
Setelah melihat adegan tidak menyenangkan tadi didepan perusahaan yang melibatkan mantan suaminya dengan seorang wanita yang entah siapa dan Starla tak mau tau. Namun tak bisa Starla pungkiri bahwa hatinya sakit melihat itu semua, seakan-akan kejadian Elisa dan Saka dulu terjadi lagi didepan matanya. Rasa sesak itu ternyata masih tersimpan, bahkan ingatannya masih menyimpan memory kelam yang membuat rumah tangganya hancur di masa lalu.
"Stop Starla! Don't baper, ini bukan waktunya kamu buat baper. Fokus aja sama Axelo, Aluna dan karir." gumam Starla sambil berjalan masuk ke dalam lift. "Dia bahkan nggak ngejar aku," ucap Starla menggerutu. Dia berharap Saka mengejarnya, tapi dia tidak melakukan itu.
Tadinya Saka ingin menyusul Starla dan menjelaskan semuanya, namun kalau dia jelaskan sekarang. Melihat sikap Starla, pastinya wanita itu mengira dia hanya mencari alasan. Tau sendiri, sekarang Starla orangnya gampang ambekan.
'Sial! Starla pasti salah paham sama aku' maki Saka dalam hatinya. Ia takut Starla akan melarikan diri darinya lagi, ketika dia sedang mencoba melakukan pendekatan saat ini.
"Saka..."
"Kamu benar-benar keterlaluan Monika! Beraninya kamu mencium saya?" Saka marah sambil mengusap bekas bibir Monika di pipinya dengan jijik.
"Saka, kamu kesini buat nemuin aku kan?" tanya Monika benar-benar percaya diri. "Oh ya, siapa wanita yang turun dari mobil kami itu Saka?"tanya Monika lagi dengan kepo.
"Denger saya Monika, kalau kamu berani melakukan hal seperti barusan atau mendekati saya lagi. Dan kamu tau siapa wanita itu? Dia adalah wanita yang saya cintai, ibu dari anak-anak saya! Jadi jangan dekati SAYA LAGI." ujar Saka tegas, lalu ia pun masuk mobilnya dan pergi begitu saja meninggalkan Monica seorang diri di sana. Padahal Monica ingin ikut dengan Saka.
Monica masih berdiri di sana dengan perasaan kesal, dia melihat gedung perusahaan makanan yang ternyata adalah milik pamannya itu. Dimana wanita yang disebutkan oleh Saka itu masuk ke dalam gedung.
"Dia...ibu kandung Aluna? Itu artinya dia mantan istri Saka kan? Kenapa dia bisa ada di sini? Bukannya dia pergi keluar negeri dan tidak diketahui keberadaannya? Apa dia mau merebut Saka dari aku?" gumam wanita itu sambil mendengus kesal. "Aku harus cari tau siapa wanita itu!" cetusnya kesal. Dia juga merasa kalau Starla jelek dan lebih cantik dirinya.
****
Di sekolah TK Pelita, tempat si kembar belajar dan bermain. Anak-anak TK A maupun TK B sedang jam istirahat. Aluna dan temannya yang bernama Tasha sedang duduk di bangku dekat taman. Aluna tidak terlalu dekat dengan anak-anak lain terutama Sherly yang ibunya menjelek-jelekkan Starla tempo hari sampai Aluna sakit hati. Aluna tidak mau berteman dengan orang-orang yang menghina ibunya.
Mereka juga tidak berani mendekati Aluna karena mereka merasa gadis kecil itu beban. Pernah ada suatu kejadian, sakit jantung Aluna kumat dan berujung pada kematian Anggun kepada salah satu orang tua siswa. Sebab siswa itu menganggu Aluna sampai masuk rumah sakit.
Jadi Aluna hanya dekat dengan Tasha dan Axelo saja di sekolah. Dia lebih baik memiliki satu teman baik dan dekat, daripada memiliki banyak teman tapi jahat padanya.
"Woh Aluna, bentuk sosis dan telurnya bagus sekali. Ada mata dan hidungnya juga, sepertinya enak!" Tasha menatap kagum pada bekal milik Aluna yang dibawa Aluna.
"Bagus kan? Mommy yang membuatnya, sekarang mommy yang cuka membuatkannya untukku loh." Aluna tampak senang saat menceritakan tentang Starla yang membuatkan bekal untuknya. Wajar saja Aluna seperti itu, karena selama bertahun-tahun hidupnya dia tidak pernah dibuatkan bekal oleh ibunya. Sekarang setiap harinya Starla selalu membuatkan bekal untuk Aluna dan juga Axelo.
"Aku senang karena Mommymu sudah kembali." kekeh Tasha sambil tersenyum.
"Iya, aku halap mommy dan Daddy bica kembali belcama...agar aku dan kak Axel juga bisa tinggal belcama. Hihi..." gadis kecil itu tersenyum dan siapa sangka bila Aluna yang ceria ternyata memiliki penyakit jantung. Penyakit mematikan yang bisa membahayakan nyawanya kapan saja. Aluna juga selalu membawa alat seperti jam tangan yang terpasang ditangannya.
__ADS_1
Alat seperti jam tangan itu, merupakan alat terapi dengan pancaran sinar low level laser dengan panjang gelombang 650nm yang dapat menjangkau pembuluh darah, sehingga mampu menstimulasi sel tubuh untuk berkerja lebih optimal dan menghasilkan energi bagi tubuh. Bisa disebut juga sebagai alat terapi untuk mengecek kondisi tubuh Aluna.
Namun meskipun begitu, Aluna selalu menganggap dirinya sehat dan tidak sakit. Dia tetap ceria dan baik-baik saja.
"Oh ya, Tasha apa kamu mau?"
"Boleh, aku minta sosisnya ya?" Tasha tersenyum lebar.
"Oke, nih." ucap Aluna seraya menyerahkan satu sosis di kotak bekalnya kepada Tasha. Lalu Tasha juga menyerahkan sesendok nasi goreng miliknya.
Ketika kedua anak perempuan itu sedang asyik makan, tiba-tiba saja Sheryl dan beberapa anak lainnya yang tak suka pada Aluna langsung menganggu mereka berdua. Sheryl dengan sengaja mendorong Aluna sampai kotak bekal yang dibawa Aluna jatuh ke lantai dan membuat makanan didalamnya berhamburan. Padahal Aluna baru makan sedikit.
"Yaahh...maaf nggak sengaja." ucap Sheryl dengan wajah tanpa merasa bersalah, setelah menjatuhkan kotak bekal Aluna.
"Sheryl, kamu tuh kenapa sih ganggu Luna terus? Luna kan nggak pernah ganggu kamu! Keterlaluan ya kamu." Tasha mendorong pelan Sheryl.
"Kamu apa-apaan sih?" Sheryl yang marah didorong seperti itu, tentunya tidak terima dengan tindakan Tasha. Dia pun hendak mendorong Tasha lagi, tapi kali ini Aluna yang menghadangnya.
Akhirnya Aluna, Tasha, Sheryl dan ketiga temannya yang jahil itu bertengkar di depan kelas. Semua siswa berkumpul di sana karena mereka jadi bahan tontonan.
"Kakak! Lihat, wajahku jadi todet (codet) kakak!" Aluna mengadu pada kakaknya, dia menunjukkan pipinya yang berdarah dicakar oleh Sheryl.
"Sakit?" tanya Axelo sambil melihat luka di wajah adiknya dengan cemas.
Keributan itu akhirnya berhenti saat anak-anak bermasalah dibawa ke ruang guru. Mereka dimintai keterangan,eh alias kesaksian atas kejadian tadi.
Guru juga sudah menghubungi orang tua mereka agar datang ke sekolah. Terutama orang tua Aluna dan Sheryl.
"Sheryl ayo minta maaf sama Aluna, teman-teman bilang kamu yang memulainya!" ujar wali kelas Sheryl.
"Nggak mau! Kenapa aku harus minta maaf?" gadis kecil berkuncir dua itu keras kepala dan tidak mau minta maaf.
"Minta maaf sama adikku!" ujar Axelo dengan dinginnya. Dia menatap Sheryl dengan tajam sampai Sheryl tidak mampu melihat tatapan mata Axelo.
Tak berselang lama kemudian, ibu Sheryl yang bernama Bu Maya datang ke sekolah. Dia langsung menghampiri putrinya yang duduk bersebelahan dengan Aluna.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa sayang? Ya ampun, rambut kamu acak-acakan begini? Bilang sama Mama, siapa yang sudah menyakiti kamu?" tanya Maya kepada Sherly.
"Biasa Ma, itu tuh si Aluna." jawab Sheryl sembari menatap sinis pada Aluna.
"Itu kalena kamu duluan yang mulai!" Aluna tak terima disalahkan begitu saja. Maya menatap sinis pada Aluna.
"Jangan menatap adik saya seperti itu." ucap Axelo yang berusaha melindungi adiknya, dari tatapan sinis dan tidak bersahabat dari Maya.
"Hah? Adik? Jadi kamu kakaknya? Setahu saya Aluna itu tidak punya Mama apalagi punya Kakak." ucap Maya nyinyir.
"Bu Maya tolong jaga ucapan anda, disini ada anak-anak!" tegur wali kelas Aluna dan Sheryl.
"Kenapa? Memang benar kan kalau Aluna itu nggak punya Mama. Mamanya kan kabur sama cowok lain, ninggalin Aluna!" ucapan Maya ini membuat Sheryl, ketiga temannya, Aluna, Tasha dan Axelo kaget.
Axelo mengepalkan tangannya dengan kesal, dia menatap Maya dengan marah. Axelo tidak terima bila ada yang menghina ibunya. "Mommy saya tidak seperti itu!" ujar Axelo.
"Mommy Luna baik! Mommy Luna ndak kabul...hiks..." Aluna menangis terisak, dia juga tidak terima ibunya dihina.
Merasa Maya sudah keterlaluan membicarakan hal ini didepan anak-anak, akhirnya kepala sekolah pun turun tangan dan melerai. Pertengkaran anak kecil saja bisa menjadi hal besar karena Maya.
Tak berselang lama kemudian, Starla masuk ke ruang guru dengan mata berkaca-kaca dan penuh kemarahan. Tampaknya wanita itu mendengar semuanya.
'Siapa wanita cantik ini?' batin Maya terkagum saat melihat kecantikan Starla. Bahkan guru-guru dan anak-anak di sana sampai tertegun melihat kecantikan Starla.
"Siapa kakak itu ya? Cantik banget."
"Apa dia artis?" bisik anak-anak di ruangan itu.
"Maaf, ibu siapa ya?" tanya guru perempuan kepada Starla.
"Saya mamanya Axelo dan Aluna, maaf saya terlambat." kata Starla sambil tersenyum tipis, namun sorot matanya begitu tajam kepada Maya.
"Oh, jadi kamu mamanya Aluna sama anak gak sopan ini? Mama tiri?"
"Mama kandung. Dan anda bilang apa tentang saya barusan? Saya kabur dengan lelaki lain? Apa pantas anda bicara begitu?" tadinya Starla ingin menyelesaikan masalah dengan tenang tapi wanita didepannya ini sungguh memancing emosi.
__ADS_1
****