
...🍀🍀🍀...
Tidak ada yang bisa mengubah keputusan Starla, kali ini wanita itu sudah bulat dengan apa yang sudah dia putuskan. Ia akan pulang ke rumah papanya bersama dengan twins.
Anggun dan Jeffry berusaha membujuk Starla untuk tinggal di rumah mereka lagi, dan mengurungkan niatnya untuk bercerai dari Saka. Tapi Starla tetap dengan keputusannya untuk pergi dari hidup Saka. Anggun tidak rela Saka berpisah dari Starla, yang artinya Anggun juga mungkin akan berpisah dari kedua cucunya.
"Ma, meskipun aku udah berpisah dengan Saka. Meskipun kita beda rumah, Mama sama Papa tenang saja, Mama sama Papa boleh kok ketemu sama Aluna dan Axelo. Starla sama twins ada di rumah Papa, kita nggak akan kemana-mana." ucap Starla pada kedua mertuanya itu tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka berdua. Starla menyayangi dan menghormati Jeffry dan Anggun, bagaimana ia menghormati orang tuanya sendiri.
"Sayang, Mama mohon jangan begini...hiks..." Anggun masih memegang tangan Starla bahkan sampai menangis, hingga membuat Starla tidak tega melihat ibu mertuanya menangis.
Jeffry menarik tangan Anggun, lalu dia berbisik pada istrinya. "Ma, sekarang kita biarkan saja dulu Starla dan twins pulang ke rumah pak besan. Lagian, mereka juga tidak pergi jauh kan? Lebih baik kita pulang sekarang, nggak baik memaksa Starla di kondisi seperti ini. Starla butuh sendiri."
Setelah bujukan dari suaminya, akhirnya Anggun berhenti menangis dan tidak memohon lagi kepada Starla untuk pulang ke rumahnya. Apa yang dikatakan oleh Jeffry benar, setelah semua yang dialami oleh menantunya. Pasti Starla, butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya. Dan siapa tahu, usai menenangkan pikiran, Starla akan mengurungkan niatnya untuk bercerai dengan Saka.
Dengan berat hati Anggun, Saka dan Jeffry harus membiarkan Starla dan juga kedua anaknya untuk pergi ke rumah Adrian dan Gina.
Namun, Saka dan kedua orang tuanya juga ikut mengantar kepulangan Starla ke rumahnya dengan mobil lain. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit, akhirnya Starla + twins dan keluarga Saka sampai di rumah Adrian.
Walaupun keadaan kedua keluarga masih kurang baik, akan tetapi Adrian dan Gina tetap bersikap sopan dengan mempersilahkan Saka dan juga kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
"Silahkan masuk, Pak, Bu." kata Adrian mempersilahkan dengan ramah.
"Iya pak Adrian." sahut Anggun sambil tersenyum.
Anggun, Saka dan Jeffry masuk ke dalam rumah Adrian, sekalian mereka ingin melihat kamar tidur si kembar dan juga dimana Starla tidur. Mereka harus memastikan Starla dan twins nyaman.
Meskipun, sebenarnya kedua orang tua Saka ingin tinggal bersama dengan menantu dan cucu-cucunya yang lucu.
"Aku siapkan minuman dulu ya Mas." pamit Gina kepada suaminya.
"Iya sayang." sahut Adrian sambil tersenyum. Jeffry dan Anggun melihat kemesraan keduanya, meskipun Adrian dan Gina berbeda usia cukup jauh. Akan tetapi mereka terlihat sangat lama setelah dan juga dekat. Tidak terlihat seperti ayah dan anak jika dilihat dari dekat seperti ini.
Selagi Gina mengambilkan air di dapur untuk semua orang, Starla pergi ke kamarnya bersama dengan Saka. Mereka membawa Aluna dan Axelo, juga barang-barang dari rumah sakit. Walaupun Starla masih dalam keadaan marah dan kecewa terhadap suaminya, dia tidak melarang Saka untuk menyentuh ataupun bertemu dengan anak-anak mereka.
Adrian, Jeffry dan Anggun mengobrol di ruang tengah. Sedangkan Saka, Starla sedang bersama bayi mereka didalam kamar.
__ADS_1
Axelo yang berada di dalam pelukan ayahnya, tiba-tiba saja menangis. Sehingga membuat Starla cemas dan wanita itu pun membaringkan Aluna di atas ranjang bayi yang sebelumnya sudah disiapkan oleh ibu sambungnya. Aluna sudah tertidur, berbeda dengan saudara kembarnya yang menangis.
Owa owa...
"Kenapa Axe? Mau mimi ya sayang?" tanya Starla seraya mengulurkan tangannya untuk menggendong baby Axelo. Saka pun serahkan bayi laki-lakinya kepada Starla untuk disusui.
Dengan penuh kasih sayang, Starla menyusui putranya. Bibir mungil Axelo juga tampak menikmati asupan kehidupannya dari sang mommy. Sambil menimangnya, Starla mengusap-usap lembut bokongnya.
"Anak mommy haus ya? Pelan-pelan sayang." kata Starla dengan senyuman tipis di bibirnya. Senyuman yang Saka rindukan, selama beberapa hari ini Saka tidak melihat senyuman Starla untuk dirinya. Hubungan antara ia dan Starla, tidak baik dan dingin. Mereka hanya berkomunikasi saat menyangkut anak kembar mereka. Itupun, kalau Saka yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.
Melihat dan merasakan betapa dinginnya sikap Starla saat ini, Saka sungguh-sungguh merasa menyesal karena sudah menyakiti hati wanita yang sudah mengandung anak-anaknya. Bahkan ia hampir membuat istri dan anaknya meninggal dunia di meja operasi.
Dia masih ingin bersama dengan Starla dan memperbaiki semuanya. Impiannya, memiliki keluarga bahagia dan anak kembar. Lalu apa gunanya semua mimpinya, apabila dia jadi bercerai dengan Starla. Maka, itu semuanya akan menjadi mimpi dan tidak akan pernah menjadi nyata. Saka tidak mau itu terjadi, karena dia mencintai Starla dan hal itu baru dia sadari saat Starla terbaring koma.
Setelah Aluna dan Axelo tidur di ranjang mereka masing-masing, kedua bayi itu tampak menggemaskan bahkan ketika tidur seperti ini. Keduanya, memang lebih banyak kemiripan dengan Saka daripada dengan ibunya yang sudah mengandungnya selama 7 bulan.
Barulah, Saka kembali bicara untuk memohon kepada istrinya. "Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya bahwa aku bisa berubah? Apa yang harus aku lakukan agar dapat kesempatan kedua dari kamu Star? Please! Aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Axelo dan Aluna. Kita adalah keluarga! Aku mohon...aku bisa memperbaiki semuanya!" mohon Saka pada wanita yang masih bersemayam dihatinya itu dan ibu dari kedua anaknya.
"Tidak ada yang bisa membuat gelas pecah kembali utuh, Saka. Meskipun kamu memperbaikinya berkali-kali, tetap terlihat bekasnya. Tidak akan bisa utuh seperti sebelumnya. Begitulah hubungan kita Saka..."
"Aku nggak bisa, mungkin jodoh kita emang sampai disini Saka." cetus Starla tegas. Dia tidak mau hatinya kembali terluka karena Saka, ia hanya ingin menjaga hatinya dari yang namanya rasa sakit. Sudah terlalu sering Starla memberikan banyak kesempatan untuk Saka. Namun setiap kali dia berjanji pria itu selalu mengingkarinya.
Kejadian malam itu, selalu terngiang-ngiang di kepala Starla bagaikan kaset yang diputar berulang-ulang. Dan parahnya, adegan itu sangat menyakitkan. Dimana suaminya sedang berciuman dengan wanita lain, perselingkuhan yang membuatnya dan bayinya hampir kehilangan nyawa. Starla mungkin bisa memaafkan kesalahan suaminya, namun tidak dengan melupakan semuanya. Bukan artinya Starla pendendam, tapi biasanya setiap wanita selalu mengingat setiap memori atau kenangan yang menyakitkan maupun kenangan indah di dalam pikirannya.
Biasanya yang membekas hanya kenangan yang menyakitkan dan Saka menyumbang paling banyak kenangan menyakitkan itu pada diri Starla.
Saka terdiam, hingga tiba-tiba saja ia menarik tengkuk Starla dan mencium bibirnya. Lidah Saka mengeksplorasi bagian dalam mulut Starla, saat wanita itu tanpa sengaja membuka bibirnya karena terkejut dengan tindakan Saka.
Lantas, Starla pun mendorong tubuh Saka agar menjauh darinya saat ia sadar bahwa ini salah.
"Kenapa kamu cium aku?" Starla marah dan menatap jijik suaminya, ia teringat bibir Saka yang berpagutan dengan bibir Elisa begitu mesranya di rumah Elisa saat itu.
"Aku nggak mau pisah Star, aku nggak mau. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu!"
"Kita tetap pisah Saka." ucap Starla tegas. "Dan lebih baik setelah ini kamu fokus sama kuliah kamu. Jangan sampai perceraian kita membuat kamu tidak fokus kuliah!" ujar Starla.
__ADS_1
Ego Saka sebagai seorang pria hancur didepan wanita ini, sepertinya apapun yang ia lakukan tidak akan membuat Starla mengubah keputusannya. Penyesalan Saka juga tidak ada gunanya. Saka hanya bisa menangis meratapi nasib saat ini.
"Aku mohon Star."
"Jangan cengeng, malu dong sama Aluna sama Axel. Kamu udah jadi Daddy, tapi masih cengeng." peringat Starla sambil tersenyum.
'Aku memang masih sayang sama kamu Saka, tapi aku sakit sama kamu. Aku nggak bisa bertahan' batin Starla.
Saka masih menangis diatas sofa kamar bayi itu, lalu Starla memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerahkan barang-barang pemberian Saka.
"Apa maksudnya ini Star?" tanya Saka saat melihat Starla menyerahkan gelang, gantungan dan juga cincin pernikahan kepada Saka.
Starla menghela nafas. "Aku kembalikan semuanya sama kamu Saka."
****
Sementara Adrian, Gina, Jeffry dan Anggun masih berada di ruang tengah. Mereka membicarakan masalah Starla dan Saka. Permintaan Starla untuk bercerai adalah topik masalahnya. Gina dan Adrian, sudah mengetahui secara garis besar bagaimana sifat Starla. Gadis itu adalah gadis yang penyayang, ketika dia sayang kepada seseorang maka dia akan sangat sayang. Tapi, begitu dia kecewa dan tidak suka kepada seseorang, maka akan sulit baginya untuk bersikap baik kepada orang itu.
Kini Starla sedang berada dalam tahap rasa kecewa dan marah yang tidak bisa terbendung lagi, sehingga kata perpisahan pun sudah terucap dari bibirnya. Walau sebenarnya Adrian, Gina dan kedua mertuanya sangat tahu bagaimana perasaan Starla kepada Saka. Starla mencintai Saka, terlepas bagaimana awalnya mereka menikah.
"Saya mohon pak Adrian, agar pak Adrian bisa membujuk Starla untuk tidak bercerai dengan anak saya. Saya yakin mereka saling mencintai. Ya...saya akui, anak saya memang bersalah pak.Tapi, apakah anak saya tidak bisa mendapatkan kesempatan kedua? Bagaimana pak?" tanya Anggun kepada besannya.
"Maafkan saya, sejak awal saya tidak pernah ikut campur dengan urusan ataupun keputusan anak saya. Sebagai orang tua saya hanya bisa mendukung. Kalau Starla maunya seperti itu, maka saya tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tapi, jujur saja saya sebagai orang tua...tidak setuju bila Starla berpisah begitu saja karena masih ada anak-anak di antara mereka." tutur Adrian bijaksana. Ia tau Starla marah, Adrian juga sama kecewa dan marahnya dengan Saka. Tapi selagi hubungan mereka masih bisa diperbaiki, Adrian pikir untuk diperbaiki saja. Namun, ini semua tergantung pada Starla dan Saka juga.
Ucapan Adrian, membuat Jeffry dan Anggun merasa bahwa mereka masih ada harapan untuk menyatukan kembali Starla dan Saka. Namun mendengar ucapan suaminya yang demikian, Gina tampaknya terlihat tidak senang.
Ketika mereka sedang berada di ruang tengah, terdengar suara bel rumah berbunyi.Gina segera berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Eh Galang? Ayo masuk Lang!" sambut Gina saat melihat siapa yang datang ke rumahnya.
****
Spoiler...
"Apa Lo gila? Lo mau mati Saka? Kalau Lo mau mati jangan disini! Jangan bikin repot gue!"
__ADS_1