Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 55. Adrian marah


__ADS_3

Anggun merasa bersalah kepada Starla dengan mengatakan bahwa Starla adalah pembantu rumah itu kepada Elisa. Harusnya dia bisa memilih opsi yang lain, tapi kalau lidah sudah kepeleset mau bagaimana lagi?


Starla melayani Elisa bak pembantu di rumah itu, padahal kalau Elisa tidak buta. Tidak mungkin dia berpikir Starla adalah pembantu. Mana ada pembantu secantik Starla dan pakaiannya juga tidak terlihat seperti pembantu.


Kalau ditanya apakah Starla tersinggung? Ya, dia tersinggung karena mertuanya bicara seperti itu. Namun ia juga tau, tak mungkin Anggun sengaja bicara begitu. Dia berusaha tenang dan biasa aja. Tapi entahlah kalau nanti Saka tau semua ini.


"Bisa ambilin gue kue juga nggak kak? Gue laper, mau ngemil. Dan kayaknya gue bakal lama disini." Lagi-lagi Elisa menyuruh Starla untuk melakukan sesuatu. Geram memang, tapi Starla berusaha tetap tenang.


'Sumpah deh, nggak nanya' kata Starla dalam hatinya.


"Iya." Starla hanya menjawab singkat, lalu pergi ke dapur untuk mengambilkan kue. Toh, sebentar lagi dia juga akan berangkat ke restoran Saka untuk bertemu papanya dan calon ibu barunya.


Dalam hati, Anggun terus meminta maaf pada menantunya. Dia tidak bermaksud melukai hatinya, semoga Starla paham dan tidak marah padanya. Anggun akan menjelaskannya nanti.


Benar saja, Elisa berada cukup lama di rumah Anggun. Elisa mengajak Anggun mengobrol tentang Saka. Anggun hanya menanggapinya singkat, dia menemani Elisa mengobrol karena dia merasa harus menghargai Elisa sebagai anak dari teman SMA-nya.


"Oh ya Tante, aku ikut ke kamar kecil dulu ya." kata Elisa tiba-tiba. Anggun hanya menganggukkan kepalanya, lalu Elisa pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke dapur. Di sana ia melihat Starla sedang bersiap-siap berangkat, bahkan sudah membawa tas selempangnya.


"Apa Lo tinggal disini? Semiskin itu ya Lo, sampai tinggal disini? Padahal suami Lo kan pemilik Mall?" tanya Elisa tak paham. Suami Starla adalah orang kaya dan tak mungkin Starla jadi pembantu di rumah ini. Ternyata ucapan Anggun tadi tidak membuat Elisa percaya.


"Itu bukan urusan Lo," ucap Starla kesal.


Elisa memegang tangan Starla dan menahannya pergi. Dia ingin pertanyaannya dijawab oleh Starla. Sayangnya Starla menolak menjawab pertanyaan Elisa, dia memilih pergi dari sana. Elisa dan Starla pun berjalan bersamaan dari dapur.


"Tante! Lihat tuh pembantu Tante, nggak tau diri banget dia. Ditanya aja sombong banget," ucap Elisa berteriak pada Anggun. "Dasar cewek murahan yang ngandung anak haram." desis Elisa kesal.


Tanpa sadar, kata-kata pedas itu terucap dari bibir Elisa. Dan sontak saja membuat Starla juga Anggun menoleh ke arahnya dengan tajam. Hati Starla terluka dihina seperti itu, saat Starla akan bicara untuk melawan, seseorang lebih dulu bicara untuknya.


"Kamu ngomong apa tentang anak dan calon cucu saya? Kamu bilang anak saya pembantu?" suara bariton rendah itu membuat Starla dan Anggun terperangah. Adrian, dia yang datang dan sepertinya pria paruh baya itu mendengar semuanya.


Adrian berjalan mendekati Elisa dan menatap gadis itu dengan tajam. Tentu saja, Adrian tak terima anaknya dihina.


"Kamu ngomong apa barusan? Anak saya pembantu?" Adrian mengulang lagi pertanyaannya.


"I-itu kata Tante Anggun kok. Dia bilang anak om yang murahan ini adalah pembantu!" cetus Elisa seraya melihat ke arah Anggun.


Starla dan Anggun terlihat tegang saat melihat tatapan Adrian. Sudah jelas pria itu marah. Adrian merasa sakit hati, meskipun pernikahan Saka dan Starla tidak boleh diketahui. Tidak seharusnya Anggun mengatakan Starla pembantu dan menghina putrinya seperti ini. Bahkan Anggun pun diam saja ketika ada orang lain menghina Starla.


"Berani sekali kamu menghina putri saya! Apa orang tua kamu tidak pernah mengajarkanmu sopan santun?" sentak Adrian pada Elisa. Sedangkan Elisa cuek saja seperti menulikan pendengarannya. Terlihat Adrian sangat marah besar, jika saja Elisa adalah laki-laki. Mungkin Adrian sudah memukulnya.


"Hey, apa kamu tuli? Nggak sopan ya kamu sama orang tua!" sentak Adrian kesal karena Elisa mengacuhkannya.


Respect Anggun pada Elisa juga menghilang ,saat melihat sikapnya yang tidak sopan pada orang tua. Dalam hati, Anggun bersyukur karena Saka tidak bersama lagi dengan Elisa. Apa jadinya bila Anggun mempunya menantu yang julidnya seperti Elisa?

__ADS_1


"Star, bawa barang-barang kamu!" titah Adrian dengan nafas yang memburu


"Hah? Apa maksud Papa?" tanya Starla yang terperangah, karena tiba-tiba saja papanya memerintahkan Starla membawa barang-barangnya.


"Pak Adrian, anda salah paham! Saya akan jelaskan--"


"Cukup Bu Anggun! Saya akan membawa anak saya pergi. Saya tidak suka anak saya diperlakukan seperti ini," ketus Adrian pada besannya itu. Yang membuat Adrian emosi adalah, Anggun diam saja saat Starla dan calon cucunya dihina oleh Elisa. Seolah Anggun sungkan pada Elisa. "Star, bawa barang-barang kamu. Papa tunggu disini. Atau kamu mau Papa masuk ke rumah?"


Starla serba salah, ia tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah papanya. Sedangkan Elisa, di sana dia sedang menerka apa yang terjadi. Apa hubungan Starla, Saka dan Anggun?


Setelah mengambil koper yang berisi baju-bajunya, Starla keluar dari rumah Saka. Starla tau papanya sedang marah dan hanya dia yang bisa meredakan amarah papanya saat ini.


"Star, jangan pergi! Mama mohon, mama akan jelaskan semuanya!" pinta Anggun seraya berbisik-bisik pada Starla karena takut Elisa mendengarnya.


"Nggak apa-apa Ma. Nanti kita bicara lagi, Ma. Starla pamit." kata Starla sopan. Dia sama sekali tidak marah dengan Anggun, tapi marah pada Elisa.


Setelah Adrian dan Starla pergi dari sana, barulah Anggun menegur Elisa yang tidak sopan pada Starla dan Adrian. "Tante benar-benar merasa bersyukur, karena anak tante sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi sama kamu! Sikap kamu menunjukkan bahwa kamu tidak pantas buat Saka!" hardik Anggun.


"Tante, kok Tante ngomongnya kayak gitu sih? Kenapa Tante belain dia? Aku kan cuma ngomong fakta, aku ngomong sesuai dengan apa yang tante bilang. Dia kan pembantu dan dia wanita murahan yang hamil diluar nikah--"


Plakk!


Satu tamparan mendarat di pipi Elisa, sekarang wanita paruh baya itu benar-benar murka. Dia sudah tidak peduli dengan hubungan pertemanannya dengan mama Elisa. Sebab, gadis ini sudah berani menghina menantu dan juga calon cucunya yang baru lahir.


"Tante... tante berani nampar aku?" tanya Elisa tidak percaya, dengan kedua bola matanya yang terbelalak. Menampakkan rasa kecewa dan juga luka di dalam sorot matanya.


"Kalau bisa, Tante pengen jahit mulut kamu itu. Kenapa bisa... kamu bicara seperti itu kepada orang lain? Bahkan kamu bersikap tidak sopan kepada orang tua. Elisa, tante peringatkan ya sama kamu! Jangan bersikap seperti ini lagi, pada siapapun juga. Sekarang, lebih baik kamu pergi dari sini!" usir Anggun pada Elisa.


Kedua bola mata gadis itu mulai berkaca-kaca, sungguh dia merasa sakit hati akan perlakuan Anggun terhadap dirinya. Dia marah kepada Anggun dan juga Starla karena merasa direndahkan oleh kedua wanita itu. Ia bersumpah di dalam hatinya, bahwasanya akan membalas semua perlakuan ini. Tentunya, dia sudah memiliki niat untuk mengadu kepada mama dan papanya.


"Tante, tante akan menyesal karena sudah melakukan ini sama aku!" Ancam gadis itu, sebelum dia meninggalkan kediaman Delano.


"Kamu ngancem Tante? Silahkan saja, Tante tidak takut!" ujar Anggun menantang. Dia tersenyum sinis, dan secara terang-terangan mengibarkan bendera permusuhan kepada gadis itu.


Elisa pun pergi dari rumah Anggun, sambil menangis. Anggun tahu, ini akan menjadi masalah besar. Namun ia pikirkan bagaimana perasaan Adrian dan juga menantunya, daripada memikirkan Elisa yang jelas-jelas hanya orang lain.


"Ya Tuhan, aku harus meminta maaf kepada pak Adrian dan juga Starla. Jangan sampai, kemarahan pak Adrian berlarut-larut sampai dia tidak mengizinkan Starla untuk tinggal di rumah ini lagi. Aku tidak mau jauh-jauh dari menantu dan juga calon cucuku," gumam Anggun menyesal Karena dia sudah menyakiti hati Starla dan juga besannya.


****


Di sepanjang perjalanan, Adrian tidak bicara sepatah kata pun. Moodnya hancur, wajahnya terlihat semrawut, Dia benar-benar kesel dengan gadis yang bernama Elisa itu. Starla Baru kali ini melihat Adrian benar-benar murka, tampaknya Starla akan kesulitan untuk meredakan amanah papanya.


"Pa, papa salah paham... Mama Anggun gak bermaksud seperti itu pah!"

__ADS_1


"Salah paham gimana Star? Papa benar-benar paham kok. Ibu mertua kamu kedatangan tamu, kemudian dia bingung harus mengatakan apa soal kamu. Lalu dia mengakui kamu sebagai PEMBANTU. Papa paham Star," ungkap Adrian sambil memegang setir kemudinya, dengan mata yang fokus ke depan jalan. Namun, hati dan pikirannya kemana-mana.


"Pa, Mama Anggun nggak sengaja...dia--"


"Star, apa kamu tahu apa yang membuat papa sangat marah?" Adrian langsung menyala ucapan putrinya, sebelum putrinya selesai bicara. Starla tidak bicara apa-apa selain mentap Papanya, berharap bahwa tatapan memelasnya ini akan sedikit meluluhkan hati pria itu.


"Papa marah, ketika ada yang menghina kamu dan juga calon anak kamu. Tapi, ibu mertua kamu itu malah diam saja! Jujur sama Papa Star, apa sebelumnya ibu mertua kamu juga pernah seperti ini?" sudah Starla duga, bahwa papanya pasti akan menuduh ibu mertuanya.


"Tidak pah!" jawab Starla cepat.


"Bohong!"


"Pah,aku jujur."


Adrian tidak bicara lagi, dia masih berusaha menahan diri untuk tidak marah didepan Starla. "Kita pulang ke rumah aja."


"Hah? Papa kan harus ketemu calon istri Papa! Aku nggak apa-apa Pa, sungguh." kata Starla kepada papanya.


"Gimana bisa Papa ketemu sama calon istri dan calon anak papa dengan kondisi seperti ini!"


"Pa...aku bakalan sedih kalau papa batalin pertemuannya. Kita ke rumah, nyimpen koperku terus ke restoran! Papa nggak mau kan, bikin aku sama little star sedih?" rayu Starla dengan wajah memelas.


Adrian tidak mau Starla sedih, ia pun menuruti ucapan putrinya. Dia takut Starla kenapa-napa.


'Setidaknya papa teralihkan sementara, nanti aku tinggal lurusin semuanya dan ngomong sama Saka. Semoga deh Papa nggak marah juga sama Saka' kata Starla dalam hatinya.


****


Usai menyimpan koper berisi baju-bajunya di rumah Papanya, Adrian dan Starla pergi ke restoran tempat Saka bekerja sekaligus restoran tempat pertemuan Adrian dengan Bisma dan Sofia.


Adrian dan Starla sampai lebih dulu di sana. Starla mengirimkan pesan pada suaminya untuk segera datang, kalau ada waktu. Namun Saka masih berada di dapur dan sedang sibuk mencuci piring, hingga ia belum sempat mengecek hp.


Tak berselang lama kemudian, Adrian berdiri dari tempat duduknya. Ia tersenyum melihat kehadiran calon istrinya di sana. "Sofia!"


"Mas Adrian!" Sofia tersenyum melihat Adrian, ia menghampiri Adrian dan Starla. Namun Adrian dan Starla sama-sama terkejut saat melihat Bisma berada dibelakang Sofia.


"Jadi ini putri kamu Mas? Cantik sekali...Halo Starla," sapa wanita paruh baya itu ramah.


"Ha-halo Tante." sapa Starla yang masih melihat Bisma di sana.


"Jadi Bisma adalah anak kamu, Sofia?" pertanyaan yang dilontarkan Adrian sontak saja membuat semua orang terkejut. Apalagi Bisma yang terlihat syok.


'Nggak mungkin! Jadi calon suami Mama, adalah Papanya Starla? Om Adrian?'

__ADS_1


__ADS_2