Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 87. Sakitnya jadi Starla


__ADS_3

POV Starla


...🍀🍀🍀...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pernikahanku dan Saka berawal dari sebuah kesalahan cinta satu malam kami. Awalnya Saka menolak untuk bertanggung jawab atas kandunganku, dimana Axelo dan Aluna masih ada didalam rahimku. Jahatnya dia malah memintaku meminta uang untuk tanggungjawab saja, seolah dia lepas tangan dari semuanya. Aku masih ingat benar bagaimana kejadian itu, saat aku PPL di sekolah tempat Saka belajar dan disitulah aku bicara dengan Saka tentang kehamilan ini.


"Jawab gue. Bener Lo hamil dan itu anak gue?" tanya Saka kepadaku dengan wajah angkuhnya yang membuatku ingin mencakar wajah tampannya itu.


"Kalau gue bilang iya, Lo mau apa? Tanggungjawab?" jawabku secara asal, sebenarnya aku juga sedang mengujinya.


"Nggak, gue gak akan tanggung jawab. Ini salah Lo, karena Lo yang udah godain gue duluan," cetus Saka begitu egois. Sejak awal ia seperti sudah menekankan pada dirinya sendiri, ia tidak akan bertanggungjawab bila terjadi sesuatu padaku. Jahat!


Aku kaget, aku pikir dia hanya bercanda tapi aku salah. Cowok ini serius.


"Lo...jangan seenaknya bilang kalau gue ngegodain Lo! Dimana-mana, pihak cowok yang bertindak dan melakukan. Bukan pihak cewek! Jadi gimana gue godain Lo hah?" Aku melakukan pembelaan, aku tidak mau dong disalahkan begitu saja seorang diri. Bukankah dalam hubungan ranjang, pria yang lebih berkuasa? Enak saja dia menyalahkanku sedangkan dia sudah membuatku pecah perawan.


"Lo yang pertama cium gue, terus Lo yang godain gue. Lo naik ke atas tubuh gue, terus pegang-pegang gue. Wajar kan kalau gue terangs*ng? Gue cowok normal....Dan nggak semua pihak cowok salah kok, kalau pihak ceweknya nggak murahan." terus saja Saka menyalahkanku dan menghinaku.


Aku yang emosi langsung menampar tangannya.


Plakk!


"Siapa yang Lo bilang murahan hah?" sentakku emosi.


Apa dia tidak memikirkan bagaimana perasaanku dengan berkata begitu? Cowok ini benar-benar lebih dari kata jahat. Padahal aku sedang hamil anaknya.


"Denger ya! Kalau Lo nggak berniat minta maaf, atau merasa bersalah. Buat apa Lo ngajak gue ngomong? Denger ya bocil belagu, gue juga nggak akan minta pertanggungjawaban Lo! Bayi ini, bakal gue besarin sendiri. Dan lagian, bocil kayak Lo...nggak pantas buat jadi ayah dari anak ini!" ucapku tegas sambil memegang perutku sendiri.


"Bagus. Gue juga nggak peduli." ucap Saka dengan senyuman dinginnya yang tentu saja membuat hatiku sakit.


"Sumpah Lo nyebelin banget," kataku sakit hati. Bahkan sedari tadi aku menahan air mata ini agar tidak jatuh.


"Yes, its me." akui Saka tanpa tahu malu. Tanpa peduli bagaimana perasaanku.


"Kalau anak ini sudah lahir nanti, atau bahkan sudah besar. Gue nggak bakal ngakuin Lo sebagai ayahnya, dia juga nggak bakal ngakuin Lo sebagai ayahnya." ancamku.


"Oh...nggak apa-apa tuh. Nggak masalah. Cuma saran gue, Lo jangan banyak nonton sinetron ikan terbang. Jadi halu kan?" sindir Saka halus dan menusuk hatiku.

__ADS_1


"Sialan!" umpatku geram.


"Inget, Lo nggak boleh minta pertanggungjawaban gue dan orang-orang gak boleh tau tentang hal ini. Termasuk cewek gue," Saka memperingatkanku dan hal itu membuatku tambah sakit.


"Tenang aja! Gue nggak akan ngomong apapun. Dan kalau di sekolah, kita pura-pura saling nggak kenal aja!" Aku berpura-pura kuat agar tidak diremehkan olehnya. Bahwa aku bisa hidup tanpa dirinya.


"Bagus. But, kalau Lo mau minta uang buat pertanggungjawaban gue, Lo boleh minta. Tapi enggak dengan menikah!" cetus Saka sombong.


Aku berusaha tersenyum walau sebenarnya enggan. "Oke, nanti gue bakal minta uang sama Lo kalau gue butuh, buat gugurin kandungan ini." jawabku asal, lalu aku pun melangkah pergi dari sana dengan kesal.


Ya, itulah awal kami yang buruk dan hingga entah apa yang terjadi. Saka mulai peduli padaku, bahkan dia memutuskan untuk bertanggung jawab padahal sebelumnya dia enggan melakukan itu. Pernikahan ini awalnya sangat ditentang oleh Papaku, tapi bagaimana pun juga Saka harus bertanggungjawab. Dia pria yang membuatku hamil dan dia adalah ayah dari bayiku.


Kami pun menikah, tanpa cinta seperti yang ada di film-film drama. Namun perlahan rasa itu mulai tumbuh seiring berjalannya waktu, aku pikir ini adalah plot benci menjadi cinta. Saka benar-benar sangat memperhatikan ku, meksipun sebelumnya aku sempat berpikir bahwa perhatiannya ini hanya karena bayi yang ada di dalam kandunganku. Akan tetapi, dia menyatakan cinta padaku dan dia terlihat tulus.


Bahkan dia rela bekerja paruh waktu untuk membiayaiku dan anak kami yang masih didalam perut. Dia tidak membiarkan uangku ataupun uang yang diberikan oleh mertuaku, keluar sedikitpun. Rasa cinta didalam hatiku tumbuh semakin besar padanya. Kami layaknya pasangan suami-isteri sekarang. Ya, jangan lupakan kejadian sebelumnya. Bahwa Saka dicium oleh mantannya, dimana aku marah saat itu. Kecewa, cemburu, itu kesalahan pertama dan aku memaafkannya karena Elisa yang mencium Saka duluan. Aku percaya pada Saka, mana mungkin Saka akan mengkhianati ku yang sedang hamil besar, pikirku.


Lalu saat dia janji menjemputku untuk diantar ke dokter kandungan, dia tidak datang. Disitulah rasa sakitku kembali datang karena Saka lebih memilih menemani Elisa yang sakit daripada aku. Setelah itu, seperti biasanya Saka meminta maaf dan mengatakan tidak akan mengulanginya lagi. Baiklah, aku berikan dia kesempatan tapi...kami membuat janji, apabila salah satu dari kami berselingkuh. Maka tidak ada kata kembali atau kesempatan.


Suatu hari Galang mendatangiku, dimana dia memberitahu bahwa Saka memiliki hubungan dengan mantan kekasihnya. Lagi-lagi nama Elisa yang menjadi duri dalam pernikahan kami. Tentu, aku tidak begitu saja percaya dengan ucapan Galang walaupun aku sudah kenal lama dengan Galang dan Galang adalah sahabatku. Jujur saja aku ilfeel saat Galang seolah-seolah memintaku curiga pada Saka.


Awalnya aku tidak mengindahkan ucapan Galang tentang Saka. Aku rasa tak mungkin Saka berselingkuh dariku dengan Elisa, sedangkan mereka sudah jarang bertemu apalagi berkomunikasi sejauh yang aku tau. Sejak kejadian aku yang marah, Saka menghapus nomor Elisa dari kontaknya bahkan mengganti nomor ponselnya dengan yang baru.


Aku mulai curiga saat...


"Kamu pulang malam lagi? Kenapa sih hampir setiap hari lembur? Memangnya ada acara apa?" tanyaku pada Saka saat suamiku itu mengatakan bahwa dia akan pulang malam lagi. Sudah satu Minggu ini, dia selalu pulang lama. Pergi sebelum aku bangun tidur dan pulang setelah aku tidur, kalau aku tidak menunggunya pulang, mungkin aku tidak akan melihatnya.


"Iya sayang, la-lagi ada acara ulang tahun dan cafe disewa. Jadi aku sibuk. Kamu sama little star bobo aja duluan ya." ucap Saka yang terdengar perhatian namun gugup.


"Ya udah, kamu hati-hati kerjanya. Love you." aku mencoba bersikap biasa saja, meski aku mulai berpikiran lain.


"Love you." balas Saka dengan nada lembut dari sebrang sana. Kadang aku luluh dengan suara lembutnya ini, seolah-olah dia sangat mencintaiku.


Hingga hari demi hari berlalu, kecurigaanku semakin besar tatkala aku menemukan bukti di ponsel Saka. Ada nomor dengan nama mamang kurir menelpon Saka berulang kali. Awalnya aku biasa saja, tapi saat aku melihat chat dari nama memang kurir itu, aku terkejut bukan main.


Jantungku berdegup kencang saat melihat isi chatnya yang mengatakan 'sayang, kamu ke rumah? Aku kangen kamu'


Akhirnya aku memutuskan untuk menghacker ponsel Saka, mau tidak mau. Aku belajar menyadap dari Riko yang memang ahli dalam urusan beginian. Meski tidak ahli, aku berhasil mendapatkan chat di hp sakang dengan tulisan mamang kurir ini dan alangkah kagetnya aku saat melihat itu. Air mataku jatuh tidak tertahankan, apa saja yang sudah mereka lakukan di belakangku selama ini? Apa sudah jauh lebih dari ciuman? Entahlah!


Chat mereka menunjukkan kemesraan yang membuat hatiku semakin sakit dan aku tau orang itu adalah Elisa dari foto profilnya.

__ADS_1


Aku sulit untuk percaya, bahwa suami yang selama ini di depanku terlihat sangat mencintaiku, tapi ternyata dia masih mencintai mantan kekasihnya dan berhubungan dengannya.


Aku berusaha diam meskipun aku sudah punya bukti, aku menahan rasa sakit ku. Sampai aku melihat sendiri, aku tidak akan percaya begitu saja. Aku keras kepala, atau memang aku bodoh karena mencintai Saka?


Lalu terjadilah hari yang naas itu, hari dimana aku hampir kehilangan nyawaku dan nyawa kedua bayiku yang saat itu masih berusia 7 bulan. Aku pergi ke cafe tempat Saka bekerja dan akhirnya tuhan menunjukkan padaku semua buktinya. Semua kebohongan yang selalu Saka ucapkan padaku.


Tuhan, sungguh ini sakit!


Sambil menahan rasa sakit di hatiku, aku pun pergi ke rumah Elisa untuk melihat semua buktinya. Dan di sanalah, mataku mulai terbuka, egoku mulai runtuh. Saka...dia berciuman dengan Elisa begitu mesranya si sofa. Sungguh, apa yang aku lihat ini membuatku sangat terluka hancur. Lalu aku bertanya-tanya apakah Saka benar-benar mencintaiku atau tidak selama ini?


Saka tidak diam saja ketika aku memergokinya berselingkuh. Dia berusaha menjelaskan kepadaku semuanya. Apa...apa yang perlu dia jelaskan kepadaku? Awal mula perselingkuhannya atau bagaimana? Aku marah, aku kecewa, ternyata Galang benar dan semua fakta ini sudah membungkam bibirku. Tidak ada pembelaan untuk Saka lagi, tidak ada maaf, aku sakit...sakit...


Beda halnya bila Saka tidak sengaja melakukannya, tapi Saka sengaja melakukan ini dan lebih menjijikkannya lagi. Dia mengatakan menikmatinya, oh tuhan...aku tidak tahan dengan rasa sakit ini lagi. Saka terlalu menyakitiku. Benar kata orang, terkadang jujur itu menyakitkan. Inilah yang aku rasakan dari kejujuran Saka.


Setelah kecelakaan itu terjadi, aku yang sudah bangun dari koma dan mimpi burukku akan kematian, langsung memutuskan untuk berpisah dengan Saka. Namun tentu saja Saka tidak mau berpisah denganku dan aku yakin itu bukan karena diriku melainkan karena anak-anak kami. Tapi Saka mengatakan bahwa dia mencintaiku. Bull shitt! Aku sudah tidak mempercayai ucapannya lagi.


Dia memohon, menangis, bahkan berulang kali dia tidak ragu menunjukkan penyesalannya. Aku mendengar dari teman-temannya bahwa Saka hancur dengan keputusanku ini. Kalau ada yang bertanya, apakah aku luluh dengan Saka? Ya, aku pernah luluh tapi tidak sampai pada aku ingin kembali padanya atau mengurungkan niatku berpisah. Tidak!


Orang-orang di sekitarku banyak yang mengatakan, untuk memberikan Saka kesempatan kedua. Tapi, bukankah kesempatan yang kuberikan padanya sudah cukup luas? Berkali-kali aku memaafkannya dan mencoba untuk melupakannya, tapi dia mengulangi hal yang fatal untuk hubungan kami.


Bukan hanya masalah soal berselingkuh, tapi masalahnya perasaan. Aku sadar diri, aku bukanlah Elisa yang memiliki hubungan pacaran dengannya 2 tahun. Aku hanya orang baru di dalam hidup Saka. Dan selama ini kasih sayang Saka hanya karena bayi yang ada didalam kandunganku. Aku yakin itu dan aku tidak mau peduli ataupun perhatian pada Saka.


Istilahnya, untuk apa aku peduli kepada orang yang sama sekali tidak mencintaiku? Sekarang ku putuskan hidupku hanya untuk Axelo dan Aluna, tidak ada hubungan asmara lagi. Setidaknya untuk saat ini.


****


Hari ini tanpa sengaja aku bertemu dengan Elisa di toilet rumah sakit, awalnya aku mendengar suara tangisan dan kesakitan dari seorang wanita di dekat cermin. Dan benar saja, aku melihat Elisa berada di sana dengan wajah pucat dan memakai baju pasien. Jujur saja, aku marah setiap kali melihat wanita itu. Padahal ini pertama kalinya kami bertemu lagi setelah aku memergoki Saka berciuman dengannya. Tanganku mengepal kuat, rahangku mengeras dan bisa aku rasakan emosiku yang memuncak kala melihat Elisa. Tapi, aku menahan diriku untuk tidak emosi dan bersikap tenang. Hingga Elisa pun bicara padaku lebih dulu, dia bahkan menyapaku dan terlihat rasa bersalah di matanya.


Lalu haruskah aku senang? Aku rasa tidak! Tapi aku cukup bertanya-tanya, yang sebenarnya terjadi pada Elisa? Apa dia berpura-pura sakit sama seperti sebelumnya?


Aku berusaha mengacuhkan panggilannya dan pergi keluar dari toilet, tapi Elisa menahan tanganku.


"Kak Starla, gue mohon. Gue mau bicara sama Lo. Ada yang ingin gue sampaikan."


"Sorry, gue--" aku berniat menolak, tapi Elisa menatapku dengan buliran air mata membasahi pipinya, sehingga hatiku sulit menolaknya.


"Please...gue mohon kak. Sebelum gue pergi, gue mau ngomong sesuatu sama Lo." Elisa menangis, sambil terus memegangi tanganku. Aku tidak mengerti, kenapa wanita yang selalu sikap angkuh di hadapanku ini terlihat menyedihkan.


****

__ADS_1


__ADS_2