mungkin menceritakan privasi Starla dan Saka, ia kan suruh jaga rahasia.
"Apa ini karena Saka?"
"Bukan om, ada hal lain." jawab Gina.
Lantas setelah bicara dengan Adrian, Gina mencoba menghibur Starla dan bicara dengan sahabatnya itu. Syukurlah pintu kamar itu dibuka untuk Gina. Dan dengan senang hati, Starla bicara dengan Gina tentang masalahnya agar ia tidak terlalu stress.
Siang itu Saka pulang lebih awal, meskipun ia sudah dapat pekerjaan paruh waktu dan seharusnya ini adalah hari pertamanya bekerja, namun niat itu ia urungkan menjadi besok. Sebab, ia mendapatkan telpon dari ayah mertuanya untuk segera pulang ke rumah. Belum lagi, ia harus mengecek kondisi Starla yang tadi habis bicara dengan Bisma.
"Sudah pulang kamu?" tanya Adrian sinis dengan raut wajah dinginnya.
"Iya pah," jawab Saka. 'Ada apa ya? Kenapa papa liatin aku kayak gitu?'
"Kamu apain anak saya sampai pulang-pulang dia menangis seperti itu?" Adrian berada dalam mode galaknya, ia menatap tajam pada Saka. Sementara Saka tidak mengerti apa yang terjadi.
"Starla nangis pah?" ucap Saka dengan polosnya.
"Pake nanya kamu! Bukannya gara-gara kamu ya?" tanya Adrian menuduh Saka.
"Pa, ini bukan salah Saka! Jangan nuduh dia," ucap Starla membela suaminya. Dia sudah berada diambang pintu kamarnya.
...****...
__ADS_1