
****
Tidak ada yang menyangka sebelumnya, bahwa Saka yang terlihat sangat mencintai Starla dan anak-anaknya akan melakukan pengkhianatan seperti ini. Kekecewaan, kemarahan dari orang-orang terdekat Saka, tentunya tak bisa terbendung oleh apapun. Apalagi Jeffry yang merasa telah gagal mendidik putranya untuk tidak pengecut dan tidak menyakiti wanita. Awalnya Jeffry merasa bangga karena pada usia muda ini, Saka mau bertanggungjawab atas kehamilan Starla. Sebab tidak semua pria muda seumuran Saka, mau bertanggungjawab atas perbuatannya. Apa yang dilakukan Saka ini termasuk berani dan bertanggungjawab, sebab itu Jeffry merasa bangga. Akan tetapi sekarang Jeffry sangat sangat malu, bak dilempari kotoran ke wajahnya. Sialnya dia bahkan tak mampu meminta maaf atau bahkan mengangkat kepalanya didepan Adrian.
"Papa nggak ngerti jalan pikiran kamu Saka! Kamu cinta nggak sih sama Starla? Atau kamu memang masih mencintai mantan pacar kamu itu?" tanya Jeffry dengan suara yang keras. Saka terdiam dan lagi-lagi tertampar oleh kenyataan.
"Oh ya benar... bagaimana pun juga Elisa itu cinta pertama kamu. Jadi dibego begoin sama dia, kamu no problem aja. Sungguh Saka, Papa kecewa. Jika Papa jadi pak Adrian, papa juga pasti akan mengambil keputusan yang sama. Papa punya Ghea, anak perempuan papa...jika anak perempuan Papa seperti itu, tentu saja Papa akan membawanya pulang. Papa tidak akan pernah membiarkan anak Papa bersama dengan pria labil seperti kamu." ucap Jeffry dengan dada yang naik turun. Dia benar-benar kecewa pada putranya, dia pikir Saka sudah dewasa mentalnya, nyatanya Saka sangat bodoh dan labil.
"Pa...Saka nggak mau berpisah dari Starla dan anak-anak Saka. Papa tolong bantuin Saka, iya tau...Saka memang salah. Tapi Saka akan menebus semuanya, Saka cinta sama Starla dan twins!" rengek Saka seraya memegang tangan papanya.
"Papa mungkin bisa bantu kamu bertemu sama anak-anak kamu karena kamu punya hak juga atas mereka, tapi sepertinya Papa nggak bisa membantu soal rumah tangga kamu. Papa nggak yakin setelah Starla siuman, dia akan memaafkan kamu! Papa yang seorang pria saja, merasa jijik sama kamu. Silahkan saja kamu berusaha sendiri." ketus Jeffry, yang sama sekali tidak mau peduli pada Saka saat ini. Kesalahan Saka terlalu besar untuk dimaafkan.
****
Keesokan harinya, Starla masih terbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan tidak berdaya alias koma. Wanita itu seperti putri tidur yang tidak tahu kapan bangun, pilihannya dia bangun atau dia malah mati. Tersisa 1 hari lagi dan Starla harus siuman jika tidak nyawanya terancam.
Dokter mengatakan kondisi Starla lemah dan ada kerusakan pada otaknya. Harusnya Starla melakukan operasi, akan tetapi Starla masih koma dan operasi belum bisa dilakukan sebelum Starla siuman atau setidaknya keluar dari masa kritis itu.
Semalaman Saka menunggu didepan ruang rawat istrinya, duduk bersandar di tembok dingin bahkan tidur di sana. Itu karena ayah dan ibu mertuanya tidak mengizinkan Saka untuk masuk ke dalam ruang rawat.
Wajah Saka terlihat pucat, bahkan ia tidak peduli dengan luka-luka di wajahnya. Malvin dan Fero mulai merasa iba pada Saka, bahkan meminta Saka untuk mengobati lukanya kepada dokter.
Pagi itu mereka sudah datang untuk menjenguk bayi kembar Starla dan juga menjenguk Starla. Mereka malah melihat Saka sedang bersandar di tembok didepan ruang rawat Starla.
"Lebih baik Lo obati luka Lo. Lo tampak menyedihkan tau nggak?" kata Malvin ketus, tapi sebenarnya dia masih peduli dengan Saka.
Saka menatap kedua temannya, lantas ia tersenyum miring, bibirnya terlihat pucat. Dari kemarin dia belum makan, belum tidur dan harusnya hari ini dia pergi kuliah. Tapi bagaimana bisa dia kuliah bila dalam keadaan seperti ini.
"Ayo Sak, Lo juga harus mandi dan makan. Kalau Lo emang mau jagain kak Starla sama baby twins. Mereka butuh Lo... terlepas dari kesalahan Lo yang besar, bukankah Lo mau memperbaikinya? So, Lo harus semangat dong! Tunjukkin kalau Lo emang strong." ucap Fero menyemangati. Dia menepuk-nepuk bahu Saka.
"Menurut Lo, apa gue bisa makan atau mandi dalam keadaan seperti ini? Starla juga belum makan, malah gue nggak tau kapan dia bangun." ucap Saka lirih.
"Jangan lemah jadi laki! Lo udah sadar buat kesalahan, tapi Lo malah kayak gini. Yang ada semua orang malah benci sama Lo!" teriak Malvin emosi. Dia jengah dengan kelakuan Saka, bodoh amat mau disebut pedas atau bagaimana. Dia muak!
"Apa yang Malvin bilang itu bener. Semangat Ka, Lo udah jadi bapak sekarang." Fero menarik tangan Saka untuk berdiri.
"Kenapa kalian masih baik sama gue? Kalian harusnya benci gue?" tanya Saka terharu.
"Emang Lo pikir, kita nggak benci sama Lo? Kita cuma mau Lo nggak mati aja!" seru Malvin dengan wajahnya yang masih kesal itu.
__ADS_1
"Thanks Vin." kata Saka sambil tersenyum tipis.
"Apaan sih Lo? Pake bilang makasih sama gue?" sentak Malvin sambil membuang muka. Walaupun cuek dan marah-marah begini, Saka merasa Malvin masih peduli padanya.
Akhirnya Saka mau makan dan membersihkan luka-lukanya. Namun untuk mandi, dia belum bisa meninggalkan Starla. Setelah makan Saka dan kedua temannya pergi ke ruang bayi untuk melihat si kembar karena berat badan si kembar belum cukup, sementara ini mereka berada di ruang bayi dan mendapatkan perawatan dari para suster dan dokter di rumah sakit itu.
"Bayi Lo sama kak Starla banyak miripnya sama Lo. Terutama yang anak cowok." ucap Fero saat melihat kedua bayi kembar yang sedang tidur di ranjang bayi dengan tenangnya. Mereka bertiga melihat dari balik kaca.
Saka hanya tersenyum mendengar ucapan Fero dan rasa bersalah kini kembali menjalar ke dalam hatinya. Melihat bayi mungil itu, Saka kembali teringat kejadian semalam dimana dia menyakiti Starla, membuat wanita itu menangis, pasti bayinya juga ikut sedih.
"Maafin Daddy sayang, maaf." lirih Saka sambil menyentuh kaca seolah menyentuh kedua bayinya.
"Ngapain Lo disini?" tanya Gina dengan sinis, wanita itu menatap Saka dengan tajam. "Jangan pernah Lo deketin cucu-cucu gue." ucap Gina tegas.
"Saka berhak melihat atau bahkan mendekati anak-anaknya kak. Karena dia adalah papa mereka!" jelas Fero membela Saka.
"Kejadian tadi malam, sudah membuat dia kehilangan haknya. Apa kalian pikir, Starla masih mau menerima Saka? Gue yakin dia bakal langsung mau pisah. Karena nggak ada maaf buat Lo Saka." Pedas, itulah ucapan Gina pada Saka.
"Gue tau gue salah, tapi gue akan memperbaiki semuanya. Gue nggak akan pernah ngelakuin itu lagi." sesal Saka.
"Bullshit! Lo nggak akan bisa memperbaiki hubungan Lo sama Starla yang jelas-jelas udah hancur. Mending Lo balik sana sama mantan Lo, jangan ganggu Starla sama twins lagi. Mungkin Lo berpikir gue terlalu ikut campur, tapi Lo jangan lupa...gue sahabat sekaligus ibu sambung Starla." ketus Gina.
Gina cuek saja, lalu tak lama kemudian. Suster keluar dari ruang bayi setelah memeriksa si kembar dan bayi-bayi lainnya. Suster itu menghampiri Gina, Saka, Malvin dan Fero yang ada disana.
"Maaf Mas, mas ayah dari si kembar kan?Saya perlu mencatat nama si kembar, bila memang mereka sudah diberi nama, agar pihak rumah sakit bisa membantu mengurus akta kelahirannya juga." tanya Suster itu pada Saka.
"Saya dan istri saya sudah mempersiapkan nama untuk mereka sus. Yang laki-laki namanya Axelo Xavier Delano dan yang perempuan Aluna Daelyn Delano." ucap Saka yang dulu sempat memikirkan nama untuk si kembar, sebelum tragedi naas ini terjadi.
Suster itu mencatat nama yang tadi sebutkan oleh Saka. Gina, Malvin dan Fero tampak menyukai nama untuk si kembar.
****
Di rumah Elisa. Sedang terjadi keributan besar di antara Dario (Papa Elisa) dan juga Elisa. Setelah masalah yang ditimbulkan oleh putranya, akhirnya perusahaan Dario yang kena imbasnya. Kini perusahaannya sudah di akusisi oleh perusahaan Jeffry, entah bagaimana ceritanya itu bisa terjadi.
"Pah! Sabar pah!" Sinta berusaha menghentikan suaminya yang terus melempar-lemparkan barang ke depan Elisa.
"Mama minta Papa untuk sabar? Gimana Ma? Coba jelasin sama Papa, gimana papa harus sabar? Kita terlalu memanjakan dia hingga akhirnya seperti ini!" suara Dario menggelegar di seluruh ruangan itu, sedangkan Elisa berada di depannya sambil menangis.
"Bisa nggak kamu cari cowok lain aja? Kalau kamu udah ditolak, pake otak kamu! Dia punya istri dan anak, seharusnya kamu punya harga diri!" teriak Dario murka pada putrinya.
__ADS_1
"Tapi Elisa cinta sama dia Pa..."
"Papa tau, tapi harus ya kamu kayak gini? Kamu udah buat Papa malu dan bangkrut El! Sekarang, bahkan Papa tidak bisa bicara dengan pak Jeffry lagi!" seru Dario frustasi, dalam sehari, dalam sekejap, perusahaannya sudah diakuisisi oleh perusahaan Jeffry yang artinya dia bukanlah lagi pemilik perusahaan,melainkan pegawai dibawah Jeffry.
"Pah...maafin El..."
"Ahhh...." tiba-tiba saja Elisa merasakan sakit di bagian perutnya, gadis itu merintih. Sinta mendekati putrinya dengan cemas. Sedangkan Dario yang masih marah, memilih untuk tidak peduli.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Sinta seraya memegang tangan Elisa yang dingin dan berkeringat.
"Perut aku sakit Ma...sakit...banget..." rintih Elisa.
"Pa, ayo kita bawa Elisa ke rumah sakit! Tangan Elisa dingin pah!" ujar Sinta kepada suaminya.
"Paling dia cuma pura-pura." ucap Dario dingin. Dia benar-benar tidak peduli pada Elisa.
Akhirnya Sinta ditemani supir rumahnya, segera membawa Elisa pergi ke rumah sakit. Gadis itu terlihat kesakitan, bahkan pangkal pahanya berdarah.
****
Sore itu, ketika Adrian dan Gina pulang dulu ke rumah untuk mengambil pakaian dan sekedar beristirahat dulu. Adrian menitipkan Starla pada Galang dan Riko, sahabat baik putrinya. Bahkan Adrian mewanti-wanti agar Saka tidak boleh masuk dan bertemu dengan Starla.
Saat mertuanya pergi, Saka yang sudah bersih-bersih, memohon-mohon pada Galang dan Riko, agar mereka berdua mengizinkannya masuk.
"Gue mohon, izinkan gue bertemu Starla. Bagaimanapun juga Starla masih istri gue! Gue mohon kak." kata Saka.
"Sorry, tapi kita udah janji sama om Adrian." ucap Riko dengan berat hati.
"Silahkan masuk! Tapi Lo nggak bisa lama-lama didalam, karena pasti sebentar lagi om Adrian sama Gina bakalan balik kesini." ucap Galang yang tidak disangka-sangka.
"Serius kak?" mata Saka berbinar-binar mendengar ucapan Galang yang memberinya izin.
"Lo masih suaminya, Lo masih berhak atas Starla. Cepet masuk, jangan sampe gue berubah pikiran!" ujar Galang tegas. Lantas, Saka pun tugas untuk masuk ke dalam ruangan Starla.
...****...
Spoiler...
"Kita akhiri saja semuanya Saka, aku lelah."
__ADS_1