Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 12. Saya ayah dari bayinya


__ADS_3

Starla menatap pria yang berusia 4 tahun lebih muda darinya itu dengan menelisik. Setelah kata-katanya barusan yang mengatakan bahwa ia akan menikahi Starla dan bertanggungjawab padanya.


Apa Saka pikir Starla akan percaya begitu saja dengan ucapannya? Big no! Setelah apa yang Saka katakan waktu itu, tidak mudah baginya untuk percaya ucapan si bocil ini.


"Lo sakit ya? Apa Lo nggak waras?" tanya Starla yang sontak saja membuat Saka tergelak kaget mendengarnya.


"Coba deh periksain kondisi badan Lo, otak lo juga sekalian!" ketus Starla seraya tersenyum menyeringai. Saka pun berdecih kesal, dia benar-benar serius ingin bertanggungjawab pada Starla terutama pada bayi yang dikandung Starla.


"Gue nggak mau basa-basi. Gue mau tanggungjawab, gue serius. Come on kita nikah." ajak Saka.


"Bercanda Lo nggak lucu, bocil." tukas Starla dengan wajah datarnya. Namun atensinya begitu tajam pada Saka.


"Apa gue kelihatan bercanda? Gue serius...gue bakal tanggungjawab. Gue bakal bilang sama bokap nyokap gue, buat lamar Lo dan gue bakal bilang sama orang tua Lo juga." tutur Saka tentang rencananya.


"Lo pikir semudah itu? Denger ya, bocil. Gue bakal besarin bayi ini sendirian, gue nggak butuh Lo. Dan ya, gue inget kata-kata Lo sebelumnya, Lo pernah bilang kan...kalau masa depan Lo masih panjang. Mana mungkin Lo ngorbanin masa depan Lo buat gue dan anak ini? Seperti apa kata Lo, apa yang terjadi sama kita waktu itu, cuma cinta satu malam doang." cetus Starla membalikkan setiap kata demi kata yang dikatakan oleh Saka waktu itu.


Damn!


Saat ini Saka merasa skak mat, tapi dia juga tidak bisa mundur begitu saja. Niatnya untuk bertanggung jawab terhadap Starla sudah bulat. Dan mengapa ia berubah pikiran, itu karena ia melihat kakaknya sendiri yang sedang hamil. Saka sadar didalam rahim Starla ada benihnya, calon anaknya. Darah dagingnya dan tidak mungkin Saka mengabaikan itu.

__ADS_1


Apapun resikonya nanti, Saka harus bertanggungjawab. Meski mendapatkan kemarahan dan kekecewaan dari keluarganya nanti, Saka akan terima. Lalu soal pernikahan, itu bisa disembunyikan.


"So, lupain apa yang terjadi diantara kita. Kita cuma orang asing." tegas Starla lagi.


"Apa orang tua Lo ada di rumah sekarang?" tanya Saka yang membuat Starla mengerutkan keningnya.


"Kenapa Lo..."


Sebelum Starla bertanya lagi, dokter kandungan datang bersama dengan Gina ke ruangan itu. Dokter itu kembali memeriksa kondisi Starla dan bayinya.


"Janinnya baik-baik saja. Jangan lupa untuk banyak beristirahat dan minum vitamin ya. Juga, jangan banyak melakukan aktivitas yang membuat tubuh lelah, setidaknya untuk 3 hari ini. Nanti, mbak bisa cek kandungan lagi setiap sebulan sekali." tutur Dokter itu yang didengarkan oleh Starla dan juga Saka.


Setelah menebus obat dan vitamin di bagian apoteker rumah sakit. Starla, Gina dan Saka bergegas pulang. Saat berada didepan rumah sakit, Saka menawarkan untuk mengantar Starla ke rumahnya. Gadis itu menolaknya, ia tidak mau Saka tau rumahnya dimana.


"Gue nggak bisa nyetir sendiri kak. Kak Gina mesti balik sama gue ke sekolah, jadi gue harus nganterin lo ke rumah dulu!" cetus Saka yang membuat Starla akhirnya, mau tidak mau menerima ajakan Saka.


Kali ini Saka yang menyetir, sedangkan Gina duduk di belakang dan Starla didepan. Starla dipaksa duduk didepan, meski sebenarnya ia kesal.


Sesampainya didepan rumah Starla yang bisa terbilang minimalis dan banyak tanaman di halaman depannya. Starla langsung keluar dari mobil.

__ADS_1


"Makasih udah nganterin gue," ucap Starla pada Saka dan Gina.


Ketika Saka akan menyalakan mobilnya dan kembali ke sekolah bersama Gina. Mereka tak sengaja melihat Adrian menampar wajah Starla hingga gadis itu terjatuh ke lantai.


"ASTAGA! Kenapa calon suami masa depan gue nampar anak gue?" pekik Gina dengan gaya paniknya, namun Saka merasa salfok dengan kata-katanya.


Gina pun keluar dari mobil, Saka menyusulnya dan ia ingin melihat apa yang terjadi. Kenapa pria itu memukul Starla?


"Pa...maafin Starla Pa..."


"Apa karena ini kamu dan Bisma berpisah? Atau Bisma adalah ayahnya?" tanya Adrian dengan penuh rasa kecewa. Ia menemukan alat tes kehamilan yang tak sengaja disembunyikan Starla dibawah bantal. Saat Adrian berada di kamar Starla dan dia hendak pamitan untuk berlayar dengan menyimpan secarik kertas.


"Bukan pah, bukan kak Bisma. Hik...hiks.." Starla menangis tersedu-sedu, dia bersujud dibawah kaki papanya.


"Siapa Starla? Siapa ayah dari bayi yang kamu kandung ini? KATAKAN!" sentak Adrian emosi. Sedangkan Starla, ia masih belum berani angkat bicara. Papanya benar-benar murka, mengetahui fakta menyakitkan ini.


"Sa-saya pak. Saya adalah ayah dari bayi yang dikandung kak Starla." ungkap Saka yang membuat atensi semua orang tertuju padanya.


"APA?"

__ADS_1


...***...


__ADS_2