
🍀🍀🍀
"Keadaan ibu dan bayinya sama-sama kritis, maka dari itu bayi harus segera dilahirkan. Ibu Starla harus segera di operasi. Tapi..."
"Tapi apa dok? Cepetan ngomongnya! Jangan kayak sinetron bersambung dok!" ujar Malvin tidak sabar.
"Tapi ada resiko besar pada operasi yang akan dilakukan pada Bu Starla. Dan saya harus bicara dengan keluarganya untuk meminta persetujuan."
"Saya suaminya dok." ucap Saka sambil berjalan maju ke depan dokter. Galang dan Malvin mendelik sinis saat mendengar Saka mengaku sebagai suaminya. Sumpah, wajah mereka sempat mau muntah. Walaupun mereka tidak suka saat Saka mengatakannya. Tapi Saka memang suami Starla dan itu fakta yang tak terbantahkan.
Dokter itu menatap tidak percaya pada Saka, sebab Saka masih terlihat masih muda dan dia sudah mau menjadi seorang ayah. Tapi melihat Starla juga masih muda.
"Dokter saya benar-benar suaminya! Apa perlu saya memperlihatkan buku nikah saya?" tanya Saka yang melihat raut wajah dokter saat ini.
"Saya percaya. Baiklah, dengarkan saya baik-baik Mas. Istri Mas harus melakukan operasi caesar terlebih dahulu untuk mengeluarkan bayinya karena ini keadaan darurat, harusnya 2 bulanan lagi istri Mas melahirkan. Akan tetapi operasi ini beresiko untuk istri dan juga anak-anak yang ada didalam kandungannya."
"Bisa nggak dok, katakan pada intinya langsung!" ujar Saka pada dokter yang menurutnya bertele-tele.
"Saya membutuhkan persetujuan Mas untuk melakukan operasi." ucap dokter.
"Dimana saya harus tandatangan? Asalkan istri dan anak-anak saya selamat...saya akan--"
"Operasi ini berisiko Mas. Saya tidak bisa menjamin keselamatan keduanya. Mas harus memilih yang mana yang harus saya prioritaskan! Istri atau anak-anak Mas." sela dokter itu yang membuat Saka tercengang mendengarnya. Begitu juga dengan Galang dan Malvin. Apa maksudnya Saka harus memilih diantara Starla atau anak-anaknya?
Saka terdiam lama, dia belum bisa memberikan jawaban apalagi menandatangani persetujuan operasi. Tubuhnya gemetar dan lidahnya kelu, dia tidak bisa bicara. Saka bingung, dia ingin memilih keduanya. Starla dan anak-anaknya sama-sama prioritas.
"Mas, kami tidak punya banyak waktu. Kami membutuhkan persetujuan dan pilihan Mas, ada nyawa yang menunggu untuk diselamatkan didalam sana! Maafkan saya yang sudah mendesak Mas." ucap dokter itu yang membuat Saka tidak diberikan waktu untuk berpikir panjang.
Dengan berlinang air mata dan penuh keyakinan. Saka memilih satu orang untuk diselamatkan. "Selamatkan istri saya dokter!"
Pilihan Saka jatuh pada Starla, meskipun ia merasa bersalah pada kedua anaknya yang tidak menjadi pilihan Saka. Galang dan Malvin terdiam, jika mereka jadi Saka, mereka pasti bingung juga akan memilih siapa. Starla dan anak-anak sama pentingnya.
Setelah menandatangani surat persetujuan operasi, Saka, Galang dan Malvin duduk didepan ruang operasi. Baju Saka dan Galang sama-sama terkena noda darah Starla.
Saka baru teringat untuk menghubungi mama dan papanya, tadi dia terlalu panik untuk melakukan apapun. Fokusnya hanya Starla dan twins.
Dengan tangan gemetar, Saka mengambil ponsel disaku bajunya. Pria itu terisak, kepalanya berdenyut sakit, begitu pula dengan wajahnya. Tapi Saka tidak peduli, semua itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang dialami Starla.
"Lo mau hubungin nyokap Lo? Nggak usah, gue udah hubungin Tante Anggun tadi. Dia dalam perjalanan kemari." ucap Malvin yang menghentikan Saka untuk menghubungi mamanya.
"Makasih Malvin, lo--"
"Stop ngomong sama gue! Gue benci Lo!" seru Malvin marah. Saka terdiam dan tidak berani membela diri, jangankan membela diri. Dia terlalu malu dan tidak sanggup bicara, karena kebodohannya ini, Saka mungkin akan kehilangan Starla. Mungkin benar apa kata Malvin dan Fero sebelumnya, Elisa tidak benar-benar menghilang dari hati Saka sehingga perselingkuhan ini terjadi.
Baik Galang, Saka maupun Malvin sama-sama terdiam dalam posisi saling membelakangi. Ketiga pria yang memiliki perasaan cinta pada Starla itu sama-sama tenggelam dalam perasaan gelisah dan sedih. Mereka berdoa agar operasi Starla berjalan lancar, ia dan bayinya baik-baik saja.
"Kalau sampai terjadi sesuatu sama Starla dan bayinya, gue nggak akan segan-segan bunuh Lo Saka!" sentak Galang dengan tatapan tajam pada Saka. Pria berusia 18 tahun itu terlihat
"Apa hak kamu berbicara seperti itu kepada anak saya?" tanya Anggun yang sudah ada dihadapan Saka, Galang dan Malvin yang tampak lesu di sana. Dibelakang Anggun juga ada Jeffry.
"Saya nanya kamu. Apa hak kamu berbicara seperti ini pada anak saya? Memangnya kamu siapanya menantu dan cucu-cucu saya?" tanya Anggun sinis kepada Galang, begitu pula tatapannya. Anggun belum tau kejadian yang sebenarnya karena belum ada yang memberitahunya.
"Saya memang tidak punya hak dalam status untuk bicara seperti ini kepada anak ibu. Tapi saya punya hak bicara seperti ini karena anak ibu sepertinya sudah kehilangan hak untuk menjadi suami dari Starla." jawab Galang dengan tatapan penuh amarah pada Saka.
Saka tersentak hatinya mendengar ucapan Galang, perih, sesak, tapi dia memang bersalah. Mungkin juga kehilangan haknya secara tidak resmi.
"Kamu ngomong apa sih?"
"Ibu tanya saja sama anak ibu, apa yang udah anak ibu lakukan kepada istrinya yang sedang hamil besar dan bertaruh nyawa didalam sana!" ujar Galang.
"Saka...apa yang kamu lakukan?" tanya Jeffry kepada putranya.
"Apa yang dikatakan anak ini?" tanya Anggun seraya memegang tangan Saka yang gemetar ketakutan.
"Maafin aku Ma...ini semua gara-gara aku. Starla sama twins kayak gini gara-gara aku. Hiks..hiks.." Saka menangis tersedu-sedu penuh sesal, sedangkan Anggun belum mengerti apa yang terjadi.
"Jelaskan sama Mama sayang, apa yang terjadi? Jangan nangis dulu, jelasin!" Anggun membelai wajah Saka dengan lembut, dia menatap Saka dengan bingung. Ia melihat kesedihan di mata putranya.
__ADS_1
"Aku selingkuh sama Elisa, Starla lihat aku ciuman sama Elisa...terus, aku nggak sengaja ngelepasin Starla dijalan saat aku maksa dia buat jelasin semuanya. Lalu Starla ketabrak motor..." kata Saka tergugu mengakui dosanya pada Anggun dan Jeffry.
"Apa kamu bilang? Saka, kamu bercanda kan nak?" Tentu saja Anggun tidak langsung percaya begitu saja dengan pengakuan anaknya.
Saka terus mengucapkan maaf, sambil menangis tergugu. Ini pertama kalinya Saka menangis seperti anak kecil dan penuh penyesalan. Dia memeluk ibunya untuk meminta perlindungan, namun Anggun mendorong putranya.
"Kamu nyakitin Starla anak Mama? Kamu selingkuh?!" teriak Anggun yang tampaknya terpukul dengan kenyataan ini. Sedangkan Galang dan Malvin tidak bersuara, mereka enggan menatap Saka dan hanya fokus pada lampu ruang operasi yang menyala. Dimana didalam sana Starla dan kedua anaknya sedang berjuang untuk hidupnya.
"Papa benar-benar kecewa sekali sama kamu Saka. DIMANA OTAK KAMU SAKA?" kali ini Jeffry yang mengatakan kekecewaannya pada Saka. Disisi lain Anggun menangis tersedu-sedu, dia melihat ke ruang operasi.
"Kalau sampai terjadi sesuatu sama Starla dan cucu-cucu Papa. Papa tidak akan mengakui kamu sebagai anak papa dan bagian dari keluarga Delano! Di keluarga kita, nggak ada sejarahnya yang selingkuh, nggak ada cowok pengecut!" sentak Jeffry emosi kepada putra satu-satunya. Dia tidak mengira bahwa dibalik Saka yang mau bertanggungjawab pada Starla di usia muda dan membuatnya bangga. Tapi apa sekarang? Jeffry seakan ditampar oleh kotoran ke wajahnya.
"I-ini...ini semua karena Elisa sakit, aku bermaksud buat nolong dia aja...hiks.. Aku nggak tau kalau aku bakal khilaf." ucap Saka mencoba menjelaskan. Berharap kedua orang tuanya mau mengerti dirinya, tapi tidak!
"Mama sangat kecewa sama kamu Saka. Alasan dan penjelasan apapun yang kamu katakan, tidak akan bisa membenarkan perselingkuhan! Dan kamu bilang Elisa sakit? Kamu percaya sama dia? Mama rasa dia sudah menipu kamu." kata Anggun penuh rasa kekecewaan.
"Benar Saka, Elisa itu nggak sakit kanker otak! Dia cuma pura-pura!" suara seorang wanita membuat semua orang yang berada diluar ruang operasi, sontak menoleh ke arah suara itu. Terlihat ada Angel, Lita dan Fero di sana. Dan yang barusan berbicara adalah Angel.
"Saka, gue sama Lita minta maaf sama Lo karena baru ngomong sekarang tentang kebenaran ini karena Elisa yang nyuruh kita tutup mulut." ucap Angel seraya mendekati Saka.
"Apa maksud Lo?" tanya Saka seraya menatap kepada dua gadis itu.
"Sebenarnya Elisa nggak sakit, waktu dia di rumah sakit...dia tuh sakit demam berdarah. Gue nggak nyangka kalau kebohongan dia sampe buat orang celaka kayak gini. Maaf Saka." kata Lita menjelaskan. Angel dan Lita menyesal baru memberitahukan kebusukan Elisa sekarang, walaupun mereka teman baik. Tapi tidak seharusnya mereka membiarkan sifat jahat Elisa.
"Dia bahkan udah tau sebelumnya, kalau Lo udah nikah sama kak Starla dan akan punya anak. Kita udah coba ngingetin dia...tapi..." Angel menangis. Ia turut merasa bersalah setelah mendengar dari Fero kalau Starla dan Saka berada dalam masalah besar.
Saka kehilangan kata-kata, lalu ia pun membenturkan kepalanya ke tembok sampai keningnya berdarah. "SAKA!" semua orang terkejut melihat Saka seperti itu.
Fero dan Anggun mencoba menghentikannya, agar Saka tidak melukai dirinya lebih dalam lagi. "Saka hentikan nak!" walaupun Anggun kecewa dan marah pada anaknya, tapi dia juga tidak tega melihat anaknya seperti ini.
"Biarin aja aku Ma! Aku bodoh, aku salah, aku udah buat Starla dan twins seperti ini. Ini nggak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh Starla sekarang. Aku udah nyakitin Starla dan anak-anakku...aku menyakiti mereka..." sesal seorang Saka tentang semua yang ia lakukan. Dari mulai berbohong, hingga sampai melakukan kontak fisik yang intim dengan Elisa. Saka tidak hanya menyalahkan Elisa saja, karena dia tahu di sini dialah yang paling bersalah.
Sayang sekali, apa yang dilakukan Saka tidak membuat Galang, Jeffry dan Malvin iba. Mereka terlihat menjadi orang yang paling emosi saat ini.
Tak lama kemudian, Riko yang sudah menyelesaikan urusan di kantor polisi itu juga datang ke rumah sakit. Dimana banyak orang menunggu Starla di sana.
'Apa yang akan dikatakan pak Adrian kalau dia tau tentang semua ini? Ya tuhan' batin Anggun bingung.
****
Sementara itu, diwaktu yang sama namun ditempat lain. Gina dan Adrian sedang memadu kasih disebuah kamar hotel. Ternyata mereka masih belum pergi ke Australia, karena keberangkatan Adrian ditunda. Jadi, mereka masih menginap di salah satu hotel dekat dermaga.
Tak hentinya Adrian memberikan kenikmatan kepada istri kecilnya, hingga Gina selalu minta lagi dan lagi. Gina mengakui bahwa Popeyenya ini sangat perkasa, awalnya ia merasa sakit, tapi sekarang dia merasa nikmat dan kelojotan tak karuan dibuat suaminya.
"Please Mas, give me more! Harder, aku sampai!!" lolong Gina yang merasa akan sampai di puncak. Tubuhnya menggelinjang naik turun diatas ranjang itu.
"Bersama sayang." ucap Adrian seraya menyambar bibir Gina dan menaikkan kecepatan hujamannya itu. Hingga beberapa saat kemudian, mereka sama-sama mencapai puncaknya.
Adrian merebahkan tubuh disamping istrinya dalam keadaan berkeringat dan tanpa sehelai benang. Menikmati sisa-sisa klimakks mereka.
"Mas Popeye luar biasa," ucap Gina dengan suara mendes*h sambil mencium hidung Adrian yang mancung.
"Oliveku juga luar biasa. Terimakasih sayang, i love you." lirih Adrian yang lalu membalas kecupan hidung itu dengan gigitan gemas dibibir Gina. Adrian merasa puas bisa menikmati kelegitan tubuh Gina. Pria itu bersyukur bisa mendapatkan Gina sebagai istrinya. Gina juga, mau-maunya ia bersama Adrian yang usianya hampir setengah umurnya.
"Hehe...aku nggak sabar ingin segera mengandung anak kita, Mas Popeye." kata Gina seraya meraba-raba wajah tampan suaminya dengan gemas.
"Aku juga, sayang." balas Adrian sambil tersenyum. Lantas pria itu pun mengambil posisi duduk diatas ranjang, sedangkan Gina masih dalam posisi berbaring.
Tiba-tiba saja Adrian memegang dadanya dan meringis. "Arggh..."
Sontak saja Gina bangkit untuk duduk dan mendekati suaminya dengan cemas. "Mas, mas kenapa?" tanya Gina sambil memegang tangan suaminya.
"Apa mas kecapean gara-gara aku minta terus ya? Maafin aku Mas!"
"Nggak sayang, ini bukan karena kamu. Mas tiba-tiba keingetan Starla, tapi rasanya sesak banget di dada. Nggak jelas..." gumam Adrian gelisah. Tiba-tiba dia teringat putrinya dan merasakan sesak.
"Kalau kamu khawatir, ayo kita telpon Starla sekarang ya Mas." ucap Gina menyarankan.
__ADS_1
"Iya sayang." sahut Adrian yang lalu memakai celananya. Dia masih gelisah, Gina lalu turun dan memakai pakaiannya dan mengambilkan segelas air untuk Adrian.
'Perasaanku nggak enak' batin Adrian.
Setelah meneguk air minum itu, Adrian langsung meminta Gina mengambilkan ponselnya. Dengan senang hati Gina mengambilkannya.
"Ponsel Starla nggak aktif, Gin." ucap Adrian setelah menelpon Starla.
"Coba telpon Saka, Mas." saran Gina.
"Iya, aku telpon Saka aja." kata Adrian yang langsung menelpon ke nomor Saka. Terdengar bunyi dering, namun panggilan itu tidak kunjung diangkat. Adrian semakin gelisah, perasaannya tidak enak.
"Gak diangkat juga." ucap Adrian seraya menghela nafas berat.
"Mas tenang ya, mungkin Starla sama Saka lagi tidur. Mereka pasti baik-baik saja Mas." kata Gina yang mencoba untuk menenangkan Adrian.
"Tapi sayang--"
Dreeett...
Suara ponsel Gina yang berdering menginterupsi percakapan Gina dan Adrian.
"Siapa yang menelpon kamu malam-malam begini sayang?" tanya Adrian curiga.
"Galang, Mas." jawab Gina sambil menunjukkan nama yang tertera di ponselnya.
"Angkat aja, loudspeak jangan lupa." titah Adrian. Gina menganggukkan kepalanya, lalu ia pun mengangkat panggilan dari Galang.
"Halo Galang."
"Halo Gin, maaf gue ganggu Lo malam-malam. Gue cuma mau kasih tau kalau..." terdengar suara Galang yang terisak diseberang sana. Membuat Gina dan Adrian saling pandang.
"Kalau apa Lang? Lo baik-baik aja kan?" tanya Gina.
"Tolong sampaikan sama om Adrian, karena gue nggak sanggup bicara langsung sama dia." suara Galang terdengar serak.
Deg!
Adrian dan Gina semakin tidak karuan mendengar ucapan Galang.
"Sampaikan apa Lang? Bicara yang jelas."
"Starla...dia...dia kecelakaan dan masuk rumah sakit, sekarang Starla lagi di operasi."
Mata Adrian terbuka lebar saat mendengarnya, lalu dia ikut bicara pada Galang. "Starla ada di rumah sakit mana Lang?" tanya Adrian dengan suara meninggi.
"Rumah sakit harapan bunda, Om."
Setelah telpon terputus, Adrian dan Gina buru-buru pergi meninggalkan hotel. Mereka akan ke rumah sakit tempat Starla berada. Adrian dan Gina panik, mereka sangat mencemaskan Starla.
****
Di rumah sakit, ruang operasi. Terdengar suara tangisan bayi dari dalam sana. Mereka yang berada diluar merasa lega karena dirasa semuanya baik-baik saja.
Hingga dokter membawa dua bayi Starla keluar dari sana. Bayi perempuan dan bayi laki-laki yang lucu, selamat dan sehat.
"Cucu-cucuku..." Anggun menggendong cucu perempuannya, ia tersenyum melihat bayi mungil itu. Sedangkan Jeffry menggendong cucu laki-lakinya.
"Lucunya cucu cucuku! Yang perempuan ini mirip Starla."
"Yang laki-laki mirip Saka banget."
Ditengah rasa bahagia itu, mereka belum benar-benar bisa bernafas lega karena Starla.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Saka kepada dokter. Dokter itu berwajah muram, entah apa yang akan dia katakan tentang Starla.
...****...
__ADS_1