Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 78. Adrian murka


__ADS_3

Ditengah rasa bahagia karena hadirnya si kembar dalam keadaan baik-baik saja. Ternyata masih ada rasa sedih menyelimuti hati mereka semua. Yaitu tentang bagaimana keadaan Starla saat ini.


Kedua bayi Starla yang menangis, langsung diberikan susu formula oleh suster rumah sakit sebagai pengganti asi karena untuk sementara keadaan Starla tidak memungkinkan untuk menyusui si kembar.


"Dokter, kenapa dokter diam saja? Bagaimana keadaan istri saya dok?" Saka kembali mengulang pertanyaannya, seraya menatap wajah dokter itu.


Bukan hanya Saka yang menunggu jawaban dari dokter, Galang, Malvin, keluarga Saka dan teman-teman Saka yang lain juga menunggu jawaban dokter.


"Maafkan saya Mas. Setelah operasi, keadaan Bu Starla memburuk, terutama luka di kepalanya yang mengakibatkan pasien kritis. Sekarang, Bu Starla dalam keadaan koma." jelas dokter itu dengan berat hati. Tentunya dokter sudah melakukan yang terbaik, akan tetapi takdir berkehendak lain. Saat akan melakukan operasi pada kepala Starla yang mengalami cedera parah, wanita malang itu kritis dan sekarang koma. Dia juga mengalami pendarahan hebat, beruntung kedua bayinya bisa dilahirkan dengan selamat tanpa kekurangan.


Semua orang di sana terkejut mendengar ucapan dokter tentang keadaan Starla. Anggun, Angel dan Lita sampai tidak bisa menahan tangisnya. Seakan merasakan sakitnya Starla saat ini. Apalagi Galang, pria itu sampai memukul-mukul tembok untuk melampiaskan rasa sakitnya.


"DOKTER BILANG APA BARUSAN?!" Saka yang emosional, menarik baju dokter wanita itu dengan kasar. "BUKANKAH SAYA BILANG UNTUK MENYELAMATKAN ISTRI SAYA LEBIH DULU? KENAPA MALAH BEGINI, DOKTER!" teriak Saka tidak terima.


"Saka hentikan! Ini sudah takdir dari tuhan, kita berdoa saja agar Starla segera membaik." ucap Jeffry berusaha untuk menenangkan keadaan. Saka pun melepaskan cengkraman tangannya dari dokter.


"Maafkan saya Mas, tapi jika Bu Starla tidak siuman dalam waktu 48 jam. Maka saya tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi. Semua tergantung pada tuhan dan kuasanya." kata dokter yang lagi-lagi membuat semua orang menjadi lemas dan tidak tenang mendengarnya.


Setelah itu Starla dibawa oleh suster ke ruang rawat. Wanita malang yang baru saja melahirkan anaknya pada 7 bulan kehamilannya itu mengalami koma, bahkan ia belum sempat melihat kedua anaknya. Apalagi menggendong atau menyusui mereka berdua.


Galang yang marah karena Saka, tidak bisa berkata-kata lagi. Pria itu hanya bisa terisak duduk di rumah tunggu, tanpa tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Riko yang ada di sana mencoba menghiburnya. Ia tau bahwa Galang sangat mencintai Starla, bahkan sejak pertama kali mereka bertemu di kampus dan jadi sahabat.


"Starla pasti akan bertahan Lang, dia pasti akan baik-baik saja." ucap Riko seraya menepuk-nepuk bahu Galang. Riko bisa merasakan tubuh Galang gemetar.


"Andaikan saat itu gue berani menyatakan cinta gue sama Starla...apa keadaan akan berbeda Rik? Apa Starla nggak akan ngalamin hal menyakitkan kayak gini? Apa dia bakal bahagia sama gue?" Galang mulai berandai-andai, andai saja saat Starla masih berhubungan masih dengan Bisma. Galang berani mengutarakannya perasaannya pada Starla, walaupun dia tau akan ditolak. Seharusnya dia mengungkapkannya, agar isi hatinya tersampaikan kepada wanita itu.


"Lang, gue gak bisa bilang apa-apa saat ini. Apa yang udah terjadi sama Starla, semuanya adalah takdir dari Tuhan." ucap Riko bijaksana.


Disisi lain, Saka yang masih lemas kini hanya terdiam dengan mata kosong. Bahkan Saka yang kini sudah resmi menjadi seorang ayah, malah belum menyapa putra dan putrinya sama sekali.


Oek...oek...


Kedua bayi itu kompak menangis, mereka menolak susu formula yang diberikan oleh Jeffry dan Anggun.

__ADS_1


"Sayang, jangan nangis ya. Ini mimi susunya." kata Anggun yang berusaha membujuk cucu perempuannya untuk minum susunya.


Oek...owek...


"Bagaimana ini Ma? Mereka tidak berhenti menangis dan tidak mau minum susu?" tanya Jeffry yang saat ini sedang menggendong cucu laki-lakinya.


"Saka... coba kamu sapa anak-anak kamu nak. Kamu belum lihat mereka kan? Twins seperti ini pasti karena mereka gelisah dengan keadaan ibunya." ucap Anggun seraya mendekati Saka sambil membawa bayi perempuan yang belum diberi nama itu.


Saka melihat wajah cantik bayi perempuan itu yang mirip dengan Starla, namun matanya mirip dengan Saka. "Anakku...mirip banget mommynya, tapi matanya mirip aku." gumam Saka dengan perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.


"Coba kamu gendong, Ka." saran Anggun.


"Tapi Ma, Saka nggak bisa." jawab Saka yang belum bisa menggendong bayi, takut.


Anggun memberikan baby girls itu kepada Saka dengan hati-hati. Saka menatap babynya dengan perasaan bahagia, haru, campur rasa bersalah. Saka merasa bersalah karena sudah membuat mereka lahir lebih awal dengan menyakiti ibu mereka. Tinggi dan juga berat si kembar, tidak seberapa karena mereka lahir tidak pada waktu yang seharusnya.


"Maafin Daddy ya sayang. Daddy sudah buat mommy kalian terluka. Tapi, Daddy yakin mommy kalian pasti akan baik-baik saja. Karena mommy kalian pasti ingin melihat kalian." setelah mengatakan itu, Saka menangis dan mengecup kening kedua bayi itu dengan penuh kasih sayang.


"Kasihan banget Saka." bisik Angel yang merasa kasihan pada keadaan Saka saat ini. Dia dimarahi semua orang, merasa bersalah dan Starla istrinya sedang koma, tak tahu kapan wanita itu akan sadar.


"Keterlaluan banget Elisa. Mungkin setelah ini, hubungan kak Starla sama Saka nggak akan bisa kayak dulu lagi." ucap Lita berpendapat.


Tak lama kemudian, saat Saka akan pergi ke ruangan Starla. Adrian dan Gina datang ke rumah sakit setelah mereka menempuh perjalanan setengah jam. Sontak saja semua orang melihat ke arah Adrian dan Gina yang terengah-engah, mereka terlihat cemas.


"Apa yang terjadi pada Starla?" tanya Adrian pada Saka lebih dulu. Sialnya, lidah Saka kelu saat ditanya seperti itu oleh ayah mertuanya. Saka bingung harus bicara dari mana tentang hal ini.


"Saka! Jawab Papa, gimana keadaan Starla?" tanya Adrian lagi sambil memegang kedua bahu Saka. Namun bukan jawaban yang Adrian dapatkan melainkan isak tangis pilu dari menantunya itu.


"Maaf...maafin Saka Pa."


"Kamu minta maaf kenapa? Jelasin sama Papa, apa yang terjadi? Starla kecelakaan apa? Dia dimana Saka?" tanya Adrian yang semakin dengan keadaan Starla.


Melihat putranya yang diam saja, akhirnya Jeffry angkat bicara. "Pak besan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya telah gagal mendidik anak saya untuk menjadi orang yang setia. Semua yang terjadi kepada Starla adalah karena Saka."

__ADS_1


Jeffry sebenarnya tidak mau mengungkap apa yang terjadi pada besannya, selain malu, ia juga tidak mau Saka di cap buruk. Tapi mau bagaimana lagi? Lebih baik jujur daripada ditutup-tutupi.


"Apa maksud Pak Jeffry?" kali ini Adrian menatap ke arah Jeffry.


"Starla memergoki Saka selingkuh dengan mantan pacarnya, lalu... kecelakaan itu terjadi." ungkap Jeffry sambil menutup matanya dengan perasaan berat. "Starla juga sudah melahirkan, bayinya selamat tapi Starla mengalami koma." timpal Jeffry lagi.


Sontak aja mata Adrian terbelalak mendengar penjelasan Jeffry. Dia menatap Saka yang terlihat lebam karena ulah Galang, sedang menangis.


Diamnya Saka memberikan jawaban ya untuk Adrian, bahwa semua yang dikatakan oleh Jeffry benar adanya. Tanpa banyak bicara, Adrian memukul wajah Saka sampai terhuyung ke samping.


Bugh!


"Saya tidak mau masuk penjara karena kelepasan membunuh kamu. Karena saya tidak mau cucu-cucu saya punya kakek narapida. Tapi saya sangat kecewa sama kamu Saka, saya menyesal sudah percaya sama kamu untuk menjaga Starla dan cucu-cucu saya. Saya salah besar, harusnya saya tahu kalau kamu pasti akan berulah! Setelah ini ceraikan anak saya dan jangan harap kamu bisa bertemu dengan Starla dan anak-anaknya." tegas Adrian yang menusuk ke dalam hati Saka. Disisi lain, Gina juga menatap Saka dengan benci.


Saka hanya bisa diam, dia pasrah diperlakukan seperti ini. Dia mengakui kesalahannya yang sudah khilaf malah keterusan itu. Gila saja, saat ini kepalanya hampir pecah. Adrian sudah sangat marah padanya sampai memintanya bercerai dari Starla.


"Nggak pah! Aku mohon, jangan pisahkan Starla dan anak-anakku dari aku Pah!" pinta Saka seraya memohon pada ayah mertuanya itu.


"Pak Adrian, saya mohon jangan--" Jeffry ingin bicara, tapi Adrian keburu menyelanya.


"Semua keputusan ada ditangan Starla, tapi saya yakin dia akan mengambil keputusan yang sama. Doakan saja semoga dia masih bisa bertahan, karena jika tidak--saya akan memenjarakanmu juga!" tunjuk Adrian kepada wajah Saka.


"Gue udah duga suatu saat Lo bakal nyakitin Starla. Tapi kenapa Lo tega banget? Apa salah Starla sama Lo? Dia ngandung anak Lo, Lo malah nyakitin dia!" sentak Gina yang juga melampiaskan kemarahannya kepada Starla.


Sakit hati Adrian mendengar tentang Starla, lantas ia pun mengajak istrinya untuk melihat Starla lebih dulu. Daripada bicara dengan Saka yang membuatnya emosi. Adrian dan Gina masuk ke ruang rawat Starla, hati mereka terenyuh melihat wanita yang terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan beberapa alat medis terpasang ditubuhnya. Suara mesin medis membuat hati Adrian sakit dan takut. Pasalnya dulu saat mantan istrinya meninggal dan berada di ranjang rumah sakit.


"Mas...Starla, dia..." lirih Gina dengan bulir air mata yang mulai menetes membasahi pipinya. Tak tega ia melihat Starla seperti ini.


"Cepat siuman sayang, Papa janji akan bawa kamu sama anak-anak kamu pulang ke rumah. Kita tinggal sama-sama lagi ya? Kamu nggak usah mikirin pria itu lagi. Kamu masih punya Papa, Gina, masih banyak yang sayang sama kamu." lirih Adrian seraya mengusap pelan kening Starla,lalu mengecupnya. Ia tidak mau kehilangan Starla, buah cintanya dengan istri pertamanya dulu.


...****...


Maaf author telat update, ini review lama terus padahal gak ada adegan anu🤧🥰 🥰Tapi makasih dukungan kalian guys...

__ADS_1


__ADS_2