
Saka terkejut sekaligus senang karena papa mertuanya sudah menemukan tambatan hati. Namun satu yang mengganjal pikirannya saat ini, yaitu Gina yang terlihat tulus menyayangi Adrian.
"Syukurlah, aku ikut seneng karena nanti Papa punya pendamping hidup dan bisa jagain dia." ucap Saka senang. "Tapi Star, gimana sama kak Gina? Apa dia udah tau tentang hal ini?" tanya Saka kemudian, sambil menyuapkan telur dan nasi ke dalam mulutnya. Makan malam sederhana yang tadi dibuat oleh Starla, omelette.
Pertanyaan Saka, sontak saja membuat Starla menoleh ke arah cowok itu dengan bingung. Dia menghentikan suapan makannya. Sebenarnya dia belum mengatakan apa-apa pada Gina, sebab akhir-akhir ini Gina terlihat murung dan menghindar. Gina bahkan tidak akan ke rumah Starla kalau ada keperluan mendesak, apalagi kalau ada Adrian di rumah. Gadis itu terlihat menjaga jarak dengannya dan juga tidak membahas masalah papanya lagi.
"Aku belum kasih tau dia sih, tapi aku aneh sama Gina, akhir-akhir ini dia jarang bahas soal Papa. Gina jadi pendiem...aneh tau nggak. Tiap ditanya jawabnya nggak apa-apa, tapi aku yakin ada apa-apa sama dia." jelas Starla bingung.
"Apa mungkin kak Gina udah tau kalau Papa udah punya calon?" tebak Saka.
"Eh...itu nggak mungkin lah. Tau darimana dia? Orang yang pertama aku kasih tau itu, ya kamu." sanggah Starla, lantaran tak mungkin Gina tau tentang papanya yang akan menikah lagi. Dia saja baru tau hal ini dan Saka adalah orang pertama yang ia beritahu. Namun, Starla tidak tahu saja bahwa sahabatnya itu sudah tau jauh lebih dulu daripada dirinya.
"Hem...gitu ya." Saka memegang keningnya yang tiba-tiba terasa sakit. Lantas, Starla pun langsung berdiri dari kursi dan menghampirinya.
"Kamu kenapa Ka?" tanya Starla cemas.
"Nggak apa-apa kok," jawab Saka sambil tersenyum tipis. Dia pun menarik tangannya dari kening, tak mau membuat istrinya cemas.
"Kepala kamu sakit ya? Kan kan...apa aku bilang, jangan kerja! Kerja sambil sekolah itu nggak akan fokus, nanti kamu malah sakit. Aku nggak mau kamu sakit, Ka. Mending kamu fokus sekolah aja," ucap Starla yang kembali menasehati suaminya untuk tidak bekerja lagi dan fokus sekolah saja. Starla tidak mau pikiran Saka terbagi banyak dan berujung sakit.
"Nggak Star. Aku mau kerja demi kamu dan little Star juga. Aku nggak mau ngerepotin terus mama papa. Mereka udah kasih kita tempat tinggal, masa mereka kasih uang juga sama kita? Kamu dan anak kita tanggungjawab aku. Meskipun aku belum gajian dan masih mengandalkan uang bulanan dari papa, tapi nanti udah gajian...aku bakal kasih kamu dan little star." ketulusan Saka untuk menjadi dewasa dan bertanggungjawab atas sebuah keluarga, membuat Starla terharu. Meskipun usia Saka masih muda, tapi dia berusaha untuk menyenangkan Starla. Selama satu bulan ini, Starla merasakan hangatnya perhatian Saka. Namun ia juga merasa Saka jarang ada waktu pagi-sore untuknya, Starla hanya merasakan perhatian Saka pada waktu sore atau malam hari saat mereka bersama.
Saka merasa bersalah meninggalkan istrinya untuk bekerja, tapi dia juga tidak mau terus-terusan bergantung kepada kedua orang tuanya.
"Tapi Saka..."
Cup!
Pria itu menarik Starla ke dalam pelukannya, lalu mengecup kening Starla dengan lembut. Hati siapa yang tidak akan terenyuh melihat perlakuan Saka. Starla merasa spesial.
"Aku akan berusaha buat kamu sama little Star, kamu cukup tenang, jaga diri kamu dan juga little Star baik-baik!" ujar Saka.
Tangan pria itu memeluk erat tubuh mungil Starla, entah sejak kapan Starla sudah duduk saja di pangkuannya. Pokoknya Saka punya mimpi, dalam hati ia bertekad ingin membeli rumah sendiri, memenuhi kebutuhan Starla dan anak mereka kelak. Saka tanamkan hal itu dalam hati, ia harus bekerja keras.
Setelah selesai makan malam yang terlambat itu, Saka dan Starla masuk ke dalam kamar mereka. Starla sudah menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya, perhatian kecil Starla ini membuat Saka berpikir bahwa menikah itu tidak seburuk yang ia pikirkan sebelumnya.
Kini pasangan suami-isteri itu sedang berbaring diatas ranjang dengan posisi bersisian. Tangan Saka dijadikan bantalan oleh kepala Starla, mereka pun berhadapan dan saling menatap dengan cinta.
"Star, kenapa belum tidur?" tanya Saka pada istrinya yang masih menatapnya.
"Mau dikelonin? Aku usap usap ya?" tawar Saka pada istrinya. Namun Starla malah menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Kenapa belum bobo? Kasihan little Star begadang," titah Saka dengan raut wajah cemasnya itu.
"Nggak tau kenapa, aku masih pengen lihat kamu. Walaupun kita serumah, tapi...aku merasa jarang melihat kamu, punya waktu buat lihat wajah kamu kayak gini. Palingan cuma pas kamu lagi merem, besoknya kadang-kadang kamu udah ngilang!"
Ucapan Starla yang berupa keluhannya itu, membuat Saka merasa bersalah. Dia memang jarang sekali berada di rumah dan menikmati momen berdua bersama Starla. Apalagi Starla sedang hamil dan sedang membutuhkannya. Tiba-tiba saja Saka teringat gajiannya yang tinggal sebentar lagi.
"Hari Kamis, kamu free nggak?" tanya Saka pada sang istri.
"Hem...nggak ada jadwal bimbingan atau ke kampus sih. Ya, aku free!"
"Oke, nanti kita jalan-jalan ya pada hari itu." cetus Saka seraya mengulum senyum manisnya. Starla tidak bertanya apapun, karena dia senang Saka mengajaknya jalan-jalan. Jarang sekali Saka mengajaknya keluar.
"Oh ya, btw besok gimana? Kamu bisa ikut makan siang sama Papa sama calon istri papa juga nggak?" tanya Starla selanjutnya.
"Ehm..." Saka tampak bingung mau bagaimana menjawabnya. Dia jam segitu pasti sedang bekerja, apalagi besok hari minggu dan hari sibuk.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak bisa nggak apa-apa kok!" Starla paham kesibukan suaminya, ia merasa tidak keberatan bila Saka tidak bisa datang.
"Aku usahain datang, tapi aku nggak janji ya?" ucap Saka merasa bersalah. Dia tidak bisa menjanjikan untuk datang bersama Starla dan papanya.
"Nggak apa-apa, nggak usah maksain. Aku tau kamu sibuk," ucap Starla.
"Atau...gimana kalau kamu sama Papa, ketemuannya di restoran tempat aku kerja. Sekalian aku bisa ketemu sama Papa, calon istri Papa...sambil kerja juga!" Saka memberikan ide kepada istrinya. Starla pun mengangguk setuju, ia akan bicara pada papanya soal ini.
****
Keesokan harinya, setelah menyiapkan sarapan sederhana untuk Starla. Saka membangunkan istrinya yang sedang tertidur dengan kecupan kecupan kecil di wajah cantik itu.
"Mommy little star, ayo bangun! Sarapan dulu yuk," ujar Saka pada sang istri dengan lembut.
Starla merentangkan kedua tangannya, lalu ia pun membuka matanya. Bibirnya tersenyum, kala ia melihat Saka sudah duduk disampingnya sambil memakai kemeja hitam yang sudah Starla siapkan sebelumnya.
"Ganteng banget Daddy little star," wanita itu mengerlingkan sebelah matanya, lalu menggoda Saka.
"Jangan godain aku, aku harus kerja dan kita nggak boleh ngelakuin itu dulu!" seru Saka yang lalu mencubit pipi Starla dengan gemas.
"Uh...sakit daddy," ringis Starla yang lalu mendapatkan ciuman sekilas dari bibir Saka. Lantas tangan Saka mengelus perut Starla, hal tidak pernah dilewatkan oleh calon papa muda itu setiap harinya. Setiap pagi dan malam. "Bangun, ke kamar mandi terus sarapan!"
"Iya daddy," nada bicara terkesan manja pada suaminya, dia terkekeh melihat Saka yang mulai tergoda dengan Starla.
"Mommy Star..." atensi Saka kini tajam pada istrinya itu.
"Oke oke, fine. Aku ke kamar mandi ya Daddy," ucap wanita itu yang kemudian beranjak dari tempat tidurnya.
"Air hangatnya udah aku siapin, kamu tinggal mandi. Bajunya juga udah aku siapin!"
"Makasih Daddy, harusnya aku yang bangun duluan." cetusnya merasa bersalah.
"Makasih ya, ya udah aku ke kamar mandi dulu hehe." kekeh wanita itu, lalu buru-buru masuk ke kamar mandi. Saka terlihat cemas karena istrinya serangan berlari kesana.
"Hati-hati licin!" seru Saka pada istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, takut kalau Starla jatuh.
****
Di tempat lain, pada hari Minggu itu. Elisa terlihat melamun didepan rumahnya sambil melihat ibunya yang sedang menyiram tanaman. Elisa memikirkan tentang Starla dan Saka. Saat hari terakhir Starla PPL, Elisa melihat Saka mencium pipi Starla dan membelikannya hadiah. Lalu, ia mendengar dari beberapa temannya yang mengatakan bahwa mereka melihat Saka dan Starla jalan berdua ke rumah Saka.
Elisa jadi semakin curiga kalau Starla dan Saka ada hubungan. Dia harus memastikan ini semua.
"El sayang, kenapa kamu diem aja? Kamu nggak main? Ini kan hari Minggu," ucap mama Elisa pada putrinya itu.
"Ma, Mama kapan ketemu sama Tante Anggun lagi? Ada pertemuan arisan di rumah Tante Anggun nggak?" tanya Elisa tiba-tiba. Ia baru ingat kalau ibunya dan juga ibu Saka, memiliki satu circle yang sama yaitu pertemuan arisan.
"Nggak ada. Mama juga malas kalau ada dia, anaknya udah nyakitin kamu." jawab mama Elisa malas, kalau membahas masalah Anggun.
"Ma, jangan gitu...aku masih mau sama Saka. Bukannya sebelumnya, papa sama om Jeffry udah ada rencana buat jodohin aku sama Saka? Apa papa udah ngomong sama om Jeffry tentang hal ini?" kata Elisa memelas.
"Papa udah bicara sama pak Jeffry, tapi pak Jeffry..." mama Elisa menolak melanjutkannya. Ia takut Elisa terluka karena Jeffry menolak perjodohan.
"Ma..."
"Om Jeffry nolak aku ya?" tanya Elisa lagi dengan raut wajah sedih.
"Sayang...emang apa sih lebihnya Saka? Masih banyak kok cowok yang mau sama kamu!" bukannya menjawab, mama Elisa malah mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Tapi aku maunya Saka, Ma. Please, izinin aku berjuang buat dapatin hati Saka lagi. Aku...aku bakal ke rumahnya hari ini. Aku yakin kok kalau dengan bantuan Tante Anggun dan keluarga Saka yang lain, Saka pasti mau menerima aku lagi!" cetus Elisa yang masih bersikeras untuk mendapatkan Saka kembali.
'Aku harus selidiki ke rumah Saka biar aku tau jelasnya apa hubungan si jalangg Starla sama Saka. Apa benar mereka tinggal bareng?' batin Elisa penasaran.
Mama Elisa yang tadinya tak setuju, jadi setuju lantaran tidak tega melihat raut wajah Elisa yang memohon-mohon. Akhirnya wanita paruh baya itu memberikan Elisa alasan untuk pergi ke rumah Saka bersamanya. Mama Elisa yang bernama Sinta itu, langsung membuatkan makanan untuk Anggun dan Elisa yang akan mengantarkannya.
Elisa pun mengambil makanan yang dibuatkan ibunya itu, lalu ia pergi ke rumah Saka tanpa memberitahu dulu. Setibanya didepan rumah Saka dengan seorang supir. Elisa berjalan menuju ke depan pintu.
Untung saja Yadi Anggun melihat kedatangan mobil yang tidak asing dan membawa Elisa didalamnya, dia langsung membawa menantunya yang tadinya sedang berada di halaman depan untuk masuk ke dalam rumah.
"Kamu sembunyi di kamar dulu ya, jangan kemana-mana! Ada Elisa diluar, dia nggak boleh tau tentang pernikahan kalian kan?" bisik Anggun pada Starla yang saat ini mereka sudah berada didalam kamar.
"Iya Ma." jawab Starla paham. 'Mau apa Elisa kemari? Apa dia masih mengharapkan Saka?' tanya Starla dalam hatinya.
Anggun pun menutup pintu kamar Starla, lalu ia pun membalikkan badannya. Alangkah kagetnya Anggun saat ia melihat Elisa sudah berada di sana.
"Astaga! Elisa, kamu ngagetin Tante aja!" Seru Anggun sambil memegang dadanya karena terkejut.
'Apa dia lihat Starla ya?' batin Anggun panik
"Maaf Tante, aku cuma mau ikut ke kamar mandi. Aku kebelet!" seru Elisa sambil bergerak-gerak, seolah kebelet pipis.
"Ya sudah, kamu ke belakang saja." ucap Anggun yang berusaha bersikap seperti biasa. Elisa pun tersenyum, lalu ia pun pergi ke toilet yang ada di dapur. Anggun pikir, Elisa tidak melihat Starla tadi.
Didalam kamar, Starla mendengar sedikit percakapan Anggun dan Elisa. Starla merasa Elisa sudah mengenal rumah ini, mungkin lebih daripada ia yang baru 2 bulan menikah dengan Saka. Hati Starla cemburu, 2 tahun Elisa pacaran dengan Saka dan dia baru 2 bulan bersama Saka.
Tak lama kemudian, pintu kamar itu tiba-tiba saja dibuka dari luar dan membuat Starla terkejut karena ia belum sempat mengunci pintu.
"Elisa?" Mata Starla melebar melihat keberadaan Elisa di sana.
"Sudah gue duga, emang ada yang salah sama Lo. Jadi, ngapain Lo ada disini? Di kamar ini dan sembunyi?" tanya Elisa curiga. Tatapan Elisa begitu tajam pada Starla. Dia bahkan menggunakan bahasa gue elo pada gadis yang usianya lebih dewasa darinya.
Starla tidak langsung menjawab, dia terlalu kaget. Dia harus menjawab apa? Apa dia harus bilang kalau ia berada disini karena ia adalah istri Saka?
Pandangan Elisa mengedar ke sekeliling kamar itu dan memperhatikan setiap sudutnya. Atensi Elisa tiba-tiba tertuju pada pakaian seragam sekolah Saka yang menggantung di dekat lemari dan tas sekolah Saka juga ada di sana.
'Sejak kapan Saka pindah ke kamar tamu? Kamar Saka kan ada di atas' batin Elisa terheran-heran.
"Hey! Gue nanya sama Lo. Ngapain Lo ada disini? Di kamar Saka?" tanya Elisa lagi dengan tajamnya pada Starla.
"Starla ngapain kamu disini? Bukannya saya sudah suruh kamu beresin kamar Saka!" suara itu membuat Elisa dan Starla menoleh ke arah Anggun yang sudah ada di ambang pintu.
Raut wajah Elisa yang tadi menyeramkan, langsung berubah menjadi lembut lagi. Seolah dia adalah wanita polos yang baik hati. Starla merasa jijik dengan Elisa yang bermuka dua.
"Tante...saya lihat kak Starla, guru magang di sekolah saya. Jadi saya nyapa kak Starla deh! Tapi saya heran, kenapa kak Starla bisa ada disini," ucap Elisa sambil tersenyum, namun atensinya menatap curiga pada Starla.
Anggun berusaha mempertahankan ketenangannya. "Starla adalah pembantu di rumah saya," jawab Anggun. 'Maafin Mama Starla' ucap Anggun dalam hati. Ia melihat raut wajah menantu perempuannya itu terlihat sedih.
'Oh, jadi dia cuma babu disini' batin Elisa sambil melihat Starla dengan tatapan merendahkan.
"Oh gitu. Kalau kak Starla pembantu di rumah ini, aku bisa dong ya minta dibuatin minum? Aku haus!" kata Elisa sinis.
Starla menahan kesal dan memilih untuk mengikuti permainan Elisa. Ia tau bahwa Elisa adalah teman baik Anggun, Starla tak mau membuat masalah untuk ibu mertuanya.
"Akan aku buatkan."
Anggun melihat Starla dan merasa bersalah dengan ucapannya yang mengatakan bahwa Starla adalah pembantu.
__ADS_1
****