Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 94. Maafin aku


__ADS_3

🍀🍀🍀


Kini Starla dan Axelo berada didalam mobil Saka, pria itulah yang menyetir mobil karena tubuh Starla lemas dan dia tidak mau Starla menyetir mobil sendiri dalam keadaan seperti itu. Starla sendiri merasa lemas sampai pingsan, karena terlalu syok bertemu dengan Aluna dan Saka setelah sekian lama tak bertemu.


Namun didalam hatinya, ia senang karena kembali bertemu dengan Saka dan Aluna. Dia juga bisa melihat wajah Aluna, putri kecilnya, salah satu bintang di hatinya.


Starla dan Saka duduk di kursi depan, sementara Aluna dan Axelo duduk di kursi belakang. Aluna terus melihat Axelo dengan tatapan mata berbinar-binar, sementara Axelo masih bersikap seperti biasa. Cuek, jutek, alias jaga image, begitulah anak Starla dan Saka yang satu ini.


"Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?" kening Axelo berkerut, melihat tatapan Aluna padanya yang baginya sangat menyeramkan.


"Habisnya kakak ganteng banget cih. Seneng deh Luna punya kakak ganteng, tapi kakak jangan galak-galak ya cama Luna." ucap gadis kecil itu seraya tersenyum pada saudara kembarnya.


"Dih apaan sih! Nyebelin, dasar pendek." ketus Axelo dengan kedua tangan menyilang di dada.


"Axe, language nak!" perintah Starla kepada puteranya untuk menjaga bahasanya, dia mendengar apa yang dikatakan Axelo pada Aluna. "Kamu tidak boleh bicara seperti itu pada adikmu." ucapnya lagi memperingati.


"Iya iya, Mom."


"Minta maaf sama adikmu, kalian ini baru bertemu dan kalian ini saudara. Maka dari itu kalian harus menjalin hubungan yang baik. Bukankah dari dulu kamu ingin bertemu dengan adikmu Aluna?" tanya Starla seraya melihat ke arah putranya.


"Eungh iya, tapi aku pikir kalau adikku laki-laki." ucap Axelo pelan.


"Kamu bilang apa sayang?" tanya Starla yang tidak mendengar perkataan Axelo.


"Tidak apa-apa Mom, sudahlah." jawab Axelo sambil melihat keluar kaca mobil. Aluna terus bicara pada Axelo, dia terlihat friendly dan ceria, beda sekali sifatnya dengan Axelo si cuek bebek yang hanya iya-iya saja. Bahkan Axelo sangat dingin pada ayahnya itu, padahal seharusnya dia memberikan pelukan rindu atau menyapa papanya itu. Tapi, responnya seperti memusuhi Saka.


Akhirnya mereka pun sampai di kediaman Adrian, sebuah rumah yang ternyata berada di kawasan sama dengan rumah orang tua Angel yaitu Woodleigh village.


"Rumah kamu ternyata satu komplek dengan orang tua Angel." cetus Saka saat melihat rumah besar dengan pagar berwarna putih itu. Sedangkan kedua anak kecil itu sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah.


"Angel?"


"Kamu tau nggak, Fero udah nikah sama Angel dan mereka juga udah punya anak. Nah, Fero lagi liburan di rumah mertuanya dan rumahnya di daerah sini." tutur Saka.


"Oh, jadi kamu kesini buat ketemu Fero sama Angel?" tanya Starla menebak.


"Bukan. Aku kesini buat kamu dan Axelo." jawab Saka yang tidak mengalihkan atensinya dari Starla. Dia bersungguh-sungguh datang kemari karena ingin bertemu dengan Starla dan Axelo.


"Bohong. Darimana kamu tahu aku dan Axelo ada disini?" tanya Starla lagi.


"Angel, dia nggak sengaja lihat kamu di mall dan dia kasih tau Fero. Fero kirim fotonya ke aku dan aku yakin...wanita di foto itu adalah kamu." jelas Saka sambil tersenyum.


"Oh gitu ya. Kita masuk dulu dan bicara di dalam saja." kata Starla seraya berjalan mendahului Saka.


'Jadi dia kesini buat aku dan Axelo?' batin Starla masih tidak percaya. Pasalnya, mana mungkin Anggun akan mengizinkan Saka pergi menemuinya dan Axelo. Anggun sudah sangat membencinya.


Starla dan Saka masuk ke dalam rumah itu, dilihatnya Axelo dan Aluna sedang bersama dengan Gio dan juga Gina. Awalnya Gina terkejut melihat kedatangan gadis kecil yang bersama dengan Axelo. Namun saat melihat wajahnya dari dekat, Gina cukup terkejut karena gadis kecil itu mirip dengan Starla tapi versi mini.

__ADS_1


"Halo kakak peli, acu Gio." kata Gio sambil cengengesan.


"Hai Gio, kamu lucu cekali." sapa Aluna seraya tersenyum ramah pada anak laki-laki berusia 4 tahun itu. Kemudian Gio pun mencium pipi Aluna, mencium wanita adalah kebiasaan si kecil Gio.


"Hah!" Aluna melongo karena pipinya dicium oleh Gio.


"Astaga Gio!" Gina tepuk jidat melihat putranya yang suka kegenitan pada wanita, terutama wanita cantik. Bahkan pada Starla saja dia suka mencium pipi kakaknya itu.


"Kamu genit banget ih!" keluh Aluna seraya menatap Gio dengan kesal, ia juga mengusap-usap pipinya yang baru saja dicium itu.


Ketika anak-anak sedang bermain bersama dengan Gina. Starla dan Saka berbicara di ruang kerja Starla agar lebih privasi. Tak lupa Starla menyediakan air minum untuk menemani ngobrol mereka.


"Apa kabar kamu selama ini Star?" tanya Saka.


"Baik. Kamu?"


"Padahal aku ingin kamu bilang kamu nggak baik-baik saja. Atau...hanya aku saja yang merasa tidak baik-baik saja selama ini? Mungkin bila tidak ada Aluna, aku bisa gila." ungkap Saka dengan tatapan tajam pada Starla, matanya berembun dan menyiratkan kerinduan mendalam pada mantan istrinya.


Tatapan mata Starla bergetar saat melihat sorot mata Saka padanya. Jujur, dia juga merindukan Saka dibalik rasa sakit dihatinya pada pria itu.


Saka semakin mendekat dan mengikis jarak diantara mereka, ia memperhatikan wajah cantik Starla yang dia rindukan selama 5 tahun ini.


"Aku tahu kita udah pisah, tapi sebelumnya kita udah sepakat untuk masih bisa bertemu karena anak-anak kita. Tapi kenapa kamu pergi? Apa karena Mama? Mama yang suruh kamu pergi?" tanya Saka seraya mengelus pipi Starla, dengan cepat wanita itu menghindar dan memalingkan wajahnya.


"Tidak, aku pergi atas keringat aku sendiri."


"Enggak terjadi apapun Saka, enggak. Ini bukan karena Tante Anggun." ucap Starla seraya menggelengkan kepalanya. Biasanya Starla akan memanggil Anggun dengan sebutan Mama, tapi sekarang Tante. Panggilan yang terdengar asing dan mengatakan secara tak langsung, bahwa hubungan Starla dan Anggun tidak sebaik dulu.


"Star, please jujur." mohon Saka dengan menghiba agar Starla jujur.


"Udahlah kita jangan bicarakan tentang kita. Lebih baik kita bicara tentang anak-anak, itu lebih penting Saka." tukas Starla


Saka tercekat mendengarnya. "Jadi, tentang kita nggak penting?" decaknya kesal.


"Iya, lagian apa yang sudah terjadi diantara kita adalah masa lalu. Gak penting juga buat dibahas kan? Kalaupun kita bicara, kita pasti akan bicara tentang Aluna dan Axelo." tutur Starla tegas.


"Kamu tidak mencintai aku lagi, Star?" tanyanya dengan suara gemetar.


"Cintaku udah mati 5 tahun yang lalu Saka. Sekarang yang paling penting buatku adalah Axelo dan Aluna." jelas Starla sambil tersenyum miring.


"Aku nggak percaya, Star."


"Maksud kamu ap--hmphh!"


Kata-kata Starla terhenti manakala Saka sudah membungkam bibirnya dengan intens. Tubuh Saka yang sekarang semakin kekar itu mengukung Starla yang duduk di sofa, hingga wanita itu tidak bisa melawannya. Kedua tangan Starla di tekan diatas kepalanya, sedangkan bibir Saka sibuk memagut bibir ranum Starla yang selama ini ia rindukan.


Hmphh--ahh... lenguh Starla disela-sela permainan saliva Saka yang memabukkan itu.

__ADS_1


Cukup lama berpagutan, Starla yang kesal pun mengigit bibir Saka sampai berdarah. Hingga ciuman itu terlepas.


"Kurang ajar kamu! Beraninya kamu cium aku!" hardik Starla marah. Tatapannya menyalang tajam pada Saka. Sementara pria itu malah tersenyum menyeringai, ia menyeka darah yang ada di sudut bibirnya. Kemudian ibu jarinya mengusap basah dibibir Starla tanpa tahu malu.


"Kamu apa-apaan sih Saka!" bentak Starla seraya menepis tangan Saka yang mengusap bibirnya.


"Aku tahu kamu bohong, kamu masih nyimpan rasa sama aku walaupun jauh di lubuk hati kamu. Buktinya kamu nggak nampar aku saat aku cium kamu." kekeh Saka sambil tersenyum lebar. Dia merasa Starla masih mencintai dirinya dan dia percaya diri akan hal itu.


'Oh ya, harusnya aku menamparnya. Sial! Kenapa aku bisa lupa?' kata Starla dalam hatinya.


"Saka!" geramnya seraya mengangkat tangan untuk menampar Saka, tapi dengan cepat Saka menahan tangannya.


"Aku akan dapatkan kamu lagi Star," bisik Saka dengan penuh tekad dan membuat wanita itu berdebar.


"Jangan harap!" ujar wanita itu dengan tatapan tajamnya pada Saka. Namun Saka malah tersenyum, dia akan mendapatkan kembali mantan istrinya lagi.


Tiba-tiba saja Saka menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Starla berusaha berontak dari pelukan Saka, tapi pria itu memeluknya erat.


"Saka lepas..."


"Bentar aja please." lirih Saka memohon. "Maafin aku Star, maafin aku untuk semuanya. Maaf karena kamu harus pergi karena aku. Maaf, maafin aku." kepala Saka tertunduk di bahu Starla.


Starla akui pelukan Saka begitu nyaman, bahkan dia merindukan pria itu. Niat hati Starla membalas pelukan Saka, tapi dia teringat ucapan Anggun yang masih melekat dalam hatinya.


****


Indonesia, Jakarta, kediaman Delano.


Sore itu...


Anggun terlihat termenung setelah dia kumpulan arisan dengan teman-temannya. Anggun menangis begitu pulang dari rumah neneknya Sheryl yang cucunya bertengkar dengan Aluna waktu itu.


Nenek Sheryl mengatakan Anggun adalah mertua yang jahat karena sudah menjelekkan mantan menantunya untuk menutupi kesalahan putranya. Bahkan Anggun baru tahu kalau Saka dan Aluna pergi ke Singapore, mereka tidak berpamitan pada Anggun. Mungkin Saka marah padanya, maka dari itu


"Ma, mama kenapa?" tanya Jeffry yang baru saja pulang dari kantor. Ia melihat istrinya melamun di depan rumah.


"Pah, Saka sama Aluna pergi ke Singapore. Papa tahu nggak? Kenapa mereka tidak mengabari kita?" keluh Anggun.


"Saka udah ngabarin Papa,makanya papa akan menggantikan Saka selama dia di Singapore." ucap Jeffry sambil duduk disamping Anggun.


"Terus kenapa dia nggak ngabarin Mama?"


"Kenapa Mama nanya sama Papa? Kenapa nggak tanya itu sama diri Mama sendiri?" ucap Jeffry sambil menghela nafas. Dia sudah tahu bagaimana sifat Anggun berubah sejak Saka sakit dulu.


"Pah, papa mau nyalahin Mama lagi?" tanya Anggun sedih.


"Nggak Ma, papa hanya merasa...kalau Anggun yang penyayang itu sudah berubah. Papa udah nggak ngenalin Mama lagi." kata Jeffry kecewa.

__ADS_1


****


__ADS_2