Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 73. Happy Wedding G & A


__ADS_3

****


Melihat Sinta memohon padanya, membuat Saka tidak tega. Ia pun menganggukkan kepalanya dengan hati yang enggan. Ia melakukan ini semua demi Elisa, demi nyawa seseorang. Demi rasa simpati, tapi dia tidak memikirkan perasaan Starla bila wanita yang tengah mengandung anaknya itu tau suaminya berbohong, pergi tengah malam demi wanita lain.


"El, kamu harus disuntik biar keadaan kamu menjadi lebih baik. Please, jangan buat mama sama papa kamu sedih." ucap Saka membujuk Elisa dengan lembut.


"Tapi aku takut jarum suntik Saka, kamu tau kan? Hiks..." Elisa menangis, ia memegang erat tangan Saka dan tubuhnya bergetar ketakutan.


"Aku bakal nemenin kamu di sini." ucapnya pada Elisa.


"Beneran kamu mau nemenin aku?" tanya Elisa dengan mata berbinar-binar menatap Saka. Pria itu menganggukkan kepalanya, terlihat senyum tipis dibibirnya.


Akhirnya Elisa mau disuntik oleh dokter, itu pun ditemani oleh Saka. Sebelum Saka sampai ke rumah sakit, Elisa mendadani wajahnya agar terlihat pucat agar Saka simpati kepadanya dan tidak bisa meninggalkannya. Benar saja, Saka lebih memilih pergi meninggalkan istrinya yang sedang hamil malam-malam begini demi menemani dirinya. Jelas saja Elisa merasa menang, bahkan mamanya juga mendukung rencananya berbohong. Dia tidak mau Elisa berbuat nekad karena tidak mewujudkan keinginan Elisa. Sebelumnya, Elisa mengancam bunuh diri kalau mamanya tidak mau membantunya. Dan Sinta takut kehilangan putri semata wayangnya ini.


'Tuhan, maafin aku...aku bohong. Ini semua demi kebaikan kok, karena Saka harusnya ditakdirkan buat aku. Saka cocok sama aku, bukan sama si magang kecentilan itu. Akulah yang lebih dulu berada di hidup Saka, kalau gadis itu tidak datang...aku sama Saka pasti udah bersatu' batin Elisa tanpa merasa bersalah sama sekali. Dan dia bersikap seolah-olah bahwa tindakannya ini benar. Tanpa mempedulikan Starla dan bayinya, wanita yang sangat membutuhkan perhatian Saka saat ini.


****


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Adrian sudah bersiap-siap dengan pakaian rapinya, menuju ke rumah calon mertuanya dan membawa uang satu miliar itu. Tak lupa, Adrian berpamitan kepada Starla lebih dulu untuk meminta doa restunya. Padahal Starla ingin ikut ke Bogor, tapi Saka dan Adrian tidak mengizinkannya karena kondisi kandungan Starla yang sudah besar dan mereka tidak mau wanita hamil itu kelelahan karena perjalanan jauh atau terlalu lama didalam mobil.


Ya, hamil kembar tidak mudah. Starla baru hamil 7 bulan tapi terlihat seperti hamil 9 bulan. Mungkin karena ada dua nyawa didalam rahimnya.


Pagi itu seperti biasanya, Saka menyapa si kembar dan juga istrinya. Saka akan memulai aktivitas seperti biasanya yaitu ke kampus dan pergi bekerja. Starla juga menyiapkan bekal makan untuk suaminya agar lebih semangat.


"Daddy berangkat dulu ya twins star, mommy star." ucap Saka yang mengecup perut lalu kening sang istri sebelum pergi.


"Iya Daddy. Hati-hati ya, semangat!" ujar Starla menyemangati.


Saka tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia memeluk Starla sebelum benar-benar pergi dari rumah. 'Maafin aku Star, semalam terakhir kalinya aku bohong sama kamu' kata Saka merasa bersalah.


"Kalau ada apa-apa telpon aku." ucap Saka sambil tersenyum.


"Iya Daddy sayang." sahut Starla lembut seperti biasanya.


Pria muda itu pun pergi ke kampus dengan mengendarai motornya. Tak lama setelah Saka pergi, Anggun yang tadinya berada di rumah untuk menjaga Starla. Terlihat bersiap-siap pergi dengan buru-buru.


"Ma, mama mau kemana? Kok udah rapi, Ma." tanya Starla sambil duduk di sofa dan mengelus perutnya.


"Sayang, Mama mau pergi ke rumah sakit. Sepertinya Ghea mau melahirkan, katanya Ghea maud ditemenin Mama." ungkap Anggun dengan raut wajah berseri-seri, tentu saja dia senang putrinya akan melahirkan. Dia akan segera memiliki cucu pertama dari Ghea.


"Benarkah Ma? Kak Ghea mau melahirkan?" tanya Starla dengan senyuman dibibirnya. Wanita itu juga senang mendengar kabar bahwa kakak iparnya akan segera melahirkan.


"Iya sayang, Mama sama Papa akan berangkat ke Bogor sekarang. Maaf ya Mama harus ninggalin kamu di rumah." kata Anggun seraya mengelus kepala Starla. Dia tidak tega melihat Starla ditinggal dalam keadaan hamil besar begini. Tapi Ghea juga membutuhkannya saat ini.


"Santai aja Ma, kan nanti malam...Saka juga pulang. Ada bi Imah, pak Setyo sama Mang Cecep juga." jelas Starla tidak keberatan.


"Atau mama jangan pergi aja ya."


"Nggak Ma, kak Ghea butuh Mama. Starla nggak apa-apa kok." kata Starla tidak keberatan.


Akhirnya Anggun pun pergi dijemput oleh Jeffry dan menuju ke Bogor. Sementara Starla bersama dengan Bi Imah, pak Setyo dan juga supir rumah itu yaitu mang Cecep.


****


Di Bogor, rumah Gina.


Adrian mencairkan uang 1 milyar itu dan menyimpannya ke dalam koper. Setelah ia pergi ke bank lebih dulu, bahkan menunggu cukup lama untuk mencairkannya. Dia datang ke rumah Gina dan menemui kedua orang tuanya.


Tomi dan Rani, tidak menyangka bahwa Adrian benar-benar membawa uang satu miliar itu dalam bentuk cash. Hal ini menunjukkan kesungguhan Adrian terhadap putri mereka.


"Pak, Bu, saya sudah membawakan apa yang bapak dan ibu inginkan. Apa ada yang bapak ibu inginkan lagi dari saya?" tanya Adrian kepada orang tua Gina dengan sikap yang sopan dan juga terlihat berwibawa.


Tomi dan Rani saling melirik satu sama lain, mereka seperti sedang berpikir sesuatu. Melihat kesungguhan di mata Adrian, sebenarnya dalam hati mereka sudah setuju. Akan tetapi, Tomi yang masih berat hati untuk menikahkan Gina dan Adrian. Pasalnya perbedaan usia mereka terlalu jauh menurutnya.

__ADS_1


Disisi lain, Gina yang dilarang bicara hanya bisa diam saja. Padahal dari tadi bibirnya bergetar ingin bicara sesuatu. Gadis itu, menatap kedua orang tuanya dengan penuh harapan dan Dia sangat berharap jawaban yang baik dari mama papanya.


"Saya masih menginginkan satu hal lagi!" cetus Tomi tiba-tiba.


"Pah, udah cukup Pah!" seru Gina yang akhirnya bicara karena tidak tahan dengan ayahnya.


"Gina diam!" ujar Tomi tegas.


"Apa yang bapak inginkan?" tanya Adrian dengan santainya.


"Saya ingin kamu menandatangani surat perjanjian ini!" ujar Tomi seraya menunjukkan secarik kertas yang berisi perjanjian. Adrian membaca tulisan bisa cari kertas tersebut yang isinya, bahwa Adrian harus selalu setia kepada putrinya dan bila suatu saat nanti pria itu berselingkuh dari Gina, maka semua harta kekayaan akan jatuh ke tangan Gina.


Gina mengambil kertas itu dari tangan Adrian dia penasaran dengan isi suratnya. Mata Gina membola saat ia melihat apa yang tertera di sana.


"Pa, papa udah keterlaluan!" sentak Gina.


"Gina, jangan ikut campur. Saya tidak apa-apa." ucap Adrian penuh penegasan. Hingga Gina pun terdiam dan hampir menangis.


"Saya akan menandatanganinya." kata Adrian yang lalu mengambil pulpen dan bersiap menandatangani surat itu. Namun Adrian sempat membubuhi kertas itu dengan tanda tangannya, Tomi menghentikannya.


"Cukup! Bawa uang ini kembali dan jangan tandatangani suratnya." ujar Tomi yang sontak saja membuat semua orang di sana terkejut apa lagi Adrian dan Gina.


"Pak, apa maksudnya--"


"Saya merestui hubungan kalian berdua, saya percaya bahwa kamu bisa membahagiakan putri saya." sela Tomi.


"PAPA!" teriak Gina dengan buliran bening yang membasahi pipinya. Dia tidak mengira bahwa ayahnya akan merestui hubungannya dengan Adrian.


"Saya hanya menguji kamu, tapi ternyata kamu benar-benar melakukan apa yang saya minta. Apa kamu pikir saya akan benar-benar menjual putri saya demi satu milyar? Tidak, putri saya jauh lebih berharga bahkan tidak bisa dihargai oleh apapun juga!" ujar Tomi tegas. Adrian dan Gina melempar senyuman bahagia, rupanya Tomi tidak berniat begitu sejak awal. Dia hanya menguji ketulusan Adrian.


"Jadi papa mama setuju kan, aku nikah sama Om Adrian?!" tanya Gina berteriak.


"Iya, Papa dan Mama setuju kamu menikah dengannya. Tapi ingat ini pak Adrian, Gina adalah putri kami satu-satunya. Pak Adrian harus membuat Gina bahagia." cetus Tomi sambil tersenyum.


"Makasih Papa Mama, lope lope...Gina sayang mama papa!" seru Gina dengan bahagia. Lalu ia pun memeluk Adrian dan duduk dipangkuan pria itu. Bahkan tanpa malu, Gina mencium bibir Adrian didepan kedua orang tuanya.


"Yee...kita akan menikah Mas Popeye, aku mau menikah!" kata Gina girang. Adrian terdiam saat mendapatkan kecupan agresif dari Gina. Bahkan si tombak saktinya menegang saat gadis itu duduk diatas pangkuannya.


"ASTAGA GINA! Jaga sikap kamu sayang." Rani memeringati putrinya untuk sopan dan jaim dikit lah.


"Hehe, maaf Pa, Ma...aku terlalu senang." kekeh Gina yang lalu turun dari pangkuan si Om. Mereka pun membicarakan pernikahan Gina dan Adrian. Gina ingin pernikahannya segera diadakan. Dan sudah dipastikan hidup Adrian akan menjadi lebih berwarna karena Gina.


****


Siang itu, Galang mengajak Starla bertemu diluar. Akan tetapi Starla menolaknya, ia tidak diperbolehkan keluar rumah oleh kedua mertuanya kecuali ada hal genting. Apalagi untuk bertemu dengan pria lain. Akhirnya Starla dan Galang bertemu di rumah mertua Starla, tentu saja dengan diawasi Bi Imah.


"Lang, Lo mau ngomong apa sama gue?" tanya Starla setelah melihat Galang meminum air yang disediakan untuknya didalam cangkir.


"Star, gue mau bilang sesuatu sama Lo. Gue tau Lo nggak akan mudah percaya, ini tentang suami Lo si berondong tukang selingkuh itu." ucap Galang yang kelihatan tidak suka saat membicarakan Saka.


"Maksud Lo apa sih? Kenapa Lo bilang Saka tukang selingkuh?"tanya Starla yang tidak suka Galang menghina Saka.


"Gue emang nggak punya bukti kalau suami Lo selingkuh Star karena gue gak sempat foto atau rekan. Tapi sumpah demi tuhan, demi persahabatan kita. Saat Lo ada di rumah sakit...gue lihat si Saka lagi pelukan sama cewek. Dia mantannya suami Lo." ucap Galang memberitahu. Kedua mata Starla terbelalak saat mendengarnya, tentu saja dia tidak langsung percaya dengan apa yang diucapkan Galang.


"Gue sulit percaya Lo Lang, maaf karena gue tau Saka sayang sama gue dan Lo tau kan gue lagi ngandung anaknya." ucap Starla jujur.


Galang tidak marah dengan ucapan Starla yang lebih percaya dengan suaminya daripada dirinya. Menurutnya wajar saja bila Starla begitu. Yang Galang mau, Starla tidak terluka hatinya karena Saka.


"Gue nggak marah sama Lo. Wajar, kalau lo lebih percaya sama suami Lo. Gue cuma pengen Lo baik-baik aja Star, gue nggak mau Lo terluka. Karena gue..."


"Karena apa Lang?" tanya Starla karena Galang menggantung ucapannya begitu saja.


'Karena gue sayang sama Lo Star, mana mungkin gue bisa bilang ini' batin Galang.

__ADS_1


"Lang?"


"Pokoknya Lo jangan sampai lengah. Gue cuma mau bilang itu dan mereka juga ngomong kalau mereka balikan. Terserah Lo mau percaya atau enggak sama gue. Tapi kalau Lo butuh bantuan atau temen cerita, Lo bisa cari gue Star." ucap Galang rendah hati.


"Ma-makasih Lang, makasih karena Lo udah ingetin gue. Gue tau niat Lo baik." Starla tersenyum pada sahabatnya itu. Dia tau Galang tidak mungkin berbohong padanya, tapi bagaimana dengan Saka? Dia juga percaya pada suaminya.


***


Hari pun berganti malam, Anggun dan Jeffry pulang dalam keadaan sedih. Bahkan Anggun menangis, dia memeluk Starla yang sedang duduk di ruang tengah.


"Ma, mama kenapa? Papa juga kenapa?" tanya Starla bingung.


"Hiks..." Anggun menangis tersedu-sedu, dia masih memeluk Starla. Starla balas mengusap-usap ibu mertuanya agar bisa tenang.


"Anaknya Ghea meninggal di dalam kandungan. Dokter bilang karena Ghea jarang bergerak selama kehamilannya. Jadi..." Jeffry tidak kuasa menjelaskannya lagi. Ghea memang pemalas, sejak hamil Ghea malas bekerja dan selalu tiduran. Bisnis butik juga ia serahkan pada Anggun.


"Ya tuhan...aku turut berduka Ma, Pa." ucap Starla tulus, ia sedih mendengar kabar duka ini. Dia berusaha menghibur ibu dan ayah mertuanya.


Anggun baru tenang setelah beberapa hari, ia berduka kehilangan cucunya. Tapi kan ada cucu dari Starla, dia juga harus memperhatikan Starla.


****


1 Minggu berlalu, akhirnya hari pernikahan Gina dan Adrian tiba. Gina tidak meminta pernikahan mewah, hanya di gereja saja yang penting sah. Menikah dengan Adrian saja sudah menjadi kebahagiaannya.


Gina terlihat cantik dengan gaun berwarna putih yang ia impikan selama ini. Tapi yang lebih dia mimpikan selama ini adalah Adrian menjadi suaminya. Bahkan Gina tak sabar untuk melihat calon suaminya.


"Gina, Lo cantik banget!" Starla memeluk sahabatnya itu dengan bahagia.


"Iya dong haha. Lo harus biasakan panggil gue Mama, beberapa menit lagi gue resmi jadi mama Lo tau." cetus Gina sambil tersenyum.


"Oke Mama Gina haha.." kekeh Starla, lalu berdiri di samping Gina. Mereka tidak menyangka bahwa mereka akan menjadi ibu dan anak.


Ketika Starla, Gina, Galang, Riko dan Rani sedang mengobrol ngobrol sambil menunggu Adrian datang. Mereka kedatangan tamu tak diundang, yaitu Vita. Mantan sahabat atau bisa disebut mantan teman mereka berempat.


"Mau apa Lo datang kesini?" tanya Gina yang langsung emosi hanya dengan kehadiran Vita saja di sana.


"Gue kesini cuma mau kasih selamat sama Lo, dan gue mau minta maaf sama kalian...terutama sama Lo Starla." ucap Vita lirih, terlihat penyesalan di matanya karena sudah menyakiti Starla dulu.


"Gue tau kesalahan gue nggak mudah dimaafkan, tapi gue nyesel udah menodai persahabatan kita dengan kelakuan gue yang brengs*k. Maaf Star, maaf udah buat Lo menderita karena keegoisan gue!" ujar Vita dengan bulir air mata mengalir membasahi wajahnya. Galang, Riko dan Gina masih menatap sinis pada Vita. Tapi berbeda dengan Starla.


"Gue bisa maafin Lo Vit, tapi gue nggak bisa ngelupain apa yang terjadi malam itu karena Lo jebak gue. Tapi disisi lain gue bersyukur karena Lo, gue bisa nikah sama Saka. Cowok yang sayang sama gue dan bertanggungjawab sama gue. Cuma, gue nggak bisa bilang makasih!" jelas Starla pada mantan sahabatnya itu.


Vita bergeming, gadis itu terus menangis. Ia menyesali perbuatannya terhadap Starla dulu. Demi memisahkan Starla dan Bisma, Vita sampai menggunakan cara rendahan. Tapi sudahlah, bagi Starla itu semua sudah berlalu. Dia memaafkan Vita, tapi untuk kembali bersahabat sepertinya tidak bisa. Mungkin untuk berteman bisa.


Setelah meminta maaf kepada Starla dan ketiga sahabatnya yang lain, Vita memberikan hadiah untuk pernikahan Gina dan Adrian setelah itu dia pergi.


Acara pernikahan Gina dan Adrian pun berlangsung di sebuah gereja kota Jakarta. Kedua pengantin itu terlihat bahagia, Gina heboh dan Adrian kalem sekali. Melihat Adrian dalam balutan jas berwarna putih, membuat Gina semakin jatuh cinta. Bahkan pikirannya mulai mesum tentang malam pertama.


Setelah mengucapkan janji suci, Gina yang tak sabar langsung mencium bibir Adrian di hadapan semua orang. Beberapa orang melihat itu, ada yang tertawa bahkan geleng-geleng kepala. Gina memang pengantin wanita yang lain dari yang lain.


"Astaga! Si Gina nafsuan banget jir." Riko tercengang.


"Pfut...kenapa jadi gue yang malu?" Galang tertawa sambil menutup wajahnya dengan satu tangan. Melihat sahabatnya begitu, jadi dia yang malu.


"Mak! Jadi pengen kawin!" kata Malvin dengan somplaknya saat melihat adegan kiss itu. Sebagai jomblo jiwanya meronta-ronta. Malvin dan Fero juga hadir dalam pernikahan itu karena di undang Gina.


"Iuh..." Fero menjulurkan lidah.


Disisi lain Starla malah fokus pada Saka yang tidak ada di kursinya. Ia akhirnya mencari Saka yang mungkin tidak jauh dari sana. Akhir-akhir ini Starla merasa Saka berubah.


****


Spoiler...

__ADS_1


"Astaga! Mas Popeye! Punya Mas gede banget!"


__ADS_2