
****
Setengah jam sebelumnya, Saka memang sudah on the way dari rumah Malvin menuju ke rumah Gina yang disebutkan alamatnya oleh Starla. Dia akan menemui Starla di sana dan menjemputnya. Dia benar-benar tidak suka bila istrinya sampai diantar pulang oleh pria lain.
Namun ditengah perjalanan, ia melihat Elisa dipinggir jalan sedang berjalan dengan gontai menuju ke area kompleksnya. Tentu saja Saka tidak tega melihat Elisa seperti itu. Meskipun Elisa adalah mantan pacarnya, dia tidak bisa mengabaikan gadis itu seperti orang asing kan? Terlebih lagi Elisa terlihat sakit, hati nurani Saka tidak membiarkan Elisa begitu saja.
Ternyata area kompleks tempat tinggal Gina tak jauh dengan kompleks tempat Elisa tinggal.
Lantas, Saka lalu memberhentikan motornya didepan Elisa. Dia pun turun dari motornya dan melepas helmnya.
"El..."
"Saka?" tanya Elisa dengan sorot mata sendu dan wajahnya tampak pucat.
"Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Saka khawatir, bukan khawatir karena masih gamon tapi sebagai teman.
"Nggak apa-apa kok kak, cuma..." tiba-tiba saja Elisa terhuyung dan tubuhnya menabrak dada Saka. Mereka terlihat seperti berpelukan kalau dilihat dari jauh. Sentuhan Elisa, sontak saja membuat Saka grogi dan salah tingkah. Dia pun mendorong wanita itu dengan pelan.
"El, kamu nggak apa-apa kan?"
"Aku nggak apa-apa, cuma..." Elisa meringis seraya memegang kepalanya. Hingga Saka semakin cemas melihatnya, ia pun bergerak memegang tangan Elisa.
"Kamu yakin nggak apa-apa?" tanya Saka lagi.
"Sebenernya aku pusing. Saka, bisa nggak anterin aku ke dokter? Aku nggak kuat..." pinta Elisa pada pria itu. Saka pun tidak bisa menolak, ia meminta Elisa untuk naik ke motornya. Tak lupa ia memakaikan helm ke kepala Elisa, sungguh keadaan Elisa saat ini membuat Saka serba salah dan tak bisa menolak. Sampai Saka melupakan Starla yang masih menunggu pria itu menjemputnya. Dia mengantar Elisa ke rumah sakit bahkan menemaninya untuk diperiksa. Padahal dia bisa meminta orang lain melakukannya, Elisa kan punya keluarga. Tapi Saka tidak bisa berpikir panjang, rasa pedulinya masih besar terhadap Elisa.
****
Setelah melihat Saka bersama dengan wanita lain dan tampak begitu mesra. Apalagi Elisa memeluk tubuh Saka, bahkan memakai helm bergambar bintang yang selalu Starla pakai. Hati Starla tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi. Meskipun tak ada cinta, tapi seharusnya mereka saling menghargai.
'Mana yang katanya mau menghargai? Mana katanya yang mau mencoba hubungan baru? Semuanya bullshitt!' maki Starla pada Saka didalam hatinya.
Sakit, Tuhan...
Starla tidak pernah merasakan sesakit ini, bahkan saat berhubungan dengan Bisma. Tidak pernah ada orang ketiga yang bisa mendekati Bisma, karena Bisma selalu bersikap tegas pada wanita-wanita yang mendekatinya. Tapi Saka, pria ini bahkan membiarkan gadis lain masih mendekat padanya. Terlebih lagi itu mantan kekasihnya, gimana hati Starla tidak panas?
Gina juga terus memaki Saka, ia menyebut Saka sebagai suami tukang selingkuh. Ia menyumpahi Saka yang bakal kena azab karena berselingkuh disaat istrinya sedang hamil. Benar-benar si Saka! Bahkan Gina menyebut kelakuannya lebih parah dari Vita yang teman makan teman. Ah mungkin mereka sama saja.
Soal Vita, ya mereka dan Starla sudah tau bahwa Vita suka pada Bisma. Starla tidak bisa melupakan pengkhianatan Vita, apalagi membuatnya sampai hamil dan menikah muda. Starla muak dan tidak mau memaafkan Vita. Tapi...semua sudah berlalu dan Starla tidak menyesal sudah mengandung bayi ini. Semua sudah takdir Tuhan.
Bukan hanya Gina yang marah, tapi Galang juga. Ia turut merasakan kekesalan yang dirasakan oleh Starla. Apalagi melihat wanita itu mau menangis, hati Galang tak tega. Ingin rasanya Galang memukul pria yang sudah membuat Starla bersedih.
"Lang," panggil Starla tanpa menoleh ke arah Galang. Kepalanya menunduk lesu.
"Iya Star?"
"Bisa anterin gue pulang nggak?" tanya Starla seraya memohon pada Galang.
"Iya ayo, gue anter." mendengar suara lirih Starla yang akan menangis itu, seketika membuat Galang sedih. Jika itu dia, yang memiliki Starla. Ia tidak akan membiarkan Starla bersedih dan dia akan sangat menyayangi Starla.
__ADS_1
"Lang, gue titip Starla. Anterin dia sampe rumah ya! Jangan lupa kabarin gue kalau udah sampe. And...jangan lupa hati-hati bawa motornya, Lo bawa dua nyawa." Kata Gina pada Galang.
"Oke." sahut Galang yang kemudian memakaikan helm ke kepala Starla dengan hati-hati.
Lalu mereka pun pergi meninggalkan rumah Gina. Galang mengendarai motornya dengan hati-hati, ia tidak akan membiarkan Starla kenapa-kenapa.
"Sorry Star, gue nggak mau Lo jatuh. Pegangan aja ke jaket gue, kalau Lo nggak mau meluk." ucap Galang lembut.
"Iya Lang, makasih." Starla menurut dan berpegangan pada jaket yang dipakai Galang. Pernah terbesit didalam hati, kenapa Saka tidak selembut sahabat-sahabatnya, contoh Galang.
"Kita mau kemana Star? Eh iya...ke rumah mertua Lo ya?" kata Galang.
"Kita pulang ke rumah gue aja, gue mau nginep di rumah Papa." pinta Starla yang membuat Galang terperangah saat menjalankan motor maticnya.
"Lo serius?"
"Iya, gue mau pulang ke rumah papa dulu." jawab Starla yakin. Starla merasa ia harus menenangkan diri terlebih dahulu di rumahnya, toh sudah lama juga dia tidak kesana.
Tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka, Galang fokus mengemudi menuju ke rumah Adrian.
***
Ditempat lain, sore itu Bisma berjalan keluar dari restoran bersama dengan Sofia. Dia merasa nyaman setelah berbincang dengan ibu kandungnya itu. Rasanya berbeda saat ia bersama Tiara, istri dari papanya.
"Aku senang karena mama adalah mama kandungku. Tak heran selama ini kasih sayang mama Tiara padaku dan Daniel sangat berbeda, rupanya aku hanya anak tirinya." kata Bisma pada ibunya.
Setelah mendengar cerita dari Sofia dan juga supir yang bekerja di rumah papanya, dulu Sofia diusir setelah melahirkan Bisma. Dan papanya menikah lagi dengan Tiara. Sofia juga diancam oleh papanya Rama untuk tidak mendekati Rama maupun Bisma lagi. Tidak heran, Sofia tidak pernah datang menemui Bisma. Kini ia datang membawa kesuksesan, bahkan lebih kaya dari Rama mantan suaminya. Sehingga Rama memiliki rasa sesal dihatinya, karena menceraikan Sofia saat wanita itu belum punya apa-apa.
"Iya Ma, aku pasti akan datang ke rumah Mama nanti." Bisma memeluk mamanya dengan lembut, Sofia balas memeluknya.
"Oh ya, apa Mama sudah menikah lagi? Atau mungkin aku punya saudara tiri?" tanya Bisma penasaran.
"Tidak nak, selama ini Mama hidup sendiri. Mama sibuk dengan bisnis mama."
"Oh begitu. Apa Mama sekarang punya pacar?" tanya Bisma.
"Hem...nak, usia mama ini susah tidak cocok untuk berpacaran. Tapi jika kamu tanya Mama soal calon pasangan hidup, Mama sudah ada!" ungkap Sofia jujur, ia memikirkan Adrian saat ini. Mereka kembali bertemu kemarin di sebuah cafe dan memutuskan menjalin hubungan lebih jauh.
"Woah! Bagus dong Ma, jadi ada yang bisa nemenin Mama." Bisma terlihat senang mendengarnya.
"Tapi Bisma, apa kamu nggak masalah kalau kamu punya Papa tiri?" tanya Sofia yang ingin tau reaksi anaknya.
"Nggak dong! Selama Mama bahagia dan orang itu bisa menjaga Mama,kenapa aku harus merasa masalah? Aku malah senang!"' cetus Bisma senang.
Sofia tersenyum setelah mendengar jawaban dari putranya. Ia menyesal kenapa ia melewatkan pertumbuhan putranya dan hanya bisa melihat dari jauh, lewat supir yang ada di rumah Rama. Tapi dia bersyukur karena Bisma tumbuh menjadi anak yang baik, meski diurus oleh Tiara.
"Syukurlah kalau kamu setuju," ucap Sofia sambil tersenyum.
"Nanti ajak aku ketemu sama Papa baruku ya Ma," kata Bisma pada ibunya itu. Mungkin setelah ini dia akan memutuskan tinggal bersama dengan ibu kandungnya. Daripada terus dipaksa oleh Tiara dan juga papanya, untuk bertunangan dengan Vita.
__ADS_1
Sofia yang membawa mobil sendiri, menolak untuk diantarkan oleh Bisma. Mereka pun pergi ke tempat masing-masing dengan arah yang berbeda. Didalam perjalanan pulang, Bisma melihat seorang wanita yang dikenalnya berada dipinggir jalan bersama motor matic dan pria yang dikenalnya juga.
"Starla?"
Bisma langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan, ia keluar dari mobil dan menghampiri Starla juga Galang yang ada di sana.
"Starla, Galang? Kalian kenapa ada disini?" tanya Bisma seraya melihat kedua orang itu.
"Kak Bisma?" Starla yang bicara.
"Kenapa Lang? Motornya mogok ya?" tanya Bisma yang melihat Galang sibuk memperbaiki motornya.
"Iya kak. Kakak bisa nggak anter Starla pulang? Kasihan dia kalau nunggu taksi lama, katanya dia pusing." ucap Galang yang sebenarnya terpaksa membiarkan Starla pergi dengan Bisma. Tadi Starla mengeluh pusing, motor Galang juga tiba-tiba mogok. Dan taksi tak kunjung tiba.
"Nggak usah! Aku bisa nunggu taksi," ucap Starla menolak seraya memalingkan wajahnya dari Bisma yang terus memandanginya.
"Star, udah...ikut dia aja. Gue nggak mau Lo kenapa-napa. Demi bayi Lo," ucap Galang pada Starla dengan cemas. Dia juga terpaksa meminta bantuan Bisma. Kalau saja motornya tidak mogok dan dia egois, dia tidak akan menyuruh Starla pergi dengan Bisma.
"Tapi...uwekk..."
Starla tiba-tiba saja muntah, dengan cepat Bisma memegang tangannya. Galang juga terlihat cemas. "Kak, gue minta tolong!" ujar Galang memohon pada Bisma.
"Tanpa kamu minta tolong pun, saya akan membantu Starla." tegas pria itu.
"Kalian itu kenapa sih? Aku kan udah bilang aku nggak mau," ucap Starla pada kedua pria yang mengambil keputusan sendiri dan pada akhirnya Starla naik ke mobil Bisma karena dia ingin cepat sampai ke rumah. Mualnya tidak terkendali.
Didalam mobil, Starla tidak bicara apapun. Dia hanya ingin cepat sampai ke rumah. Pertanyaan kepo Bisma pun dia abaikan. Sungguh, Starla tidak nyaman dengan semua ini.
"Star, aku pengen tau suami kamu. Please kasih tau aku?" pinta Bisma.
"Kak, buat apa sih kakak tau itu? Aku rasa
nggak perlu kakak tau!" sentak Starla kesal karena seringnya Bisma bertanya.
"Star...aku cuma ingin tau siapa suami kamu.Jujur aku nggak tenang, aku takut suami kamu nggak baik." kata Bisma cemas.
"Siapapun suami aku, itu nggak ada hubungannya apa-apa sama kamu, kak."
"Tapi Star..."
"Udah sampai! Berhenti didepan." kata Starla ketus. Hingga membuat Bisma merasa sakit hati dengan sikapnya. Namun pantaskah dia sakit hati? Sedangkan ia sendiri yang dulu melukai Starla?
Setelah Bisma memberhentikan mobilnya didepan rumah Starla. Wanita itu langsung keluar dari mobil lebih dulu. Bisma menyusulnya. "Star..."
"Makasih udah nganter aku!" setelah mengatakannya, Starla langsung pergi dari sana. Bisma melihatnya dengan sendu, ia ingin membalikkan waktu bila bisa. Kalau saja dia tidak marah saat itu, ia rela menjadi ayah dari bayi Starla.
"Sebenernya siapa suami kamu Star? Apa dia sudah tua dan beristri?" tanya Bisma gelisah. Ia tidak tahu siapa suami Starla.
****
__ADS_1