Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 119. Maaf, terimakasih, kesempatan


__ADS_3

Tangisan Starla mereda saat wanita itu menyadari bahwa ia berada di dalam pelukan Saka. Seketika wajahnya berubah menjadi panik, dia melihat-lihat tubuhnya. Ada beberapa tanda merah di leher dan dadanya.


"Kak Aldo...dia udah..." pikirannya pun menjadi negatif.


"Enggak, itu perbuatan aku. Aku yang buat tanda itu." Saka mengakui, bahwa tanda merah di leher dan dada wanita itu adalah karena ulahnya.


Plak!


Starla langsung menampar wajah Saka dengan keras. Saka tidak merasa marah, malahan ia merasa pantas mendapatkan tamparan dari Starla. Ya, walaupun niat Saka hanya menolong Starla dari pengaruh obat. Dia juga tidak melakukan apapun lebih dari ciuman dan sentuhan jari. Namun baginya ini tindakan tidak senonoh.


"Berani kamu sentuh aku dan memanfaatkan situasi!" seru Starla geram.


"Maaf, aku emang kurang ajar. Tapi sumpah demi tuhan, aku nggak--" saat Saka akan menjelaskan semuanya, Starla langsung memukul wajah Saka dengan keras.


Bugh!


"Cabul!" Starla beranjak dari ranjangnya dan hendak berjalan ke arah kamar mandi. Namun tubuhnya limbung karena pusing kepala. Dengan sigap Saka menangkap tubuh Starla yang hampir jatuh.


"Star, mending kamu duduk dulu." ucapnya lembut. Meskipun melihat raut wajah Starla yang annoying, akan tetapi dia tetap sabar menghadapinya. Malah terlihat dewasa dan tenang.


Starla menepis tangan Saka yang menyentuh kedua bahunya. "Jangan sentuh aku, Saka! Kamu nggak ada bedanya sama kak Aldo!"


"Iya-iya, aku emang nggak jauh bedanya sama dia. Aku juga sentuh kamu dan aku kurang ajar. Ya udah, kamu duduk aja di sini...aku ambilin dulu obat." ucap Saka dengan sabarnya dia membuat Starla duduk kembali di atas ranjang. Saka menyuruh Starla duduk bersandar di headboard ranjang karena ia akan mengambil air minum dan obat untuknya.


Atensi Starla tertuju pada pipi Saka yang memar karena ulahnya barusan. Tapi Starla merasa aneh, pria itu tidak marah meskipun ditampar dan dipukul olehnya.


"Minum dulu, yang ini obat sebelum makan." ucap Saka sambil menyodorkan dua butir obat ditangannya kepada Starla untuk ia minum.


"Obat apa ini?" tanya Starla dengan tatapan penuh rasa curiga.


"Yang jelas bukan orang perangs*ng yang semalam kamu minum. Ini obat peredanya, kalau kamu pusing dan mual-mual." ucap Saka menjelaskan dengan tenang.


"Ja-jadi semalam kita nggak ngelakuin itu?" tanya Starla seraya menatap wajah mantan suaminya itu.


"Menurut kamu? Mungkin kamu ngerasain sendiri." kata Saka yang lalu memasukkan obat itu ke mulut Starla dengan satu tangannya dan gegas menyodorkan segelas air minum pada Starla. Wanita itu pun menelan obat dan air minumnya.


"Saka, jawab aku...kita ngelakuin itu atau enggak?" tanya Starla serius.


"Hampir, tapi kamu tenang aja karena aku bisa nahan diri. Aku manggil dokter, karena kamu masih panas dan minta aku bukan melakukan itu." jelas Saka akhirnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak bilang? A-aku...udah salah paham sama kamu." Starla merasa bersalah kala mendengarnya.


"Apapun yang aku katakan, aku tetap brengsek dan gak jauh beda dari kak Aldo. Semalam aku hampir menyetubuhi kamu. Tapi aku inget, kalau aku ngelakuin itu kesempatan buat aku pasti nggak akan ada lagi." jelas Saka seraya tersenyum tipis.


Deg!


Hari Starla terenyuh saat mendengar ucapan Saka dan bagaimana raut wajah pria itu saat ini. Dia semakin merasa bersalah, sudah pasti semalam Saka yang menolongnya dan dia malah memukul juga menamparnya. Benar-benar tidak tahu diri.


"Sekarang kau bisa pergi ke kamar mandi, bajunya sudah aku siapkan di kamar mandi. Setelah itu kita sarapan bersama," ucap Saka lembut.


'Apa kamu benar-benar sudah berubah Saka? Kenapa aku melihat kalau ada cinta di mata kamu? Apa aku salah lihat karena aku terlalu berharap?' batin Starla bingung.


'Aku tau sulit untuk kamu percaya sama aku, tapi aku akan menunggu kamu sampai kapanpun itu. Karena hanya kamu, satu-satunya wanita yang bisa menjadi istriku,wanita yang aku cintai selain mama dan kakak perempuanku' kata Saka dalam hatinya.


Starla pun pergi ke kamar mandi, setelah keadaan lebih baik. Meskipun lidahnya sedikit mati rasa dan perutnya agak mual. Setelah selesai mandi, Saka dan Starla sarapan bersama di restoran hotel. Dan usai sarapan, rencananya mereka akan pulang ke rumah. Starla mencemaskan kedua anaknya di rumah, mereka pasti khawatir karena Starla tidak pulang.


"Aku udah bilang sama anak-anak kok, kalau kamu lagi sama aku."


"Ke-kenapa kamu bilang gitu? Nanti kalau mereka salah paham gimana, Saka?" sontak saja Starla terlonjak kaget saat mendengarnya.


"Hem...emangnya kenapa? Lagian nggak ada salahnya juga kan? Kamu sama aku, itu wajar." ucap Saka santai.


"Tunggu, ada telpon masuk." Saka menginterupsi ucapan Starla karena ada panggilan masuk ke ponselnya.


"Halo."


"Daddy, daddy sama mommy dimana?" terdengar suara Aluna dari seberang sana.


"Sebentar lagi mommy dan Daddy akan pulang sayang, kamu jangan khawatir ya!" seru Saka sambil tersenyum.


"Bohong, daddy Ndak lagi sama mommy kan? Mommy dibawa olang jahat." Aluna terisak.


"Hah? Apa maksud kamu sayang? Kenapa kamu menangis?" tanya Saka heran dengan suara isak tangis gadis kecil itu.


Starla yang sedang memakan telurnya langsung terkejut mendengar ucapan Saka, keningnya berkerut cemas.


"Semalam Aluna bermimpi, katanya mommy dibawa orang jahat. Tapi apa benar sekarang Daddy bersama mommy?" tanya Axelo yang barusan merebut ponselnya dari Aluna.


"Huah...mommy."

__ADS_1


"Daddy denger kan? Luna nggak mau berhenti nangis, Oma sama Opa aja nggak kemana-mana karena nenangin Luna."


"Oke sayang, kasih hpnya ke Luna. Mommy yang akan bicara." kata Saka pada anak sulungnya itu.


Setelah Saka menyerahkan ponselnya pada Starla dan Axelo menyerahkan ponselnya pada Aluna. Barulah Starla mulai bicara pada putrinya.


"Sayang princess mommy," sapa Starla lembut.


"Mommy, mommy tidak apa-apa kan? Mommy dimana? Mommy cepat pulang!" kata Aluna yang akhirnya berhenti menangis.


"Mommy baik-baik saja sayang, mommy dan Daddy akan segera pulang." satu kalimat dari Starla membuat Aluna cukup tenang.


"Ya sudah, mommy cepat pulang ya. Aku nunggu mommy. Aku takut mommy dibawa olang jahat," cetus Aluna yang masih belum tenang sebelum melihat ibunya.


"Ya, mommy akan pulang. Tapi kamu harus berhenti nangis dan makan sarapan ya. Saat mommy pulang kamu harus sudah menghabiskan sarapanmu," tutur Starla.


"Iya Mom, baiklah." sahut Aluna menurut.


"Oke, mommy tutup dulu telponnya ya. Mommy dan Daddy akan tiba dalam 15 menit." ucap Starla.


"Aku tunggu ya mommy. Kiss muach."


"Muach sayangku."


Setelah selesai menelpon, Starla mengembalikan ponsel tersebut kepada Saka. Namun sebelumnya di melihat foto Starla, Aluna dan Axelo yang menjadi wallpaper diponsel Saka.


"Kayaknya Aluna punya ikatan batin yang kuat sama kamu Star." ucap Saka, setelah mendengar percakapan barusan.


"Tentu, baik aku atau kamu pasti memiliki ikatan batin sama Axelo dan Luna." cetus Starla.


Hening sesaat di meja makan, sampai saat Starla pun bicara. "Saka terimakasih, kamu udah nolongin aku dari kak Aldo. Makasih kamu udah jaga kehormatan aku, walau kamu ***** ***** aku sedikit. Makasih, udah datang tepat waktu semalam. Dan...maaf karena udah nuduh kamu yang enggak-enggak, terutama apa yang aku lakukan sama kamu. Maaf Saka."


"Nggak apa-apa, lagian ini nggak sakit kok. Nggak usah bilang makasih, bukankah wajar kalau aku menolong kamu, menjaga kehormatan ibu dari anak-anakku. Jadi, nggak usah makasih ataupun merasa bersalah."


"Tetap saja aku harus bilang makasih, maaf dan...Saka, aku cuma ngomong ini satu kali. Saka, aku kasih kesempatan untuk kamu masuk kembali ke dalam hidup aku."


Prang!


Saka terlonjak kaget sampai-sampai ia menjatuhkan gelas ke lantai. Ucapan Starla benar-benar membuatnya tercengang.

__ADS_1


****


__ADS_2