Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 72. Olive Popeye


__ADS_3

****


Adrian tidak bisa langsung mengiyakan permintaan dari Gina, dirinya masih terperangah dengan apa yang gadis tengil itu minta. Belum menikah saja, Gina sudah agresif seperti ini. Astaga.


[Omsay, kalau Om nggak mau ya udah, aku--]


"Fine, saya akan melakukan apa yang kamu minta Gina." ucap Adrian yang langsung memotong ucapan Gina.


Terlihat senyuman indah terpatri dibibir Gina saat Adrian mengiyakan permintaannya. Selama ini Gina selalu penasaran dengan perut sixpack sang nahkoda pencuri hatinya. Gina selalu mencuri-curi kesempatan saat bermain di rumah Starla dan saat ada Adrian di rumah, mencuri kesempatan untuk melihat otot sixpack Adrian. Akan tetapi, ide mesumnya itu tidak bisa terlaksana karena Adrian selalu menahannya.


"Tapi saya mau tanya sama kamu dulu Gina. Apa kamu yakin mau lihat tubuh saya sekarang? Apa kamu nggak bisa menunggu sampai kita menikah?" pertanyaan Adrian sontak saja membuat senyuman Gina menghilang.


'Benar juga ya. Bukankah lebih bagus dan indah kalau aku melihat tubuh Omsay saat malam pertama kami?' batin Gina berpikir.


"Gina, kamu dengar saya?" tanya Adrian kepada gadis itu yang ternyata malah melamun.


["Ya udah deh lihatnya nanti aja. Tapi aku punya syarat lainnya."]


"Apa Gina?" tanya Adrian dengan sabar dan lembut.


["Aku mau Om panggil aku Olive."] cetus Gina sambil tersenyum. Adrian melihat senyuman gadis itu di layar ponselnya.


"Olive? Kenapa Olive? Nama kamu kan Gina?" Tanya Adrian heran.


["Dengerin aku ngomong dulu Omsay. Omsay panggil aku Olive, dan aku panggil Omsay Popeye."]


"Serius kamu mau dipanggil olive?" tanya Adrian yang ternyata tau kartun Olive dan Popeye. Dimana Popeye adalah seorang pelaut, ya bisa dikatakan sama dengan Adrian.


["Iya Popeyeku, aku pengen dipanggil Olive. Dan Popeye nggak boleh bicara kaku lagi sama aku. Aku akan calon istri Popeye,"] ucap Gina dengan nada manjanya itu. Adrian semakin gemas dengan sikap gadis itu. Polos, manja, genit, kekanakan tapi Adrian menyukainya. Malah, dia baru sadar kalau dirinya tidak cocok dengan wanita dewasa seperti Sofia. Bahkan Sofia tidak mengerti dirinya.


Mungkin dengan bersama Gina, jiwa muda didalam diri Adrian akan semakin bangkit dan menggelora seperti dulu.

__ADS_1


"Iya Olive-ku." balas Adrian dengan senyuman lembut di bibirnya. Sehingga Gina sampai menutup wajahnya, ia keheranan kenapa Gina begitu.


"Eh, kamu kenapa Olive?" tanya Adrian yang mulai membiasakan diri memanggil Gina dengan sebutan Olive.


["Olive nggak sanggung Mas Popeye. Senyuman mas Popeye selalu memabukkan Olive, gawat! Kayaknya hati Olive diajak berlayar sana Mas Popeye. Hehe"] kekeh Gina seraya menatap si Popeyenya. Adrian terbahak melihat bagaimana raut wajah Gina saat ini, apalagi melihat bagaimana gadis itu bicara dengan nada manjanya.


"Olive, apa kamu tau? Sekarang, Popeye pengen cium kamu." ungkap Adrian jujur, pria itu sepertinya sudah kehilangan gaya jaimnya didepan Gina.


Gina semakin dibuat tersipu malu oleh si Om. Dia bahkan tidak berani melihat wajah tampan si om itu lagi dan menutup telponnya.


"Dasar! Kenapa dia menutup telponnya begitu saja? Padahal tombak ku sudah berdiri tegak! Astaga! Aku harus mandi lagi." gumam Adrian ketika ia melihat miliknya mengeras dibalik bathrobe yang dikenakannya itu. Melihat Gina dan kata-kata manjanya, membuat tombak si Popeye berdiri. Akhirnya pria itu pun berakhir di kamar mandi, untuk kedua kalinya.


****


Malam itu, setelah Starla tertidur. Saka berencana menelpon Elisa secara diam-diam. Dia ingin menyelesaikan semua ini sekarang juga sebelum semuanya terlambat.


Saka menelpon Elisa diam-diam di balkon lantai atas rumahnya, sementara Starla sedang tidur pulas di kamarnya yang ada di lantai bawah.


"Tante, dimana Elisa? Kenapa Tante yang angkat telponnya?" tanya Saka heran karena Sinta yang mengangkat telponnya.


"Saka, tolong Tante...Elisa, keadaannya drop lagi. Tapi dia tidak mau diperiksa dokter, hiks...Tante denger kamu pacaran lagi sama Elisa. Pasti kamu bisa kan bantu Tante dan Om buat bujukin Elisa?" pinta Sinta sambil menangis terisak-isak. Tak hanya itu, Saka juga mendengar suara Elisa yang kesakitan dan menolak diperiksa oleh dokter. Saka semakin tidak tega, tapi dia juga tidak mungkin menyakiti Starla dan calon anak-anaknya.


Saka bergeming cukup lama, dia bingung harus bagaimana. Hatinya kembali goyah oleh rasa kasihan pada Elisa. Padahal dia ingin menarik perkataannya kembali tentang pacaran dengan Elisa. Tapi kenapa malah jadi begini, Saka jadi bimbang.


"Saka...tolong, Tante mohon. Demi nyawa anak Tante, Tante mohon Saka! Tante tidak mau kehilangan Elisa." Berkali-kali Sinta memohon kepada Saka untuk menolong Elisa. Apalagi Sinta sampai membawa-bawa kata nyawa.


Saka menghela nafas berat, kemudian dia berkata, "Baiklah Tante, saya akan datang sekarang juga ke rumah sakit."


"Makasih Saka, makasih banyak. Tante berhutang sama kamu. Tante tunggu kamu disini ya, nak." suara Sinta masih terisak di sana.


Begitu Saka menutup telponnya, tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan tangan yang menepuk bahunya. Sontak saja pria itu membalikkan badannya.

__ADS_1


"Daddy, lagi ngapain kamu disini? Kamu habis nelpon siapa?" tanya Starla yang membuat raut wajah Saka berubah menjadi pucat.


"Maaf sayang, aku habis telpon sama bos ditempat kerjaku. Kayaknya aku lupa ngasihin kunci gudang sama dia. Dan aku harus pergi sekarang, sayang." ucapnya berbohong sambil tersenyum.


'Maafin aku Star, hanya sekali ini saja. Demi nyawa seseorang' batin Saka merasa bersalah. Dia hanya bisa meminta maaf kepada istrinya di dalam hati.


"Apa harus semalam ini? Ngapain juga bos kamu mau ke gudang? Ini jam 11 malam loh. Apa bos kamu nggak pengertian sampai nyuruh kamu keluar malam-malam begini? Kan bisa besok." gerutu Starla yang peduli pada suaminya dan pasti Saka merasa lelah harus pergi selarut ini.


"Maafin aku sayang, bos bilang ada yang harus dia ambil di gudang dan harus sekarang. Aku nggak apa-apa kok, ini udah jadi resiko kerjaan aku." jelas Saka yang lagi-lagi harus berbohong. Dia mengusap lembut rambut panjang istrinya.


"Tapi aku kasihan sama kamu," lirih Starla.


"Aku baik-baik aja Star. Aku perginya nggak akan lama kok." bujuk Saka.


"Ya udah, kamu hati-hati ya."


"Iya sayang. Yuk aku antar kamu ke kamar dulu. Lagian kamu kenapa kesini? Bahaya naik tangga!" ucap Saka menasehati istrinya yang berani menaiki tangga seorang diri. Padahal ibu dan ayah mertuanya juga sudah melarang Starla untuk naik turun tangga. Maka dari itu kamarnya dipindahkan ke kamar bawah.


"Habisnya aku nyari kamu, tiba-tiba kamu ilang. Taunya kamu disini." ucap Starla tanpa rasa curiga sedikitpun kepada suaminya.


Setelah mengantarkan istrinya kembali ke kamar, Saka pergi dari rumah dengan mengendarai motornya menuju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, setelah menempuh 15 menit perjalanan. Saka langsung disambut pelukan dan tangisan pilu oleh Elisa. Terlihat di sana ada Sinta yang menangis, juga seorang dokter laki-laki.


"Saka...aku nggak mau disuntik, aku nggak mau. Kamu tahu kan aku takut disuntik?" Elisa masih memeluk Saka dengan erat sambil menangis.


Sedangkan Sinta, dia mengatupkan kedua tangannya seraya memohon kepada Saka untuk membujuk Elisa. Saka dibuat tidak berkutik oleh ibu dan anak ini.


****


Spoiler bab berikutnya...

__ADS_1


Kalian kondangan Readers, siapkan amplop kalian berupa vote dan gift bunga buat author 🤣jangan lupa komennya juga


__ADS_2