Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 63. Hot Daddy ketar-ketir


__ADS_3

Adrian yang baru saja turun dari kapal pesiar, langsung mendapatkan telpon dari putrinya. Adrian langsung saja mengangkatnya.


"Tolong Gina, pa..." lirih Starla dari seberang sana dan tentunya membuat Adrian cemas.


"Ada apa sayang? Apa yang terjadi sama Gina?" Adrian balik bertanya tentang Gina dengan cemas. Sudah lama ia tidak bertemu, ataupun mendengar kabar dari Gina. Namun, sekalinya mendapatkan kabar, malah kabar yang membuatnya cemas.


"Pa, gina dipaksa nikah sama orang lain. Itu sebabnya Gina nggak bisa hubungi kita. Papanya menyita hp Gina."


Sontak saja jantung Adrian berdegup kencang kala mendengarnya. Sudah lama tak mendengar kabar Gina, sekarang dan ia malah mendengar kabar tidak menyenangkan ini. Belum lagi, selama berlayar Adrian tidak sepenuhnya fokus karena dia terbayang-bayang wajah Gina dan adegan ciuman pada malam-malam hujan itu.


"Maksud kamu gimana sayang? Jelasin sama Papa." Namun bukan Adrian namanya kalau dia bisa menahan dirinya. Adrian masih bisa tenang saat ini.


"Starla juga nggak tau apa yang terjadi jelasnya, soalnya Starla cuma bicara sebentar sama Gina. Dia bilang kalau 2 hari lagi, Gina mau tunangan Pa." kata Starla menjelaskan.


"Oh, kalau gitu selamat buat dia."


Mendengar jawaban dari Adrian, Starla merasa kesel dan tidak suka. Bagaimana bisa papanya bicara seperti itu disaat dia sedang mencemaskan keadaan Gina? Padahal Starla juga tau kalau Adrian menyukai Gina.


"Pah, bisa-bisanya papa bilang kayak gini. Apa Papa emang selalu merelakan sesuatu yang papa sayang? Pantas saja Tante Sofia pergi begitu saja meninggalkan papa, gak heran sih soalnya papa juga nggak mau berjuang kan? Kalau Papa masih kayak gini, ya udah...aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Gina juga nggak pantes, buat papa yang pengecut seperti ini. Jangan sampai papa nyesel dan kehilangan lagi orang yang papa sayang!" sentak Starla kesal.


Tut...Tut...Tut...


Starla menutup teleponnya begitu saja secara sepihak, setelah mengatakan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya. Starla kesal, dan mulai berpikir apakah semua pria memang pengecut seperti papanya? Ah ya, dulu Saka juga menolak mentah-mentah untuk bertanggung jawab atas twin Star.


Wanita cantik dengan perut buncit itu langsung melempar ponselnya ke atas ranjang. Kedua tangannya menyilang di dada, wajahnya semrawut.


"Mommy Star kenapa sih? Kok marah-marah?" tanya Saka kepada istrinya, pria itu baru saja keluar dari kamar mandi. Hari ini restoran tutup dan tidak ada tugas kampus, jadi dia bisa seharian menemani Starla.


"Kenapa sih semua cowok itu jaim dan pengecut?" keluh Starla sambil duduk diatas ranjang. Lalu suaminya ikut duduk di sampingnya.


"Hey, kenapa ngomongnya kayak gitu? Aku nggak jaim kok, aku nggak pengecut!" Saka yang masih memakai bathrobenya dengan rambut basah. Ya, Saka baru saja selesai mandi setelah bercumbu dengan Starla selama setengah jam. Tentu saja dengan hati-hati dan sesuai anjuran dokter kandungan agar tidak membahayakan bayi kembar mereka.


"Tapi... dulu kamu nolak aku secara terang-terangan dan menolak bertanggungjawab! Itu tandanya kamu pengecut," ucap Starla yang terbawa emosi karena sikap Papanya.


"Sayang, itu kan dulu. Sekarang ya sekarang, jangan dibahas lagi ya. Btw, kenapa sih kamu tiba-tiba membahas cowok pengecut?" Saka memegang tangan istrinya dengan lembut.


"Papa Kak, Papa nyebelin banget!"


"Ada apa sama Papa? Ayo cerita sama aku?" tanya Saka membujuk.


Starla pun bercerita tentang masalah papanya dan juga Gina. Saka mendengarkan cerita itu dengan baik, lalu dia berkomentar bahwa nanti ayah mertuanya itu akan pergi ke Bogor untuk menyusul Gina. Saka berasumsi bahwa ayah mertuanya memiliki perasaan pada Gina.


"Sak, aku pengen ke Bogor. Aku mau nolongin Gina."


"Maaf mommy Star,bukannya nggak boleh. Tapi kamu lagi hamil besar, aku takut kamu kenapa-napa. Kata Tante Lisa, kamu jangan dulu berpergian jauh. Sorry, bukannya aku bermaksud melarang kamu untuk menolong kak Gina. Kamu paham kan maksud aku?" ucap Saka lembut seraya menangkup kedua pipi wanita itu.


"Iya, aku paham. Tapi Gina..."

__ADS_1


"Mending kamu, kasih tahu dulu hal ini sama kak Galang dan kak Riko. Aku yakin, mereka pasti bisa pergi ke Bogor."


"Oh ya, Galang sama Riko. Aku belum ngasih tahu mereka sih." Starla menuruti saran suaminya untuk menghubungi kedua sahabatnya itu dan mengabarkan tentang kondisi Gina. Galang dan Riko memang memiliki rasa setia kawan dan solidaritas yang tinggi, langsung merencanakan untuk pergi ke Bogor besok. Starla merasa jauh lebih lega, ketika ia sudah berbicara dengan kedua teman baiknya ini.


"Udah tenang kan sekarang? Kita makan yuk, kamu sama twins pasti laper."


"Iya, aku lapar lagi. Padahal tadi aku udah makan 3 porsi ayam bakar, tambah gemuk deh aku!" cetus Starla sambil menyentuh menyentuh pipinya yang mulai terasa gembul alias tembem.


"Its okay, semua orang termasuk aku pasti paham kenapa nafsu makan kamu cukup besar. Kamu kan lagi hamil, terlebih lagi ada dua nyawa di dalam perut kamu... jadi otomatis makannya juga double dong? Dan...kamu cantik kok, walau gemuk." Saka melingkarkan tangannya di tubuh sang istri. Dia menatap calon ibu dari anak-anaknya itu dengan tatapan yang penuh cinta.


Sungguh, pesona si brondong ini memang tidak ada obatnya. Starla benar-benar terpesona dan telah jatuh cinta sedalam-dalamnya, kepada pria yang ada di hadapannya. Pria menyebalkan yang dulu pernah menolak bertanggung jawab atas kehamilannya. Tapi sekarang, Saka mungkin menjadi suami paling bucin di dunia dan Starla sangat mencintainya.


"Beneran aku tetap cantik walaupun aku gemukan?"


"Sayangnya aku tetap cantik, mau seperti apapun juga. Apalagi gemuknya gemes, karena lagi mengandung buah hati kita." ucap Saka seraya tersenyum dan memuji istrinya, agar istrinya tidak merasa insecure dengan bentuk tubuhnya yang gemuk. Tapi dasar wanita, mau pria itu berkata jujur atau tidak, tetap saja kadang dianggap salah.


"Bohong, masa iya sih?"


"Serius sayangnya aku." Kemudian Saka mengecup pipi Starla dengan lembut. Lantas setelah mengobrol di dalam kamar, pasangan suami istri itu pergi keluar kamar dan berjalan menuju ke dapur untuk mencari makanan.


****


Di dalam mobil, Malvin dan Fero baru pulang dari tempat tongkrongan mereka. Disebuah cafe yang tak jauh dari kampus. Fero, yang bermaksud baik mencarikan pacar untuk Malvin. Malah membuat Malvin kesal, lantaran gadis yang dibawa oleh Fero tidak sesuai dengan kriteria wanita idamannya. Cantik sih cantik, tapi Malvin tidak menyukai sikapnya yang genit.


"Vin, udah dong jangan marah terus sama gue. Gue kan niat baik, mengenalkan seorang cewek cantik sama Lo biar lo gak jomblo lagi." kata Fero sambil memegang setir kemudinya dan matanya yang fokus ke jalanan.


"Vin, emangnya lo mau cewek yang kayak gimana sih? Cewek yang sempurna dan yang baik itu jarang ada di zaman ini, bro." cetus Fero, yang selalu beranggapan bahwa wanita yang ada di zaman ini jarang ada yang baik dan sempurna.


"Ada kok. Bu ayang gue, dia perfect! Gue maunya cewek yang kayak bu ayang." Malvin mengutarakan keinginannya, bahwasanya dia ingin wanita yang seperti Starla.


"Wah... kalau cewek kayak kakak ipar, susah Vin. Jangankan Lo, gue juga belum nemu cewek yang kayak kakak ipar kita!" Fero tersenyum miring, ia sudah terbiasa memanggil Starla sebagai kakak ipar, karena mengingat usia Saka yang jauh lebih tua darinya dan juga Malvin.


"Ya kan susah."


"Tapi kita santai aja kali bro, kita kan masih muda dan belum kepikiran buat nikah. So, kita cari cewek buat kita pacarin aja bukan buat dinikahin. Kecuali, kalau kita niatnya serius sama cewek buat dinikahin, beda lagi urusannya." Beginilah pemikiran Fero, tentang hubungannya dengan seseorang selama ini. Baginya yang masih jauh kepikiran untuk menikah, dia hanya berniat untuk pacaran dan bermain-main saja.


"Ya udah, kita jangan bahas jodoh dulu. Berat kalau bahas itu, kita aja baru mulai kuliah." kata Malvin sambil melihat ke luar jendela.


"Iya-iya, jadi gimana? Lo masih mau nggak gue cariin pacar?" tanya Fero lagi.


"Nggak, nanti gue cari sendiri!" tukas Malvin.


"Oke,tapi jangan sampe nikung sahabat Lo sendiri ya." peringat Fero.


"Jir...Lo sekate-kate kalau ngomong deh. Mana mungkin gue begitu. Tapi kalau Lo mau cariin gue pacar, minimal yang kayak Lisa atau Ji Soo black pink deh. Nah, kalau Lo mau cariin calon istri buat gue... minimal yang kayak Cut Syifa atau Irish Bella, bolehlah." seloroh Malvin dengan senyuman lebar ala Pepsodentnya.


"Jielah...laga Lo! Berat banget standar Lo, Vin...haha." Sontak saja Fero tertawa bahak-bahak mendengar ucapan konyol Malvin.

__ADS_1


"Btw Fer, nggak nyangka ya Saka temen baik kita udah mau jadi bapak muda. Sebentar lagi dia punya anak." kata Malvin mengingat Saka yang baru mau otw 18 tahun, sudah mau jadi bapak.


"Benar Vin, gak nyangka ya. 2 bulanan lagi dia jadi bapak dan kita jadi om." ucap Fero menimpali, ia juga turut bahagia dengan kebahagiaan Starla dan Saka. Mereka juga tidak menyangka bahwa temannya akan menjadi papa muda.


"Pasti anaknya Saka sama Bu ayang pada cakep-cakep, gennya aja bagus." Malvin kembali terkekeh membayangkan dua bayi kembar Starla dan Saka nantinya.


****


Malam itu, Adrian berada di rumahnya dalam keadaan gelisah. Dia memikirkan kata-kata Starla dan Adrian terbayang-bayang saat Gina menangis. Marah padanya beberapa bulan yang lalu.


Adrian merasa terusik, hingga ia berusaha memejamkan matanya dan mencoba tidak peduli dengan kabar dari Starla.


"Ya Tuhan, kenapa ini sulit? Kenapa aku terus memikirkan anak itu? Aku tidak boleh gegabah, aku pernah gagal untuk menikah. Apa semudah itu aku jatuh cinta lagi? Pada anak yang usianya tak jauh beda dengan usia Putriku?" gumam Adrian bingung.


"Om...aku cinta sama om!"


Suara Gina yang mengatakan cinta padanya, terngiang-ngiang di telinganya. Membuat Adrian tidak bisa menahan diri akan perasaannya lagi.


Pria berusia matang itu pun memantapkan hatinya, lalu menghubungi Starla dengan ponselnya.


"Apa Starla masih marah sama aku gara-gara kejadian tadi?" desis Adrian karena teleponnya tak kunjung diangkat oleh putrinya. Akhirnya Adrian pun menelpon menantunya. Syukurlah, Saka telepon dari ayah mertuanya itu. Kalau telponnya tidak diangkat, mungkin Saka akan dianggap menantu durhaka.


"Halo pa, gimana kabar papa? Saka denger Papa udah pulang dari berlayar?" tanya Saka perhatian.


"Iya Saka, kabar papah baik nak. Oh ya, maaf... papa gak bisa bicara lama-lama. Bisa nggak kamu kasih teleponnya sama Starla? Papa mau bicara." ucap Adrian meminta pada menantunya.


"Maaf Pah, bukannya aku nggak mau kasih. Tapi Starla bilang dia nggak mau bicara sama Papa untuk saat yang tidak ditentukan dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Begitu katanya Pah." kata Saka seraya melirik kepada istrinya yang sedang makan coklat di dalam ember dengan lahap. Starla memberitahukan pada suaminya, dia tidak mau bicara dengan Adrian.


"Ya ampun Starla, ngambeknya kayak proklamasi aja deh. Ya udah, kamu tolong nyalain loud speaker aja." pinta Adrian sambil menghela nafas berat.


Saka menuruti perkataan mertuanya, ia menyalakan loud speaker agar Starla mendengarnya.


"Starla sayang, dengerin Papa nak. Papa minta maaf udah buat kamu marah, tapi Papa nggak punya waktu lama...mari kita bicarakan itu nanti. Karena Papa punya hal penting yang harus dibicarakan sama kamu saat ini juga."


Starla mendengarkan ucapan papanya meskipun dia tidak merespon. Wajahnya masih tampak kesal. Wanita hamil itu, masih sibuk menyendok coklat di dalam ember kecil.


"Star, apa kamu setuju kalau Gina jadi Mama kamu?"


PRUUTTT....


Sontak saja Starla memuntahkan coklat lumer yang ada di mulutnya dan tanpa sengaja menyembur ke wajah Saka.


"Estogehh sayang!" Saka memekik terkejut karena wajahnya saat ini dipenuhi oleh coklat.


"Papa ngomong apa barusan? ULANGI!" Teriak Starla tidak percaya, alias syok dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh papanya barusan.


...****...

__ADS_1


Hai guys kalau review gak lama, aku up satu bab lagi malam...😁😁btw persiapkan diri kalian untuk bab bab berikutnya ...🤣


__ADS_2