
...🍁🍁🍁...
Malam itu, di rumah sakit permata. Salah satu ruang rawat bernama bangsal Kenanga. Terlihat Saka sedang menemani seorang wanita dengan perut buncit dan wanita itu terbaring tidak sadarkan diri. Saka masih terisak dan menggenggam tangan istrinya.
Kejadian berapa saat yang lalu membuat Saka ketakutan dan syok. Hatinya, dunianya seakan menghilang saat melihat Starla kesakitan. Bahkan beberapa kali wanita itu menangis, memohon agar bayinya tidak apa-apa. Saka terus merutuki kebodohannya yang tidak tahu bahwa daging setengah matang bisa menyebabkan bahaya pada istri dan calon anak-anak mereka. Dia merasa bersalah, bisa-bisanya dia sebodoh ini.
Dokter mengatakan bahwa saat ini nyawa Starla dan anak-anak didalam kandungannya sudah tidak berada dalam bahaya. Hanya saja Starla harus dirawat untuk memulihkan kondisinya, karena ia masih berada pengawasan dokter. Tetap saja, apapun yang dikatakan dokter tidak bisa membuat Saka tenang.
"Saka, kamu pulang aja nak. Biar mama yang nginep disini jagain Starla." ucap Anggun yang baru saja kembali dari rumah, setelah mengambil pakaiannya dan pakaian Starla karena dia harus menginap di rumah sakit.
Saka menatap wajah pucat istrinya dengan cemas, terlihat beberapa buliran bening mengalir membasahi pipinya. "Nggak Ma, biar Saka aja disini yang nemenin Starla. Mama aja yang pulang." sahut Saka lemah.
"Tapi besok kamu harus ke kampus dan bekerja kan? Jadi biar Mama aja yang disini ya nak? Dokter kan udah bilang, kalau Starla sama calon cucu Mama sudah tidak berada dalam bahaya lagi." ucap Anggun lirih seraya menepuk bahu Saka. Dia berusaha membujuk Saka agar mau pulang ke rumah.
"Nggak Ma, aku mau nungguin Starla disini. Aku mau disini." Saka menolak untuk pergi dari sana. Mana bisa ia pergi sementara semua yang terjadi pada Starla dan bayinya adalah kesalahannya.
"Sayang, ini bukan salah kamu. Kamu kan nggak tau kalau daging setengah matang itu berbahaya. Jangan menyalahkan diri kamu, Saka." Lirih Anggun.
Saka menggelengkan kepalanya. "Nggak Ma, ini salah aku. Aku malas cuci dagingnya, jadi aku cuci dagingnya asal-asalan. Aku juga masak dagingnya nggak mateng dan aku hampir bunuh Starla sama anak-anak kami. Aku bukan suami dan ayah yang baik..." sesal Saka.
Anggun menangkup wajah putranya dengan kedua tangan, lantas ia pun mengusap air mata anak laki-lakinya itu. "Nak, ini bukan salah kamu. Udah ah jangan nangis, masa anak Mama nangis kayak gini sih? Nanti Starla sedih loh kalau dia lihat kamu nangis. Kamu udah jadi suami dan ayah yang baik nak, kamu bertanggungjawab dan tidak meninggalkan Starla. Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin untuk Starla dan anak-anak kalian!"
Anggun memberikan semangat kepada Saka, bahwa selama ini putranya sudah mencoba sebaik mungkin untuk menjadi seorang suami dan ayah yang baik untuk calon anaknya. Anggun malah merasa bangga karena di usia Saka yang masih muda, anaknya sudah mencoba menjadi dewasa dan berusaha demi menjadi kepala keluarga yang baik.
"Tapi Ma...Starla pasti marah sama aku Ma, dia pasti kecewa sama aku kan?" tanya Saka dengan suara bergetar.
"Nggak Nak, Starla nggak akan marah apalagi kecewa sama kamu. Dia nggak akan menyalahkan kamu, malah dia bakalan kesel karena kamu cengeng gini. So, jangan nangis lagi. Kamu ini mau jadi ayah loh, harus strong demi istri dan anak-anak kamu. Kalau kamu nangis, nanti kamu dikatain cengeng sama anak-anakmu. Kamu mau?" tutur Anggun seraya memberikan pelukan pada putranya. Saka sudah mulai tenang. Malam itu Anggun pulang bersama suaminya dan membiarkan Saka di rumah sakit, nanti subuh mereka akan menggantikan Saka menjaga Starla.
__ADS_1
"Maafin Daddy ya, twin star Daddy. Hampir saja daddy mencelakakan mommy dan kalian berdua. Maafin daddy ya sayang." ucap Saka seraya mengelus perut buncit Starla dengan penuh kasih sayang.
Saka bersumpah dalam hatinya, dia akan menjaga Starla dan twinsnya dengan hati-hati. Dia tidak akan membiarkan hal sepele seperti apapun dapat membahayakan istri dan anak-anaknya.
"Oh ya, aku harus hubungi Papa Adrian. Aku hampir lupa!" cetus Saka yang baru saja teringat untuk menelpon ayah mertuanya. Namun telpon ayah mertuanya tidak aktif. "Nomor Papa nggak aktif." decak Saka. Akhirnya ia pun mengirimkan pesan kepada ayah mertuanya, tentang Starla yang masuk ke rumah sakit.
Saka akhirnya ketiduran sambil menggenggam tangan Starla dan sambil menunggu Adrian membalas pesan-pesannya. Tanpa ia sadari Starla mulai membuka matanya saat dini hari.
"Aku dimana?" gumam Starla pelan, pandangannya mengitari setiap sudut ruangan yang didominasi oleh cat berwarna putih itu. Starla mencium bau khas rumah sakit, yaitu bau obat yang menyengat.
"Aku di rumah sakit." ucap Starla pelan. Ia merasakan ada tangan yang menggenggamnya. Lantas, Starla pun melihat ke arah Saka yang tertidur dengan kepala diatas ranjang, tubuhnya duduk diatas kursi, tangannya menggenggam erat tangan Starla.
Starla tersenyum sendu melihat suami berondongnya di sana. Namun beberapa detik kemudian, senyum Starla menghilang kala ia melihat basah di sudut mata pria itu.
"Saka nangis?" cicit Starla pelan.
Jarinya mengusap lembut perlahan basah di wajah suaminya itu. Melihat air mata itu, Starla yakin bahwa Saka sangat ketakutan dan mengkhawatirkannya, juga kedua anaknya tadi.
"Daddy, maaf...aku nggak bermaksud buat kamu bangun." sesal Starla.
Pria itu membuka matanya lebar-lebar, manakala ia mendengar suara Starla. Kini ia melihat Starla sudah duduk diatas ranjangnya.
"Kamu bobo aja lagi." ucap Starla lembut.
GREP!
Saka memeluk istrinya dengan lembut, diiringi dengan rasa lega di hatinya. Kemudian dia melepas pelukannya. "Syukurlah kamu sudah bangun, Star."
__ADS_1
"Perut kamu sakit nggak? Atau kamu merasakan yang lain? Bilang sama aku, sakitnya dimana sayang?" Saka langsung mencecar Starla dengan banyak pertanyaan. Iras calon papa muda itu terlihat mencemaskan Starla.
"Perutku nggak sakit lagi kok. Tapi, gimana kata dokter? Apa twins star baik-baik aja?" setelah menjawab, Starla kemudian bertanya.
"Aku hampir kehilangan kamu dan twins star kita. Maafin aku, Star...aku bukan ayah dan suami yang baik buat kamu. Aku bego banget, bego!" Saka kembali bahkan dirinya dan memukul-mukul kepalanya sendiri. Starla langsung memegang kedua tangan suaminya untuk diam.
"Kamu kenapa sih? Tenanglah! Aku juga nggak apa-apa kan?" ucap wanita itu seraya menenangkan suaminya.
"Tapi ini semua gara-gara aku, kalau aja aku tau kalau daging setengah matang itu nggak bagus buat ibu hamil. Kalau aja aku lebih teliti cuci dagingnya dan nggak sembarangan. Mungkin kamu dan twins star nggak akan kesakitan, kalian nggak akan masuk rumah sakit. Dokter bilang, kita hampir kehilangan salah satu bayi kita karena infeksi salmonella. "Kata Saka terisak.
Mau sedewasa apapun sikap Saka, tetap saja dia adalah anak laki-laki berusia 18 tahun. Kadang labil dan merasa takut seperti ini.
Starla akhirnya memahami kenapa dia bisa sampai sakit seperti tadi, oh jadi karena infeksi salmonella dan memakan daging yang tidak matang. Tapi Starla sungguh tidak mempermasalahkan itu, apalagi menyalahkan Saka. Toh, dia juga harusnya berhati-hati. Yang penting sekarang anak-anaknya tidak apa-apa.
"Stop! Kalau kamu nyalahin diri kamu sendiri, aku sama twins nggak mau bicara sama kamu. So, yang paling penting aku sama twins baik-baik aja kan?" Starla menatap wajah suaminya.
"Iya, tapi kamu masih harus diperiksa. Terutama twins." pria itu masih terlihat cemas.
"Iya aku tau, tapi sekarang aku udah baikan kan. Aku juga merasa twins baik-baik saja. Kita berdoa ya semoga semua baik-baik aja. Maaf ya Saka, maaf udah buat kamu khawatir." lirih Starla merasa bersalah.
"Nggak, aku yang harusnya minta maaf karena belum bisa jadi suami dan ayah yang baik buat twins." Saka menggenggam tangan Starla.
"No, jangan bilang gitu ah! Kamu udah ngelakuin segalanya buat aku, kamu terbaik Saka. And i love you."
"Love you too."
Pasangan suami istri itu pun berpelukan, Saka mencium kening sang istri dan dia berjanji untuk menjaga Starla dan anak-anaknya dengan lebih baik lagi.
__ADS_1
*****
Komen tembus 20, author double up ...sekian dan terimakasih 😅😘