
Setelah selesai makan malam, Adrian meminta maaf pada Saka karena dia belum terbiasa memanggil dirinya sebagai papa kepada Saka. Saka memahami itu, tidak mudah untuk membiasakan diri. Lantas, Saka pun pergi ke kamar yang ditempati oleh istrinya.
Ia melihat Starla sedang duduk diatas ranjang sambil memainkan laptopnya. Ekor mata Starla menangkap kehadiran Saka didekat pintu, namun wanita itu lebih memilih mengabaikannya dan fokus pada laptopnya.
'Gila, ternyata nggak nyaman banget didiemin gini' batin Saka tidak nyaman.
Pria itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, lalu ia duduk diatas ranjang dan tidak jauh dari tempat Starla duduk. Namun Starla langsung menghindar dari sana dengan bergeser dan membalikkan tubuhnya ke arah yang berlawanan dengan Saka.
"Dosa ngediemin suami!" celetuk Saka kesal.
"Dosa masih gamon sama mantan padahal udah punya istri," balas Starla yang membuat Saka terperangah. Ia tidak percaya bahwa Starla akan bisa membalas ucapannya dengan pedas. Pedas sekali bahkan bon cabe ataupun cengek domba yang katanya sangat pedas itu, tidak bisa menandingi pedasnya ucapan Starla.
"Please deh Star, jangan kekanakan gini! Kita harus ngomong," ucap Saka yang membuat Starla sontak saja menoleh ke arahnya dan menatap tajam pada Saka.
"Maksud kamu tuh apa sih? Siapa yang kekanakan disini?" tanya Starla sinis.
"Kamu lah siapa lagi. Bukannya kamu pergi kesini karena menghindar dari aku? Tau nggak, sikap kamu itu masih kekanakan!"
"Egois ya kamu. Siapa yang kekanakan itu? Bukannya itu kamu? Kamu yang labil, masih gamon sama mantan." cetus Starla kesal.
"Bisa nggak kamu kasih kesempatan aku buat jelasin? Pertama masalah baju, oke aku akui aku salah. Aku salah bicara, maaf kalau kamu jadi mikirnya aku masih gamon sama Elisa. Tapi enggak Star, sumpah aku nggak gamon sama Elisa!" jelas Saka dengan cepat.
"Jangan pake kata sumpah, kalau kamu belum paham dengan hati kamu sendiri. Udahlah Ka, mending kita lupain aja masalah tentang hubungan kita ini. Kamu tau nggak? Kita udah nikah, tapi nggak kayak nikah. Aku rasa kita barengan cuma gara-gara little star aja. Nggak ada perasaan apapun diantara kita! Lebih baik kita menempatkan batasan," tutur Starla dengan dada naik turun karena emosi.
"Apa sih maksud kamu? Star aku paham kamu marah gara-gara aku nganter Elisa kan? Semua ada penjelasannya, aku--"
Starla mengangkat satu tangannya dan meminta Saka untuk diam. "Nggak ada penjelasan Ka. Nggak ada. Semua udah jelas dan aku juga nggak akan protes lagi kalau kamu masih ada hubungan sama mantan kamu, ya silahkan! Tapi... setidaknya kalau kamu lagi jalan sama Elisa dan janjian sama aku, harusnya kamu kabarin dulu biar aku nggak nunggu. Finally, lebih baik kita nggak usah memulai hubungan baru atau apalah itu kalau kamu masih gamon sama masa lalu!" seru Starla panjang lebar, mengutarakan isi hatinya.
"Aku nggak bisa Saka, aku nggak bisa menjalin hubungan sama orang yang masih terjebak dalam masa lalunya..." lirih Starla sambil menahan air matanya. Akan tetapi, Saka masih bisa melihat mata Starla mulai berkaca-kaca.
"Itu nggak benar, aku nggak kejebak dalam masa lalu. Tadi tuh aku cuma nolongin Elisa dan--"
"Kalau kamu nggak terjebak sama masa lalu, mau seperti apapun keadaan cewek itu, kamu nggak akan peduli sama dia Saka.Tapi kamu, kamu lupain aku saat kamu jalan sama dia. Itu udah cukup jadi bukti, kalau kamu cuma main-main sama hubungan kita. Mulai sekarang kita jalani hidup masing-masing, sampai bayi ini lahir...kita pisah." Akhirnya Starla mengucapkan kata pisah pada suaminya.
Padahal dulu waktu awal-awal menikah, Saka yang terus membahas perceraian setelah anak mereka lahir. Sekarang jadi terbalik, Starla yang minta cerai setelah anak mereka lahir. Lagian untuk apa mempunyai status suami-istri kalau tidak ada perasaan apapun ataupun rasa saling menghargai. Bagi Starla itu bullshitt!
Saka menatap Starla yang marah, hatinya tidak karuan setelah Starla mengucapkan kata perpisahan. Hatinya benar-benar terusik dan dia seperti enggan melepaskan Starla.
"Star, dengerin aku dulu! Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Elisa, kita sekarang cuma temenan. Jadi jangan bilang cerai, Star." Saka mendadak jadi panik sendiri.
"Temenan? Jangan kira aku bego ya. Hubungan teman macam apa? Yang lebih milih nemenin yang katanya TEMAN itu daripada istrinya. Kamu sama sekali nggak hargai aku, Sak." kata Starla kecewa, akhirnya ia menangis karena tidak bisa menahan rasa sakit hatinya lagi.
"Aku minta maaf, Star. Maafin aku...aku nggak bermaksud begitu. Aku..." Saka hendak mengusap air mata Starla, namun wanita itu menepis tangannya. Matanya menatap tajam pada Saka.
"Udahlah, nggak usah minta maaf terus. Buat kali ini aku sama little star nggak maafin kamu. Aku capek, capek sama sikap labil dan plin-plan kamu." Starla terisak, ia mengusap airnya sendiri dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Mulai sekarang, kamu lakukan apa yang kamu mau. Kamu mau jalan sama siapa kek, mau ngapain, aku akan coba buat nggak peduli. Tapi aku pun berhak ngelakuin apapun yang aku mau, kamu nggak boleh larang aku! Hubungan kita cuma sebatas kertas doang, paham?" sentak Starla pada suaminya. Kini air matanya sudah mulai berhenti, lalu ia pun beranjak pergi ke kamar mandi.
Pintu kamar mandi tertutup keras dan membuat Saka tidak nyaman. Saka sadar ia salah karena sudah membuat Starla seperti ini. "God! Apa yang harus aku lakukan? Starla benar-benar marah dan aku nggak bisa jauh-jauh dari Starla. Maafin aku Star, sungguh. Aku cuma menganggap Elisa temen, kenapa kamu nggak mengerti?" gumam Saka sedih. Ia memutar otak untuk meminta maaf pada Starla, apa yang harus ia lakukan? Starla sudah benar-benar marah dan kecewa padanya.
"Btw, ngomong-ngomong tadi kak Gina bilang sesuatu soal cowok yang bakal nikahin Starla sebelumnya. Siapa dia dan seperti apa cowok itu? Apa dia ninggalin Starla karena hamil anakku?" Saka bertanya-tanya, saat ia baru teringat dengan ucapan Gina.
Banyak kok cowok yang masih mau sama Starla dan nerima bayinya. Mereka bersedia jadi bapaknya, karena mereka cinta sama Starla itu tulus. Tapi emang dasarnya aja, Starla apes banget malam itu karena dijebak orang gila dan akhirnya tidur sama Lo. Kalau enggak, mungkin Starla udah nikah sama orang itu!
"Siapa ya?" kata-kata Gina terus terngiang-ngiang di telinganya. Dari sini Saka tau bahwa Starla pernah memiliki hubungan yang serius dengan seorang pria, tapi mereka putus.
"Sia! Aku jadi kepo, apa aku tanya papa Adrian saja? Enggak enggak, mending cari tau dulu sendiri. Ah...mungkin ada di kamar ini, aku bisa menemukan sesuatu!" ujar Saka yang lalu beranjak dari ranjang, kemudian dia mendekati nakas disamping tempat tidur itu dan berusaha untuk mencari sesuatu di sana yang mungkin bisa menjawab pertanyaannya. Mumpung Starla masih berada di kamar mandi.
Drett...
Drett...
Suara vibrasi ponsel Starla yang sedang di charge atas nakas itu membuat Saka beralih pada ponsel Starla. Ia mengintip ponsel Starla yang saat ini menggunakan password tidak seperti sebelumnya.
Ia melihat ada beberapa pesan masuk yang kebanyakan dari pria, ya terlihat dari namanya.
[Galang : Star, Lo udah sampe rumah belum? Jangan lupa makan, kasihan bayi Lo. Jangan stres, Lo masih punya gue sama temen-temen. Lo nggak usah mikirin si bocil...]
Saka berdecak kesal membaca pesan dari Galang yang sangat perhatian pada Starla. Pesan itu tidak terbaca selanjutnya karena Saka hanya bisa membaca yang tertampil dilayar saja.
Saka jadi beranggapan bahwa Galang adalah satu pria yang dimaksud oleh Gina yang juga menyukai Starla.
"Andre mana ini? Apa anggota tim basket kelas 2?" gumam Saka saat melihat Andre mengirimi Starla pesan. "Kurang ajar banget dia, berani godain istriku!" geram Saka. Kemudian Saka pun melihat pesan lainnya.
[+62xxxxxxxx : Kenapa kamu blokir nomor aku Star?]
[+62xxxxxxxx : Star, katakan sama aku siapa suami kamu? Aku harus tau siapa dia! Sekuat apapun aku mencari identitas suami kamu. Aku nggak pernah menemukannya Star]
Saka mengerutkan keningnya, menurut Saka pria yang mengirimi Starla pesan ini cukup aneh. Dia ingin mencari tau tentang Saka, suami Starla. "Apa dia cowok yang penting dalam hidup Starla, seperti apa yang dikatakan kak Gina?" pikir Saka.
Saat Saka akan menyalin nomor itu ke ponselnya, ia mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Saka buru-buru kembali duduk di ranjang.
"Ngapain kamu disitu?" tanya Starla curiga. Dia menghampiri Saka yang duduk didekat nakas. Lantas, Starla pun mengambil ponselnya yang masih di charge itu.
"Apa sih? Aku nggak ngapa-ngapain juga!" kata Saka saat ia menyadari tatapan curiga dari Starla padanya.
Starla tidak bicara apapun lagi, hanya berekpresi dingin. Lalu membereskan laptop juga beberapa kertas di ranjangnya.
"Aku bantu ya Star." Saka bergerak dan berniat untuk membantu Starla membereskan barang-barangnya diatas ranjang.
"Nggak usah." ketus wanita itu.
__ADS_1
"Aku bantu," kata Saka kekeh. Ia mengambil buku tebal dan laptop Starla yang terlihat berat. Dia melihat sampul buku itu sekilas, tentang ekonomi.
Starla menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kelakuan Saka. Terserahlah dia mau apa.
"Ini ditaruh dimana?" tanya Saka saat akan menaruh laptop Starla.
"Di atas meja belajar aja!" jawab Starla ketus. Setelah semua barang-barang beres, Starla mulai mengambil bantal dan selimut tipis diatas ranjang. Lalu ia memberikannya pada Saka.
"Kamu tidur di sofa atau di lantai, terserah!" ujar Starla pada suaminya.
"Kamu tega, biarin suami kamu tidur di lantai? Disini kan nggak ada sofa." Saka memelas.
"Sofa ada di ruang tengah," ucap Starla kesal.
"Tapi nanti Papa tau dong kalau aku tidur diluar, bisa jadi masalah kan kalau kita tidur terpisah." jelas Saka beralibi.
"Ya udah, tidur aja di lantai." kata Starla tak peduli. Dia pun naik ke atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya yang terbalut piyama dengan selimut.
'Kamu pikir aku akan memaafkan kamu dengan mudah? Maaf, aku nggak bisa. Aku harus tegaskan sama kamu kalau aku tidak bisa kamu perlakukan seenaknya Arshaka' batin Starla.
Saka berdecak menahan kesal karena Starla sama sekali tidak peduli padanya.Ya, ini salahnya juga.
Akhirnya pria itu pasrah dan tidur dibawah lantai beralaskan selimut dan memakai satu bantal saja. Saka merebahkan tubuhnya di sana meski ia tau itu tidak nyaman. Saka adalah anak orang kaya, tentu dia tidak pernah hidup susah.
"Star, aku minta maaf...aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon maaf," lirih Saka pada istrinya yang ada diatas ranjang.
"Stop minta maaf terus! Mending kamu tidur, besok ada ulangan harian." ucap Starla tegas.
"Iya ya, kamu yang ngisi ulangannya kan? Btw, kapan kamu berhenti PPL?" tanya Saka yang kepo.
"3 kali pertemuan lagi." jawab Starla.
"Oh, 2 Minggu lagi dong." sahut Saka yang sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari Starla. "Apa dia tidur ya?" pikirnya.
"Star, kamu udah tidur?" tanya Saka yang lagi-lagi tak mendapatkan jawaban dari Starla. Lantas Saka pun beranjak dari lantai dan naik ke atas ranjang. Starla yang sebenarnya belum tidur, dapat merasakan seseorang naik ke atas ranjang.
Perlahan, Saka memeluk Starla dari belakang dan tangannya melingkar di perut wanita itu. "Maafin aku Star, maafin Papa ya little Star...papa udah buat kalian marah. Terutama mama kamu. Papa salah karena masih peduli sama mantan Papa, tapi sungguh...itu bukan karena Papa masih cinta sama dia. Ya, tapi alasan papa tetap aja salah...papa buat mama kamu kecewa. Dan sebenarnya, papa pengen mama kamu tau...kalau papa udah mulai jatuh cinta sama dia. Papa nggak mau pernikahan ini berakhir."
Deg!
Starla mendengar kata-kata itu tepat di telinganya. Saka mengaku ia mulai jatuh cinta pada Starla. 'Saka suka aku?'
"Semoga kamu cepat maafin aku Star, supaya kita bisa jadi lebih dekat lagi." Saka mengusap-usap pelan perut Starla, kemudian ia mengecup bibir Starla sekilas dengan lembut. "Supaya kita bisa lebih dekat dan aku bisa bilang i love you," ucap Saka lirih dari dalam lubuk hatinya.
****
__ADS_1
Spoiler bab berikutnya...
"Jadi benar, dia suami kamu Star? Anak SMA ini?"