
****
Bukan hanya Starla yang terkejut dengan pertanyaan Adrian, tapi Saka juga. Walaupun kena semburan coklat dari istrinya, Saka tidak marah sama sekali dan malah menjilati beberapa coklat di wajahnya.
"Saka, jorok ih!"
"Biarin, bekas kamu ini." kata Saka dengan cueknya menjilati eskrim itu.
"CK, kamu ini ya." Decak Starla sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sialnya, suaminya ini tetap seksi dan tampan mau seperti apapun juga.
"Star, kamu denger Papa kan?" suara Adrian terdengar di telpon Saka.
"Ah iya pah, Starla disini." sahut Starla dengan suara yang cukup keras.
"Kamu mau nggak Gina jadi mama kamu? Apa kamu keberatan sayang?" Adrian mengulangi lagi pertanyaan yang tadi.
"Pa, kok Papa pake nanya segala sih? Papa udah tau kan jawabannya." ucap Starla sambil tersenyum.
"Papa mau jawaban yang jelas, Sayang." kata Adrian tegas.
"Okeh deh, Starla jawab. Apapun yang membuat Papa bahagia dengan siapapun Papa bahagia, Starla pasti akan bahagia Pa. Kalau Papa yakin sama Gina, jangan pernah kecewakan dia dan papa harus berjuang." kata Starla menyemangati.
"Bener!" ujar Saka menyemangati. "Aku juga gak keberatan kok, kalau manggil kak Gina dengan sebutan Mama. Walaupun agak geli, hehe." kekeh Saka yang membuat Adrian tersenyum diseberang sana.
"So, kalian setuju kalau Papa sama Gina?" tanya Adrian pada intinya.
"Of course Pah. Aku malah senang karena Gina yang jadi Mamaku, secara aku udah tau sifat dia bagaimana. Dia cinta mati sama Papa, udah bucin maksimal sama hot Daddy. Jadi aku yakin, dia nggak akan pernah mengecewakan Papa." ucap Starla menjelaskan.
Hal ini membuat Adrian semakin mantap ingin mengejar cintanya untuk Gina.
"Baiklah sayang. Kamu bisa kasih Papa, alamat Gina yang ada di Bogor?" tanya Adrian pada putrinya.
"Oke pah. Tapi apa Papa akan pergi sekarang?" tanya Starla.
"Iya sayang."
"Pah, ini udah malam. Besok aja pah, bareng sama Galang dan Riko. Mereka juga mau nyusul Gina ke Bogor," ucap Starla menyarankan papanya untuk pergi besok pagi saja.
"Oh gitu, tapi Papa perginya mau malam ini."
"Hah? Ini udah jam setengah 8 malam Pah, mana diluar mau hujan." kata Starla khawatir.
"Iya pah, besok lagi aja." ucap Saka menimpali.
"Nggak apa-apa, kalian doain aja semoga Papa selamat sampai di tujuan dan semoga tujuan papa tercapai." kata Adrian yang masih kekeh akan pergi malam ini juga.
Starla begitu terharu saat Papanya akan pergi saat ini juga demi Gina. Starla sungguh tidak merasa keberatan sama sekali. Dia malah senang karena akhirnya keinginan Gina selama ini untuk mendapatkan hot daddy, akhirnya terwujud juga. Dia berdoa agar ayahnya dan Gina segera meresmikan hubungan mereka, namun sebelum itu tentunya Adrian harus meminta izin pada kedua orang tua Gina terlebih dahulu.
Lantas Adrian pun pergi ke Bogor setelah diberikan alamat lengkap rumah Gina, oleh Starla. Starla dan Saka mendoakan agar Adrian baik-baik saja dan bisa menolong Gina dari perjodohan yang tidak diinginkannya.
Malam itu setelah semua orang rumah tidur, Starla ingin Saka memasakkan daging ayam untuknya. Awalnya Saka menolak, karena Starla sudah makan banyak daging. Namun pria itu tak kuasa menolak keinginan istrinya.
"Ya sudah aku masak ya, kamu duduk aja disitu." ucap Saka pada istrinya yang duduk di meja dekat pantry.
"Iya Daddy." Wanita itu mengelus-elus perutnya yang buncit dengan bahagia. Ia tak sabar ingin makan daging ayam buatan Saka.
Setelah selesai memasak, Saka menyajikan ayam goreng dengan bumbu sederhana kepada istrinya. Starla dengan lahap memakan daging ayam itu. "Kamu nggak makan Daddy?"
"Nggak ah, aku udah kenyang kok lihat kamu sama twin Star makan!" ucap Saka sambil menatap sang istri dengan penuh cinta seperti biasanya.
"Kamu ngeledek aku ya?" tanya Starla dengan bibir yang mencebik.
__ADS_1
"Dih, siapa juga yang ngeledek kamu. Aku lagi muji kamu. Kamu kalau lagi makan aja masih kelihatan cantik." puji Saka dengan satu matanya yang mengerling itu. Starla tersenyum dan dibuat tersipu oleh pujian suaminya itu.
"Ih...tapi aku gemuk loh."
"Tapi kamu cantik loh." Saka menirukan nada bicara istrinya, sambil tersenyum.
"Kamu..." Starla hanya tersenyum manis, dia malu dipuji dan ditatap seperti itu oleh suami berondongnya. Lucu sekali, padahal dulu mereka saling benci. Tapi sekarang mereka saling cinta dan akan segera menjadi orang tua.
"Kalau udah makannya bobo ya. Besok pagi aku harus ke kampus, ada kelas pagi." kata suaminya itu.
"Hem iya Ka. Berarti besok kamu kerja sip siang ya?" tanya Starla yang masih sibuk mengunyah dagingnya.
"Iya sayang, kemungkinan sore juga aku udah pulang." jelas Saka.
"Oke deh. Kamu ada kegiatan kampus dan kerja, kenapa aku harus nganggur sih? Aku pengen kerja juga kayak kamu," keluh Starla. Dia ingin bekerja sama seperti Saka, setelah lulus kuliah dia diminta Saka dan keluarganya untuk fokus pada kelahirannya. Meskipun Starla sudah diterima bekerja di perusahaan besar, tapi demi bayinya dia menolaknya.
"2 bulanan lagi kamu akan melahirkan anak kita. Masa iya kamu kerja lagi hamil seperti ini? Aku mau kamu fokus sama anak kita, nanti setelah melahirkan dan semua sudah stabil, kamu bisa bekerja." tutur Saka.
"Janji ya? Kamu jangan melarang ku bekerja!" kata Starla.
Cup!
"I'm promise." Saka mengecup pipi Starla dengan gemas.
Setelah makanannya habis, Saka mencuci piring kotornya. Sekarang Saka sudah bisa melakukan pekerjaan rumah, mencuci piring, cuci baju, dia jadi mandiri dan dewasa. Apalagi sejak dia akan menjadi seorang ayah, Starla sangat menyukai Saka yang seperti ini. Semakin hari, sikapnya semakin baik dan dewasa. Dia tidak kekanak-kanakan lagi seperti dulu. Lantas, suami-istri itu pun pergi ke kamar mereka untuk segera tidur.
****
Sekitar 1 jam lebih, Adrian menempuh perjalanan ke Bogor. Akhirnya dia sampai di depan rumah Gina, dengan alamat yang diberikan oleh Starla. Rumah dengan gerbang berwarna putih itu, tertutup rapat. Ya, ini sudah jam 9 malam.
"Permisi pak, bapak mau cari siapa ya?" tanya seorang satpam rumah itu.
"Apa benar ini rumah pak Tomi dan Bu Rani?" tanya Adrian pada satpam itu. Darimana Adrian tau nama kedua orang tua Gina? Dia tahu dari Starla.
"Apa boleh saya masuk? Saya ada kepentingan pribadi dengan--"
Belun sempat Adrian menyelesaikan ucapannya, Adrian dan satpam itu mendengar suara gaduh dari dalam rumah. Kemudian pintu rumah itu terbuka lebar, terlihat Gina hendak menangis dan berlari. Disusul oleh Tomi dan juga Rani. Adrian melihat itu semua.
"Gina! APA KAMU MAU JADI ANAK DURHAKA?" tanya Tomi dengan nada yang tinggi pada putrinya.
"Aku nggak mau Pa, jangan paksa aku buat nikah sama orang yang nggak aku cinta. GINA NGGAK MAU!" sentak Gina marah.
"Kamu-"
"Pah, hentikan ini semua. Udah pah!" Rani berusaha menahan amarah suaminya. Sementara itu Gina menangis tersedu-sedu sampai sesenggukan. Tadinya Gina dipaksa tunangan, sekarang dia dipaksa menikah dua hari lagi. Itulah puncak kemarahan Gina.
Tomi tidak bisa diam, tangannya melayang dan hendak memukul wajah Gina. Namun tangan Tomi ditahan oleh seseorang.
"Tidak baik berbuat kasar pada seseorang, terlebih lagi itu seorang perempuan dan anak bapak sendiri!"
Suara bariton rendah itu, membuat Gina dan keluarganya menoleh ke arah pria bertubuh tinggi dengan penuh wibawa yang ada didepan Gina saat ini.
"Om..."
'Om Adri kesini? Apa ini mimpi? Dia kesini mau ketemu aku kan?' batin Gina tidak mengira bahwa Adrian akan datang kemari. Sungguh ini diluar prediksi BMKG. Ini sungguh kejutan untuk Gina, dan jelas gadis itu senang karena Ardian disini.
"Anda siapa? Beraninya anda datang ke rumah orang lain malam malam begini dan bicara pada saya?" Tomi menampik tangan Adrian dengan kesal. Dia menatap pria yang mungkin beberapa tahun usia dibawahnya itu dengan tajam.
"Om...tolongin Gina Om," pinta Gina seraya memegang kaki Adrian karena saat ini Gina berada dalam posisi duduk di lantai.
Adrian membantu Gina berdiri dengan perlahan-lahan. Gina masih menangis tersedu-sedu. Pria dewasa itu melihat betapa kacaunya wajah Gina saat ini. Pipi gadis itu juga terlihat memar.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa Gina?" suara pria itu mampu membuat Gina tenang.
"Aku nggak apa-apa om. Tapi tolongin aku." ucap Gina lirih, seraya memeluk Adrian dan pria itu juga membiarkannya. Dia tidak tega melihat Gina bersedih.
Rani dan Tomi syok melihat putri mereka begitu dekat dengan pria didepan mereka ini. Siapakah Adrian? Kenapa Gina dekat dengannya?
"Lepaskan tangan kamu dari putri saya!" seru Tomi sambil memegang tangan Gina dan berusaha menarik anak gadisnya dari pria berusia hampir 40 tahun itu.
"Nggak mau, Gina nggak mau sama Papa. Gina maunya sama om Adri! Papa yang sekarang jahat sama Gina." sentak Gina yang enggan melepaskan pelukannya dari Adrian. Berada didekat Adrian, Gina merasa tenang.
"Kamu siapa hah?" tanya Tomi berang.
"Kita bicara didalam aja pah, nggak enak ribut diluar." ucap Rani menyarankan. Malam-malam begini, tidak enak dan tidak pantas rasanya bila mereka ribut-ribut diluar dan menganggu penghuni komplek yang lain.
Akhirnya Adrian, Gina, juga kedua orang tua Gina masuk ke dalam rumah. Kini mereka semua sudah duduk di sofa ruang tengah. Sebagai bentuk sopan santun, Rani menjamu Adrian dengan segelas minuman.
Sedari tadi, Gina tidak mau jauh-jauh dari Adrian. Gadis itu lengket bak prangko yang tidak bisa jauh-jauh dari amplop. Kedua orang Gina merasa bingung, kenapa Gina bisa sedekat itu dengan pria dewasa ini? Pria yang tampak berwibawa dan tampan ini.
"Gina, lepaskan tangan kamu darinya. Mari kita bicara nak!" ujar Tomi pada putrinya. Tomi sungguh merasa tidak nyaman melihat Gina menempel pada Adrian.
"Nggak mau Pah." tangan Gina malah semakin memeluk erat lengan kekar Adrian.
"Gin, nurut ya sama Papa kamu. Lepasin tangan Om, mari kita bicara." ucap Adrian lembut.
"Ya udah Om, Gina lepas ya." Gina melepaskan tangannya dari Adrian.
Kedua orang tua Gina terpana melihat Gina langsung menurut pada Adrian dibandingkan menurut pada Tomi. Secara, Adrian memang terkenal lembut, bahkan tidak pernah membentak Starla. Wajar saja bila Gina nyaman dan betah dengan si om ini. Sikap dewasanya bisa membuat Gina jatuh hati, klepek-klepek.
"Baiklah, kita langsung saja bicara pak. Bapak ini siapa?" tanya Tomi lebih dulu.
"Perkenalan, nama saya Adrian...saya adalah ayahnya Starla." kata Adrian memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Oh jadi anda yang selalu dibicarakan oleh Gina, ayahnya Starla toh." Rani tersenyum ramah. Rani sering mendengar cerita dari putrinya tentang ayah sahabatnya itu.
"Ekhem! Lalu apa tujuan anda datang kemari?" Tomi berdehem.
"Saya dengar anda akan menjodohkan putri anda dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Jadi saya langsung datang kemari." ungkap Adrian yang sontak saja membuat Gina kembali dibuat terkejut berkali-kali lipat. Kedatangan Adrian saja sudah menjadi surprise besar, dan kali ini tujuan Adrian datang kesana membuat Gina lebih lebih kaget lagi.
'Apa maksudnya Om Adrian bicara seperti itu?' tanya Gina dalam hati, dengan jantung yang berdebar-debar.
"Lalu, apa maksud anda bicara seperti ini?" tanya Tomi.
"Tolong batalkan perjodohan Gina," jawab Adrian dan membuat semua orang terkejut mendengar ucapannya. Apalagi Gina.
"Apa hak kamu bicara seperti ini? Batalkan perjodohan? Memangnya kamu siapanya putri saya?" hardik Tomi.
"Sebelumnya saya mohon maaf atas kedatangan saya yang mengganggu malam-malam seperti ini. Saya ingin menyampaikan pada bapak dan ibu, bahwa saya mencintai Gina."
"OH MY GOD!" teriak Gina tak percaya. Sedangkan kedua orang tua Gina masih terperangah dengan ucapan Adrian yang mengatakan bahwa pria itu mencintai Putri mereka.
"Saya ingin menikahi putri bapak dan ibu."
"ASTAGA DRAGON!" teriak Gina syok, tentunya hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan Adrian yang ingin melamarnya. Hidup ini sungguh kejutan. Astaga!
"NIKAH?" Gina langsung ambruk saat mendengarnya.
****
Sementara itu di kamar Starla dan Saka. Starla kembali terbangun jam 10 malam. Dia meringis merasakan perutnya sakit, pikir Starla dia hanya sakit perut ingin buang air besar saja. Lantas, Starla lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi, ia yakin ini bukan sakit perut biasa. Karena perutnya yang buncit itu tiba-tiba saja mengencang. Wajahnya berkeringat dingin.
__ADS_1
"Saka.. Saka...tolongin..." Starla memegang perutnya dan tubuhnya jatuh terduduk di atas lantai kamar mandi. Dia memanggil-manggil suaminya yang masih tertidur.
****