
Begitu tersadar dari pingsannya ,Gina langsung menyela ucapan papanya dan juga Adrian dengan mengatakan bahwa dia akan menjadi jomblowati kalau papanya tidak mau menikahkannya dengan Adrian.
Gadis itu langsung menempel lagi pada Adrian, bahkan menghindar dari kedua orang tuanya. Sejujurnya, Rani dan Tomi syok melihat anak mereka begitu lengket dengan pria yang notabenenya yang harusnya dipanggil om om oleh Gina. Bahkan Tomi dan Rani tidak pernah ditempeli seperti itu oleh Gina.
Tomi mungkin penyayang, namun dia juga keras kepala jika keinginannya ditentang. Bagi Tomi, semua harus terencana. Termasuk rencana pernikahan Gina dan anak sahabatnya yang sudah dirancangnya sejak lama. Pernikahan ini bermanfaat untuk mempererat hubungannya dan sahabatnya. Lalu untuk menolong anak sahabatnya agar harta warisan kakeknya tidak jatuh ke tangan orang lain.
"Gina! Jaga sikap kamu, lepaskan tangannya!" ujar Tomi pada putrinya.
"Nggak mau, nanti Papa pukul Gina lagi." gadis itu berpegangan erat pada lengan kekar Adrian. Dia mencari perlindungan dari pria itu.
"GINA!" bentak Tomi pada putrinya.
"Tolong Pak, kita bisa bicara baik-baik tanpa membentak." ucap Adrian seraya menenangkan emosi Tomi. Sekarang Adrian tau kenapa Gina keras kepala, itu karena papanya juga seperti ini. Mungkin karena Gina sering dibentak. Adrian sendiri selalu mendidik Starla dengan tegas ,namun juga penuh kasih sayang. Mendidik anak bukan dengan membentak, yang ada anak malah takut dan membuat anak menjadi pribadi yang keras kepala. Itulah yang selalu diingatkan oleh Anna, istri Adrian yang sudah meninggal dulu. Sampai sekarang Adrian selalu menerapkan ajaran itu.
Rani memegang tangan Tomi, seraya menenangkan suaminya untuk tidak emosi lagi.
"Tapi Ma, Gina terus nempel sama dia!" seru Tomi seraya menatap tajam pada Adrian dan Gina. Ia bahkan enggan memanggil nama Adrian.
Melihat kemarahan Tomi padanya dan Gina, akhirnya Adrian kembali membujuk Gina. Dengan kata-kata lembutnya, pria itu meminta Gina melepaskannya. Namun kali ini lain, Adrian membisikkan sesuatu yang membuat darah Gina berdersir hebat.
"Gina, kamu mau nikah kan sama Om? Kalau kamu cinta sama om, lepasin tangannya ya?" bisik Adrian yang membuat gadis itu tersenyum dengan pipi merona.
"Mau om!"
"Ya udah lepas ya. Nanti Papa kamu marah," ucap Adrian sambil tersenyum. Suara pria itu sungguh meneduhkan hati Gina, apalagi kalau ia mendengar suara Adrian setiap saat. Oh, makin cintalah Gina pada pria ini.
__ADS_1
Akhirnya, setelah keadaan tenang. Barulah Adrian, Gina, Rani dan Tomi berbicara. Tomi berbicara lebih dulu, tentang pertunangan Gina dan alasan gadis itu bertunangan agar masa depannya terjamin.
"Meskipun saya sudah berumur, tapi saya bisa menjamin masa depan Gina pak. Saya menyayangi Gina, saya serius pak!" seru Adrian dengan penuh kesungguhan.
"Memangnya apa pekerjaan kamu sampai berani bicara tentang masa depan anak saya satu-satunya!" ujar Tomi tegas.
"Pa, jangan bicara kayak gitu sama om Adri!" seru Gina pada papanya, ia tidak suka papanya bicara tidak sopan pada Adrian, apalagi membahas masalah pekerjaan.
"Gina, kamu diem dulu ya. Om, nggak apa-apa." lirih Adrian tenang.
'Hot Daddy ku keren banget sih' batin Gina yang sempat-sempatnya untuk memuji Adrian. Gina tersenyum penuh cinta pada Adrian.
"Saya seorang nahkoda pak. Meskipun saya tidak punya banyak uang seperti pengusaha. Tapi saya akan berusaha membahagiakan Gina, saya berjanji."
"Saya tidak butuh janji, saya butuh bukti."
"Sediakan uang 1 milyar, sebelum lusa. Maka saya akan membatalkan pernikahan Gina dan anak sahabat saya. Lalu saya mempertimbangkan anda sebagai calon suami Gina." jelas Tomi.
"Kalau anda tidak bisa menyediakan uang itu, saya akan menikahkan Gina dan putra sahabat baik saya!" terangnya lagi.
Rani, Gina dan Adrian tercekat mendengar ucapan Tomi yang meminta uang 1 milyar pada Adrian.
"PAPA!" sentak Gina tak terima dan baginya ini tidak masuk akal. Apa dia dihargai 1 milyar oleh ayahnya?
Adrian menatap Gina, menyuruh gadis itu untuk diam saja dan jangan bicara apa-apa. Jujur saja, Adrian juga syok mendengar permintaan Tomi. Namun wajahnya masih bisa tenang.
__ADS_1
"Baiklah Pak, saya akan menyediakan uang itu sebelum lusa."
"OM! Jangan!" Gina menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tomi tersentak kaget, ia pikir Adrian akan mundur setelah mendengar syarat uang itu. Namun Adrian malah menyetujuinya begitu saja.
'Apa pria ini benar-benar menyukai Gina? Tidak, Gina adalah anakku satu-satunya dan masalah jodohnya tidak boleh main-main. Aku ingin Gina bersama pria yang bisa membimbingnya, tapi tidak setua ini juga'
Setelah dirasa pembicaraan telah mencapai musyawarah untuk mufakat, Rani langsung mengajak suaminya pergi ke kamar dan membiarkan Adrian dan Gina bicara berdua. Sementara ia sendiri akan bicara dengan suaminya tentang uang 1 milyar itu. Rani terlihat marah.
Kini Adrian dan Gina berada di halaman belakang rumah itu. Gina menangis tersedu-sedu di pelukan Adrian.
"Kenapa kamu malah nangis? Apa kamu nggak seneng ketemu sama Om?" tanya Adrian cemas, ia mengusap pelan kepala Gina.
"Hiks...apa om tau? Hari ini aku dibuat syok, om datang tiba-tiba kesini aja, aku udah syok banget. Jantungku kayak mau lompat om! Terus om bilang mau nikahin aku! Mimpi apa aku semalam? Aku benar-benar nggak percaya, hiks...padahal aku pikir Om benci aku. Om nggak suka sama aku...hiks.."
Adrian tersenyum lembut, ia melihat gadis ini yang begitu menggemaskan walaupun sedang menangis. Bukannya ikut sedih, Adrian malah ingin tertawa. Kemudian kedua tangan Adrian menyentuh tengkuk Gina, membuat tubuh mereka berdua menempel.
Gina mendongak menatap iras tampan pria pujaan hatinya itu. Adrian balas menatapnya dengan tatapan yang sama.
Tak sampai satu detik, Adrian maju ke depan dan menempelkan bibirnya pada bibir Gina dengan posisi agak membungkuk. Mengingat tinggi tubuh Gina yang jauh dibawahnya.
Bukan ciuman, hanya kecupan sekilas saja.
"Semoga ini nggak terlambat, Gin. Om cinta sama kamu," ucap Adrian lirih.
__ADS_1
"Aku juga CINTA SAMA OM!" jawab Gina yang lalu memeluk si om hot daddynya itu. Gina sangat bahagia, seolah dunia ini menjadi miliknya. Perasaannya akhirnya terbalaskan. Tapi bagaimana dengan uang satu milyar?
...****...