
***
Malvin dan Fero tersentak kaget dengan apa yang baru saja mereka dengar. Apalagi Saka sangat memperhatikan Starla, berbeda dengan sikap dingin cowok itu disekolah kepada Starla. Ternyata oh ternyata, ada udang dibalik bakwan.
"Anjir!" seru Fero syok, benar-benar l syok.
Dengan gaya alaynya ala anak zaman now, Fero mengorek-ngorek telinganya sendiri. Siapa tau telinganya ada kotoran, mungkin dia salah dengar kan?
"O..em...ji...helo...what? Telinga gue masih normal kan Vin? Si Saka ngomong apaan barusan jir!" pertanyaan ini Fero tujukan kepada Malvin yang masih belum bicara sepatah katapun. Wajah si Malvin pucat pasi, seperti vampir kekurangan darah, rasanya seperti sayur tanpa Ajinomoto. Sumpah demi God, baru pertama kalinya Fero melihat Malvin yang ceria jadi seperti ini. Dia sepertinya lebih syok dari Fero.
"Vin, jawab woy! Kayaknya gue salah denger kan? Si Saka bilang bayi kita? Nggak mungkin kan Vin. Woy Vin sadar, kita masih di bumi!" Fero menggoyang-goyangkan tubuh Malvin tapi cowok itu tidak memberikan respon apapun.
Atensi Malvin tertuju pada Saka dan Starla yang terlihat seperti couple itu. Dimana cowok itu sekarang menggendong Starla ala tuan putri dan Starla sendiri mengalungkan kedua tangannya di leher Saka.
"Lo nggak apa-apa? Bayi kita gimana?" tatapan Saka begitu mencemaskan Starla yang saat ini berada dalam gendongannya.
"Kayanya dia nggak apa-apa, nggak ada pendarahan kok." Satu tangan Starla menyentuh perutnya yang masih terasa sakit, tapi ia merasa baik-baik saja.
"Tapi sakit nggak?" tanya Saka lembut. Sungguh, Starla belum terlalu siap dengan kelembutan Saka. Dulu saja Saka dingin, sekarang dia sangat lembut. Hatinya menegaskan untuk jangan terpesona pada pria ini, bagaimana pun juga Saka baik begini karena bayi mereka. Not love.
"Enggak."
"Jangan bohong." Tatapan tajam dari si berondong dingin ini, membuat Starla tidak berkutik. Mau tidak mau, ya dia harus jujur dengan apa yang dia rasakan saat ini.
"Iya sakit, dikit sih...tapi nggak usah ke rumah sakit. Gue sama little star nggak apa-apa kok!" ujar Starla cepat, ia langsung menolak arah pembicaraan Saka. Pasti rumah sakit menjadi tujuannya. Malas sekali, Starla tak suka apa-apa rumah sakit. Kesannya dia sakit parah, apalagi Starla suka mual mencium bau obat-obatan. Udara rumah sakit membuat cewek ini tidak nyaman.
"Gue nggak mau ambil resiko kalau our little Star sampai kenapa-napa." tegas cowok itu yang tak bisa diganggu gugat.
"Tapi Saka..."
Tidak ada penolakan, setiap ucapan pria itu adalah mutlak. Dia akan tetap membawa Starla ke rumah sakit, untuk memeriksa kondisi bayinya.
__ADS_1
Saat Starla dan Saka sudah tidak berada di dunia mereka lagi, mereka melihat tatapan Malvin dan Fero yang terkesan aneh kepada mereka berdua. Terutama Malvin yang terlihat memerah, matanya berkaca-kaca.
"Apa maksudnya semua ini Ka? Apa Lo mengkhianati sahabat Lo sendiri?" tanya Malvin dengan nada mirip orang patah hati.
"Lo apaan sih Vin?" tanya Saka tidak paham. Ia memilih pergi membawa Starla keluar dari sana. Starla juga heran karena Malvin dan Fero terlihat aneh, mereka berdua tak tahu saja bila kedua orang itu sudah tau tentang Saka dan Starla.
"Tega Lo...Ka...tega Lo rebut Bu ayang masa depan gue!" dan Malvin pun menangis seperti bocil, dia patah hati kalau memang benar Starla dan Saka sudah naninu, sampai punya anak. Tetap saja rasanya Malvin tak percaya.
"Ayo bro, kita ikut si Saka ke rumah sakit biar kita tau kebenarannya!" kata Fero dengan wajah tegarnya.
"O-oke...Bu ayang huaahh..."
"Anjir Malvin, Lo ingusan!" seru Fero kesal karena Malvin bersandar di dadanya dan baju seragamnya kena ingus Malvin. Iuh jijik. Akhirnya dua bestie Saka ini pergi ke rumah sakit menyusul Saka.
Saka pergi dengan taksi, sementara ia menyuruh anggota geng motor yang lain untuk membawa motornya pulang ke rumah.
****
Saka membaringkan Starla di ranjang pasien dan membiarkan bibinya melakukan tugas untuk memeriksa Starla. Saka berada didalam ruangan, sementara kedua temannya ada diluar ruangan.
"Tan, gimana keadaan istri aku sama bayinya?" tanya Saka, begitu Lisa selesai memeriksa perut Starla dengan alat USG.
Lisa tersenyum, lalu ia menjawab. "Tenang aja, ibu dan bayinya sehat kok. Emangnya kenapa Ka? Apa terjadi sesuatu sama Starla?" Lisa menanyakan keadaan Starla.
"Nggak ada apa-apa kok Tante, Saka aja yang berlebihan! Saya cuma keram perut biasa." Starla menjawab. Lalu ia pun beranjak untuk duduk, ketika Starla sudah duduk, Lisa melihat ada luka memar di pergelangan tangan Starla.
"Tangan kamu memar Starla. Tante akan obati dulu," ucap Lisa sambil mengambil kotak p3k yang tak jauh dari sana.
Saka yang baru menyadari bahwa Starla mengalami luka memar, langsung teringat pada Reno dan temen-temannya yang menculik Starla. Tapi apa tujuan Reno menculik Starla? Padahal seingatnya, Saka sudah tidak ada masalah lagi dengan Reno dan the geng. Sial! Saka jadi kesal, dia akan buat perhitungan dengan Reno karena sudah melukai Starla dan calon anak mereka.
Setelah di obati, Starla dan Saka keluar dari ruang pemeriksaan. Mereka melihat Malvin dan Fero masih berada di sana.
__ADS_1
"Kalian kok masih ada disini? Gue kan udah suruh balik."
Tidak ada respon dari kedua teman Saka, saat Saka bicara. Starla juga melihat mereka dengan heran, aneh saja. Biasanya Malvin kan selalu cerewet didepannya.
"Ah...gue lupa, thanks ya guys udah bantuin gue nyelametin kak Starla." Saka berterimakasih pada teman-temannya karena tadi ia tidak sempat berterima kasih.
"Ka...ada hubungan apa Lo sama Bu ayang? Dan apa Bu ayang hamil?" tanya Malvin dengan wajah seriusnya. Bak Arnold Schwarzenegger di film Terminator. Tak ada senyum-senyumnya.
Sontak saja pertanyaan Malvin membuat Saka dan Starla terperangah. Mereka tidak tau mau menjawab apa.
"Gue sama Malvin, tadi denger Lo bilang bayi kita sambil pegang perut kak Starla. Jadi, sebenernya ada apa ini?" tanya Fero yang membuat Saka dan Starla tidak bisa mengelak. Saka melirik ke arah istrinya untuk meminta persetujuan. Apa ia harus memberitahu Malvin dan Fero, atau jangan? Starla menganggukkan kepalanya, dia rasa teman dekat Saka harus tau. Lagian Starla percaya, kedua teman Saka tidak akan ember bocor.
Saka pun menceritakan apa yang terjadi pada kedua bestienya. Dari awal mula pertemuannya dan Starla di Bogor, pada malam itu. Terjadilah cinta satu malam, hingga Starla hamil dan mereka married.
Bak dihantam palu si Thor di film Thor, hari Malvin hancur saat mendengarnya. Wanita pujaannya sudah menikah, bahkan sudah hamil.
"Untung Lo teman gue Ka, kalau enggak...gue udah...huahh..." Malvin bersandar di bahu Fero sambil menangis.
"Sorry Vin," ucap Saka sambil menghela nafas.
"Malvin, jangan nangis dong. Masa kamu nangis sih?" Starla yang iba melihat Malvin menangis, lalu menyodorkan tisu kering untuk cowok itu. Bagaimana Malvin nggak klepek klepek coba? Malvin langsung mengambil tisu itu dan mengusap ingusnya, kemudian membuang tisu itu ke tempat sampah yang kebetulan ada disampingnya.
"Makasih Bu ayang! Kalau si Saka sampai nyakitin bu ayang, Malvin siap jadi sandaran Bu ayang." Malvin memegang kedua tangan Starla dan menatapnya dalam.
Bugh!
"Bacot Lo!" Saka memukul wajah Malvin dengan kesal. Ia tak suka ada yang menyentuh istrinya.
"Sakit, SAKA!"
****
__ADS_1