
Suara mesin medis terdengar menggema di sepanjang sudut ruangan yang didominasi oleh cat berwarna putih itu. Tampak Aluna terbaring lemah tak berdaya diatas ranjang rumah sakit dengan beberapa alat medis terpasang di tubuhnya, termasuk selang infus dan oksigen.
Wajah gadis kecil itu pucat pasi dan terdengar suara detak jantungnya yang lambat, belum beraturan dan normal. Beberapa saat yang lalu dokter mengatakan bahwa kondisi Aluna tidak baik, dia mengalami syok jantung dan hampir kehilangan nyawanya kalau terlambat sedikit saja dibawa ke rumah sakit.
Mendengar hal itu, membuat Axelo semakin merasa bersalah. Pasalnya, ini semua terjadi karena dirinya. Jika bukan karena dia yang jahil, pasti Aluna tidak akan berada dalam bahaya dan dalam situasi seperti ini.
"Ini salahku, Aluna begini karena aku...hiks." Axelo masih bergumam demikian meski Starla sudah berusaha menenangkannya. Anak laki-laki itu merasa bersalah, sangat. Dia sudah bersikap sinis dan tidak baik pada Aluna, padahal Aluna adalah kembarannya yang seharusnya ia sayangi. Tak seharusnya ia bersikap demikian, hanya karena Aluna yang berisik dan ingin mengajaknya bermain. Niatnya jahil, malah berujung mempermainkan nyawa Aluna.
"Sudahlah boy, ini bukan salahmu. Kamu kan nggak tahu kalau adikmu sakit, lagipula Aluna sudah terlepas dari bahaya. Dia akan baik-baik saja." kata Saka seraya mengusap-usap pelan bahu Axelo yang terlihat gemetar. 'Pasti dia ketakutan'
"Tapi ini salahku, tetap saja aku salah. Aku hampir membuatnya tiada," ucap anak laki-laki itu menyesal.
Tangan Saka mengusap pelan air mata di wajah Axelo dengan lembut. Dia menatap sang putra dengan tatapan sendu, lantas ia pun tersenyum. "Jangan menangis lagi, Aluna akan sedih kalau tahu kamu menangis. Daripada kamu menangis, lebih baik kamu doakan Aluna dan jaga Aluna saja."
"I-iya." jawab Axelo dengan suara seraknya, dia mengusap air matanya.
"Nah gitu dong!" seru Saka seraya memeluk anaknya itu. "Kamu harus sayang sama adik kamu ya, kalian kan saudara. Saudara harus saling menyayangi." nasehat Saka.
"Iya, aku janji akan sayang pada Aluna dan juga menjaga Aluna. Aku tidak akan menyakiti Aluna!" Axelo mengangguk-anggukkan kepalanya, dia berjanji akan memperlakukan Aluna dengan baik, menyayangi dan menjaganya.
Saka mengurai pelukannya. "Anak baik, sekarang jangan menangis ya." Axelo menganggukkan kepalanya.
Tanpa mereka sadari Gina dan Starla yang baru saja kembali dari bagian administrasi rumah sakit, melihat Saka dan Axelo. Mereka juga mendengar percakapan antara ayah dan anak itu.
"Saka sudah banyak berubah, dia jadi se-di-kit dewasa." komentar Gina terhadap sikap Saka yang sekarang jauh lebih tenang dan dewasa.
__ADS_1
"Kamu benar Mom," sahut Starla setuju dengan apa yang Gina katakan. Dari apa yang dia lihat, Saka sudah sedikit dewasa. Mungkin ini semua karena Saka menjadi orang tua tunggal Aluna selama 5 tahun. Situasi dan kondisi membuatnya jadi pribadi yang dewasa.
"Awas jangan sampai kau terpesona terlalu mudah padanya. Dia masih membutuhkan beberapa tahap penilaian, Star." cetus Gina seraya menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia menatap putri sambungnya itu dengan curiga, sebab Gina dapat melihat ada kilatan perasaan di dalam mata Starla untuk Saka, walaupun tak sekuat dulu.
"Si-siapa juga yang terpesona? Jangan mengada-ada!" sanggah Starla sambil berdecak kesal.
"Ssh, dasar lain di mulut lain di hati. Ya sudah, aku akan temui Mas Popeye dan pangeranku di kantin, kamu temui saja mereka!" ujar Gina.
Starla menganggukkan kepalanya kemudian dia pun melangkah menghampiri Axelo dan Saka. Sementara Gina pergi menemui Adrian dan putranya yang sedang berada di kantin rumah sakit, mereka sedang membeli minum di sana.
Hari pun berganti malam, Starla dan Saka menginap bersama di rumah sakit untuk menjaga Aluna. Sementara Axelo akan pulang bersama dengan Adrian, Gina dan Gio. Namun Axelo menolak untuk pulang sebelum Aluna siuman. Dari tadi sore, Aluna belum siuman dan Axelo takut pada kalau sampai terjadi apa-apa kepada adiknya itu.
"Aku akan tetap disini, Mom, Paman." ucapnya penuh penekanan.
Starla menghela nafas, kemudian dia pun berusaha membujuk putranya. "Axel, anak kecil tidak boleh menginap di rumah sakit. Biar mommy dan Daddy mu yang menjaga Aluna."
"Axel-"
"Kaa..kak..." lirih Aluna pelan, sehingga membuat semua orang yang berada di ruangan itu langsung menatap ke arahnya. Mereka terperangah melihat Aluna sudah mulai membuka mata, bahkan gadis kecil itu memanggil kakaknya. Mereka lega karena Aluna sudah siuman.
"Hey princess, kamu udah bangun sayang?" tanya Saka lebih dulu. Di sisi lain, ada Starla yang menggenggam tangan mungilnya.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?" tanya Starla dengan air mata yang terlihat disudut matanya. Sementara Axelo berada disamping opa dan Omanya, dia masih terlihat merasa bersalah sampai tidak bisa mendekati Aluna.
"Ka..kak..."
__ADS_1
"Apa sayang?" tanya Starla lembut. Hatinya tertusuk tusuk mengetahui bahwa tubuh semungil ini bisa bertahan dengan penyakit jantungnya dari bayi dan Starla tidak ada disampingnya untuk menemani Saka merawatnya.
Mata Aluna melirik ke arah Axelo yang sedang bersembunyi di belakang tubuh opanya. Tangan Aluna menunjuk ke arah Axelo. "Kakak...ci...nih..." lirih Aluna memanggil lagi kakaknya itu.
"Axel, sini boy!" Saka memanggil Axelo yang berada di belakang tubuh Adrian.
Awalnya Axelo enggan, tapi dia juga tidak mau membuat Aluna lebih kecewa. Jika dia tidak mendekat, maka Aluna akan sedih dan dia akan menjadi saudara yang paling tidak tahu diri di dunia.
Hati Axelo terenyuh melihat saudara kembarnya yang terbaring lemah, dengan bibir yang berwarna putih dan tatapan mata yang sayu, tampak lemah. Seakan merasakan ikatan batin, Axelo juga seperti merasakan apa yang dirasakan oleh Aluna.
"Ka...kak...maapin... Lunahh." ucap Aluna yang mulutnya masih ditutupi oleh selang oksigen. Aluna terlihat sudah terbiasa dengan beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya, dia tidak merasa kaget atau bagaimana. Sebab dia sudah sering mengalami ini, ketika tubuhnya kolaps atau jantungnya lemah.
"Kenapa kamu minta maaf? Seharusnya aku yang minta maaf sama kamu, maafin aku ya Aluna. Seharusnya aku jadi saudara yang baik, kamu pasti benci aku...nggak apa-apa kalau kamu mau benci aku." kata Axelo dengan polosnya. Dia memang anak yang judes dan jutek, tapi dia tetaplah anak kecil dan memiliki sisi hangat. Disinilah Saka bisa melihat hati Axelo yang lain.
"Aku ndak benci Kakak...aku mau jadi adik Kakak... kakak jangan benci akuhh..." Aluna meneteskan air mata, dia takut Axelo membencinya karena dia sakit.
"Jangan jauhi Luna, Luna ndak apa-apa..." pinta gadis kecil itu. Axelo langsung tersentuh dengan ucapan Aluna, dia menggenggam tangan adiknya dan menatapnya dengan tatapan mata sendu. Anak laki-laki itu berkaca-kaca.
"Aku nggak akan jauhi kamu, aku kan kakak kamu. Kita saudara kembar."
"Janji ya jangan jauhi Luna?" mata Aluna seketika berbinar-binar kala ia mendengar kakaknya tidak akan meninggalkannya. Aluna pernah mempunyai teman baik dulu, tapi saat Aluna sakit temannya itu menjauhinya dan tidak mau berteman dengannya lagi. Aluna takut kalau Axelo akan seperti itu.
"Iya, aku janji." Axelo tersenyum lalu menunjukkan ibu jempolnya pada Aluna. Seakan paham, Aluna langsung menautkan ibu jempolnya dengan ibu jempol Axelo.
Gerakan janji yang mereka praktekkan mirip dengan gerakan janji Starla dan Saka dulu. Seketika Starla dan Saka jadi teringat masa-masa indah dulu, sebelum Saka tergoda lagi oleh Elisa dan melakukan kesalahan gila yang membuat rumah tangganya dan keluarganya tercerai berai.
__ADS_1
Tak lama kemudian, setelah perdamaian dua saudara itu. Saka dan Starla pun sepakat untuk kembali ke Indonesia setelah Aluna pulih karena Aluna ingin kembali kesana dan dia akan membawa Starla juga.
****