
Galang yang tanpa sengaja sedang mengantar pesanan makanan dari salah satu pasien yang ada di rumah sakit itu, tanpa sengaja mendengar percakapan Saka dan Elisa yang mengatakan bahwa mereka berpacaran. Akan tetapi Galang tidak mendengar percakapan mereka sebelumnya yang mengatakan tentang pacaran satu bulan.
"Sialan! Beraninya dia nyakitin Starla, gue harus kasih tau Starla besok." cetus Galang geram. Ia yang tidak tahu Starla sedang dirawat, memutuskan untuk pergi dari sana dan kembali ke restoran tempatnya bekerja. Galang memang pekerja keras, itu sebabnya dia sibuk. Dia bukan anak orang kaya, seperti Saka.
Sebelum lamaran pekerjaannya di perusahaan besar diterima, Galang bekerja paruh waktu untuk sementara.
Setelah Saka mengantar Elisa ke kamarnya dan kembali ke kamar Starla. Pria itu baru menyadari kebodohannya yang sudah salah bersikap dan mengambil keputusan.
"Apa yang gue lakukan barusan? Enggak, ini salah! Gue nggak seharusnya setujuin keinginan Elisa. Kenapa gue labil banget? Kenapa gue nggak tega lihat Elisa nangis? Kenapa?" Saka mengusap-usap rambutnya dengan kasar. Mengapa ia luluh dengan Elisa dan langsung setuju dengan tawaran pacarannya. "Apa gue...masih cinta sama Elisa?" tiba-tiba terbesit dalam pikiran Saka, pertanyaan yang menyakitkan itu. Jika Starla mendengarnya mungkin ia akan sakit hati.
Keesokan harinya, Starla dan bayi didalam kandungannya diperiksa oleh dokter kandungan secara menyeluruh. Adrian, Anggun dan Saka berada di sana untuk menemani si bumil itu.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya dok? Anak dan istri saya baik-baik saja kan?" tanya Saka saat dokter kandungan selesai memeriksa kondisi Starla dan twins.
"Syukurlah semuanya baik-baik saja. Tidak ada gangguan kesehatan pada si bayi dan juga ibunya. Sepertinya keram kemarin hanya gangguan sesaat saja. Pasien sudah boleh pulang, akan tetapi tolong diperhatikan asupan makanannya ya. Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi." jelas sang dokter dengan senyuman di bibirnya.
"Baik dokter!" sahut Saka seraya melihat istrinya yang sedang duduk di ranjang.
"Syukurlah kamu sudah boleh pulang nak." kata Adrian lega.
"Iya Pa, aku sama twins kan kuat!" seru Starla sambil tersenyum.
"Mama akan bereskan dulu administrasinya, Saka...kamu beresin barang-barang ya dan temani istri kamu." ucap Anggun pada putranya. Saka menganggukkan kepalanya.
"Biar saya saja yang membayarnya Bu besan." sahut Adrian yang merasa tidak enak bila Anggun terus-terusan menangani Starla, meskipun Starla sudah menikah tapi Adrian masih ingin berbagi tanggungjawab dengan Starla.
"Tidak perlu pak Adrian. Ini uangnya Saka kok, sudah jadi kewajiban dia untuk menafkahi istrinya." timpal Anggun sambil tersenyum. Ya, semua biaya rumah sakit Saka yang membayarnya. Dia punya sedikit uang dari kerja paruh waktunya itu.
Adrian tersenyum pada menantunya, dia bangga karena Saka yang sudah memiliki sikap dewasa. Padahal dulu Adrian pernah mendengar dari Gina, bahwa Saka pernah menolak tanggung jawab terhadap Starla. Apa ini yang namanya di dewasakan oleh keadaan?
"Makasih ya Saka, kamu udah jagain Starla dan anak-anak kalian. Papa bangga sama kamu," ucap Adrian.
"Ini sudah kewajiban Saka pah. Dan Saka tidak sebaik itu kok." ucap Saka terkesan pelan dan merendah. Mendadak kejadian semalam bersama Elisa, membuat Saka merasa bersalah. Dipuji seperti ini bukannya senang, Saka malah kena mental. Saka jadi berpikir untuk bicara pada Elisa dan membatalkan niatnya semalam untuk pacaran dengan gadis itu selama satu bulan.
Mau itu pura-pura atau tidak, tetap saja namanya selingkuh kan?
"Pokoknya Papa bangga sama kamu nak! Papa jadi percaya kalau kamu bisa jagain Starla dan calon cucu-cucu Papah." ucap Adrian bangga.
'Nggak Pa, jangan bangga sama aku. Aku ini brengsek' batin Saka sedih.
"Iya pah, tentu Papa harus bangga sama Saka. Dia bisa kuliah sambil kerja Pa, demi aku sama twins.Dia suami yang baik buat aku dan Papa yang baik buat twins!" ujar Starla yang juga memuji suaminya.
Saka hanya tersenyum tipis mendengar ucapan istri dan ayah mertuanya. Seakan tertampar dengan ucapan mereka.
Setelah urusan administrasi dan beres-beres telah selesai, Saka memapah istrinya keluar dari ruang perawatan, ditemani oleh Anggun dan Adrian juga.
"Eh..bukannya itu si Saka? Kok dia sama si guru magang kecentilan itu sih?" tanya Angel berbisik-bisik pada Lita. Ia melihat Saka bersama Starla yang begitu intim. Perut Starla juga sudah membuncit.
"Kenapa mereka barengan ya? Bukannya si Starla itu istrinya yang pemilik mall itu loh. Kok dia barengan terus sama si Saka sih?" gumam Lita yang bingung. Setahunya, Starla adalah istri Bisma. Tapi sudah beberapa kali, Lita dan Angel memergoki Saka jalan berduaan dengan Starla.
"Mesti ada apa-apa nih." kata Angel curiga. Lantas kedua gadis yang niatnya menjenguk Elisa karena penyakit demam berdarah itu, mengikuti Starla dan Saka dari belakang.
"Terimakasih dok, dokter sudah menyelamatkan istri dan anak-anak saya." kata Saka pada sang dokter.
Angel dan Lita terbelalak mendengar ucapan Saka kepada dokter wanita itu. Mereka tidak percaya.
"Lit, apa gue nggak salah denger? Barusan si Saka bilang istri dan anak-anak? Maksudnya siapa?" tanya Angel terperangah.
"Nggak, Lo nggak salah denger. Kuping kita nggak bermasalah!" seru Lita yakin.
"Bukan saya yang menyelamatkan istri dan anak-anak Mas, saya hanya perantara. Tuhanlah yang maha penyelamat," ucap dokter kandungan itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada dokter, Starla, Saka, Anggun dan Adrian pergi dari rumah sakit. Sedangkan Lita dan Angel, langsung berlari buru-buru menuju ke ruang rawat Elisa. Elisa sendiri dilarikan ke rumah sakit karena penyakit DBD, bukan kanker.
Terlihat Elisa sedang bersama ibunya di ruangan itu. Elisa sedang disuapi bubur oleh ibunya.
"Lis! Kita punya berita besar buat Lo, Lo pasti nggak akan nyangka!" seru Angel setengah berteriak.
"Apaan sih? Kuping gue masih normal, dan Lo nggak usah teriak kayak gitu." ketus Elisa.
"Sayang, Mama ke toilet dulu bentar ya." kata Sinta, ibu Elisa.
"Oke Ma."
Sinta beranjak dari tempat duduknya, lalu ia pergi ke kamar mandi yang memang ada di ruang rawat itu. Lita dan Angel pun duduk di kursi yang ada disamping Elisa. Kedua teman Elisa ini sangat heboh.
"Ada apa sih?"
"El, Lo pasti bakal kaget kalau tau berita apa yang akan kita sampaikan sama Lo!" cetus Lita. Elisa mengerutkan keningnya.
"Iya El, Lo pasti syok! Jngan kena serangan jantung ya Lo." ucap Angel.
"Apa sih?"
Angel dan Lita saling melihat satu sama lain, kemudian mereka pun berbicara bersamaan. "SI SAKA UDAH NIKAH SAMA SI CEWEK MAGANG KECENTILAN ITU!"
Angel dan Lita melihat ke arah Elisa, khawatir kalau temannya itu akan syok mendengar berita ini. Namun Elisa tampak biasa saja dan datar. Seolah dia sudah mengetahui semuanya.
"Eh, Lo kok diem aja sih? Apa Lo terlalu syok?" tanya Lita keheranan. Reaksi Elisa yang tenang ini membuatnya bingung.
"El." panggil Angel.
"Gue kira kalian mau ngomong apaan. Kalau masalah itu sih, gue dah tau. Bahkan gue juga tau kalau si magang jalangg itu lagi hamil." kata Elisa dengan menyunggingkan senyuman miring.
****
Di Bogor, rumah Gina.
Dari tadi pagi sampai siang ini Gina tampak gelisah karena menunggu kabar dari Starla dan Adrian. Tidak ada satupun yang mengabarinya tentang bagaimana keadaan di Jakarta. Tentang Starla yang katanya masuk rumah sakit, sebagai sahabat sudah seharusnya Gina berada disisi Starla saat ini.
"Gimana keadaan Starla ya? Apa dia sama calon cucu-cucu ku baik-baik saja?" gumam Gina sambil jalan mondar-mandir di dekat taman belakang rumahnya.
"Apa hot Daddy sayangku nggak apa-apa? Apa dia udah makan? Apa dia udah tidur? Pasti dia capek. Tapi kenapa satu pesanku gak ada yang dia balas satupun." gerutu Gina yang mengeluh karena Adrian tidak membalas pesan satupun setelah mereka berciuman tadi malam dan saling mengatakan perasaan. Sampai-sampai Gina tak bisa tidur karena merasa ini semua mimpi.
"Sayang, kamu ngapain mondar-mandir disitu? Kamu belum makan loh, yuk sarapan dulu!" ajak Rani dari dalam rumah sambil membawakan nampan berisi makanan dan segelas susu untuk Gina.
"Gina belum laper Ma." sahut Gina.
"Eh...ya udah deh. Mama taruh disini ya." Rani menghela nafas berat, lalu ia pun meletakkan nampan tersebut diatas meja di sana.
"Oh ya Gin, tadi ponsel kamu getar terus. Mungkin ada telpon atau--"
"MAMA! KENAPA MAMA NGGAK BILANG DARI TADI?" teriak Gina yang langsung saja menuju ke ruang tengah.
Rani terkejut sampai mengorek-ngorek kupingnya karena teriakan Gina yang cempreng dengan 5 oktaf itu.
"Astaga anak itu! Untung gendang telingaku gak pecah juga." decak Rani.
"Kayaknya Gina suka banget sama si om duda itu. Ya udah deh, asalkan Gina bahagia...aku senang." gumam Rani yang tampaknya sudah memberi green light untuk hubungan Gina dan Adrian. Meskipun Gina memang rada-rada genit, karena genit juga bagian dari sifat wanita. Tapi masalah perasaan, anaknya itu serius.
****
Gina memeriksa ponselnya, banyak panggilan tak terjawab dari Adrian. Bisa-bisanya Gina tidak menyalakan dering ponsel, karena ponselnya hanya bergetar saja. "Ya ampun, kok aku bisa lupa menyalakan mode deringnya."
__ADS_1
Gadis itu pun menelpon balik Adrian, dengan video call tanpa ragu, tanpa ada jaim jaiman segala.
Tut...Tut...Tut...
Terdengar suara dering telepon tersambung di sana. Tapi belum ada jawaban dari hot Daddy kesayangan Gina itu.
"Ih...omsay kok nggak angkat angkat teleponmu. Jangan-jangan omsay selingkuh!" gerutu Gina yang mulai berpikir yang macam-macam. Aduh duh...
Tiba-tiba saja ada pesan masuk dari Adrian, Gina langsung membacanya dengan kening berkerut.
[Jangan video call Gin, saya lagi di rumah mertua Starla]
"Ish...padahal aku kangen." gumam Gin dengan bibir yang mengerucut. Tapi Gina tidak kehabisan akal, dia menelpon Starla saja. Beberapa saat kemudian, Starla mengangkat panggilan video call dari Gina.
"Halo Starla bestie anakku sayang! Muach!" sapa Gina dengan kehebohan lebih lebih dari biasanya. Dia melihat Starla dengan perut buncitnya sedang bersandar di headboard ranjang.
"Halo mommy bestie ku sayang, muach!" balas Starla dengan cara yang sama. Dia selalu good mood kalau bicara dengan Gina. Meskipun Gina agak sedikit kekanak-kanakan dan rada-rada, dia tulus dan tidak banyak drama.
"Star, gimana keadaan kamu dan calon cuc mommy sayang? Kata Omsay, kamu masuk rumah sakit? What happened sayang?" ucap Gina dengan nada yang lembut dan manja manja talitahh. Starla terkekeh mendengarnya. Sepertinya Gina memang sudah mengklaim dirinya sebagai mommy Starla.
Adrian yang berada di sudut ranjang dan mendengar semuanya, langsung menutup wajah dengan malu. Entahlah dia malu karena apa. Astaga! Pokoknya dia malu saja. Melihat papanya berekspresi seperti itu, niat jahil didalam diri Starla jadi meronta-ronta.
"Aku keram perut semalam Mom, tapi sekarang udah baikan kok. Mommy sayang gimana, sama Daddy? Udah ada perkembangan belum?" tanya Starla seraya menggoda Adrian dan Gina yang sedang VC dengannya. Starla penasaran dengan apa yang terjadi di Bogor, karena Adrian belum cerita apa-apa padanya.
"Star sayang. Kamu nggak akan percaya apa yang terjadi semalam. Omsay melamar aku, dia keren banget jir...semodel oppa Hyun bin yang lagi lamar pacarnya. Estogeh...dan kamu tau? Omsay bilang cinta sama aku terus dia ciu--"
"Gina stop!" ujar Adrian yang menghentikan ucapan Gina. Sebelum Adrian merasakan malu lebih banyak, lihat saja wajahnya sangat merah saat ini.
"Omsay? Omsay disitu? Kenapa Omsay nggak angkat telepon dariku?" tanya Gina yang akhirnya melihat sosok Adrian di dekat Starla. Starla menyerahkan ponselnya pada sang Papa.
"Gina...kita bicara lagi nanti ya." lirih Adrian.
"Harus sekarang Omsay. Aku pengen bilang, kalau om nggak punya satu milyar, kita kawin lari aja om." cetus Gina yang terdengar oleh Starla, Saka dan kedua orang tuanya yang berada diambang pintu kamar.
'Apa orang tua Gina minta uang satu milyar sama Papa?' batin Starla.
"Gin...kita bicara nanti, please jangan bicarakan ini sekarang!" ujar Adrian tegas dengan raut wajah kesal.
"Ya udah sih kalau omsay emang nggak mau dengerin aku dan nggak kangen sama aku. Kita nggak usah ngomong!" sentak Gina bak cewek lagi PMS.
Gadis itu langsung menutup panggilan begitu saja secara sepihak dengan marah. Adrian menghela nafas berat, memang dia harus sering-sering bersabar dan mengalah kalau memiliki hubungan dengan wanita yang lebih muda.
"Maafkan saya, kalian semua harus mendengar hal ini." ucap Adrian pada Saka dan keluarganya.
"Pak besan, mari kita bicara diluar. Ceritakan masalah pak besan pada saya." ucap Jeffry ramah kepada besannya itu. Jeffry sudah ada niatan untuk membantu Adrian dan masalahnya.
"Baik pak." sahut Adrian yang lalu mengikuti Jeffry dan Anggun keluar dari kamar itu.
Didalam kamar itu hanya ada Saka dan Starla saja. Starla terlihat mencemaskan Papanya. Walaupun Gina marahnya tidak akan lama, tapi masalah satu milyar itu tidaklah mudah. Semoga saja Adrian menemukan jalan keluarnya.
"Sayang, kamu jangan banyak pikiran ya. Nanti kamu sama twins kenapa-napa."
"Aku nggak akan banyak pikiran kok, selama semuanya baik-baik aja. Dan kamu setia sama pernikahan kita." ucap Starla tanpa sadar.
Sontak saja Saka terbelalak mendengarnya. "KAMU NUDUH AKU SELINGKUH?"
"Saka, kenapa kamu teriak-teriak kayak gitu? Kamu kenapa sih?" tanya Starla yang heran dengan sikap suaminya yang begitu tiba-tiba ini.
...****...
Mohon maaf guys kalau kesel sama si berondong labil....bersabar ya dengan konflik Saka Starla, mereka lagi diterpa badai petir...😁tenang aja nanti hubungan mereka akan semakin kuat kok..Buat papa Adrian sama Gina, menuju perbucinan.. Sekian dan terimakasih
__ADS_1