
Lagi-lagi Starla memergoki suaminya sedang menelpon diam-diam entah bersama siapa. Sudah 2 Minggu ini, Starla memperhatikan suaminya yang selalu sibuk sendiri dengan ponselnya. Setiap kali Starla ingin memeriksa ponselnya, Saka selalu melarang dengan beragam alasan yang membuat Starla tidak bisa melihatnya. Bahkan tak jarang, Saka pulang larut malam. Padahal restoran tempat Saka bekerja tutup paling lambat jam 10 malam.
'Apa benar kamu selingkuh dari aku Saka? Apa kamu setega itu padaku dan anak kita? Aku tidak ingin percaya, tapi sikapmu membuatku ragu' batin Starla sedih.
"Sayang, kamu di sana?" tanya Saka yang menyadari Starla sedang memperhatikannya dari belakang. Buru-buru Saka menyimpan ponselnya ke dalam saku celana jeans yang ia kenakan.
"Aku nyari kamu, tapi kamu nggak ada. Kamu selalu aja ngilang, Saka. Kenapa sih?" tanya Starla seraya menghampiri suaminya dengan tenang. Berusaha untuk menekan emosinya.
"Aku disini Star, aku nggak kemana-mana. Please jangan nethink sama aku, barusan aku habis bicara sama bos aku." jelas Saka yang tidak membuat Starla percaya.
"Kamu nggak percaya? Ini, kamu lihat aja riwayat panggilannya!" ujar Saka sambil menyerahkan ponselnya kepada Starla untuk diperiksa.
"Nggak usah. Yuk, kita masuk!" ujar Starla yang lalu berjalan masuk ke dalam gereja, meninggalkan suaminya di sana.
'Kamu bisa aja bohong sama aku Saka, tapi feeling ku kuat! Aku seorang istri dan aku yakin kamu ada something'
Saka menatap punggung sang istri dengan sorot mata sendu dan merasa bersalah. Barusan dia habis menelpon Elisa, bukan bosnya. Dia berbohong lagi, demi agar Elisa mau minum obat. Dan Saka sudah tertipu terlalu jauh. Dia selalu menemui Elisa disela-sela waktu kerjanya, bahkan tanpa sepengetahuan Starla. Demi menyenangkan Elisa disisa hidupnya. Tanpa ia tau sebentar lagi akan ada badai yang datang menghancurkannya, menghancurkan hubungan murni dengan Starla dan anak-anaknya. Atau mungkin membuatnya menyesal seumur hidup dan hanya tinggal menunggu waktu sampai itu terjadi.
****
Setelah menerima ucapan selamat dari para tamu yang hadir. Sore itu, Gina dan Adrian bergegas pergi ke hotel bintang 5 yang akan menjadi tempat malam pertama mereka. Adrian sudah mereservasi kamar hotel paling romantis, paling mahal dan tentunya dengan view indah. Khusus untuk pasangan pengantin baru, dia ingin memberikan hal paling spesial untuk istri kecilnya.
Setelah sampai di depan hotel, Gina dan Adrian yang masih memakai pakaian pengantin itu masuk sambil berjalan bergandengan tangan dengan mesranya. Adrian juga tidak ragu menggandeng tangan Gina yang sudah menjadi kekasih halalnya. Tak hentinya gadis itu berseri-seri menatap sang suami tampannya.
"Jalannya lihat ke depan, nanti kamu jatuh Gin." ucap Adrian saat melihat istri kecilnya menatapnya terus bahkan saat berjalan.
"Hehe, habisnya mas Popeye ku ganteng banget sih. Jadi, aku nggak bisa mengalihkan pandangan dari mas Popeye." celetuk Gina yang tanpa filter seperti biasanya. Gadis itu juga terkekeh, dan membuat Adrian gemas.
"Gina, jangan senyum kayak gitu. Aku jadi ingin memakanmu sekarang juga." ucap Adrian berbisik. Hingga membuat wajah Gina memerah karena tersipu malu.
"Nanti dimakannya ya Mas, di kamar!" balas Gina yang lalu mengecup pipi Adrian sekilas. keduanya pun tersenyum, terpancar kebahagiaan di wajah keduanya. Meskipun berbeda usia belasan tahun, akan tetapi itu tidak mengurangi kemesraan mereka diantara perbedaan yang ada.
Tiba-tiba senyuman mereka menghilang saat melihat seseorang yang baru saja turun dari lift. Orang itu adalah Sofia, yang bisa dikatakan sebagai mantan kekasih Adrian. Gina langsung mengeratkan tangannya pada lengan kekar Adrian, seolah takut Adrian akan direbut oleh wanita yang jauh lebih tua darinya dan lebih cocok menjadi mamanya itu.
Sofia sendiri mematung di tempatnya, kala ia melihat Adrian memakai setelan jas pengantin dan disampingnya ada wanita muda yang mengenakan gaun pengantin juga. Jantung Sofia berdebar bukan main saat melihatnya. Dia berada di hotel ini untuk bertemu rekan bisnisnya seorang wanita istri pemilik hotel. Sementara Bisma, dia berada di Singapore untuk menjalani perawatan karena kecelakaan.
"Ayo sayang, kita harus cepat sampai ke kamar." ucap Adrian kepada Gina yang terdengar oleh Sofia. Hati Sofia seperti ditusuk-tusuk saat mendengar ucapan Adrian yang sangat lembut pada Gina, bahkan memanggilnya sayang.
"Iya Mas."
Adrian mengeratkan genggaman tangannya pada istri kecilnya. Dia mengajak Gina untuk naik ke lift. Sofia langsung memegang tangan Adrian dan menahan langkah mereka berdua.
Adrian menatap tajam pada Sofia yang memegang tangannya. Gina yang melihat suaminya dipegang-pegang oleh Sofia, tentu saja tidak tinggal diam. Gadis itu maju ke depan dan menarik tangan suaminya agar terlepas dari Sofia.
"Maaf Bu, jangan pegang-pegang suami saya!" seru Gina dengan tatapan sengit pada Sofia.
"Suami kamu? Hah, mana mungkin! Jangan bicara sembarangan ya dek." sinis Sofia yang tidak percaya bahwa Gina adalah istri Adrian.
"Ye, si ibu...pria ini memang suami saya. Kami baru menikah hari ini. Kalau nggak percaya, nih!" Gina menunjukkan cincin di jari manisnya yang sama dengan cincin di jari Adrian.
Dada Sofia bergemuruh saat melihat Adrian dan Gina memakai cincin yang sama. Sofia tidak percaya bahwa Adrian sudah menikah dengan Gina.
"Nggak, ini nggak mungkin. Nggak mungkin kalian udah nikah. Mas Adrian, kamu bercanda kan? Nggak mungkin kamu menikah dengan gadis kecil yang seumuran sama Starla. Aku nggak percaya." wanita paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak percaya.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, itu bukan urusan saya." ketus Adrian yang kembali memegang tangan Gina, ia sudah malas dengan wanita itu dan tak sabar ingin ke kamar bersama Gina.
__ADS_1
"Tunggu dulu sayang. Sepertinya dia tidak percaya kalau kita sudah menikah. Kita harus menunjukkan panasnya kita sebagai pasangan pengantin baru kan?" Tangan Gina mengelus-elus dada bidang suaminya yang masih berada dalam balutan jas berwarna putih itu. Sontak saja Adrian menjadi bergairah saat merasakan sentuhan sensual dari Gina.
'Damn! Gina cantik banget' umpat Adrian dalam hatinya.
"Sayang, aku cemburu. Kamu tega buat aku cemburu? Come on sayang, bergeraklah! Lakukan sesuatu supaya dia pergi." bisik Gina pada suaminya.
Adrian tersenyum mendengar ucapan Gina, lalu satu detik kemudian. Gina dibuat tercengang saat Adrian mencium bibir mungilnya yang selalu menggodanya itu dengan gemas. Sofia meneteskan air mata melihatnya, tangannya terkepal menahan amarah dan rasa cemburu. Padahal ia yang lebih dulu memutuskan Adrian, tapi dia sakit hati melihat Adrian bahagia.
"Ayo kita ke kamar, aku udah nggak sabar!" cetus Adrian yang kemudian membuat tubuh Gina melayang. Ya, Adrian menggendong istrinya ala bridal style. Tentu saja Gina senang digendong pangeran Popeye tampan seperti suaminya.
"Aku juga nggak sabar, sayang." balas Gina seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Adrian.
Pasangan pengantin yang baru menikah beberapa jam yang lalu itu, berjalan memasuki lift untuk menuju ke kamar mereka yang ada di lantai atas. Sementara Sofia, dia menangis melihat kepergian mereka berdua, lebih tepatnya setelah melihat kemesraan Gina dan Adrian. Sofia tidak menyangka, bahwa Adrian sudah menikah dengan wanita lain, bahkan wanita yang jauh lebih mudah darinya.
****
Ting!
Lift terbuka dan memperlihatkan sepasang pengantin baru yang terlihat mesra, keluar dari sana. Mereka berdua tiba di lantai paling atas gedung hotel itu. Tanpa peduli ada yang melihat, Adrian masih berjalan menggendong Gina.
Akhirnya mereka pun sampai di kamar tempat mereka menginap yang letaknya paling ujung. Begitu pintu dibuka, Adrian langsung mendudukkan Gina diatas ranjang bertabur bunga. Kamar itu memiliki aroma bunga yang menguar dan nyaman saat menghirupnya. Kamar itu memiliki ranjang dengan kelambu, layaknya ranjang Raja dan ratu. Ya, mereka adalah raja dan ratu sehari bahkan untuk malam ini.
Pria berusia 39 tahun itu kesulitan menelan salivanya sendiri saat melihat kecantikan Gina. Sungguh, Adrian merasa beruntung. Setelah putus dari Sofia, ia mendapatkan daun muda, mana masih fresh lagi.
Dia menatap nanar kepada istri kecilnya, dibelai lembut wajah cantik Gina secara perlahan-lahan.
"Mas Popeye, jangan tatap aku begitu. Aku malu."
"Biasanya juga kamu memang malu-maluin, hehe." kekeh Adrian sambil tersenyum.
"Ish! Jadi aku malu-maluin nih?" gerutu Gina dengan bibir yang mencebik. Lantas, Adrian mengecup bibir merah itu sekilas karena gemas.
Gelora panas sudah menguasai badannya saat ini. Adrian benar-benar tidak tahan lagi untuk menggagahi istri kecilnya, dibawah kungkungannya, mendengar suara lenguhan seksi dari Gina.
"Eungh--ahhh--" Gina mengerang tertahan, manakala ia merasakan ciuman Adrian pada bibirnya semakin brutal saja. Bahkan Gina sampai kesulitan untuk bernafas.
'Sial! Aku kesulitan mengimbanginya. Padahal aku udah lihat di film-film tentang ciuman' batin Gina.
Merasa lawan mainnya sudah kehabisan nafas, akhirnya Adrian mengurai ciumannya. Terlihat sisa-sisa benang saliva dibibir mereka, tapi mereka tidak peduli. Karena kabut gairah sudah memenuhi pikiran mereka.
"Gina...olivenya aku, boleh aku buka?" tanya Adrian dengan sopan serta menunjuk pada gaun Gina yang sudah sedikit melorot.
"Ma-maaf Mas, bukannya aku nggak mau. Tapi, aku gak suka bau keringat mas. Mas tolong ke kamar mandi dulu ya?"
Gairah Adrian yang tadinya membuncah, tiba-tiba harus runtuh, karena ucapan Gina. Hasratnya sudah diujung, tapi Gina malah memintanya pergi ke kamar mandi.
"Gina..." desah Adrian gusar
"Mas nggak usah mandi, gosok gigi dulu aja deh. Biar ciuman nggak bau." kata Gina pada suaminya. Dia terlihat gugup, sebenarnya dia mencari alasan agar bisa menggunakan senjata tempur yang sudah disiapkan oleh mamanya untuk malam pertama.
"Ya udah, aku gosok gigi dulu." Meskipun agak kecewa, tapi Adrian menurut pada istri kecilnya dan pergi ke kamar mandi.
Beberapa detik setelah Adrian masuk ke kamar mandi, Gina buru-buru membuka koper berwarna merah dan membuka kotak lainnya yang berwarna hitam di sana. Mata Gina berbinar-binar saat melihat kotak tersebut.
"Senjata tempurku! Aku harus memakainya sebelum mas Popeye ku datang, hehe." kekeh Gina yang lalu membuka kotak hitam itu. Terlihat pakaian laknat berwarna hitam menerawang dengan atasan tali spaghetti, lengkap dengan segitiga pengaman berwarna hitam dengan tali juga.
__ADS_1
Buru-buru Gina membuka gaun pengantinnya yang untungnya tidak ribet untuk di lepas. Lalu ia memakai pakaian laknat yang mengekspos bagian sensitif tubuhnya. Menunjukkan bentuk tubuh Gina yang semok, tentunya aduhai dipandang kaum Adam. Kemudian gadis itu memakai sedikit parfum ke bajunya. Semua itu disiapkan oleh Rani yang katanya bisa memuaskan suami. Dan Gina akan memuaskan suaminya malam ini. Rani dan Tomi juga sempat berpesan, bahwa mereka ingin secara punya cucu biar jadi opa dan Oma muda..
Tak lama kemudian, Adrian keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai bathrobe saja, rupanya pria itu membersihkan tubuhnya yang lengket sedikit.
"Mas..." suara merdu Gina membuat Adrian sangat tertarik untuk mendekat. Hingga ia melihat sang istri sudah duduk di sofa dengan posisi kaki bertumpang ke atas paha, membuat si pakaian laknat itu tersingkap menunjukkan paha mulusnya. Rambut hitam dan panjang Gina terurai dengan indah, membuat gadis itu semakin mempesona. Gina memegang gelas berisi wine dengan gaya sensual.
"Mas, sini! Ayo kita minum wine bareng." ajak Gina dengan suara yang menggoda.
Glek!
Adrian meneguk ludahnya dengan payah, damn! Istri kecilnya ini begitu menggoda. Adrian sudah tersihir, ia pun mendekat ke arah Gina yang duduk di sofa. Pria itu ambil tempat duduk di hadapannya, agar lebih mudah untuk melihat kecantikan istrinya itu.
Gina menyerahkan gelas berisi wine yang satunya kepada Adrian. Dia sedang meniru adegan film, tapi dia lupa film apa itu.
"Huwek...pahit juga ya. Tapi kok di film-film kayak enak." Gina menjulurkan lidah saat meneguk wine itu sekaligus. Adrian terkekeh melihatnya.
"Memangnya kamu nonton film apa sih?" tanya Adrian yang masih menegang gelas berisi wine itu. Atensinya tidak berhenti menatap Gina yang cantik luar biasa. Membuat si tombak perkasanya berdiri tegap.
"Nggak tau, aku lupa Mas. Pokoknya kayak enak gitu minum wine, taunya pahit." jawab Gina polos.
"Mau tau gimana cara minum wine biar makin enak saat diminumnya?" Adrian menatap gadis itu dengan tatapan lapar. Dia mendekat dan duduk disamping Gina.
"Gimana caranya, Mas?"
Adrian meneguk wine itu ke dalam mulutnya, lalu ia menyimpan gelas kosong ke atas meja. Dan mendekatkan wajahnya pada Gina, sedetik kemudian Adrian menuangkan wine itu ke dalam mulut Gina dengan mulutnya.
Tetesan wine itu jatuh membasahi bibir, lalu ke leher Gina yang polos. Terdengar lenguhan tertahan dari gadis itu, saat Adrian mengajaknya bertukar salivanya bercampur dengan rasa wine didalam sana.
"Gimana? Jadi lebih enak kan winenya?" tanya Adrian setelah selesai mencium Gina dengan penuh gairah.
"Enak Mas." jawab Gina dengan nafas terengah-engah.
'Astaga, Popeye ku seksi banget' batin Gina yang juga terpesona dengan ketampanan wajah suaminya, apalagi ia yang penasaran dengan tubuh Adrian dibalik bathrobe. Pastinya sangat hot jeletot.
Adrian langsung menyerbu leher jenjang istrinya dengan ciuman-ciuman bergairah, juga memeluk tubuh gadis itu. Suara decapan dari bibir Adrian yang menyerbu leher Gina, terdengar cukup keras. Bahkan membuat Gina menggelinjang kegelian. "Ah...ah...Mas Popeye."
Bukannya mendorong Adrian, tangan Gina dan jari-jari lentiknya malah semakin mendorong kepala Adrian seolah mempersilahkan Adrian untuk menjelajah dirinya.
Terang saja mendapatkan green light itu, Adrian mulai berani. Adrian menarik tali bagian atas pakaian laknat itu hingga pakaiannya melorot sampai ke perut. Sekarang, Gina sudah setengah telanjang bahkan kedua aset pusat kehidupan bayi seolah sudah melambai-lambai minta dibelai oleh Adrian.
Tak lama kemudian, Adrian melahap bagian tengah salah satu aset itu dengan mulutnya. Gina semakin dibuat kembang kempis olehnya.
"Uhhh...ahhh...M-mas..."
Suara Gina semakin membuat Adrian bergairah, bahkan sekarang pria itu kembali mencium bibir Gina dengan rakus dan membopong gadis itu ke atas Ranjang yang akan menjadi saksi tempat eksekusi suami-istri Itu terjadi.
Sambil berciuman, tangan Adrian mulai nakal aktif bergerak ke paha. Semakin ke atas dan akhirnya, Adrian melepaskan tali segitiga pengaman milik Gina. Dimana hidangan utama berada.
Tanpa banyak basa-basi, satu jari Adrian mulai memberi rangsangan pada goa viana milik Gina itu. Terasa sempit, namun Adrian mencoba membuatnya basah agar Gina tidak kesakitan.
Setelah pemanasan pada goa itu dirasa sudah cukup, karena Gina juga sudah mencapai pelepasan. Akhirnya Adrian mulai membuka bathrobe yang menutupi tubuh kekarnya, untuk memulai eksekusi.
Gina menatap nanar pada dada bidang suaminya, sudah ia duga kalau Adrian memiliki ABS yang bagus.
"KYAAA!! MAS, KENAPA ITU GEDE BANGET!" teriak Gina saat melihat benda tak bertulang itu berdiri tegak dihadapannya. Gina syok melihat benda milik pria untuk pertama kalinya secara nyata.
__ADS_1
"Sayang, jangan teriak. Maafin mas kalau pertama kali ini bakalan sakit buat kamu. Tapi Mas akan coba lembut, kamu tahu kan sudah hampir 13 tahun sejak Mas ditinggalkan Mama Starla dan Mas puasa melakukan ini." jelas Adrian pada istri kecilnya.
****