Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 88. Ketuk Palu (End)


__ADS_3

****


Elisa meminta waktu kepada Starla untuk bicara berdua dengannya. Starla awalnya enggan untuk bicara, tapi melihat Elisa menangis dan wajahnya yang pucat. Timbul rasa kasihan didalam diri Starla.


Akhirnya mereka berbicara diujung lorong itu, karena tidak etis kan kalau mereka bicara di toilet wanita.


"Lo mau ngomong apa Elisa? Waktu gue nggak banyak, anak-anak gue pasti udah nunggu." ucap Starla to the point.


"Maaf kak. Pertama-tama, gue mau bilang kalau gue senang kakak dan anak-anak kakak selamat. Lalu, gue minta maaf karena gue udah buat kakak sama Saka berantem hebat. Maafin gue...maaf." gadis itu bicara sambil memegang tangan Starla dan sangat memohon agar Starla mau memaafkannya.


Starla menghela nafas mendengar ucapan Elisa. Baginya tidak ada gunanya Elisa meminta maaf, hal itu tidak akan mengubah apapun diantara Saka dan dirinya.


"Jangan minta maaf, hati gue jadi sakit keingetan lagi sama apa yang udah kalian lakukan sama gue. Jadi stop, jangan minta maaf lagi." ketus Starla.


Elisa semakin merasa bersalah mendengar ucapan Starla. Tatapan Starla yang begitu datar padanya juga meruntuhkan ego Elisa. "Nggak kak! Gue harus minta maaf kak, sebelum gue kena karma yang lebih parah dari ini. Dan gue tulus minta maaf sama kakak, setelah ini gue bakal pergi dari kehidupan kakak dan Saka. Gue janji nggak bakal muncul lagi dihadapan kalian dan--"


"Lo nggak usah ngelakuin itu karena nggak enak sama gue. Lakukan apa yang mau Lo lakukan sama Saka, lanjutkan saja. Toh, nggak lama lagi gue bakal bercerai dari Saka."


Deg!


Elisa benar-benar kaget mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu. Apa katanya? Cerai? Tidak, Elisa tidak menginginkan itu terjadi.


"Kakak ngomong apa? Kakak cerai sama Saka?" tanya Elisa meyakinkannya sekali lagi.


"Iya. Lo senang kan denger berita ini? Dengan begitu Lo bisa memiliki Saka seutuhnya. Selamat Elisa." ucap Starla sambil tersenyum getir dan membuat Elisa berkali-kali lipat rasa bersalahnya. Hatinya seperti dihantam batu seberat ratusan ton.


"Kak...gue memang mencintai Saka, tapi gue nggak pernah menginginkan hal itu terjadi. Please jangan cerai dari Saka gara-gara gue, maafin gue!" pinta Elisa memohon. Jika Saka benar-benar bercerai dari istrinya, maka Elisa akan semakin merasa bersalah dan dosa.


Kemana saja Elisa selama ini? Kenapa dia baru merasa bersalah dan berdosa? Lalu kenapa dia menggoda suami orang kala itu, yang sudah jelas-jelas salah!


"Gue yang godain Saka, gue yang salah Ka... Maafin gue. Please jangan cerai, apalagi kalian udah ada anak-anak!" seru Elisa yang kembali memohon. Kalau Starla dan Saka sampai bercerai, maka bukan rasa bersalahnya saja yang semakin banyak, tapi namanya di depan orang-orang akan dikenal sebagai perusak rumah tangga orang.


"Lo nggak berhak ngatur-ngatur gue Elisa. Tapi Lo tenang aja, ini bukan salah Lo. Gue bercerai dari Saka bukan salah Lo." tegas Starla.


"Kak, gue mohon--"


"Ini bukan salah Lo. Justru gue yang berterimakasih, makasih banyak karena Lo godain Saka dan jalin hubungan sama Saka...gue jadi tahu kalau itu salah satu cara tuhan buat begitu gue. Kalau gue sama Saka emang nggak jodoh. Dan gue jadi tau sifat Saka, kalau dia nggak cinta sama gue. Dia cintanya sama Lo."


Elisa menggelengkan kepalanya, seolah mengatakan itu tak benar. "Nggak kak, Saka cintanya sama Lo."


"Udahlah, mending kita akhiri pembicaraan ini. Kalau Lo kesini cuma buat minta maaf, udah gue maafin." ucap Starla sambil menghela nafas. Lalu ia pun melangkah pergi meninggalkan Elisa karena pasti si kembar, kedua orang tua dan baby sitter sudah menunggunya.


"Kak, gue kena kanker rahim."


Langkah Starla terhenti saat Elisa mengatakan tentang penyakitnya. Tapi Starla tetap memunggungi Elisa.


"Rahim gue mau diangkat, gue mau operasi sebentar lagi. Gue nggak bisa jadi ibu. Mungkin ini karma buat gue karena udah menghancurkan pernikahan kak Starla sama Saka. Gue bakal keluar negeri setelah ini. Sekali lagi gue minta maaf." lirih Elisa tulus meminta maaf dari lubuk hatinya.


Starla membalikkan badannya. "Gue udah bilang gue maafin Lo. Gue harap Lo cepat sembuh dan Lo bahagia. Gue tulus." kata Starla lembut.


Setelah Starla sudah menjauh dan menghilang di pertigaan lorong itu, Elisa menangis sejadinya mengingat semua yang terjadi. Dia menyesal sudah membuat Starla dan Saka berpisah.


Tepat saat Starla akan ke ruangan dokter anak, Starla melihat Malvin, Fero dan seorang petugas medis sedang mendorong brankar yang ada Saka diatasnya.


"Saka?"


"Bu ayang!" pekik Malvin saat menyadari Starla berada di sana.

__ADS_1


"Starla? Starla mana? Starla!" teriak Saka dengan suara seraknya. Ia setengah sadar kala itu.


Dengan kesadaran yang masih tersisa Saka langsung beranjak bangun dari brankarnya hingga membuat semua orang di sana terkejut karena Saka nekad melakukan itu. Padahal lukanya cukup parah.


"Saka! Lo gila ya!" pekik Fero yang berusaha menghentikan Saka untuk turun dari brankarnya, tapi pria itu malah menepis tangannya dan berjalan ke arah Starla.


Hati Starla terenyuh melihat Saka seperti ini, tapi dia tidak mau terlihat peduli padanya. Starla ingat benar bagaimana rasa sakit yang ditorehkan oleh Saka kepadanya.


"Star... kamu disini? Ini beneran kamu kan?" tanya Saka dengan nafas yang terengah. Ia ingin memastikan bahwa Starla adalah ada didepannya dan bukan hanya mimpi saja.


Saka memeluk Starla dan merasakan bahwa tubuh Starla hangat dan terasa. "Ternyata kamu masih ada disini. Aku takut kehilangan kamu. Axel sama Aluna mana? Aku pengen lihat mereka juga..."


Lalu Saka pun jatuh tidak sadarkan diri. Starla panik melihat Saka tidak sadarkan diri didalam dekapannya. Fero dan Malvin langsung membantu Saka untuk kembali naik ke atas brankar. Lalu Saka pun dibawa ke ruang UGD.


Malvin dan Fero mengajak Starla untuk pergi bersama mereka dan menemani Saka. Namun Starla menolaknya karena dia harus pergi.


"Kak, aku tahu kakak marah sama Saka. Tapi kakak harus ingat, Saka masih suami kakak dan Saka sekarang sedang menderita kak." ucap Malvin yang akhirnya membela Saka karena kasihan.


Ucapan Malvin tadi terus terngiang-ngiang di kepala Starla, kini Starla berada didepan rumah sakit bersama baby sitter, Aluna, Axelo dan kedua orang tuanya. Mereka akan pergi dari sana.


"Pa, Mamud, suster Tina, aku titip Axelo sama Aluna dulu bentar ya?" ucap Starla sambil menghela nafas.


"Kamu mau kemana Star? Jangan bilang kalau kamu mau ketemu sama Saka?" tanya Adrian yang langsung tau kemana jalan pikiran putrinya.


"Iya Pa."


"Star, kamu--"


"Anggap saja ini pengabdian terakhir aku sebagai seorang istri untuk Saka. Sebelum kami benar-benar berpisah Pah." sela Starla menegaskan pada papanya secara tidak langsung, bahwa dia hanya melakukan ini atas status istrinya.


Melihat suaminya yang akan emosi dan melarang Starla pergi menemui Saka, Gina buru-buru mengelus lembut lengan kekar suaminya guna memenangkannya. "Mas, udahlah...biarin aja Starla pergi. Aku rasa mereka memang butuh waktu berdua."


"Thanks you Mamud cantik." Starla tersenyum pada mama mudanya itu. Gina mengedipkan sebelah matanya dengan genit pada Starla.


"Ya sudah, sana pergi nak." kekeh Gina pada putri sambungnya itu.


Starla pun kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Saka. Pria itu sudah dipindahkan keruang rawat. Malvin dan Fero masih menjaganya.


"Gimana keadaan Saka?"


"Bu ayang balik lagi?" tanya Malvin yang kaget melihat Starla sudah ada disampingnya dengan atensi yang tertuju pada Saka yang matanya terpejam dan terbaring diatas ranjang pasien.


"Gimana keadaannya Malvin? Dokter bilang apa?" tanya Starla yang mengabaikan pertanyaan Malvin barusan.


"Dokter bilang tulang tangannya retak dan tadi kepalanya di jahit karena ada yang sobek. Selain itu nggak ada luka dalam kok. Cuma luka ditangannya yang jadi masalahnya, kata dokter...Saka nggak bisa gunain tangan kanannya dulu sebelum sembuh benar." jelas Malvin.


"Kenapa bisa kayak gini? Dia kecelakaan tunggal apa gimana?" tanya Starla sambil mendesah berat. Matanya masih melihat Saka yang terbaring dengan tangan di gips dan kening yang memakai perban.


"Tadi dia ngebut kak, terus motornya nabrak mobil aku. Dia ngendarain motor kayak ghost rider aja, kenceng banget!" jelas Fero.


"Iya, emang sinting tuh si Saka. Kita pikir dia sengaja nabrakin dirinya kayak waktu itu lagi." celetuk Malvin yang ingat benar tentang Saka yang pernah menabrakan dirinya pada mobil taksi.


Sekitar serangan jam kemudian, Anggun, Ghea, Aldo (Suami Ghea) dan juga Jeffry juga datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Saka. Malvin yang memberitahukan bahwa Saka mengalami kecelakaan.


Sesampainya semua keluarga Saka di sana, Fero dan Malvin langsung meminta maaf karena membuat Saka celaka.


"Tidak! Polisi dan saksi mata di sana sudah menjelaskan bahwa kalian tidak bersalah. Saka yang ngebut dan menabrak mobil Fero." kata Jeffry yang menanggapi permintaan maaf dari Fero dan Malvin. Sebelumnya Jeffry memang bicara dengan petugas kepolisian dan saksi mata kecelakaan Saka, mereka menceritakan kronologinya.

__ADS_1


"Sekali lagi maaf Om."


Anggun melihat Starla ada di sana, entah kenapa tatapan Anggun begitu berbeda pada Starla. Tidak lembut seperti dulu, sekarang tatapannya dingin.


"Apa kabar Ma?" sapa Starla dengan sopan seperti biasanya.


Plakk!


Semua orang di ruangan itu kaget saat sapaan ramah Starla mendapatkan tamparan dari ibu mertuanya.


"Mama!" teriak Ghea dan Jeffry kaget melihat Anggun menampar Starla cukup keras. Bahkan sampai menimbulkan bekas kemerahan pada pipi Starla. Wanita itu sendiri juga syok dengan apa yang dilakukan oleh Anggun kepadanya.


"Kamu benar-benar tidak tahu diri. Anak saya sudah memohon-mohon bahkan menangis darah untuk kamu. Berusaha agar kamu memaafkannya, tapi kamu benar-benar keterlaluan. Kamu senang membuat anak saya menderita!" sentak Anggun dengan penuh kebencian pada Starla. Rasa sayangnya hilang pada Starla karena kecewa.


"Ma, mama apa-apaan sih?" tanya Jeffry yang tidak senang dengan sikap istrinya.


"Mama kesal Pa, mama sakit hati. Kenapa wanita ini tidak mau memaafkan anak kita? Dia sudah membuat Saka menderita!" Anggun menangis terisak, dia mengingat pada hari dalam satu bulan ini. Saka terlihat terpuruk, jarang makan dan waktunya ia habiskan untuk mendapatkan maaf dari Starla. Saka sampai sakit-sakitan karena kepikiran Starla juga kesibukannya.


Bibir Starla gemetar, ia tidak mengira akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari seseorang yang sudah dianggapnya sebagai ibu sendiri. "Maafin saya Ma, kalau saya memang--"


"Tutup mulut kamu!" sentak Anggun dengan tatapan tajam pada Starla. Air mata Starla hampir terjatuh, Malvin dan Fero juga merasa tidak tega.


"Cukup Ma...jangan bentak istriku!" seru Saka yang ternyata sudah membuka matanya. Dia melihat dan mendengar apa yang terjadi di sana. Hatinya sakit melihat Starla ditampar oleh ibunya dan dipojokkan seperti itu. Padahal ini bukan kesalahan Starla.


"Saka, kamu masih bela dia?"


"Ini bukan salah Starla Ma, ini salah aku. Anak Mama yang salah dan pantas mendapatkan semua ini." ungkap Starla.


"Tapi itu bukan berarti kamu bisa menerima perlakuan seperti ini! Mama nggak terima Saka." serka Anggun.


"Maaf kalau kehadiran ku menganggu disini. Saka semoga kamu cepat sembuh." Starla pamit dan pergi begitu saja dari sana. Dengan perasaan sakit di dalam hatinya. Ia tak percaya Anggun bisa sangat membencinya.


****


2 bulan berlalu setelah Starla mengajukan surat gugatan perceraian, akhirnya Starla dan Saka berhadapan di pengadilan sebagai sidang terakhir perceraian mereka.


"Star, apa kamu akan tetap bercerai dari aku?" tanya Saka sebelum ia memasuki gedung pengadilan agama.


"Ya."


"Apa kamu yakin Star? Lalu Axelo dan Aluna gimana? Kamu..." ucap Saka lirih.


"Ini yang terbaik Saka. Masalah Axelo dan Aluna, bukankah kita bisa membesarkan mereka bersama meski tanpa ada status suami-istri?" tutur Starla dengan berat hati. Tapi dia harus tetap tegas dengan keputusannya.


"Kalau gitu, apa aku boleh meluk kamu untuk yang terakhir kalinya?" tanya Saka memohon. Dia akan melepaskan Starla, tapi tidak benar-benar melepaskan karena dia akan kembali mengejar Starla setelah ini. Saka akan mengubah dirinya menjadi dewasa.


Starla menganggukkan kepalanya, lalu tanpa basa-basi lagi Saka langsung memeluk Starla dengan erat. Sorot matanya tampak sendu dan berair.


'Aku janji Star, aku akan berubah...aku janji...aku akan mengejar kamu lagi Star. Aku akan memulai dari awal'


'Aku tidak akan jatuh cinta lagi Saka, cintaku hanya untuk Aluna dan Axelo sekarang' Starla membalas pelukan Saka sama eratnya.


Keputusan telah dibuat, hakim sudah ketuk palu san meresmikan perceraian Starla dan Saka. Bohong bila tidak ada kesedihan, Saka dan Starla sama-sama sedih dengan perceraian ini.


Tak lama setelah perceraian, ada drama dari Anggun tentang hal asuh Axelo dan Aluna. Padahal Saka tidak pernah mau seperti ini, tapi ibunya membuat masalah. Akhirnya Starla kembali terluka karena Aluna dibawa oleh Saka dan keluarganya, sementara Axelo bersamanya.


Setelah itu Starla dan keluarganya pergi meninggalkan Jakarta karena Adrian sudah pindah tugas. Gina yang sedang hamil juga ikut pindah dengan suaminya. Saka tidak tahu kemana Starla pindah membawa Axelo, hingga 5 tahun berlalu...

__ADS_1


****


__ADS_2