Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 111. Luka Starla dan calon Malvin?


__ADS_3

****


Dalam sekejap, Starla dapat menurunkan emosinya. Dia ingat dengan banyaknya anak-anak dan guru di sana. Terlebih lagi, Starla tidak mau bila anak-anaknya melihat ia marah seperti ini.


Namun Axelo dan Aluna cukup peka dalam situasi sekarang, mereka bisa melihat raut wajah Starla yang tampak terluka dan marah. Ini semua karena Maya.


"Masalah anak saya dengan anak anda kan? Apa kita bisa bicara privat, tanpa ada anak-anak disini?" tanya Starla penuh penegasan.


"Mari bicara di ruangan privat. Bu Fela, tolong bawa anak-anak kembali ke kelas dulu!" ujar kepsek sekolah itu kepada guru dan juga orang tua murid yang anaknya bermasalah, alias Starla dan Sheryl.


Setelah anak-anak dan wali kelas kembali ke kelas mereka. Starla, kepala sekolah dan juga Maya berada di dalam ruangan kepsek. Mereka akan membicarakan masalah anak-anak.


"Sebenarnya hal ini tidak perlu melibatkan masalah orang dewasa, kalau orang tuanya tidak ikut campur, benar kan apa kata saya Bu kepsek?" tanya Starla seraya melirik sinis pada Maya sekilas.


"Itu benar Bu Starla, makanya kita harus selesaikan masalah ini secara baik-baik, jangan memperpanjang." ucap bu kepsek yang berusaha untuk menengahi.


"Ya, tadinya saya berpikir seperti itu Bu. Tapi saya tidak terima anak-anak saya mendengar hak yang tidak seharusnya. Dan tidak sepantasnya ibu Maya bicara bohong seperti itu!" ketus Starla dengan emosi yang tidak bisa dia tahan lagi.


"Saya tidak berbohong ya Bu Starla! Memang kenyataannya mama Luna itu kabur sama selingkuhannya dan bawa anak juga lagi."


"Ibu dengar darimana berita seperti itu? Ibu tahu, kalau menuduh tanpa bukti bisa jadi fitnah dan saya bisa tuntut ibu atas pidana kasus pencemaran nama baik." sergah Starla yang sudah sangat emosi.


"Saya tidak menuduh! Bu Anggun sendiri yang bilang sama saya kalau mantan menantunya kabur sama cowok lain dan bawa salah satu anak kembarnya!" cetus Maya dengan bibir yang monyong ke depan.


Deg!


Hati Starla berdenyut sakit dan jantungnya berdegup kencang saat dia mendengar hal ini dari Maya. Di relung hatinya, ia tidak percaya bahwa mantan ibu mertuanya akan tega mengatakan hal buruk tentang dirinya.


'Tante Anggun nggak mungkin ngomongin aku seperti ini' batin Starla tak percaya.


Apa yang sempat Saka peringatkan kepada suami Maya untuk meredam omongan tidak baik tentang Starla. Tapi rupanya gosip itu sudah menyebar dan Maya tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak bergibah atau julid. Memang gibah itu sepertinya sudah menjadi rutinitas penting untuk Maya dan juga para antek-anteknya. Mungkin jika Saka tau semua ini, Maya akan habis ditangannya. Entah apa yang akan Saka lakukan.


"Apa ibu tidak bohong kan?" tanya Starla sekali lagi untuk meyakinkan ucapan Maya.


"Saya tidak berbohong, kalau ibu nggak percaya ya silahkan tanya sama jeng Anggun." ucap Maya yakin. Dan Starla juga tidak melihat ada kebohongan didalam nata wanita itu.


Setelah Starla menyelesaikan urusannya dan berdamai dengan Maya. Anak-anak yang bermasalah juga disuruh bermaafan, mereka patuh dan bermaafan. Namun si kembar melihat ibu mereka menangis setelah keluar dari toilet di sekolah itu.


'Tega sekali tante bicara seperti itu tentangku pada orang lain. Apa Tante segitu bencinya sama aku? Aku terima kalau Tante benci aku, tapi kenapa Aluna dan Axelo harus mendengar ini juga? Pantas aja Aluna selalu ingin aku disampingnya dan menunjukkan kepada semua orang bahwa aku adalah ibunya. Ternyata ini alasannya' ucap Starla dalam hatinya. Dia masih tidak menyangka Anggun begitu membencinya dan sepertinya kebencian ini sudah lama. Sekarang Starla jadi mempertanyakan dan meragukan permintaan maaf dari Anggun padanya waktu itu.


"Mom..." lirih Aluna dan Axelo bersamaan, kedua anak itu sudah menggendong tas dibelakang tubuh mereka. Keduanya menatap Starla dengan tatapan sendu.


"Maaf mommy lama, tadi mata mommy kelilipan sayang. Tapi sekarang udah nggak apa-apa kok, kita pulang yuk!" ajak Starla pada kedua anaknya. Ada alasan kenapa dia mengatakan matanya kelilipan, karena ia merasakan tatapan anak kembarnya itu kepada matanya. Mata sembab Starla tidak bisa disembunyikan lagi. Starla jadi menyesal karena tidak bisa menahan air matanya.


"Mommy maapin Luna ya. Luna udah buat mommy sedih." gadis kecil itu memegang tangan ibunya, tatapan mata gadis kecil itu tampak sendu.


"Siapa yang sedih? Mommy nggak sedih kok. Yuk kita pulang!" ujar Starla seraya menggandeng tangan kedua anaknya. Dia mengalihkan pembicaraan dan perhatian agar kedua anaknya tak terfokus pada raut wajahnya.


'Mommy pasti habis menangis karena mamanya Sheryl. Oma tega banget udah jelek-jelekin mommy sama orang lain. Mommy kan nggak kabur sama cowok lain, mommy juga nggak selingkuh' batin Axelo kesal. Anak laki-laki itu tanpa sengaja' mendengar Maya bicara tentang Anggun dengan ibu-ibu lain sewaktu keluar dari ruang kepala sekolah. Memang dasar ibu-ibu tukang gibah dan fitnah.


"Mom, hari ini pulangnya nggak usah ke rumah Oma. Ke rumah kita aja," ucap Axelo tegas. Dia minta pulang ke rumahnya saja.


"Loh? Kenapa kak? Biasanya jam segini kita pulang ke lumah Oma." celetuk Aluna keheranan. Dia sama sekali tidak peka dan tak tahu apapun.

__ADS_1


"Aku mau pulang ke rumah Mommy, kalau kamu mau pulang ke rumah Oma...nggak masalah sih," kata Axelo yang dingin seperti biasanya.


"Aku ikut kakak sama Mommy." sahut Aluna


"Sayang, kenapa kamu mau pulang ke rumah? Mommy harus kerja, nanti mommy jemput kamu!" seru Starla yang juga heran dengan suasana hati Axelo.


"Aku mau di rumah aja, nggak apa-apa sendiri." jawab Axelo.


"Berdua sama aku kak!" Aluna menimpali.


Ketika ibu dan anak kembar itu sedang berbincang di depan sekolah. Tak lama kemudian Saka datang ke sekolah setelah mendengar dari wali kelas kalau dia dipanggil karena masalah Aluna. Namun melihat Starla sudah di sana, sepertinya wanita itu sampai lebih dulu.


"Maaf ya aku telat, tadi ada meeting dan--"


Starla langsung menyela ucapan suaminya. "Ka, kamu bisa nggak antar anak-anak ke rumah Omanya. Aku harus ke kantor lagi."


"Ok-oke, tapi kamu kenapa?" tanya Saka begitu ia melihat mata Starla yang sembab dan hidungnya yang merah.


"Aku nggak apa-apa. Tolong antar, anak-anak ya."


"Mom! Aku nggak mau pulang ke rumah Oma." ujar Axelo menolak ucapan Starla untuk pulang ke rumah Anggun.


"Nanti Mommy jemput kamu sama Luna. Jagain adik kamu ya sayang, mommy kerja dulu." pamit Starla kepada kedua anaknya itu, tak lupa ia menghadiahkan kecupan di kening Axelo dan Aluna.


Hal yang dilakukan Starla pada si kembar, membuat Saka membayangkan betapa bahagianya dia bila Starla memberikan kasih sayang seperti itu juga. Saka jadi teringat masa-masa indah pernikahan mereka dulu. Dimana Starla selalu menunggunya pulang kerja, menyambutnya hangat dan menghadiahkan kecupan di bibirnya. Namun semua itu hanyalah mimpinya untuk saat ini.


Tanpa bicara apa-apa pada Saka, Starla dengan wajah dinginnya berlalu begitu saja dan berjalan ke depan jalan. Ia bermaksud mencari taksi.


Setelah si kembar masuk ke dalam mobil, Saka menghampiri Starla yang masih menunggu taksi di depan sekolah. "Star, ayo aku anterin!"


"Ayo," ajak Saka seraya emegang tangan Starla. Wanita itu pun menepisnya cepat.


"Kamu ngerti bahasa Indonesia nggak sih. Aku bilang enggak, ya enggak!" sentak Starla yang akhirnya kini menoleh ke arah Saka.


"Aku paham, tapi aku ingin bicara sama kamu. Tentang wanita tadi, aku nggak mau salah paham Star. Kamu marah gara-gara ini kan?" tanya Saka yang langsung bicara pada intinya.


"Seandainya masalahnya sesederhana itu," gumam Starla sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Kamu bilang apa barusan?"tanya Saka yang tidak mendengar jelas ucapan Starla.


"Anak-anak nunggu kamu, mereka pasti lapar. Aku harus kembali ke kantor," ketus Starla. Saka menatap Starla dengan perasaan bersalah, ia benar-benar tidak nyaman dengan situasi ini.


"Star, maaf..."


"Enough Saka. Jangan minta maaf lagi sama aku, stop...udah sering kamu minta maaf kayak gini. Aku bosan dengernya." ucap Starla dengan emosi, dia pun masuk ke dalam taksi yang sudah ada dihadapannya.


Saka membiarkan Starla pergi karena anak-anaknya saat ini sedang membutuhkannya. Saka akan bicara nanti dengannya, tak hanya itu. Ia juga akan menyiapkan hadiah untuk Starla.


Didalam mobil, Starla berusaha untuk tetap tegar dan kuat. Terbesit rasa sesal di dalam hatinya dan dia pun bertanya-tanya.


"Ya Tuhan, apa aku salah kembali lagi kesini? Apa seharusnya, aku memang harus berada jauh darinya dan kesempatan ini tidak kuberikan padanya? Tuhan...ini sungguh menyakitkan." wanita itu mulai mempertanyakan keputusannya kemari, apakah dia sudah salah dalam ke Indonesia dan memberikan kesempatan kepada mantan suaminya.


****

__ADS_1


Di tempat lain, disebuah mall mewah ibu kota. Terlihat Malvin sedang sibuk dengan hobinya yaitu fotografer. Dia sedang memotret beberapa model untuk promosi produk di dalam mall.


Semua model itu terlihat seksi dan montok, namun tak satupun dari mereka yang bisa menggetarkan hati Malvin. Sebenarnya banyak yang mau dengan pria tampan itu, tapi entahlah dia carinya yang seperti apa. Mungkin yang seperti Starla karena Starla adalah cinta pertama dan spek tipe wanita idamannya.


"Hold on...smile..." titah Malvin pada salah satu model yang memegang alat kosmetik. Dia sudah siap mengambil gambar dengan kameranya itu. Walaupun sosok Malvin digambarkan sebagai pribadi humoris dan ceria, tapi ketika menekuni hobi atau pekerjaannya. Malvin terlihat serius dan berkali-kali tampannya.


Model wanita berambut panjang dan sedikit keriting itu, mengikuti instruksi Malvin. Dengan pandangan mata tertuju pada si fotografer.


Cekrek! Cekrek! Cekrek!


Beberapa kali gambar itu diambil dan setelah Malvin melihat hasilnya yang bagus, barulah dia menghentikannya. Saat Malvin sedang memeriksa foto-foto dengan tenang, model tadi mendekatinya.


"Hai ganteng." bisik wanita itu sambil memeluk Malvin dari belakang.


Malvin tampak tidak suka dengan sikap si model yang kurang ajar ini, dia menatap tajam pada si wanita itu dan mendorongnya.


"Ganteng, kok kamu galak banget sih?" tanya wanita itu genit.


'Cantik sih cantik, tapi gue takut sama yang begini' Malvin akui wanita didepannya ini cantik dan juga memiliki tubuh yang indah. Akan tetapi, hal itu tidak membuat hati dan pikiran maafin tertarik kepadanya. Dia malah geli, ketika mendapatkan tindakan agresif dari wanita itu. Seketika, bulu kuduknya meremang seperti melihat kehadiran hantu wanita alias si Kun-kun. Malvin tidak suka dandanannya yang menor, terutama bibirnya yang merah.


"Jangan pegang-pegang saya, tante."


"What? Kamu panggil saya apa barusan? Tan-tante?" wanita itu mendelik tidak mengira, bahwa dirinya yang sudah secantik ini malah dipanggil tante-tante oleh pria incarannya.


"Saya sudah punya pacar Tante, jadi tolong jangan ganggu saya. Saya takut pacar saya nanti salah paham," ucap Malvin dengan memasang tampang tidak berdosa, setelah membuat wanita itu marah karena dikatai tante olehnya. Apalagi ada beberapa model dan juga kru fotografer yang menahan tawa karena ucapan Malvin pada si wanita itu.


Dia malah memperjelas bahwa statusnya bukanlah seorang jomblo, dia sudah punya kekasih. Tapi, ini semua hanya bualannya saja. Faktanya, dia memang masih jomblo di usianya yang sudah menginjak 23 tahun ini.


"Kamu... bener-bener keterlaluan ya!" wanita itu menunjuk ke arah wajah Malvin dengan emosi. Lantas, wanita dengan bibir merah itu pun pergi meninggalkan tempat pemotretan.


"Huft..." Malvin menghela nafas lega, melihat wanita itu pergi dari sana. Dia langsung mengusap-usap tangannya yang tadi dipegang-pegang oleh wanita itu.


"Lo mah, cewek cantik macam Natasha Wilona aja ditolak ah!" seru seorang kru fotografer pada Malvin, seraya menepuk bahu pria muda itu.


"Kaya Natasha Wilona apaan? Yang ada kayak kuntilanak! Ih...geli gue sama cewek model gituan. Dan Lo harus lihat tadi, bibirnya merah banget kayak habis makan darah." ucap Malvin serius, dia bahkan sampai mengendikkan bahunya beberapa kali.


"Jieleh...dia cakep gitu kayak artis Korea, Lo tolak. Kalau gue jadi Lo, nggak bakal gue lepasin cewek kayak gitu. Malah ya...kalau dia mau jadi bini gue, gue kurung tuh di rumah. Bahkan gue nggak akan biarin dia turun dari ranjang dan gue akan memperlakukan dia seperti ratu." kata seorang temannya yang iri dengan keberuntungan Malvin. Dibalik sikap slengean dan humoris pria itu, pesonanya memang tidak ada obat. Hanya saja dia memilih jomblo.


"Ya udah, kalau lo mau jadiin dia bini...coba tembak aja dia." kata Malvin sambil tersenyum.


Setelah selesai sesi fotografer, Malvin memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya di studio. Saat pria itu sedang berjalan di area mall, tiba-tiba saja seorang wanita menabrak tubuhnya sampai kamera yang dibawanya jatuh dan hancur terinjak oleh heels yang dikenakan oleh wanita itu.


"Woy! Jangan pake mata dong! Lihat nih kamera gue, rusak gara-gara Lo!" sentak Malvin emosi, dia memunguti kameranya yang mungkin sudah almarhum.


"Berapa harganya? Saya ganti." kata wanita itu dengan angkuhnya. Dia merogoh tas bermereknya dan mencari dompet didalam sana.


Malvin mendongakkan kepalanya dan dia terkejut melihat wanita angkuh itu. Begitu pun dengan wanita angkuh itu, dia terperangah saat melihat Malvin. Tatapannya tajam dan meremehkan Malvin.


"Elo?"


"Hah?"


"Ngapain Mak lampir gunung merapi ada di mari?" tanya Malvin pada Monica dengan sinis. Ya, beberapa kali Malvin bertemu Monica untuk menolong Saka dari ulat bulu ini.

__ADS_1


"What? Lo bilang apa barusan, dasar burik!" ujar Monica kesal dengan ledekan Malvin.


***


__ADS_2