
****
Setelah acara kelulusan kuliah meraih gelar sarjana S-1, ayah Gina pak Tomi langsung membawa Gina pergi ke Bogor karena mereka memang akan menetap di sana dan Tomi sudah menjodohkan Gina dengan putra sahabat baiknya yang juga berprofesi sebagai pengacara.
Gina tidak bisa menghubungi siapapun karena Tomi melarang keras, bahkan menyita ponselnya. Sedangkan dua hari lagi ia akan bertunangan dengan pria pilihan papanya itu. Gina tidak mau bertunangan dengan pria lain, kalaupun bertunangan atau menikah. Gina maunya dengan si hot Daddy. Meskipun Si hot Daddy sempat menolak dirinya, tapi bagi Gina itu adalah tantangan.
"Om Adri, Gina kangen Om...Gina pengen ciuman lagi sama Om. Rasanya enak banget om, pantesan orang-orang pacaran demem ciuman. Soalnya bikin nagih, apalagi kalau ciumannya sama om. Estogeh! Kok otak gue jadi ngeres ya?" Gina yang sedang gabut dan absurd itu, mendadak mesum. Dia menggetok kepalanya sendiri, karena saking rindu sama si Om. Gina jadi berpikiran yang iya-iya dan enak-enakan. Astaga! Ini akibat rindu tak tertahankan pada si Om.
Tak lama kemudian, kekonyolan Gina harus terhenti saat melihat sosok wanita paruh baya yang masuk ke kamarnya sambil membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas minuman.
"Sayang, ayo makan dulu nak!"
Gina memalingkan wajahnya dan kembali melihat ke luar jendela saat di suruh makan oleh ibunya, yaitu Bu Rani.
"Mau sampai kapan kamu kayak gini sayang? Kamu udah kurus dan kamu nanti sakit, nak. Jangan keras kepala, ayo makan ya?" bujuk Rani dengan lembut seraya memegang tangan Gina. Akan tetapi Gina menolaknya dengan menggelengkan kepalanya.
"Sampai Mama sama Papa batalin perjodohan aku sama cowok nggak jelas itu. Aku nggak akan makan. Aku nggak mau dipaksa Ma, ini bukan jaman Siti Julaeha...eh Siti Nurbaya, Ma!" ujar Gina setengah berteriak dan penuh penekanan, agar ibunya paham keinginan Gina.
"Maafkan Mama nak, tapi semua yang kami lakukan juga demi kebaikan kamu. Anak teman papa, baik kok...dia juga seorang dosen. Lagian kamu juga tidak pacar kan? Nggak ada salahnya mencoba untuk menjalin hubungan dengan dia." jelas Rani mencoba membuat anaknya mengerti. Semua ini Rani dan Tomi lakukan demi kebaikannya juga.
__ADS_1
"Aku emang nggak punya pacar, ta-tapi..."
"Pokoknya nggak ada tapi tapian, kamu harus tetap tunangan dengan anak teman baik Papa." kata Rani tegas.
"Oke...aku setuju...Tapi aku punya syarat." ucap Gina sambil menghela nafas. 'Maafin Gina, Ma... terpaksa Gina harus bohong'
"Apa sayang? Syaratnya?" tanya Rani.
"Aku ingin bicara dengan teman baik aku, Starla. Masa iya aku nggak kasih tau dia tentang pertunanganku. Nanti dia marah dong Ma, dia adalah temen deketku Ma." pinta Gina dengan wajah memelas, berharap ibunya akan setuju dengan permintaannya ini.
Rani terlihat memikirkan syarat dan keinginan dari Gina. Sudah susah payah Gina setuju bertunangan, masa iya dia tidak melakukan syarat dari Gina.
Mata Gina berbinar-binar melihat ponsel yang sudah hampir 1 Minggu tidak dilihat atau dipegangnya. Lalu Gina membuka ponselnya itu dan terdapat banyak pesan dari Starla, ketiga sahabat geng SG2R alias Geng Starla Gilang Gina dan Riko. Mereka bahkan punya grup chat tersendiri.
Gina membuka pesan-pesan dari Starla, dan ada foto yang dikirimkan oleh Starla juga. Foto Adrian yang sedang melamun, sialnya pria itu sangat tampan meski sudah berumur.
'Gina kangen Om' batin Gina sedih.
[Gambar | Papa emang nggak bilang apa-apa, tapi gue yakin dia memiliki rasa yang sama kayak Lo. Dia galau kehilangan Lo]
__ADS_1
Lantas, Gina pun menghubungi Starla saat itu juga. Orang pertama yang paling Gina percaya dan pikirkan. Tentu saja tingkah Gina tidak terlepas dari pandangan Rani.
"Gina? Ya ampun Gin, kenapa Lo baru hubungin gue! Apa Lo tau, gue dan yang lain cemas sama Lo! Lo ada dimana sekarang?" terdengar suara cerewet Starla dari sebrang sana yang mencemaskan Gina.
Gadis itu terharu karena memiliki sahabat seperti Starla yang terasa seperti saudara baginya.
"Star, gue BAIK-BAIK AJA. Gue cuma mau ngabarin Lo. Kalau dua hari lagi gue bakal tunangan, gue ada di rumah gue yang ada di Bogor. SOS Star." kata Gina sambil melihat ibunya yang menatapnya tajam, Gina tidak bisa meminta tolong secara langsung karena ibunya mengawasi.
Starla langsung paham apa maksud Gina, SOS tandanya darurat. Mereka pun langsung memutus panggilannya.
"Papa, pasti Papa bisa bantu Gina. Aku harus telpon Papa." gumam Starla yang lalu menghubungi papanya dengan buru-buru. Tak butuh waktu lama untuk Adrian mengangkat telpon dari putrinya. Kebetulan Adrian baru turun dari kapal.
"Ya sayang, ada apa?"
"Tolong Gina, Pa...." lirih Starla.
"Ada apa sama Gina?" tanya Adrian cemas.
...****...
__ADS_1