
Pernyataan cinta Saka disaat Starla berpura-pura tidur berhasil membuat tidur wanita itu terganggu. Meskipun ia berpura-pura tidak tahu, tapi tetap saja ia sudah tau semuanya. Benarkah Saka menyukainya? Sebab ia juga mulai menyukai Saka, meskipun bisa dikatakan Saka masih bocil. Namun, bukankah cinta itu tak mengenal batasan usia? Cinta itu sendiri tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta, kepada siapa hati kita akan berlabuh.
Pagi itu Starla terbangun lebih awal, lebih tepatnya dia hanya tidur dua jam karena bisikan cinta Saka padanya membuat Starla terusik.
Saat terbangun dari tidurnya, Starla bukannya fresh tapi dia malah merasa sakit kepala. Pusing dan masih ngantuk. Namun dia terpaksa bangun karena ada jadwal PPL upacara bendera dan dia akan menjadi pembina. Ini adalah hari Senin, Starla hampir lupa.
"Kamu udah bangun? Kenapa kamu pegang kepala gitu, Star?" tanya Saka yang ternyata sudah bangun lebih dulu dan sekarang ia duduk diatas ranjang. Dan sudah memakai seragam lengkap.
"Aku nggak apa-apa," jawab Starla sambil menggeser selimutnya dari tubuh. 'Gara-gara mikirin ucapan kamu, aku jadi kayak gini Saka'
"Serius? Kamu kelihatan nggak baik Star." Cowok itu menatap istrinya dengan cemas.
"Aku nggak apa-apa. Maaf aku nggak sempet siapin pakaian dan sarapan buat kamu," ucap Starla meminta maaf. Meski Starla masih marah pada Saka, namun dia tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri kepada suaminya.
"Nggak apa-apa. Aku paham kok. Btw kamu nggak apa-apa? Kantung mata kamu punya kantung mata!" ujar
"Ck, kayak Spongebob aja deh." Starla berdecak kemudian tersenyum.
"Hehe, tapi tetap cantik kok. Alami, natural tanpa make up. Kan biasanya cewek lain tuh ribet, tapi kamu enggak. Semoga little star nanti kayak kamu, orangnya simple gak ribet!" celetuk Saka sambil terkekeh.
"Cewek lain tuh siapa?" tanya Starla dengan raut wajah yang muram.
Saka sudah tau pasti ujung-ujungnya Starla akan membawa-bawa nama Elisa. Pria itu pun memutuskan untuk menyudahinya saja. "Star, jangan mulai deh. Mending kamu mandi dulu kalau mau ke sekolah, aku siapin sarapan dulu!"
"Oke, emang nggak enak sih bahas mantan pacar sama istri." sindir Starla halus. Sontak saja Saka mendelik sinis pada istrinya. Dia ingin berbaikan, tapi Starla terus mengungkit-ungkit. Benar kata Fero, cewek kalau marah itu nggak beres sehari dan kadang selalu ngungkit masalah yang lalu.
"Ck...kayak kamu nggak punya mantan aja. Awas saja kalau sampai aku tau mantan kamu." cowok itu berdecak.
"Aku mau mandi." Starla menyudahi pembicaraan itu dengan pergi ke kamar mandi. Dia tidak mau Saka membahas masa lalunya, apalagi yang berkaitan dengan mantannya.
"Nah kan, dia juga nggak mau bahas mantannya. Siapa sih mantannya? Apa aku tanya Papa Adrian aja ya?" gumam Saka berpikir. Ia ingin tau seperti apa mantan kekasih Starla yang hampir menikah dengannya itu.
Akhirnya Saka pun keluar dari kamar selagi menunggu Starla bersiap-siap. Dia membantu papa mertuanya menyiapkan sarapan, sambil mengajaknya bicara tentang mantan Starla.
"Maafin papa ya Saka, papa nggak tau kalau Starla akan telat bangun. Dia biasanya nggak pernah bangun siang, bahkan selalu menyiapkan sarapan buat Papa." jelas Adrian sambil menyimpan segelas susu diatas meja makan, susu ibu hamil untuk Starla dan kemarin Adrian membelinya di supermarket.
"Nggak apa-apa Pa, Saka tau kok. Di rumah, Starla juga suka bangun pagi dan nyiapin sarapan." ucap Saka sambil tersenyum. Ia senang karena punya mertua yang baik, seperti ini. Walaupun pada awalnya Adrian sangat galak padanya.
"Oh ya Pa, maaf nih... sebelumnya aku mau tanya sesuatu sama Papa." Adrian mendongak dan melihat ke arah Saka. Raut wajah pria itu terlihat serius.
"Ya?"
"Pa, aku mau tanya tentang mantan pacar Starla. Aku tau ini nggak baik buat tanya soal masa lalu, tapi aku cuma pengen tahu aja Pa. Starla istri aku, tentu saja aku harus tau tentangnya kan?" tanya Saka dengan lembut.
Adrian menghela nafas panjang, kemudian dia tersenyum dan duduk di kursi meja makan. Ia mengajak Saka untuk duduk juga dan Saka menurut untuk duduk disampingnya.
"Asal kamu tau, anak Papa itu orangnya setia dan tidak mudah jatuh cinta. Dia cuma punya satu mantan dan hanya cowok itu yang pertama diajak Starla ke rumah."
Kata-kata Adrian tentang mantan pacar Starla ini, membuat Saka berdebar. Pasalnya ia baru tau kalau mantan Starla cuma satu. Saka tidak nyaman juga dengan pembicaraan ini, karena sepertinya pria itu adalah cinta pertama Starla.
"Saat dia mengenalkan cowok itu ke rumah,cowok itu langsung melamar Starla dan mengajaknya bertunangan."
"Tunangan?" Saka syok. 'Jadi benar kata kak Gina, mereka hampir nikah' kata Saka dalam hati.
"Siapa cowok itu Pa?" tanya Saka penasaran.
"Jika Starla belum memberitahu kamu, maka Papa juga nggak bisa bilang. Mungkin dia nggak bilang-bilang sama kamu, karena nggak mau mengungkit masa lalu. Hanya itu yang bisa Papa katakan!" kata Adrian sambil tersenyum, namun Saka masih terlihat penasaran.
"Apapun yang terjadi dengan masa lalu kalian, lebih baik kalian fokus pada masa depan. Jangan pikirkan yang lalu, yang lalu biarlah berlalu dan hanya menjadi pengalaman, juga kenangan saja." kata Adrian menasehati Saka, seraya menepuk bahunya. Adrian tau, tak mudah menikah muda dan semoga saja pernikahan Saka Starla berumur panjang. Saka tidak bertanya lebih lanjut, ia memilih diam dengan banyak pikiran.
__ADS_1
Setelah selesai mandi dan berganti baju, Starla bergabung bersama Papa dan suaminya di meja makan. Aneh bin ajaib, Starla melihat Saka yang tidak banyak bicara selama sarapan pagi.
Mereka pun berangkat setelah sarapan, Saka dengan motornya dan Adrian yang mengantar Starla dengan mobil. Itu semua atas permintaan Saka, dia mau Starla naik mobil biar nyaman.
Sesampainya di sekolah, Starla langsung mengisi jadi pembina upacara. Saka yang tidak tahu, jelas saja kaget istrinya berdiri di depan dan panas-panasan.
"Ka, Lo gimana sih? Bu ayang kok dibiarin jadi pembina?" tanya Malvin berbisik.
"Gue juga nggak tau." jawab Saka dengan atensi yang tidak berpaling dari Starla yang berada didepan sana.
"Lo suaminya tapi Lo nggak tau. Gimana sih Lo? Kalau bu ayang sampe kenapa-napa gimana?" tanya Malvin cerewet.
"Berisik Lo! Diem aja deh!" tukas Saka kesal. Setelah 20 menit upacara bendera berlangsung, benar saja. Starla langsung lemas setelah jadi pembina. Gina langsung siap siaga membantunya. Dia memberikan minum untuk Starla.
"Gue udah bilang kan? Jangan maksain! Lo sih keras kepala banget!"
"Tapi gue bisa kan?"
"Iya, Lo bisa...tapi baby Lo di sana pasti capek. Apa Lo lupa apa kata dokter? Bayi Lo masih rentan keguguran, Lo nggak boleh kecapean. Untung aja Lo nggak pingsan barusan," ucap Gina cerewet sembari mengipasi wajah Starla dengan kipas cetar membahananya. Tanpa mereka sadari, ada seorang siswi SMA yang mendengar percakapan mereka di ruang musik.
"Tapi enggak kan?"
"Terserah Lo deh. Oh ya, Lo lagi nginep di rumah hot Daddy gue kan?" tanya Gina dengan mata yang berbinar-binar.
"Iya, terus kenapa? Jangan bilang Lo mau--"
"Gue mau nginep di rumah Lo, boleh nggak?" bujuk Gina sambil memegang kedua tangan Starla.
"Lo boleh nginep, tapi jangan baper sama Papa gue. Lo tau kan Papa gue itu belum tertarik sama cewek?" Starla selalu mewanti-wanti kepada Gina, untuk tidak baper kepada papanya. Sebab, papanya tidak mungkin memiliki perasaan kepada Gina.
"Hem...tapi Star, hati sama perasaan itu kan nggak bisa dipaksain. Kalau gue masih sayang sama bokap Lo, mau gimana lagi kan?" ucap Gina dengan bibir memonyong.
"Yang tua lebih menggoda Star, daripada ama berondong, hehe." Gina malah nyengir ketika dinasehati oleh Starla.
"Kalau Lo patah hati, jangan salahin gue. Gue udah ngingetin lo." kata Starla sambil menghela nafasnya. Kemudian mereka berdua pun pergi ke kelas masing-masing untuk mulai mengajar.
****
Sepulang sekolah, Saka menatap layar ponselnya dan berisi transferan dari papanya untuk biaya hidup ia dan Starla.Rasanya tidak enak juga, dia sudah jadi seorang suami tapi masih dibiayai oleh orang tuanya.
"Ka, lagi ngapain Lo disini? Ngelamun, lagi." Malvin menepuk bahu Saka dengan pelan.
"Vin, apa Lo mungkin tau...ada lowongan kerjaan paruh waktu nggak buat gue?" tanya Saka yang tiba-tiba saja membuat Malvin heran.
"Hah? Lo mau kerjaan apa emang? Kita mau ujian bro! Lagian Lo kerja buat apa sih? Bokap Lo kan konglomerat terkaya nomor 2 di Indonesia, bro." ucap Malvin sambil terkekeh. Ia tak percaya kalau Saka membahas soal kerja paruh waktu.
"Gue...gue pengen biayain Starla sama anak gue dengan uang gue sendiri. Gue nggak enak, di transfer terus-terusan sama Papa dan Starla juga selalu nolak kalau gue kasih uang. Gue pengen kerja." Saka mengatakan keluh kesahnya pada Malvin.
"Lo serius mau kerja?" tanya Malvin yang mendapatkan jawaban anggukkan kepala dari Saka.
****
Setelah bicara dengan Malvin soal kerja paruh waktu, Saka menjemput Starla yang katanya berada di mall bersama Gina. Tentu saja ia memakai helm dan masker untuk menutupi wajahnya agar tak dikenali. Ini memang sudah kesepakatan bersama, tidak boleh ada yang tau kalau ia sudah menikah dengan Starla.
Di parkiran mall, tanpa sengaja Starla dan Gina bertemu dengan Bisma yang memang pemilik mall itu.
"Kak Bisma apa-apaan sih? Lepas nggak!" sentak Starla emosi karena tangannya dipegang oleh Bisma.
"Kita harus bicara Star, please! Kali ini aku nggak akan lepasin kamu," ucap Bisma dengan lirih.
__ADS_1
"Aku udah bilang kan, kalau aku nggak mau bicara sama kakak!" sentak Starla lagi. 'Gimana bisa aku bicara sama kamu kak, setiap melihat wajah kamu saja...hatiku selalu sakit"
"Kak Bisma, tolong lepasin Starla. Dia nggak mau bicara sama kakak." ucap Gina menimpali karena ia melihat Starla yang tidak nyaman dengan Bisma.
"Gin, kamu diem aja deh. Aku sama Starla ada urusan yang belum beres! Jadi kamu jangan ikut campur!" ujar Bisma tegas. Dia masih menarik tangan Starla.
"Urusan apa yang belum beres? Hubungan kita udah berakhir kak, apa kakak nggak sadar? Aku bahkan udah mengandung anak cowok lain dan udah nikah. Jadi stop deketin aku kak!" pinta Starla bersungguh-sungguh.
"Walaupun begitu, aku tahu kalau kamu masih cinta sama aku. Kamu nggak cinta sama suami kamu itu Star!" kata Bisma menyangkal ucapan Starla dengan dalih bahwa Starla tidak mencintai suaminya dan menikah karena terpaksa.
"Kakak tau apa soal aku? Aku dulu memang mencintai kakak, tapi sekarang aku udah jatuh cinta sama suami aku!"
"Aku nggak percaya!" ujar Bisma yang masih dengan kepercayaan dirinya, bahwa Starla masih mencintai dirinya.
"Lepasin dia!" seseorang datang dan berdiri ditengah-tengah mereka berdua. Memisahkan Starla dan Bisma. Cowok berseragam SMA itu menarik tangan Starla, ya dia adalah Saka yang baru datang. Sementara Gina, dia menjadi penonton di sana karena pasti ini akan semakin seru. Dasar teman laknat, emang.
"Maaf dek, ini nggak ada urusannya sama kamu. Saya mau bicara dengan tunangan saya!" seru Bisma tegas, layaknya menghadapi anak kecil. Saka berdecih, ia tidak suka diremehkan. Apalagi Bisma menyebut dirinya sebagai tunangan istrinya, Saka jadi naik pitam.
"Kamu bukan tunangan aku lagi, kak!" seru Starla marah. Dia menatap tajam pada Bisma.
Kini Saka memahami situasi yang terjadi dan pertanyaan yang tadi pagi pun terjawab. Tentang siapa mantan tunangan Starla, pria bertubuh tinggi dan tampan ini adalah orangnya. Mendadak Saka insecure melihat perawakan Bisma, dia pria yang terlihat dewasa dan berwibawa. Tak heran Starla mencintainya.
Bisma kembali menarik tangan Starla, dia memohon-mohon pada wanita itu untuk mau bicara dengannya sebentar. Lagi-lagi Saka ikut campur dan meminta Bisma untuk tidak memaksa Starla.
"Kamu siapa sih ikut campur terus? Cuma murid Starla aja kok ikut campur?" tanya Bisma sinis dan menatap Saka tidak suka.
"Sa-saya..." Saka bingung saat ditanya dia siapanya Starla. Haruskah Saka mengatakannya? Dia takut Starla marah bila ia bicara sembarangan.
"Kak, kak Bisma mau tau kan siapa suami aku?" tanya Starla yang membuat Gina dan Saka kontan menoleh ke arahnya dengan terbelalak.
Apa Starla akan mengatakan pada Bisma kalau Saka adalah suaminya? Begitulah isi pikiran Gina dan Saka saat ini.
"Dia, suami aku." kata Starla seraya melihat ke arah Saka yang mulai membuka masker wajahnya.
Sontak saja Bisma tertawa dan menganggap ucapan Starla hanyalah candaan saja. Sedangkan Saka dan Gina masih syok, karena Starla mengakui Saka sebagai suaminya.
"Ha ha...Star, kamu jangan bercanda."
"Apa aku kelihatan bercanda kak?" tanya Starla dengan wajah datarnya. Dia menatap Bisma serius.
"Kamu pikir aku bakal percaya?" Bisma tentu saja tidak percaya karena mana mungkin suami Starla masih SMA. Ini sulit dipercaya.
"Oh, jadi kakak nggak percaya?" Starla tersenyum tipis.
"Jadi benar, dia suami kamu Star? Anak SMA ini? Mana mungkin-"
Tiba-tiba saja Bisma dan Gina tercengang saat melihat Starla mencium bibir Saka, bahkan jari-jari tangannya membelai wajah Saka dengan lembut.
"Oh...My... GOD!"
Saka sendiri, dia terkesiap dengan tindakan Starla. Ini pertama kalinya Starla mencium dirinya lebih dulu.
"Starla STOP!" hati Bisma sakit melihat Starla berciuman dengan pria lain didepannya. Dia meminta Starla untuk berhenti.
Starla pun menghentikan ciumannya, lalu ia menatap Bisma tajam. Bahkan ia tidak menyadari lipstiknya belepotan. "Kakak percaya sekarang? Dia, suami aku. Dia ayah dari anak yang aku kandung, jadi aku harap kakak nggak cari tau atau tanya-tanya lagi soal siapa suami aku dan lupain aku."
"Kamu benar-benar jahat Star! Kamu JAHAT!" Bisma marah, tapi lebih ke sakit hati. Dia tidak menyangka bahwa Starla mencium Saka di depannya. Lalu ia pun masuk ke mobilnya dan pergi dari sana. Pria itu menangis karena syok, sakit hati.
****
__ADS_1