Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 97. Janji Saka


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Starla yang tadinya akan menyusul Axelo ke atas, langsung mengurungkan niatnya dan menghampiri ayahnya yang baru saja pulang. Tapi Starla heran, kenapa ayahnya sudah pulang padahal katanya besok baru pulang. Dia takut kalau Saka akan diperlakukan tidak baik oleh papanya.


"Pa, papa sudah--"


Adrian mengangkat tangannya seraya meminta Starla untuk diam. Atensinya begitu tajam pada Saka, dia mengingat bagaimana sakit hatinya Starla saat diselingkuhi dulu. Melihat wajah Saka membuat Adrian muak dan dia tidak memiliki respect lagi pada pria muda yang labil dan menyakiti Starla.


"Kamu, saya tanya kamu. Ngapain kamu datang kesini? Belum puas kamu nyakitin hati saya?" tanya Adrian begitu sosoknya berhadapan dengan Saka yang menang sengaja menghampiri pria paruh baya itu. Saka bermaksud untuk memberi salam dan menyapa Adrian, tapi belum sempat menyapa. Respon Adrian sudah sedemikian rupa, tapi hal itu tidak membuat Saka takut. Dia sudah bukan anak berusia belasan tahun lagi, ia adalah pria dewasa yang sudah mempunyai dua orang anak meski usianya belum bisa dikatakan tua.


"Selamat sore Pa, saya datang kemari untuk bertemu Starla dan Axel." ucap Saka tampak tenang dan santai. Meski pria paruh baya didepannya itu menatap Saka tajam dan sinis.


Gina, Gio, Starla dan Aluna masih berdiri ditempat mereka masing-masing dan melihat kedua pria itu saling menatap tajam. Aluna juga dapat merasakan bahwa Adrian tidak menyukai daddy-nya.


Adrian tersenyum sinis, kemudian berdecak kesal. "Kamu bilang apa barusan? Papa? Siapa Papa kamu?"


"Mas, kamu baru aja pulang...lebih baik kita ke kamar dulu yuk!" Gina langsung menyela, begitu ia mendapatkan tatapan mata isyarat dari Starla agar membawa papanya pergi dulu.


"Olive, diem dulu." ucap Adrian pada istrinya dengan lembut, namun penuh penekanan. Gina yang sudah tahu bagaimana sifat suaminya, langsung diam.


Adrian melayangkan tangannya lalu memukul Saka dengan keras, sampai pria berusia 23 tahun itu terhuyung jatuh ke lantai. Semua orang kaget melihatnya.


"Pa, hentikan Pah! Ada anak-anak!" seru Starla berusaha menghentikan papanya memukul Saka. Ia tidak mau Aluna dan Gio melihat adegan ini.


"Kakek jahat, kenapa kakek pukul Daddy Luna!" sentak Aluna sambil berdiri ditengah-tengah Adrian dan Saka.


"Sayang, Daddy nggak apa-apa." kata Saka sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah, sudah dipastikan setelah ini bibirnya sariawan. Tadi saja bibirnya digigit oleh Starla.


Kini tatapan Adrian tertuju pada gadis kecil yang mengingatkannya pada Starla kecil, binar matanya yang polos itu mirip dengan Starla. Jantung Adrian berdebar saat melihat gadis kecil itu, dia mendekatinya dan membelai wajahnya.


"Jangan pegang-pegang Luna! Kakek olang jahat!" seru Aluna kesal karena Adrian memukul papanya sampai berdarah.


"Siapa nama kamu sayang? Apa kamu Aluna, cucu opa?" tanya Adrian seraya menatap gadis kecil itu dengan penuh perasaan. Seakan kemarahannya sirna melihat princess kecil ini.


"Bukan ulusan kakek!" Aluna mencebikkan bibirnya.


"Princess Daddy, kamu jangan bicara seperti itu sama Opa. Opa adalah opa kamu, opa yang selama ini Daddy ceritakan sama kamu. Dia opa yang itu loh..." Saka memang pernah beberapa kali menceritakan tentang Adrian pada Aluna. Dan kali ini dia mencoba mengingatkannya.


"Opa Popeye si pelaut itu, dad?" tanya Aluna seraya melihat ke arah papanya dengan polos. Saka menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Pa, ini cucu Papa. Aluna." kata Starla pada papanya.


"Cucuku? Astaga! Dia sudah besar! Dia sangat mirip dengan kamu Star." Adrian tersenyum haru, dia sangat bahagia karena bisa bertemu dengan Aluna. Adrian memeluk gadis kecil itu dengan erat, seakan meluapkan perasaan rindunya yang tertahan selama ini.


"Aduh...Luna cecak, jangan peluk Luna kencang-kencang dong!" protes Aluna saat pria paruh baya itu memeluknya erat, bahkan sekarang ia menggendong tubuh mungilnya.


"Sayang, akhirnya Opa bisa ketemu sama kamu nak! Kamu sangat mirip mamamu, cantik dan imut!" Adrian menggendong Aluna dan memutar-mutar tubuh gadis kecil itu dengan bahagia.


Starla, Gina dan Saka tersenyum melihatnya, mereka turut bahagia melihat Adrian dan Aluna.


"Gio juga mau di gendong Daddy! Mau...mau!" seru Gio sambil merentangkan kedua tangannya, meminta digendong oleh papanya.


"Gio mau digendong juga. Sini Daddy gendong!" Adrian menggendong Gio juga, kini ada dua mahluk kecil menggemaskan di gendongannya.


Aluna yang tadinya marah pada Adrian, langsung luluh saat Adrian menggendongnya penuh kasih. Beda rasanya bila digendong opanya yang ada di Jakarta. Aluna merasakan kehangatan Adrian, opanya yang satu ini. Apa mungkin karena dia baru pertama kali bertemu dengan Adrian.


Alhasil, sekarang Adrian sedang bermain dengan kedua anak menggemaskan itu. Bahkan Adrian belum sempat berganti baju, apalagi istirahat karena cucu dan anaknya itu terus mengajaknya bermain.


"Opa, Luna juga mau digendong Opa!"


"Gio juga Dad, Gio mau!"

__ADS_1


"Iya iya, ayo...Gio sama Luna naik aja ke punggung opa daddy," sahut Adrian dengan senang hati.


Kedua anak itu naik ke punggung Adrian, menunggangi pria paruh baya tersebut seperti kuda. Gina menjaga mereka takut-takut kalau mereka berdua oleng atau jatuh.


"Starla, Saka, lebih baik kalian bicara sama Axelo sekarang. Biar aku yang jaga Aluna, kalian harus bicara sama Axelo...dan meluruskan semuanya." ucap Gina pada Saka dan Starla.


Merasa ucapan Gina benar, akhirnya Saka dan Starla pun naik ke lantai atas untuk menemui Axelo. Sesampainya mereka didepan kamar Axelo, Saka tiba-tiba menahan Starla untuk masuk ke kamar Axelo.


"Kenapa kamu nahan aku?" tanya Starla heran.


"Biar aku saja yang bicara sama Axel. Aku akan meyakinkannya sendiri."


"Tapi Axel seperti ini karena kesalahanku. Jadi aku--"


"Jangan nyalahin diri kamu, aku penyebab semua hal yang terjadi didalam rumah tangga kita dulu. Aku penyebab rasa sakit itu dan membuat kamu pergi dari aku. Sekarang please kasih aku kesempatan buat memperbaiki semuanya, dimulai dari Axelo lalu mendapatkan hati kamu lagi!" tutur Saka yang secara terang-terangan niatnya untuk mengejar mantan istrinya kembali. Saka juga tidak menyalahkan Starla yang pergi dengan Axelo tanpa memberi kabar, itu semua karena salahnya juga dan juga ikut campur dari Anggun.


Sontak saja mata Starla terbelalak saat mendengarnya. Pipinya merah merona seketika.


"Kamu nggak tahu malu banget!" tukas Starla.


"Itu memang aku. Ya udah kamu ke bawah aja, masak atau apa ke. Biar aku yang bicara sama Axelo. Trust me, Starla." ucap Saka sambil tersenyum.


"Okay, kamu Daddy-nya. Kamu pasti bisa bicara sama dia," ucap Starla sambil mengangguk setuju. Dia pun mempercayakan Axel padanya. "Oh ya Saka, Axel anak yang kurang terbuka dan kadang dia tidak mau bicara bila ada sesuatu. Tapi dia adalah pendengar yang baik, peka dan cerdas." ungkap Starla sebelum dia turun ke lantai bawah. Ia berharap Saka paham apa maksud ucapannya.


Lantas, Saka masuk ke dalam kamar Axelo karena pintunya tak dikunci. Terlihat Axelo sedang duduk diatas ranjang, termenung seorang diri. Dia melihat Saka dengan sinis.


"Tidak sopan. Harusnya ketuk pintu dulu." ketus Axelo, bicaranya seperti orang dewasa.


"Maaf boy, tapi Daddy sudah mengetuk pintu dan kamu tidak menjawab. Karena pintunya tidak dikunci, ya udah Daddy masuk aja." kata Saka yang lalu mengambil tempat duduk disamping anak laki-laki itu.


"Aku nggak denger."


"Boy, ayo kita bicara."


****


Di lantai bawah, Starla sedang memasak bersama Gina agar cepat selesai. Sementara Adrian sedang asyik bermain bersama cucu cantik dan putra kecilnya.


"Nah, opa jadi tantik kan kalau gini hehe." Aluna terkekeh-kekeh setelah melihat hasil karyanya pada Adrian. Aluna mendandani Adrian dengan lipstik milik Starla yang jarang dipakai.


Wajah Adrian cemong cemong karena mahakarya Aluna dengan lipstik merah itu. Ia sama sekali tidak marah dengan tindakan cucunya, dulu Starla kecil malah lebih aktif dari Aluna. Bahkan Adrian sampai kewalahan menghadapinya, tapi dia bahagia.


"Hihi...Daddy kayak badut haha." si kecil Gio tertawa melihat ayahnya cemong oleh lipstik merah.


"Kalian gemesin banget sih! Sini, Daddy, opaa peluk!" Adrian merentangkan kedua tangannya, lalu kedua anak itu pun duduk dipangkuan Adrian dengan semangat.


"Sayang, lain kali nggak boleh kayak gitu ya. Lipstik itu buat perempuan, bukan buat laki-laki." kata Starla sambil menyimpan dua gelas susu coklat dan juga cemilan manis ke atas meja.


"Oh begitu ya Mom, tapi Daddy cuka Luna rias kok." celetuk Aluna.


"Lain kali tidak boleh sayang. Ayo Gio sama Luna sini, kita makan cemilan bareng! Dan Papa istirahat sama mandi dulu," tutur Starla lembut. Adrian pun menganggukkan kepalanya, ia masuk ke dalam kamarnya yang memang ada di lantai bawah paling ujung rumah itu.


Gina mengikutinya dari belakang, tentu saja dia harus melayani suaminya yang baru saja pulang berlayar. "Mas, aku udah siapkan air hangat. Kamu mandi dulu gih!"


Tiba-tiba saja tubuh semok Gina menabrak dada bidang suaminya yang sudah bertelanjang itu. Jarak Gina dan suami dewasanya itu sangat dekat, bahkan hidung mancung Adrian menyentuh hidung Gina yang seperti kelinci menggemaskan itu.


"Pulang-pulang langsung disuruh mandi, apa nggak ada kata sambutan buat suami yang baru pulang?" tatapan Adrian begitu menggebu-gebu pada Gina, dia sudah 1 bukan tidak mendapatkan belaian dari istrinya.


Gina yang memang cepat belajar dan peka, langsung mengalungkan tangannya ke leher Adrian. "Mas Popeye mau sambutan seperti apa, hem? Mau yang dingin, hangat, atau..." jari-jari Gina menelusuri dada bidang suaminya, matanya mengerling seakan memancing pria itu.


"Atau apa sayang?"

__ADS_1


"Atau yang panas." bisik Gina yang lalu menggigit telinga Adrian, titik sensitif pria itu di sana. Sesuatu dibawah tubuhnya langsung tegak sempurna, meminta masuk ke dalam goa viana dan minta dipuaskan.


"Come on, kita selesaikan di kamar mandi sayang." Adrian menggendong istrinya ala koala. Pasangan beda usia ini selalu mesra, terutama dalam urusan ranjang.


"Tapi anak-anak..."


"Ada Starla yang jaga, dia pasti paham! Ayo sayang, aku nggak tahan." kata Adrian yang lalu memagut bibir Gina dengan rakus. Kemudian Adrian dan Gina pun masuk ke dalam kamar mandi, terdengar suara desahann erotis dari sana bersamaan gemericik air. Adrian menggagahi Gina di dalam kamar mandi dengan penuh kasih.


****


Malam itu, semua orang sudah berkumpul di meja makan kecuali Adrian dan Gina yang masih berada di dalam kamar. Jadinya, Starla yang mengurus Gio. Dia tidak masalah, Gio kan adiknya.


Ketiga anak itu duduk di atas kursi, tapi yang namanya anak-anak tentu tidak mau diam. Terutama Gio dan Aluna yang mengoceh. Dan seperti biasa Axelo hanya diam, tapi sekarang ia duduk disamping Saka.


'Sebenarnya, apa yang tadi mereka obrolkan? Kenapa mereka jadi terlihat dekat begitu?' Starla terheran-heran sebab Saka dan Axelo jadi terlihat dekat setelah bicara lama di kamar tadi. Dia penasaran, kenapa Axelo berubah secepat itu.


"Kamu suka telur? Daddy ambilkan ya?" tawar Saka lembut.


"Boleh." jawab Axelo singkat. Dengan perhatian, Saka mengambilkan telur dadar untuk Axelo. Starla, melihat interaksi antara ayah dan anak itu yang tampak dekat.


###


Beberapa saat yang lalu, Axelo dan Saka masih mengobrol di dalam kamar. Saka terus berusaha cara dari hati ke hati dengan putranya ini.


"Kamu marah sama Daddy, karena Daddy menyakiti mommy kan?" tanya Saka pada putranya.


"Iya."


"Axel, Daddy tidak tahu harus mulai cerita dari mana dan apakah kamu harus mendengar cerita ini. Tapi Daddy rasa, pikiran kamu yang cukup dewasa, bisa membuat kamu memahaminya." Saka menghela nafas berat.


"Ceritakan saja, aku dengar."


"Memang benar, Daddy sudah menyakiti mommy kamu sampai dia pergi jauh membawa kamu. Kami bercerai, karena Daddy berselingkuh...Daddy jahat sama mommy kamu." ungkap Saka mengenai kebodohannya dulu, Axelo menatap papanya dengan sengit. Dia tidak bicara, tapi mendengarkan setiap kata demi kata yang diucapkan oleh Saka.


Saka menceritakan hubungannya dulu dan Starla, bagaimana mereka bisa bercerai. Meskipun seharusnya ia belum boleh menceritakan semua ini, tapi Saka tidak mau kelak di kemudian hari. Axelo malah tambah membencinya tanpa tahu apa-apa. Atau dikemudian hari, ada seseorang yang mengatakan hal tidak tidak kepada Axelo, yang nantinya malah berujung salah paham.


"Boy, Daddy sudah menceritakan semuanya. Daddy menyesali semua perbuatan Daddy. Daddy ingin kita menjadi satu keluarga yang utuh. Kamu, Aluna, mommy dan Daddy. Jadi, maukah kamu memberikan Daddy kesempatan?" Saka memohon kepada putranya itu dengan lirih. Axelo menganggukkan kepalanya pelan.


"Jika Paman berani membuat mommy menangis lagi...aku tidak akan segan-segan membawa mommy kabur!" ancam Axelo dengan tatapan mata tajam pada Saka.


"Jadi kamu setuju boy?" tanya Saka dengan sorot mata berbinar-binar.


"Janji dulu, baru aku setuju." kata Axelo dengan wajah juteknya.


"Oke, Daddy janji...Daddy tidak akan pernah membuat mommymu menangis lagi. Daddy akan membahagiakan kalian. Tentunya Daddy harus meluluhkan hati opamu dan juga mommymu juga." jelas Saka.


"Aku akan selalu mengawasi Paman."


"Siap boy! Awasi Daddy ya. Tapi kamu harus panggil Daddy, jangan Paman." Saka memeluk putranya, sedangkan Axelo menolak karena dia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil, padahal dia sendiri adalah anak kecil.


####


Sementara itu di Jakarta, Indonesia.


Malvin sedang rebahan di kamarnya, dia terlihat galau karena tidak bisa bertemu dengan Aluna. Padahal dia sudah maskeran untuk tampil tetap tampan didepan gadis kecil itu.


"Aduh, si Saka pake bawa calon istri gue ke Singapore. Jadi gue nggak bisa ketemu sama dia. Ck, padahal gue kangen sama my princess gue." gumam Malvin sembari menatap foto Aluna yang menjadi layar ponselnya. Segitu gemasnya Malvin pada putra dari sahabatnya itu. Ataukah ada rasa yang lain?


"Apa gue telpon si Saka aja ya?" pikirnya, yang lalu menghubungi nomor Saka.


****

__ADS_1


__ADS_2