
Hari ini adalah hari pertama bagi Aluna dan Axelo menginjak kelas 2 SMA. Sedangkan Arion menginjak kelas 4 SD. Sudah menjadi sarapan dan makanan sehari-hari bagi Starla, Saka dan juga Axelo, mendengar perdebatan Arion dan Aluna. Namun, setiap kali mendengar perdebatan dua saudara itu, suasana rumah menjadi hangat dan ceria.
Sudah biasa kan dalam satu keluarga, pasti ada yang diam, suka bercanda ataupun bertengkar. Akan tetapi, mereka tetap itu adalah keluarga yang akur satu sama lain. Saka dan Starla sangat bersyukur, karena mereka mempunyai anak-anak yang tampan, cantik, juga baik hati. Tak hanya itu, salah satu dari mereka ada yang terkena masalah, maka cara yang lain akan turun untuk membantu.
"Axel, tunggu gue! Jangan cepet-cepet jalannya, gue kan mau nebeng sama lo." ujar Aluna sambil mengikat tali sepatunya dengan buru-buru, ia takut ditinggal kakaknya.
Axelo dengan datar terus berjalan keluar dari rumah, dengan memakai tas gendong dan juga memegang kunci motornya. Tanpa mempedulikan seruan Aluna, ia cuek saja. Dan Axelo selalu begini, cuek bebek sudah jadi sikapnya.
Brum! Brum!
Aluna panik saat mendengar suara motor yang dinyalakan dan terdengar menjauh dari rumah. Aluna berlari keluar rumah dengan sebelah sepatunya yang belum terpasang. Gadis cantik itu mendengus kesal, dua tangannya berkacak di pinggang. Tatapannya menyalang tajam pada si pengemudi motor sport berwarna merah yang sudah melaju keluar dari gerbang rumah.
"Sialan lo es Arendelle! Kutub utara, si beku, nyebelin! Gue doain lo jomblo, kalau Lo punya pacar, lo bakal dapat pacar yang kayak zombie!" umpat Aluna mengata-ngatai saudara kembarnya. "Apa-apaan dia? Percuma ganteng tapi akhlak minus. Es batu kayak gitu kok bisa populer ya? Mengheran." gumam Aluna pelan. Walaupun kakaknya ini cuek, dingin seperti gunung es Arendelle, tapi fansnya banyak di sekolah.
"Aluna, language nak!" Starla menegur bahasa putrinya itu, saat ia mendengar umpatan Aluna yang kasar. Gadis itu langsung bergeming, menutup mulutnya dengan rapat. Namun raut wajah marah itu masih terlihat di wajah cantiknya.
"Sorry Mom, habisnya Axel nyebelin banget." dengus Aluna kesal.
"Udah nggak usah marah-marah, Papa yang akan antar kamu sama Arion ke sekolah sebelum Papa ke kantor." ucap Saka seraya mengusap lembut kepala putrinya.
"Yes!" Seketika senyuman berlesung pipi itu terbit di wajah Aluna.
"Nggak bisa Pa. Suruh setan drakor naik g*jek aja. Nanti kita bisa telat pa," protes Arion sambil tersenyum mengejek pada kakaknya.
"Idih, kenapa kamu protes?"
"Ya dong, jarak sekolah kakak kan jauh dari kantor papa dan sekolahku. Malah arahnya beda. Papa harus bolak-balik nganterin kita, yang ada papa telat ke kantor. Kalau aku sama Papa kan searah, jadi aman-aman aja." Arion menjelaskan alasan logis kenapa mereka tidak bisa berangkat bersama-sama.
Aluna bergeming sebentar, dalam hati ia membenarkan ucapan adiknya.
"Papa nggak apa-apa telat ke kantor, yang penting anak-anak papa gak telat. Ayo berangkat, ini udah siang." kata Saka sambil melihat ke arah jam tangannya. Pria 35 tahun ini masih terlihat seperti usia 20 tahunan, malah semakin tampan saja.
"Ya udah cepet, nanti kalian telat." ujar Starla.
"Kita berangkat dulu ya mom," Aluna mengecup pipi Starla dengan lembut. Begitu pula dengan si bungsu Arion. Kegiatan ini tak pernah terlewatkan sekalipun oleh Aluna, Arion dan Saka. Sedangkan Axelo, kadang pria itu suka lupa salam pada ibunya.
Starla dan Saka tersenyum melihat kedua anak mereka masuk ke dalam mobil. Kini giliran Saka yang berpamitan pada Starla.
"Aku berangkat dulu Sayang."
"Iya, hati-hati. Jangan lupa nanti malam."
"Oke, 3 ronde kan?" goda Saka dengan senyuman mesumnya itu. Starla jadi tersenyum dibuatnya.
"Apaan sih? Bukan itu!"
"Terus?"
"Jemput Gio." jawab Starla sambil tersenyum.
"Oke."
Setelah obrolan singkat itu, Saka mengecup bibir istrinya sekilas, lalu masuk ke dalam mobil bersama kedua anaknya. Starla melambaikan tangannya, sambil tersenyum. Nanti malam ia akan menjemput Gio, adiknya yang akan bersekolah di Jakarta dan menginap di rumah Starla Saka sementara waktu.
****
"Makasih Daddy, aku sayang Daddy." ucap Aluna lalu mengecup pipi papanya dengan penuh kasih sayang. Saka lebih dulu mengantarkan Aluna ke sekolah karena sekolah Aluna memiliki peraturan ketat.
__ADS_1
"Iya sayang, semangat sekolahnya!" Saka menyemangati putrinya.
"Iya Papa. Dadah Yonyon." Aluna melambaikan tangannya pada adik kecilnya itu. Arion mencebikkan bibirnya dengan sebal.
"Bye bye setan Drakor." ejek Arion sambil tersenyum. Begitulah Aluna dan Arion yang memiliki panggilan masing-masing untuk diri mereka.
Setelah melihat mobil Papanya pergi meninggalkan gerbang sekolahnya, Aluna pun hendak berjalan masuk ke dalam area sekolahnya bersama murid-murid yang lain.
"Syukurlah belum telat, dasar si es Arendelle. Awas aja Lo, gue bakal balas Lo...hish. Punya Abang kok kayak gini banget sih." gerutu Aluna sambil berjalan menuju ke gerbang sekolahnya.
"Kenapa sih pagi-pagi gini Lo udah marah-marah aja?" seorang pria menepuk bahu Aluna dan membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
"Elo?" Aluna tampak udah suka saat melihat keberadaan lelaki tampan dengan penampilan yang urakan itu.
"Kenapa? Hari ini gue ganteng ya?" tanya pria berseragam putih abu itu dengan percaya diri.
"Dih, mood gue lagi gak baik. Jangan sampe Lo kena bogem mentah gue Galaksi Mahesa." ketus Aluna sambil terus melangkah maju menuju ke lorong sekolah. Ia mengabaikan Galaksi, alias Gala teman sekelas Axelo sbelumnya di kelas X-A.
Gala terus mengikuti Aluna, sehingga atensi beberapa siswa-siswi di sekolah tertuju pada mereka. Itu semua karena Gala adalah siswa populer di SMA Nusa dan Aluna adalah adik dari Axelo, si jenius dan paling tampan di sana. Sehingga mereka berdua menjadi sorotan dan sebagai catatan, Gala populer bukan karena dia berprestasi, tapi karena dia tampan dan siswa yang suka membolos.
"Lo ditinggal sama si gunung es lagi ya? Makanya Lo marah-marah kayak gini ya?" Gala mencecar Aluna dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Udah tau nanya." ketus Aluna jutek.
"Luna, kenapa sih Lo selalu nyuekin gue? Gue kan pengen dekat sama Lo dan gue berdoa sama Tuhan, supaya kita bisa lebih dekat lagi." Gala menunjukkan wajah memelas didepan gadis itu.
"Gue berdoa sih enggak ya, karena gue ogah sekelas sama mahluk kayak Lo." gerutu Aluna, dengan memutar bola matanya malas.
"Mahluk apa? Paling ganteng sedunia. Ya, gue udah tau sih, hehe." Gala dengan senyuman percaya diri itu membuat Aluna kesal. Gala selalu saja mengganggunya, iya sih Gala tampan dan hampir setara dengan saudara kembarnya Axelo. Akan tetapi, Aluna hanya menganggapnya teman, tak lebih dari itu. Masalahnya Gala sudah punya pacar, yaitu anak kelas 1 yang baru masuk ke sekolah ini.
"Gal, mending Lo jangan deket-deket gue. Nanti si Melisa ngambek lagi sama Lo."
"Ada hati yang harus Lo jaga Gal. Please...gue nggak mau--"
"Lun, itu pasti di mading ada pengumuman pembagian kelas. Yuk cepet kita lihat!" ujar Gala sambil menarik tangan Aluna tanpa persetujuannya.
"Eh Gala! Apaan sih Lo?" Aluna kesal dengan Gala yang menarik-narik tangannya. Sementara dibelakang mereka ada tiga orang siswi berseragam SMA yang melihat kedekatan Gala dan Aluna dengan tatapan tak suka. Apalagi gadis yang berambut panjang dan memakai bando berwarna biru.
"Lihat tuh Mel, si kak Aluna kecentilan banget sih. Lo belum lama jadian sama kak Gala, dan cewek kegenitan itu malah makin nempel sama kak Gala." Sisi bicara pada Melisa, pacarnya Gala. Baru pacaran seminggu yang lalu, dimana Melisa yang mengatakan cinta duluan pada Gala.
"Hooh benar, bukannya tiap kalian jalan berdua...kak Gala selalu ngomongin Aluna sama Lo." Ria ikut-ikutan bicara dan mengompori Melisa.
"Kalian benar, ngakunya sahabatan tapi...mana ada sahabat kayak gitu. Awas aja Lo cewek centil!" geram Melisa dengan mata berkaca-kaca.
Beberapa siswa sudah mengerumuni Mading, di sana tertulis kelas dan nama-nama siswa yang sudah dipecah dari kelas X ke kelas XI. Terlihat beberapa siswa yang senang karena mereka satu kelas dengan teman, ataupun pacar mereka.
Sedangkan Axel si cuek, setelah tau kelasnya dimana dia langsung pergi begitu saja. Semua siswi melihat ke arah Axel dan penasaran, pria itu berada di kelas mana.
"Axelo di kelas XI IPA 1, gila sekelas sama gue dong yey!" kata seorang siswi heboh, sebab ia sekelas dengan Axel.
"Yah, gue juga pengen sekelas sama Axel."
Aluna hanya geleng-geleng kepala mendengar banyak siswi yang ingin sekali sekelas dengan Axel. Dia sendiri tidak mau sekelas dengan saudara kembarnya itu.
Aluna jadi teringat waktu SD, saat sekelas dengan saudara kembarnya itu. Axelo banyak mengadu pada orang tua mereka, bila Aluna menganggu mencontek atau malas-malasan. "Semoga gue nggak sekelas sama si es Arendelle." doa Aluna dalam hatinya.
'Tuhan, semoga gue sekelas sama Aluna. Kalau gue sekelas sama Aluna, gue bakal rajin ibadah' kata Gala dalam hatinya, dasar Gala ibadah saja pake ada syaratnya.
__ADS_1
Gala dan Aluna melihat ke arah Mading, mencari nama mereka di sana. Akhirnya Aluna menemukan namanya berada di jajaran huruf A.
"Kelas XI IPS 1." gumam Aluna lega karena Axel kelas IPA unggulan, tidak sekelas dengannya.
"Lun, kita sekelas lagi!" seru Gala sambil tersenyum bahagia.
'Mampus gue, sekelas sama si Gala' Aluna mengerutkan keningnya, ia tampak tak senang dengan ucapan Gala.
****
Hari pertama sekolah, hanya pembagian struktur organisasi kelas saja. Aluna dan Axelo sudah keluar dari kelasnya.
"Lo mau pulang bareng?" pertanyaan Axel sontak saja membuat Aluna tercekat heran.
"Baru inget Lo sama gue? Tadi Lo pergi ke sekolah sendiri." ketus Aluna sebal, mengingat kejadian tadi pagi.
"Ya udah sih kalau gak mau, pasti Lo mau pulang sama si Gala." ucap Axel dingin.
"Gala udah punya cewek."
"Oh, Lo cemburu? Lo suka sama si Gala?"
"Ngomong apa sih lo? Gue sama Gala itu temen. Lagian tipe gue bukan kayak dia," ujar Aluna.
"Terus tipe Lo yang kayak gimana?" tanya Axel dengan senyum sinis di bibirnya, ia menatap saudara kembarnya itu.
"Tipe gue tuh, ganteng udah pasti, mapan, dewasa, cowok yang pake baju apa aja tetep ganteng. Punya kumis tipis di dagunya, rahang tegas, senyumnya manis, nggak suka tebar pesona sama sembarang cewek. Dan usia diatas 30 Han,gue sukanya hot daddy." Aluna tersenyum saat membayangkan pria pujaan hatinya itu, ada wajah seorang pria yang ada didalam pikirannya.
"Ketuaan buat Lo, itu mah seumuran Papa."
"Gak apa-apa gue suka, yang seumuran sama Papa pun gue suka." cetus Aluna dengan senyuman di bibirnya.
"Siapa sih dia? Jangan-jangan Lo udah punya pacar om-om? Awas Lo, gue aduin sama Mommy Daddy." ancam Axelo, raut wajahnya berubah menjadi khawatir saat melihat Aluna menjabarkan pria pujaan hatinya sedetail itu. Dia takut Aluna punya pacar om-om.
"Nggak lah! Lagian gue nggak mungkin sama dia, dia--"
"Jangan bilang Lo naksir suami orang!" sela Axelo. Aluna langsung mendelik sinis pada saudara kembarnya itu.
"Nggak seperti yang Lo pikirin. Udah ah, katanya mau balik. Kali ini gue pulang sama Lo dan Lo harus traktir gue bakso mang Ucil, sebagai permintaan maaf Lo sama gue, brother." Aluna mengalihkan pembicaraan dengan mengajak saudara kembarnya agar segera pergi dari sekolah. "Buruan, nanti keburu si Gala maksa ngajak gue pulang bareng." ajak Aluna lagi.
Axelo mengikuti Aluna dari belakang, ia menatap tajam pada punggung Aluna. Pria itu sepertinya sedang berpikir, siapakah pria yang dimaksud oleh saudara kembarnya itu?
****
Di bandara, seorang pria memakai setelah kemeja putih dan kacamata hitam terlihat bersama seorang anak laki-laki seusia dengan Arion.
Pria itu memiliki rahang tegas, dengan bulu-bulu halus disekitaran dagunya, wajahnya juga tampan. Usianya terlihat seperti 20 tahunan, padahal dia sudah lewat 30 dan sudah punya anak 1.
"Pa, aku nggak mau tinggal di Indonesia." anak laki-laki itu terlihat enggan untuk tinggal di Jakarta, tempat ibu dan ayahnya tinggal sebelumnya.
"Calvin, kamu harus mau ikut Papa karena mendiang Mama kamu berpesan sama kita. Dia mau kamu tinggal di negeri sendiri, ya disini." kata pria itu kepada putranya.
"Tapi aku nggak betah, nggak mau!" Calvin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan dulu bilang nggak betah, kamu kan baru pertama kali ke Jakarta. Nanti kamu pasti betah dan punya teman baru. Oh ya, Papa punya sahabat...nah sahabat papa punya anak seusia kamu. Nanti papa kenalkan sama dia ya." pria itu tersenyum dan berusaha untuk membujuk putranya agar mau tinggal disini.
"Anak sahabat Papa, laki-laki kan?" tanya Calvin dan pria itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya udah kita pulang dulu yuk, nanti sore kita ke rumah sahabat Papa itu." Dengan penuh kasih sayang, pria itu tersenyum pada putranya. Walaupun di dalam hatinya ia masih menyimpan kesedihan mendalam karena istrinya tiada saat melahirkan putranya. Ia bahkan masih hidup menduda sampai saat ini.
...****...