
Hal pertama yang Starla tanyakan tentu saja bagaimana keadaan anak-anaknya terlebih dahulu. Saat ia tertabrak motor, dia tidak memikirkan kondisinya tapi memikirkan bagaimana kedua anaknya. Apakah mereka selamat atau tidak?
"Anakku bagaimana Pah? Mereka nggak apa-apa kan?" tanya Starla seraya melihat ke arah papanya.
"Mereka lahir dengan selamat tanpa kekurangan apapun sayang. Mereka laki-laki dan perempuan. Tapi untuk sekarang kamu belum bisa ketemu sama mereka, dokter bilang kamu tidak boleh banyak bergerak dulu. Kamu akan melakukan operasi." jelas Adrian kepada putrinya. Dia mengusap-usap ceruk kepala Starla.
"Apa...mereka tidak bisa dibawa kesini? Anak-anakku baik-baik saja kan?" tanya Starla yang masih mencemaskan kondisi kedua anaknya.
"Mereka masih ada di ruang bayi, sedang dalam pemantauan dokter."
"Pemantauan dokter? Anak-anakku kenapa?" tanya Starla panik.
Adrian terlihat diam, dia memikirkan ucapan dokter sebelumnya tentang twins. Ada masalah gangguan pernafasan pada Aluna karena paru-paru yang belum siap, berat badannya juga kecil. Lalu Axelo juga mengalami hal yang sama, masalah berat badan yang kecil dan syaraf-syaraf organ pencernaannya belum siap. Tapi mereka bisa terbilang kuat untuk saat ini.
"Tenanglah sayang, mereka tidak apa-apa. Mereka hanya perlu pemantauan karena lahir prematur. Tidak ada yang serius, bahkan mereka banyak minum susu." ucap Anggun yang tampak menenangkan Starla.
"Papa sama Mama Anggun nggak bohong kan?" tanya Starla lagi.
"Kami nggak bohong kok sayang. Mama Anggun berkata benar." Adrian terlihat biasa saja didepan Starla, meskipun tadi ia sempat berdebat dengan Anggun. Adrian tidak mau Starla kepikiran, apalagi dia baru siuman dari komanya.
"Ya udah kalau begitu. Maaf...apa boleh aku minta waktu berdua dengan Saka?" pinta Starla kepada semua orang yang ada di ruangan itu. Kecuali Saka, sebab Starla sepertinya ingin bicara dengan Saka.
Jantung Saka sangat kencang ketika Starla mengatakan ingin waktu berdua dengannya. Dia menatap Starla yang sama sekali tidak tersenyum saat melihat pria itu. Sorot matanya begitu dingin, lebih dari dinginnya es. Seakan semua rasa untuk pria itu sudah mati dilihat dari tatapan matanya.
"Ya sudah, kami tinggal dulu kalau begitu." ucap Adrian sambil tersenyum. Sebelum pergi dari kamar, ia melirik sinis pada Saka dan memperingatkannya dengan gerak bibir, agar tidak macam-macam pada Starla.
Suster, Adrian, Ghea dan Anggun lalu keluar dari sana. Adrian, Ghea dan Anggun kompak memutuskan untuk ke ruang bayi melihat Baby Al dan Baby Axe. Sementara sekarang, di ruang rawat Starla hanya ada Saka dan Starla.
Keduanya hening, belum ada yang memulai pembicaraan. Hanya tatapan mata saja yang bicara, namun terlihat mata Saka yang sembab karena ia bamyak menangis. Dan entah apa yang ada dipikiran Starla saat ini, tapi tatapan wanita itu membuat Saka gelisah.
"Star, aku senang kamu sudah siuman. Aku dan anak-anak kita sudah menunggu kamu dan banyak hal yang ingin aku katakan sama kamu." Akhirnya Saka membuka percakapan terlebih dahulu, ia berusaha mencairkan suasana.
Starla bergeming, ia masih menatap dingin pria yang berstatus suaminya itu. Sepertinya dia ingin mendengarkan Saka terlebih dahulu.
"Aku minta maaf karena sudah mengecewakan kamu. Aku akui aku memang berselingkuh dari kamu, tapi niatan awalnya tidak begitu. Aku berniat menolong Elisa yang sakit kanker, namun ternyata dia berbohong. Aku tahu Star, apa yang aku katakan sama kamu terkesan seperti alasan saja dan tidak mengubah fakta bahwa aku memang sudah berselingkuh. Aku menikmatinya--"
Deg!
Hati Starla sakit mendengar pengakuan langsung dari suaminya, matanya mulai memanas. Namun, ia sudah memutuskan untuk tegar dan tidak menangis didepan Saka. Dan sekarang lihatlah, pria itu menangis dan berusaha menggenggam tangan Starla. Akan tetapi, Starla dengan cepat menarik tangannya.
'Bahkan Starla nggak mau aku sentuh' kata Saka sedih dalam hatinya.
__ADS_1
"Teruskan." kata Starla dingin.
Saka kembali berucap dengan terisak. "Aku...minta maaf! Aku janji akan memperbaiki semuanya, berikan aku kesempatan Star. Aku tidak akan selingkuh lagi. Demi anak-anak kita, aku mohon kamu--"
"Sudah cukup bicaranya. Sekarang giliranku Arshaka Delano." sela Starla sebelum suaminya sempat menyelesaikan ucapannya.
Kini atensi menyalang tajam mengarah pada Saka dari Starla. Dia mulai mengatur nafasnya, mengumpulkan kekuatan agar dia bisa berbicara dengan suaminya tanpa emosi. Sebenarnya Starla merasa kepalanya sangat sakit, tubuhnya juga lemas, tapi dia harus bicara sekarang. Dia takut, jika tidak bicara sekarang, mungkin setelah operasi dia akan mati. Pikirnya begitu.
Starla bergeming cukup lama, dia kepikiran dengan pertengkaran yang terjadi di dalam pernikahannya. Itu semua karena mantan pacar Saka.
#Flashback
"Kamu lah siapa lagi. Bukannya kamu pergi kesini karena menghindar dari aku? Tau nggak, sikap kamu itu masih kekanakan!"
"Egois ya kamu. Siapa yang kekanakan itu? Bukannya itu kamu? Kamu yang labil, masih gamon sama mantan." cetus Starla kesal.
"Bisa nggak kamu kasih kesempatan aku buat jelasin? Pertama masalah baju, oke aku akui aku salah. Aku salah bicara, maaf kalau kamu jadi mikirnya aku masih gamon sama Elisa. Tapi enggak Star, sumpah aku nggak gamon sama Elisa!" jelas Saka dengan cepat.
"Jangan pake kata sumpah, kalau kamu belum paham dengan hati kamu sendiri. Udahlah Ka, mending kita lupain aja masalah tentang hubungan kita ini. Kamu tau nggak? Kita udah nikah, tapi nggak kayak nikah. Aku rasa kita barengan cuma gara-gara little star aja. Nggak ada perasaan apapun diantara kita! Lebih baik kita menempatkan batasan," tutur Starla dengan dada naik turun karena emosi.
"Apa sih maksud kamu? Star aku paham kamu marah gara-gara aku nganter Elisa kan? Semua ada penjelasannya, aku--"
Starla mengangkat satu tangannya dan meminta Saka untuk diam. "Nggak ada penjelasan Ka. Nggak ada. Semua udah jelas dan aku juga nggak akan protes lagi kalau kamu masih ada hubungan sama mantan kamu, ya silahkan! Tapi... setidaknya kalau kamu lagi jalan sama Elisa dan janjian sama aku, harusnya kamu kabarin dulu biar aku nggak nunggu. Finally, lebih baik kita nggak usah memulai hubungan baru atau apalah itu kalau kamu masih gamon sama masa lalu!" seru Starla panjang lebar, mengutarakan isi hatinya.
"Itu nggak benar, aku nggak kejebak dalam masa lalu. Tadi tuh aku cuma nolongin Elisa dan--"
"Kalau kamu nggak terjebak sama masa lalu, mau seperti apapun keadaan cewek itu, kamu nggak akan peduli sama dia Saka.Tapi kamu, kamu lupain aku saat kamu jalan sama dia. Itu udah cukup jadi bukti, kalau kamu cuma main-main sama hubungan kita. Mulai sekarang kita jalani hidup masing-masing, sampai bayi ini lahir...kita pisah." Akhirnya Starla mengucapkan kata pisah pada suaminya.
Bukan hanya sekali dua kali mereka bertengkar, karena Saka yang gamon. Starla masih ingat benar, dia selalu mengucapkan perpisahan.
#End Flashback
"Saka, kamu sadar nggak sih? Rumah tangga kita sejak awal itu bermasalah. Dari awal kita bertemu, sampai aku hamil, kita nikah. Semuanya nggak ada yang berjalan lancar, bahkan bahagia kita cuma sebentar. Aku sudah merenungi semuanya Saka, aku juga salah disini. Jadi kamu nggak usah merasa salah sendiri. Aku juga salah karena sejak awal aku nggak sadar diri, kalau kamu tidak mencintaiku. Kami menikahiku hanya karena bayi kita. Seharusnya aku menolak tanggungjawabmu, kalau tau jadinya akan sesakit ini jadi istri kamu." jelas Starla sambil tersenyum tipis.
"Itu nggak benar! Aku--"sanggah Saka.
"Jangan pernah bilang kamu cinta sama aku padahal buktinya enggak. Semua ucapan kamu berbanding terbalik dengan sikap kamu ke aku." sela Starla yang masih berusaha tersenyum tegar.
Saka menggeleng panik, dia memegang tangan Starla dengan erat seakan takut kehilangan wanita itu. "Nggak! Please jangan ngomong kayak gitu!" Saka ketakutan, dia tidak mau Starla mengatakan hal yang sangat tidak ingin dia dengar.
"Aku lelah Saka, ini sudah batas ku. Coba kamu pikir, ini tidak terjadi satu atau dua kali. Kamu selalu bilang kalau kamu udah move on dari dia. Tapi apa? Move on apa? Tidak ada bukti kamu udah move on! Pertama, kita bertengkar saat kamu nganter Elisa pulang ke rumahnya dan aku nunggu kamu jemput aku di rumah Gina. Kedua, saat aku pergi ke dokter kandungan...aku tahu saat itu kamu bukannya di sekolah tapi nemenin Elisa yang lagi sakit di rumahnya. Ketiga, waktu kamu ciuman sama Elisa...kamu bilangnya itu nggak sengaja. Tapi setelah lihat kejadian semalam, aku jadi yakin kalau kamu menyukainya." Starla sesak saat mengatakannya, teringat semua hal menyakitkan hatinya bahwa hanya ia yang setia pada Saka.
__ADS_1
"Aku...aku nyesel Star, aku mohon kasih aku kesempatan kedua." pinta Saka.
"Kesempatan kamu bilang? Udah sering aku kasih itu sama kamu Saka. Aku udah sering maafin kamu Saka, tapi kamu selalu mengulanginya lagi. Semalam adalah batasku Saka, hatiku sakit dengan sikap labil dan plin-plan kamu. Aku capek, kita akhirnya saja semuanya Saka. Mungkin kita emang nggak berjodoh untuk menjadi suami-istri dan--"
Saka menaruh jali telunjuknya di bibir Starla, ia tidak mau mendengar kata perpisahan. Tapi Starla sudah terlalu lelah dengan semua ini.
"Aku tau kamu marah, tapi tolong jangan ada kata perpisahan! Kamu nggak mikirin gimana anak-anak kita? Axelo dan Aluna butuh kasih sayang kedua orang tuanya, Star. Oke, aku minta maaf..aku nyesel. Aku bakal ngelakuin apapun, asal kamu enggak mengakhiri pernikahan kita. Tolong, setidaknya pikirkan Aluna dan Axelo." Saka memohon-mohon.
"Kita bisa memberikan mereka kasih sayang, mengurus mereka bersama, meski kita bukan suami-istri lagi. Dan kamu harus tau kalau aku bukan sekedar marah sama kamu, tapi aku lelah dan aku kecewa. Aku nggak mau sakit hati lagi Saka. Setelah aku hampir meregang nyawa, yang aku pikirkan adalah Axelo dan Aluna. Aku takut Saka, aku takut kejadian yang sama akan terulang. Maaf, kita harus berpisah dan ini sudah jadi keputusanku. Setelah ini kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau, kamu bisa pacaran dan nikah sama wanita yang kamu cintai. Aku bebas, kamu juga Saka. Ini yang terbaik!" Tutur Starla dengan berat hati, kali ini wanita itu meneteskan air matanya. Dia menahan rasa sesak di dadanya.
"Nggak! Aku nggak mau pisah Star, aku sayang sama kamu dan anak-anak. Aku nggak mau!"
"Ini yang kamu mau Saka. Dan kamu nggak boleh menolak permintaan aku, karena kamu sudah janji kalau aku siuman...kamu akan mengabulkan permintaan aku. Inilah permintaan aku Saka, CERAI." tegas gadis itu kepada suaminya. Saka mendongakkan kepalanya, ia menatap Starla. Ternyata wanita itu sudah siuman sejak tadi.
"ENGGAK!! AKU MOHON, KASIH AKU KESEMPATAN SEKALI LAGI! AKU MENYESAL! AKU SALAH! MAAFIN AKU!" Saka menangis histeris, ia tidak mau bercerai dari Starla. Karena sungguh didalam hatinya ia sudah mencintai Starla, hanya saja rasanya itu masih kalau oleh godaan wanita lain dan belum terlalu kuat.
****
Di rumah sakit yang sama, bagian spesialis kanker. Elisa sedang dirawat di sana, gadis itu terlihat sedih. Dan dia memakai pakaian pasien, disaat sedih terpuruk seperti ini, tak ada satupun teman yang datang menjenguknya. Elisa sudah memberitahu Lira dan Angel juga, tapi mereka tidak mau datang.
Ayahnya Dario juga tidak mau datang, dia lebih memilih mengurus perusahaannya. Apalagi jika dia meminta Saka datang, itu hal yang mustahil karena Saka sedang marah besar padanya. Bahkan rumah tangga Saka mungkin berada dalam keadaan kacau karena dirinya. Tapi jangan salahkan Elisa saja, salahkan juga Saka. Kenapa dia tergoda oleh Elisa?
Dan sekarang, Elisa divonis kanker rahim stadium 3. Dokter menyarankan untuk rahimnya segera diangkat agar kanker itu tidak semakin melebar kemana-mana. Apa ini yang namanya karma dibayar tunai?
"Sayang, kamu harus mau dioperasi ya? Kalau kamu nggak mau, nanti kanker kamu menyebar dan nyawa kamu bisa dalam bahaya!" bujuk Sinta pada anaknya.
"Nggak Ma! Nanti aku nggak bisa punya anak kalau rahimku diangkat, apa gunanya aku jadi cewek Mah? Aku nggak mau." Elisa menangis histeris, dia tidak mau melakukan operasi pengangkatan rahim itu.
"Mending aku mati aja daripada rahim ku harus diangkat! Aku nggak mau!" Elisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan menolak untuk dioperasi. Sinta, memeluknya dan berusaha untuk menenangkannya. Namun Elisa malah mendorong ibunya sampai Sinta jatuh ke lantai.
"CUKUP ELISA! KAMU BENAR-BENAR KETERLALUAN!" suara seorang pria membuat Elisa dan Sinta langsung melihat ke arah pintu. Dario menatap tajam ke arah Elisa, dia terlihat marah.
"Papa?"
Dario membantu istrinya berdiri. "Sudah Ma, mama tidak usah mempedulikan anak ini lagi! Dia sangat keras kepala, manja dan tidak sadar bahwa sikapnya ini sangatlah tidak baik.
"Ini salah Papa karena terlalu memanjakannya. Sehingga dia salah jalan, tapi Ma...belum terlambat untuk semuanya." ucap Dario pada istrinya.
"Apa maksud Papa?"
"Biarkan saja dia disini sendiri dulu, biar dia merenungi kesalahannya!" ujar Dario tegas.
__ADS_1
...****...