
****
Setelah mendapatkan izin dari Galang dan Riko. Saka masuk ke dalam ruang rawat istrinya, dari semalam ia belum sempat melihat Starla karena larangan dari ayah dan ibu mertuanya.
Dilihatnya wanita yang cantik itu terbaring lemah diatas ranjang pasien. Selang infus, oksigen, perban tidak terlepas dari bagian tubuhnya yang terluka. Saka mendekati istrinya dengan langkah pelan dan tubuh gemetar karena rasa bersalah.
Sedetik kemudian, Saka sudah mendudukkan tubuhnya diatas kursi didekat ranjang itu. Dia melihat Starla dengan sendu, air mata menggenang dibawah matanya. Saka lalu menggenggam tangan Starla yang terasa tidak terlalu dingin ataupun hangat. Suhu badannya bisa dikatakan normal. Namun Saka mendengar nafasnya kurang teratur, suara mesin medis menandakan bahwa denyut jantung Starla yang lemah.
"Aku tau aku nggak pantas buat minta maaf sama kamu, atas semua yang aku lakukan sama kamu sayang. Aku memang sudah berselingkuh dari kamu, semua berawal dari rasa iba dan kebohongan. Satu persatu kebohongan itu menggunung, menjadi sebuah dosa yaitu perselingkuhan. Tanpa sadar aku sudah menodai perasaan dan sucinya pernikahan kita. Aku minta maaf...mungkin memang benar aku bodoh karena mudah terayu dan mungkin aku masih ada perasaan pada Elisa, tapi aku juga memiliki perasaan sama kamu Star. Maafin aku, aku janji setelah ini aku tidak akan pernah mengkhianati kamu. Aku bersumpah Star! Aku akan menjadi ayah dan suami yang baik. Aku harap kamu memberikanku kesempatan begitu kamu bangun nanti." ucap Saka sambil mencium punggung tangan istrinya.
"Oh ya, apa kamu tahu? Anak-anak kita sangat lucu, mereka banyak mirip denganku daripada sama dengan kamu. Namanya Aluna dan Axelo, nama yang sudah kita sepakati sebelumnya. Aku pikir mereka anak kembar perempuan, ternyata sepasang/sejodoh. Star, aku mohon bangun ya. Anak-anak kita dan aku juga membutuhkanmu. Mereka ingin melihat ibunya, mereka ingin dipeluk kamu sayang. Please...kalau kamu bangun, aku janji akan mengabulkan apapun permintaan kamu." ucapnya bersungguh-sungguh.
Buliran air hangat dari mata Saka, jatuh membasahi punggung tangan Starla. Tanpa Saka sadari, Starla mulai mengerjapkan matanya. Tapi dia kembali menutup matanya, sepertinya dia mendengar ucapan Saka.
10 menit kemudian, Saka keluar dari ruang rawat istrinya. Tak lupa ia berterimakasih pada Galang dan Riko yang sudah mengizinkan Saka masuk ke ruangan itu. Setelah itu Saka pergi untuk melihat twins, ia melihat Gina sedang menggendong Aluna dan seorang suster menggendong Axelo.
"Dimana Papa Adrian?" tanya Saka heran karena ia tidak melihat Adrian berada di sana.
"Mau apa kamu mencari saya?" suara bariton rendah itu membuat Saka terkejut. Lalu ia pun menoleh ke arah belakang, dimana sang nahkoda tampan dan gagah itu sudah berdiri dibelakangnya. Tatapannya begitu tajam pada Saka, Saka tau pria itu sudah membencinya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Pah."
"Kamu mau menemui anak-anakmu? Saya izinkan untuk sekarang, tapi nanti tidak." ucap Adrian sinis.
"Terimakasih Pah." sahut Saka sambil tersenyum.
"Cukup Saka! Kamu tidak perlu berterimakasih hanya karena kamu diizinkan bertemu anak kamu. Tidak perlu begitu karena kamu punya hak!" ujar Anggun dengan emosi yang menggebu-gebu. Wanita itu datang bersama dengan Ghea yang sudah pulih dari dukanya.
"Ma--"
"Cukup Saka! Kamu diam ya. Semalam mama sudah cukup sabar, ayah mertuamu terus menghina dan menyalahkanmu. Kali ini Mama tidak bisa diam saja, ayah mertuamu sudah keterlaluan!" seru Anggun seraya menatap tajam pada besannya. Dia tahu Saka salah, tapi dia juga tidak tahan melihat anaknya terus menerus diperlakukan seperti ini. Ia juga tau pasti hati Adrian sakit karena perlakuan Saka pada Starla, tapi Anggun masih mempunyai hati untuk putranya.
"Saya tahu anak saya salah, tapi itu bukan berarti pak Adrian bisa seenaknya saja!" seru Anggun.
Suasana diantara Anggun dan Adrian menjadi tegang seketika. Akhirnya Saka dan Ghea berusaha melerai mereka sebelum berdebat lebih jauh. Hingga tiba-tiba terlihat beberapa suster dan seorang dokter yang merawat Starla semalam berlari ke ruangan Starla.
"Terjadi sesuatu pada pasien kamar nomor 102 dok!" terdengar suara suster yang memberitahu tentang Starla, kamar nomor 102.
"Starla!" seru Adrian, Saka, Ghea dan Angguh bersamaan. Mereka pun bergegas pergi ke ruang rawat Starla dan mereka terlihat panik takut terjadi sesuatu pada Starla.
__ADS_1
Dan benar saja, kini terlihat suster dan dokter berlarian masuk ke dalam kamar Starla. Ketika mereka semua ingin masuk, suster melarangnya dengan tegas.
"Ya Tuhan lindungi putriku!" seru Adrian sambil berdoa kepada tuhan, agar Starla baik-baik saja.
Saka, Anggun dan Ghea juga mendoakan hal yang sama sambil menunggu didepan ruang rawat Starla. Tak butuh waktu lama, doa mereka akhirnya terjawab saat dokter mengatakan bahwa Starla sudah siuman.
"Benarkah dok? Anak saya sudah siuman? Apa saya boleh menjenguknya?" tanya Adrian dengan tangis bahagia.
"Kalian semua boleh masuk, tapi jangan terlalu banyak bicara hal yang membuat pasien stress karena keadaannya masih belum pulih, terutama cedera pada kepalanya. Nanti kami akan memeriksanya, guna melakukan tindakan operasi yang tepat apakah itu cedera dalam ataukah cedera diluar." jelas dokter itu sambil tersenyum.
Meskipun belum sepenuhnya lega karena Starla masih harus melakukan operasi, tapi setidaknya sekarang Starla sudah siuman. Adrian, Ghea, Saka dan Anggun masuk ke dalam ruangan itu. Starla terlihat bersama suster yang menemaninya.
"Star, kamu sudah sadar sayang? Syukurlah!" Adrian memeluk putrinya dengan perlahan-lahan, rasa syukur saja tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana hatinya saat ini. Starla sadar dengan cepat.
Starla hanya tersenyum miring, ia masih tampan lemah. "Papa...jangan khawatir...aku baik-baik saja." kata Starla begitu lirih.
"Starla..." kali ini Anggun yang mendekati Starla. Dia memeluk Starla seraya mengusap kepalanya. "Mama senang kamu sudah sadar sayang."
Sedangkan Saka masih dibelakang Ghea, ia masih belum berani menatap apalagi mendekati Starla. Namun ia bersyukur sangat karena Starla sudah siuman sebelum waktu 48 jam itu.
__ADS_1
"Bayiku, mana? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Starla pertama kalinya begitu ia terbangun dari koma. Karena ia merasa perutnya seperti sudah kosong.
****