
Bagaikan bak disambar petir di siang bolong, Adrian tidak menyangka bahwa Sofia dengan murahnya memilih menyerah dan tidak mau berjuang. Tidak, Adrian tidak bisa begini. Ia harus bertemu Sofia sekarang juga dan memperjelas semuanya. Kenapa Sofia dengan mudahnya menyerah?
Malam itu juga Adrian pergi ke rumah Sofia, namun Sofia tak ada di rumahnya dan penjaga mengatakan bahwa Sofia berada di rumah sakit. Akhirnya Adrian pun pergi menyusul Sofia ke rumah sakit. Dia melihat Sofia sedang menangis didepan ruang UGD, Adrian berjalan menghampirinya.
"Sofia..."
"Aku mohon jangan mendekat! Lebih baik aku kehilangan kamu daripada kehilangan anakku!" sentak Sofia dengan bulir air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Adrian tersinggung dengan kata-kata yang diucapkan oleh Sofia, dia tidak percaya bawa Sofia akan menyakitinya dengan kata-kata yang begitu pedas. Padahal, baru siang tadi hubungan mereka baik-baik saja, sekarang Sofia minta putus.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu bicara seperti ini?"
"Aku nggak bisa jalanin hubungan tanpa restu anakku, Mas. Jadi kita tidak bisa bersama lagi," ucap Sofia sambil terisak.
"Apa yang terjadi pada Bisma, Sofia? Apa yang--"
"Bisma kecelakaan dan ini semua karenaku! Aku nggak bisa jalanin hubungan sama kamu lagi Mas, maafin aku. Kita berakhir sampai disini." kata Sofia tegas.
Sekeras apapun Adrian berusaha bicara, Sofia tetap ingin memutuskan hubungan mereka. Adrian pun mengatakan pada Sofia, bahwa jangan sampai Sofia menyesali apa yang sudah dia ucapkan.
"Jangan menyesal dengan keputusan yang sudah kamu ambil Sofia. Kamu yang menginginkan hubungan kita berakhir. Dan aku harap, semoga Bisma bisa cepat sembuh. Terimakasih, atas kebahagiaan yang selama ini kamu berikan kepadaku Sofia. Meskipun kebersamaan kita, bisa terbilang singkat." kata Adrian sambil menahan rasa sesak di dadanya. Sungguh sakit, apa yang dilakukan Sofia.
Baru saja dia merasakan jatuh cinta lagi dan sekarang hatinya disakiti oleh Sofia, wanita yang membuatnya jatuh cinta untuk kedua kali. Kini hatinya kembali patah. Adrian pulang dengan keadaan patah hati.
__ADS_1
Disaat anak dan menantunya dengan hangat-hangatnya, Adrian malah sedang kedinginan karena tsunami yang menenggelamkannya.
Hingga dua Minggu berlalu, Adrian yang belum kembali berlayar. Terlihat galau setiap hari, bahkan Starla mulai cemas dengan keadaan ayahnya. Sofia juga pergi tanpa kabar. Starla kesal pada Bisma, pria itu begitu egois dan tega memisahkan papanya juga Sofia. Padahal Starla sendiri sudah yakin tidak akan pernah bisa bersama dengan Bisma lagi. Setelah semua yang terjadi diantara mereka, mana mungkin mereka kembali bersama. Terakhir yang Starla dengar, Bisma yang kecelakaan di operasi di luar negeri dan Sofia juga ikut kesana.
Hampir setiap hari Starla mengunjungi Papanya, karena sekarang Starla sudah kembali tinggal di rumah mertuanya bersama Saka. Ia membantu Saka belajar untuk ujiannya, agar Saka mendapatkan nilai bagus nantinya dan kuliah di universitas yang bagus juga.
"Pah, ini Starla bawain makanan buat Papa." ucap Starla sambil meletakkan bungkusan di atas meja. Starla sedih melihat papanya yang terpuruk karena putus cinta.
Adrian yang tidak pernah merokok, sekarang mulai merokok untuk melampiaskan rasa sedihnya. Namun keadaannya masih belum bisa dikatakan baik-baik saja.
"Iya sayang, makasih ya. Tapi kamu nggak perlu repot-repot begini nak. Kamu lagi hamil, mending kamu diem di rumah jangan bolak-balik." nasihat Adrian sembari mematikan rokoknya.
"Nggak apa-apa Pah, aku senang kok bisa nemuin papa di waktu senggang." kata Starla dengan senang hati. 'Kasihan Papa. Apa aku panggil Gina aja ya? Siapa tau dia bisa hibur Papa' pikir Starla dalam hatinya.
"Papa nggak apa-apa sayang, kamu nggak usah khawatir!" ujar Adrian yang melihat kekhawatiran di wajah putrinya.
Tak berselang lama kemudian, Gina pun sampai di rumah Adrian sambil membawa sesuatu ditangannya. Ya, Gina membawa makanan untuk Adrian dan Starla.
Saat itu hari sedang hujan, tubuh Gina basah karena tadi ia membeli makanan di pinggir jalan. Makanan kesukaan Adrian yaitu kue cucur, cemilan yang langka ditemukan zaman sekarang.
"Astaga Gina! Kenapa kamu bisa basah gini? Kamu naik mobil kan?" Adrian cemas melihat sahabat putrinya yang terlihat menggigil dan basah kuyup.
"Tadi Gina ngantri beli kue cucur, Om. Jadi kebasahan dikit deh, tapi om nggak usah khawatir. Gina nggak apa-apa, Om." gadis ini tersenyum ceria didepan si om yang memikat hatinya ini.
__ADS_1
"Kenapa kamu beli kue cucur segala? Ayo masuk dulu, om ambilkan handuk buat kamu." ajak Adrian.
Perhatian kecil ini, ternyata mampu membuat hati Gina berbunga-bunga. 'Hot Daddy perhatian banget sama aku. Oh tuhan semoga jantung ini masih aman' batin Gina senang.
"Kata Starla Om kan suka kue cucur, jadi aku belikan buat Om." jawab Gina sambil berjalan masuk ke dalam rumah bersama Adrian.
"Hem...harusnya kamu tidak melakukan itu Gina." Adrian pun pergi ke dapur lalu mengambil handuk yang ada di jemuran. Setelah menyerahkannya pada Gina, gadis itu mengusap usap rambutnya dengan handuk.
"Oh ya om, Starla dimana?"
"Dia ketiduran di kamar Om, katanya dia suka bau di kamar om. Ya sudah, kamu ganti baju sana. Pakai baju Starla yang ada di kamar Starla ya," ucap Adrian pada gadis itu.
"Iya Om."
'Sumpah, Mama Papa! Jantung ku berdebar, om Adrian ganteng dan perhatian banget. Apa si Sofia and the bear itu nggak nyesel ninggalin om Adrian yang sebaik ini? Bodoh banget dia' batin Gina heran karena Sofia meninggalkan Adrian yang menurutnya sempurna.
"Oh ya, kamu suka kopi, teh atau coklat panas?" tanya Adrian sebelum dia pergi ke dapur.
"Aku sukanya Om."
Sontak saja Adrian terbelalak saat mendengarnya. Apa telinganya tidak salah? Dia menatap Gina dengan tajam.
"Kamu bilang apa barusan, Gina?" tanya Adrian bingung.
__ADS_1
'Mampus! Ini mulut kenapa nggak bisa dijaga sih. Kenapa bisa keceplosan? Aduh dasar Gina!' batin Gina panik, dia gemetar saat Adrian menatapnya begitu. Jadi salah tingkah deh Gina.
****