Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 68. Mau dipanggil sayang


__ADS_3

Setelah menuangkan air untuk istrinya yang bangun karena haus, Starla kembali tertidur karena ia merasa lemas. Saka masih diliputi rasa cemas, sebelum dokter benar-benar memeriksa kondisi istri dan anaknya besok pagi. Ia takut infeksi salmonella ini berefek negatif pada bayinya. Tapi disisi lain, Saka berharap semoga kecemasannya ini tidak benar. Saka ingin Starla dan bayinya baik-baik saja.


Mulai sekarang, setiap makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh Starla harus mendapatkan pengawasan dan label halal darinya terlebih dahulu.


Melihat istrinya tertidur pulas, Saka masih belum tenang juga. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi keluar sebentar dan menghirup udara segar. Tidak jauh-jauh, hanya berjalan di lorong saja. Malam itu terlihat sepi, tidak ada satupun orang yang ada di lorong kecuali dirinya.


Hingga tanpa sengaja Saka mendengar suara pintu yang dibuka dan melihat seorang wanita dengan baju pasien keluar dari sana dengan wajah pucat.


"Saka? Kenapa kamu ada disini?" tanya Elisa pada Saka. Gadis itu memegang selang infus sambil berjalan mendekati Saka yang masih berdiri didepan ruangan dimana istrinya berada saat ini.


"Gu-gue..."


'Aku harus jawab apa? Apa ini saatnya aku mengatakan pada Elisa, bahwa aku sudah menikah dan bahkan akan segera menjadi seorang ayah. Tapi, Elisa kenapa ya? Wajahnya pucat banget' batin Saka yang bingung akan mengatakan hubungannya dan Starla pada Elisa. Saka rasa ini bukan waktu yang tepat.


"Saka!" tiba-tiba saja Elisa memeluk Saka, sampai pria itu tidak sempat menghindar. Elisa menangis di dalam pelukan Saka.


"El, tolong lepasin gue!" seru Saka seraya mendorong tubuh Elisa dari pelukannya. Terlihat Elisa menangis, wajahnya pucat dan mengkhawatirkan.


"Saka...aku bakal mati, bentar lagi aku bakal mati Saka. Tolong...aku nggak mau mati!" seru Elisa terisak, dia memegang tangan suami orang itu. Menunjukkan dirinya yang paling memelas dan paling menyedihkan.


"Apa maksud Lo, El?" tanya Saka yang mulai bersimpati pada mantan pacarnya itu. Seseorang yang pernah menjadi ratu di hatinya dan menjalin hubungan dengannya selama 1 tahun itu.


"Hiks...Saka, apa kamu mau denger aku cerita?" tanya Elisa yang membuat Saka tidak bisa menolaknya.


"Ya udah kita bicara bentar, tapi gue nggak bisa lama." ucap Saka setuju.


Elisa tersenyum menyeringai, ia pun mengajak Saka bicara ke dekat balkon rumah sakit' itu. Tak jauh hanya ada di lorong ujung bangsal kenanga.


****

__ADS_1


Di Bogor, kediaman Gina.


Setelah numpang charge hp di rumah Gina, akhirnya hot Daddy Adrian pun mengecek ponselnya yang sudah menyala.


"Astaga! Starla!" pekik Adrian yang kaget melihat isi pesan dan beberapa panggilan tak terjawab dari Saka. Pesan itu mengatakan bahwa Starla dirawat di rumah sakit.


"Ada apa Om? Starla kenapa?" tanya Gina yang berdiri tepat disamping Adrian.


"Starla masuk rumah sakit, kata Saka perutnya keram. Jadi Om harus pulang malam ini," ucap Adrian yang mencemaskan kondisi anaknya.


Gina juga mencemaskan keadaan Starla. "Ya udah, kalau gitu aku ikut om ke Jakarta sekarang juga!"


"Kamu disini aja, Gin." kata Adrian melarang.


"Ih, kenapa? Aku harus melihat keadaan Starla, Om...Starla bestie aku...dia juga calon anakku."


"Om, kenapa Om diem aja sih? Aku ikut ya! Boleh ya?" bibir Gina mencebik dengan nada manja ia berbicara pada si hot Daddy yang juara dalam hal ketenangan itu.


Perlahan tangan Adrian mengelus rambut panjang sebahu Gina, ditatapnya gadis itu penuh kasih sayang.


"Sial! Hatiku lumer, kayak coklat dilumerin. Estogeh om, kenapa lagi diem aja om ganteng banget sih? Please jangan tatap aku kayak gini!" seru Gina seraya menatap pria itu


dengan terpesona seolah ia sudah tersihir.


Adrian terbahak mendengar ucapan Gina. Sementara Gina terlihat panik saat bibirnya mengucapkan hal konyol lagi didepan pria pujaan hatinya.


"Ih! Kok bisa keceplosan sih, aku kan ngomongnya dalam hati." Gina menepuk-nepuk bibirnya sendiri. Adrian semakin gemas melihat gadis muda yang sudah mencuri hatinya ini.


"Jangan ditepuk tepuk gitu bibirnya. Nanti merah."

__ADS_1


"Kalau jangan ditepuk-tepuk, apa dicium om boleh?" tanya Gina genit seraya menggoda pria itu.


"Nggak boleh! Om harus pulang sekarang. Maaf, kamu nggak bisa ikut. Kamu diem aja disini, sampai Om datang. Om janji sebelum lusa om akan mendapatkan uang itu dan membuktikan sama Papa kamu, bahwa om serius." tutur Adrian pada gadis itu.


"Ta-tapi..."


"Nurut ya sama om? Kamu disini aja. Tentang Starla, nanti Om bakal ngabarin kamu." ucap Adrian lembut. Gina menganggukkan kepalanya dengan patuh.


"Om mau pergi kan? Kalau gitu, aku mau minta pembuktian Om."


"Pembuktian, apa?"


"Panggil aku sayang, Om! Aku mau dipanggil sayang." ucap Gina yang membuat pipi Adrian memerah seketika. Berhadapan dengan gadis seperti Gina memang tak mudah.


"A-apa harus?"


"Kalau om mau pergi dari sini, om harus panggil aku sayang. Atau om cium kening aku," cetus gadis itu berterus terang.


"Sayang." ucapnya pelan, lantas memalingkan wajahnya.


"Ulangi Om nggak kedengaran!" seru Gina sambil tersenyum.


"Nggak ada siaran ulang. Bye, Om mau pulang. Mau pamit dulu sama mama papa kamu." ucap Adrian yang pergi begitu saja meninggalkan Gina di dekat dapur. Melihat si om pergi, Gina menempelinya dibelakang bak perangko.


...****...


Hola selamat malam 😍😍tadi ada yang nanyain visual ya? Karena gak bisa masuk Ig, FB dll...nih aku Spil visual haluku...tapi ayang hot Daddy nanti aja ya hihi


__ADS_1


__ADS_2