
Sedikit info usia ya...
Usia Papa Adrian 39 tahun
Starla 20
Saka 17 otw 18
Gina 21 tahun...
Sekian dan terimakasih
****
Gina gugup bukan main saat Adrian menatapnya tajam, karena dia yang salah bicara. Mendapatkan tatapan seperti itu dari si om duda yang mencuri hatinya, jelas saja membuat Gina salah tingkah. Jantungnya dag dig dug tidak karuan, ingin rasa hati memeluk pria itu dan meraba-raba dada si Om. Ah tidak, pikiran Gina jadi melebar kemana-mana alias mesum. Dasar Gina!
Berkali-kali gadis itu menelan salivanya sendiri, melihat pesona si om yang lagi patah hati, tetap saja nggak ada obat. Ah, Gina semakin terpesona saja. Selain ketampanan yang membuat Gina terpikat pada Adrian, Gina juga merasa kagum dengan duda beranak satu itu. Kagum karena Adrian bisa membesarkan putrinya seorang diri tanpa kehadiran seorang istri, dan Adrian berhasil mendidik Starla dengan baik hingga dewasa. Dari kagum, berubah menjadi perasaan lain dan Gina menyakini perasaan itu sebagai cinta.
"Gina, kamu kenapa malah ngelamun?" Adrian melambai-lambaikan tangan yang tepat ke depan wajah Gina sebab gadis itu terlihat melamun saat ditanya olehnya.
"Ah, iya om! Ada apa? Om bilang apa barusan?"
"Sudahlah lupain aja. Sekarang kamu ke kamar mandi dulu dan ganti baju, om mau ke dapur!" ucap Adrian yang memilih untuk mengakhiri pembicaraan dengan gadis ini. Takutnya Gina makin kedinginan dan nanti masuk angin kalau tidak segera ganti baju.
Hujan terus mengguyur kota Jakarta sore itu, bahkan sampai malam tiba. Si bumil muda masih tertidur pulas, sepertinya otaknya lelah karena mengerjakan skripsi habis-habisan tadi siang. Gina melihat Starla dengan penuh kasih sayang, layaknya melihat saudara perempuannya. Selama ini hanya Gina yang memahami Starla, Gina benar-benar sahabat sejati rasa saudara. Bahkan Adrian juga tau itu dan tanpa Gina sadari, Adrian sedang melihat Gina memakaikan selimut pada tubuh Starla.
"Gina anak yang baik, semoga saja calon suaminya nanti juga sebaik dia. Tapi ngomong-ngomong kenapa selama ini aku nggak pernah dengar Gina punya pacar ya? Starla nggak pernah cerita." gumam Adrian yang mulai memikirkan Gina.
Saat Gina berjalan keluar dari kamar, ia melihat Adrian masih berdiri di rumah tamu dan menatapnya. Gina pun berjalan menghampiri Adrian yang sedang berada didekat jendela.
Sontak saja Gina langsung meminta maaf karena dia sudah lancang masuk ke kamar Adrian.
"Maaf Om, aku udah lancang masuk ke kamar om. Aku tadi cuma--"
__ADS_1
"Nggak usah minta maaf kayak gitu, Gin. Justru om yang harus berterimakasih sama kamu, makasih ya selama ini kamu udah sayang sama Starla. Kamu selalu ada untuk Starla, terutama disaat dia ada masalah dan saat Om tidak bisa menemaninya." Adrian mengatakan rasa ucapan terimakasihnya, karena selama ini Gina selalu ada bersama Starla.
"Om nggak usah bilang makasih, Gina kan udah temenan dari lama sama Starla. Jadi santai aja kali Om."
"Kamu baik banget sih Gin, kamu juga cantik." puji Adrian tulus dari dalam lubuk hatinya.
Deg!
Pipi Gina memerah manakala mendengar pujian dari Adrian. Gadis itu mencoba menahan senyum, tapi tidak bisa sebab hatinya yang berbunga-bunga tidak dapat disembunyikan.
'Om Stop om, jangan please...jangan buat hati aku berdebar-debar gini. Kalau kedengaran, aku jadi malu om!' batin Gina sambil memegang dadanya.
"Semoga kamu mendapatkan suami yang baik nantinya ya. Suami yang bisa menjaga kamu," ucap Adrian.
"Iya om, semoga ya Om."
"Btw kalau om boleh tahu, tipe cowok idaman kamu kayak gimana? Siapa tahu om punya kenalan cowok yang cocok sama kamu.'' kata Adrian perhatian, ia merasa kasihan karena Gina masih menjomblo sampai saat ini.
"Wah? Jadi kamu suka cowok kayak anak buah kapal? Cocok dong, kalau gitu nanti om cariin yang sesuai sama kamu ya." ucap Adrian yang belum peka bahwa orang yang dimaksud oleh gadis itu adalah dirinya sendiri.
"Nggak usah jauh-jauh dan nggak usah dicari Om, soalnya Gina udah nemuin orang itu." sepertinya Gina akan mengatakan cintanya pada Adrian. Ya, mungkin ini saatnya daripada cintanya terus dipendam dan jadi jerawat di wajah.
Adrian tercekat, ia masih menatap Gina dengan kening berkerut dan satu alis yang terangkat.
"Siapa Gin? Apa om kenal?"
"Cowok yang Gina suka, ada didepan Gina saat ini Om. Namanya kapten Adrian Wisesa Nugroho." ungkap Gina dan tentu saja membuat Adrian kaget. "Aku suka sama Om, tidak Om. Aku cinta sama Om Adrian." Kata Gina mengungkapkan isi hatinya sambil menatap Adrian dengan penuh kesungguhan.
"Gina kamu ngomong apa sih?" tanya Adrian masih dengan raut wajah terkejut dengan pengakuan gadis berusia 22 tahun itu.
"Gina serius Om, Gina suka sama Om selama ini. Makanya Gina belum punya pacar, karena hati Gina nggak bisa berikan orang lain. Sebab ada om disini." lirih gadis itu sambil memegang dadanya.
Sedangkan Adrian tidak percaya dengan pengakuan Gina, dia merasa Gina hanya bercanda saja. "Ini nggak lucu Gin, masak kamu suka sama om? Nggak masuk akal!"
__ADS_1
"Masuk akal aja om, om cowok dan aku cewek. Kita sama-sama udah dewasa dan merasakan perasaan suka. Aku cinta sama Om, aku serius." cetus Gina berusaha meyakinkan Adrian akan perasannya.
"Gina...kamu masih muda dan kamu--"
"Om! Kita bisa jatuh cinta sama siapa saja dan kapan saja. Termasuk aku yang jatuh cinta sama om. Awalnya aku nggak percaya, tapi ini beneran om. Aku cinta sama Om, sejak pertama kali kita bertemu!" Gina mengungkapkannya lagi, ia telah jatuh cinta pada Adrian saat pertama kali mereka bertemu yaitu di dekat kampus saat Gina tertabrak motor dan Adrian yang menolongnya. Saat itu, Gina belum tau bahwa pria yang memakai pakaian kapten itu adalah ayah sahabatnya.
"Om akan anggap kalau kamu nggak pernah ngomong apapun." kata Adrian sambil menghela nafas. Dia belum bisa percaya semua ini. Lagian mana mungkin Gina yang masih muda dan cantik, jatuh cinta padanya? Baginya tak masuk akal.
'Sepertinya om Adrian gak percaya sama aku, aku harus gimana ya?' gumam Gina dalam hatinya.
Saat Adrian akan pergi, tiba-tiba saja tangan Gina menahannya. Sontak saja Adrian menoleh ke arahnya lalu Gina berjinjit dan mencium bibir Adrian.
CUP!
Setalah mencium bibir Adrian sekilas, Gina merasa seperti kehabisan nafas padahal itu hanya kecupan. Ini adalah ciuman pertamanya, pertama kali bibirnya bersentuhan dengan bibir seorang pria.
Adrian yang baru merasakan lagi sentuhan dari wanita, hanya bergeming dengan wajah bingung.
"Om...itu first kiss aku. A-aku punya prinsip, siapapun yang ngambil first kiss aku harus jadi suamiku. So, Om...harus jadi suamiku!" kata Gina memberanikan diri menatap pria itu.
Mungkin karena cuaca dingin yang mendukung untuk saling menghangatkan, tiba-tiba saja Adrian menarik tengkuk Gina dan membalas kecupan Gina tadi dengan sebuah ciuman yang menuntut. Apa yang dilakukan Gina sudah membuat gairah didalam diri Adrian terhadap wanita jadi bangkit. Dalam hati Gina bersorak yes!
Tangan kekar Adrian meraih tubuh mungil Gina dan berusaha menyelaraskan tinggi badannya dengan Gina.
Gina sendiri, dia kelabakan dan berusaha mengimbangi ciuman dari pria dewasa yang berbeda usia 18 tahun dengannya itu. Merasa Gina akan kehabisan nafas, Adrian menyudahi ciumannya lebih dulu.
"Om...haahh..." tanpa sadar Gina mengeluarkan suara *******, ia masih berusaha meraup oksigen sebanyaknya. Sungguh dia berdebar-debar, baru saja Adrian menciumnya. Ternyata begini rasanya ciuman, geli geli nikmat karena kumis tipis Adrian yang tadi bergesekan dengan bibirnya.
Sedangkan Adrian masih menatap gadis itu dengan bingung. Terlihat sesal di wajahnya karena sudah memiliki rasa aneh pada Gina.
Tanpa mereka sadari, Starla melihat itu semua. Mulutnya yang menganga, ia tutupi dengan satu tangan. "Oh-My-God. Papa sama Gina? Astaga!"
****
__ADS_1