
Setelah kepergian Bisma dan kejadian ciuman barusan, air mata Starla pun jatuh membasahi pipinya tak tertahankan lagi. Dia menangis bukan karena masih mencinta Bisma, namun karena ia merasa sudah menyakiti orang yang pernah ada didalam hatinya. Orang yang spesial, yaitu Bisma.
Disisi lain, Saka masih syok dengan ciuman barusan. Pria itu melamun dan matanya menatap kosong tak tentu arah. Dan Gina, dia sudah sadar dari rasa kagetnya yang barusan. Atensinya tertuju pada Starla yang sedang menangis tanpa suara, tubuhnya terhuyung dan Gina dengan sigap menangkapnya.
Starla lemas, tadi ia kurang tidur dan baru saja dia menghadapi sesuatu yang kurang menyenangkan. Rasanya hati Starla sakit, saat ia harus menyakiti Bisma sedalam ini. Namun jika ia tidak menyakiti Bisma dan menegaskan semuanya, Bisma tidak akan melupakannya dan akan terluka semakin dalam. Starla ingin mengakhiri semuanya dengan baik bersama Bisma.
"Star! Lo nggak apa-apa?" tanya Gina seraya memegang tangan Starla. Tak ada jawaban dari wanita itu, ia masih menangis.
"Woy berondong! Lo suaminya, kenapa Lo diem aja hah?" sentakan Gina berhasil membuat Saka terbangun dari lamunannya. Lantas cowok itu pun mendekati Starla dan melihat keadaan istrinya.
"Star...kamu..." Saka tidak melanjutkan ucapannya, manakala ia melihat istrinya berlinang air mata. Hati Saka berdenyut sakit melihat Starla menangis, menangisi pria lain setelah berciuman dengannya barusan.
'Apa dia menyesal udah menciumku? Apa dia begini karena dia masih cinta sama mantan tunangannya itu?' batin Saka perih hanya dengan memikirkannya saja.
Tuhan, kenapa rasanya sakit melihat Starla menangis untuk pria lain? Kenapa Starla tak ikhlas?
"Aku nggak apa-apa, yuk kita pulang! Tapi sebelum itu, aku mau jajan eskrim." kata Starla seraya mengusap air matanya, dia tidak mau terus-terusan menangis karena sudah menyakiti Bisma.
"Kamu pulang naik taksi aja bareng kak Gina. Masalah eskrim, biar aku yang beliin," ujar Saka dengan tatapan sayunya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya melihat Starla menangisi pria lain.
"Jadi kamu nggak mau nganter aku pulang?" tanya Starla kecewa. Padahal ia ingin bercerita tentang Bisma pada Saka, namun cowok itu malah menolaknya untuk pulang bersama. Starla tersinggung, sungguh. Akhir-akhir ini perasaannya sensitif.
"Bukannya nggak mau. Kamu kan lagi pusing, mungkin lebih baik kamu naik mobil sama kak Gina." alibi Saka yang memang saat ini malas bersama Starla.
"Kamu cuma alasan aja kan? Sebenarnya kamu mau ketemuan sama mantan kamu itu dan boncengin dia lagi?" tanya Starla dengan emosi yang membuncah.
Mata Saka terbelalak mendengar tuduhan dari Starla. Sungguh, sumpah demi Tuhan Saka tidak pernah terpikirkan seperti itu. Disisi lain, Gina mendengar perdebatan pasangan suami-isteri ditempat parkir mall tersebut.
'Haduh, padahal aku pengen lihat keuwuan tapi malah lihat perdebatan panas pasutri muda' batin Gina geram.
"Kenapa kamu nuduh aku kayak gitu Star? Sumpah, aku nggak ada kepikiran kayak gitu! Aku cuma mau kamu naik taksi karena keadaan kamu, gini doang jadi masalah hah?" Saka yang dituduh seperti itu, tak bisa menahan emosinya lagi. Dia mengeluarkan kata-kata sinis dengan suara meninggi pada istrinya.
"Bohong!"
Starla mengambil helm di motor Saka yang dipakai Elisa sebelumnya. Dia melempar helm itu ke jalanan hingga kacanya terlepas.
Brak!
Gina dan Saka tercengang melihat betapa emosinya Starla saat ini. Starla terlihat marah dan sedih. Duh, kenapa jadi kacau begini? Kenapa jadi bawa-bawa Elisa?
"Fine, aku juga nggak mau kok balik sama kamu dan pakai helm bekas cewek lain!" setelah mengatakan itu, Starla pun melangkah pergi dari sana. Saka dan Gina menyusul wanita yang sedang merajuk itu.
"Star! Tunggu Star! Lo pulang aja bareng gue!" seru Gina pada temannya itu.
"Gak usah, gue balik sendiri!" ketus Starla yang masih berjalan cepat dari kedua orang itu.
"Star!" teriak Saka memanggil istrinya. Namun Starla keburu naik ojeg dan pulang bersama ojeg itu. Saka menghela nafas berat saat Starla pergi. Gina juga tidak habis pikir, Starla menjadi begitu sensitif sekarang.
Kemarahan ibu hamil muda itu tidak bisa diredam, bahkan meledak-ledak begitu saja. Sumpah, Starla yang sekarang sulit dimengerti.
"Lagian kenapa sih Lo nggak mau nganterin istri Lo sendiri? Apa Lo masih gamon sama mantan Lo itu?" cecar Gina dengan bersungut-sungut kepada Saka.
"Apa kakak juga nuduh aku?" ucap Saka bertanya balik, raut wajahnya juga terlihat tidak baik.
"Kalau bukan, terus kenapa Lo nggak mau nganter Starla? Lo kayak orang yang ngambek nggak jelas tau nggak, bocil!" ujar Gina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Siapa yang nggak marah kalau lihat istrinya masih nangisin cowok lain? Mantan tunangannya itu!" celetuk Saka geram, yang membuat Gina terperangah. Oh, sekarang Gina paham kenapa Saka tiba-tiba marah dan menolak mengantar Starla. Hanya satu jawabannya, Saka suka pada Starla.
"Jadi karena itu? Apa jangan-jangan Lo suka sama Starla?" pertanyaan Gina ini tidak mendapatkan jawaban dari Saka, pria itu malah terlihat salah tingkah.
__ADS_1
"Lo suka Starla? Astaga dragon. Gue nggak nyangka. Tapi bagus lah, cepet-cepet baikan aja deh kalian. Kalian tuh suami-istri, mana mau punya anak lagi!" kata Gina mendukung Starla dan Saka baikan.
"Sial! Kenapa Lo diem aja sih ******? Gue lagi ngomong sama Lo!" tegur Gina karena Saka mengabaikannya.
"Ya...terus aku harus gimana? Starla masih cinta sama mantannya itu dan dia emang keliatan sempurna dibandingkan aku!" untuk pertama kalinya dalam hidup, Saka curcol pada seseorang dan tidak merasa percaya diri setelah melihat mantan tunangan istrinya seperti apa.
"Nggak! Lo salah paham bocil, Starla udah nggak cinta sama dia. Dia pernah bilang sama gue, sejak Bisma mutusin dia dan ngomong hal-hal yang nyakitin dia. Starla udah nggak ada rasa cinta lagi sama kak Bisma. Gue yakin itu dan hatinya juga udah berpindah ke orang lain," jelas Gina yakin. Ia tau bahwa Starla menangis tadi bukan karena masih cinta, tapi merasa kasihan pada Bisma yang sudah disakitinya.
"Berpindah ke orang lain. Apa itu si kak Galang?" tanya Saka.
"No, Starla nggak pernah nganggap Galang lebih dari sahabat kok. Eh, tapi kok bisa tau sih kalau Galang suka sama Starla?" tanya Gina penasaran. Rupanya pertanyaan Saka yang lainnya mendapatkan jawaban dari Gina. Fiks, Saka yakin kalau Galang menang suka pada istrinya.
"Semua orang bisa lihat itu. Oh ya kak, tentang perasaanku sama Starla. Aku harap kakak nggak ember, soalnya aku belum siap kalau Starla tau sekarang! Nunggu momen yang pas," ucap Saka yang membuat Gina akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Oke fine.Ya udah kita susul Starla yuk, gue nebeng sama Lo." celetuk Gina.
"Hah? Kenapa? Aku nggak mau nganterin kakak, aku harus nyusul Starla!" kata Saka menolak tegas.
"Dih! Gue juga mau susul Starla, malam ini gue bakal nginep di rumah calon suami gue. So, gue nebeng ya." Mata Gina berbinar-binar saat mengatakan tentang calon suaminya itu. Sedangkan Saka, menaikkan kedua alisnya.
"WHAT? CALON SUAMI? Siapa?" Saka tercengang dengan ucapan Gina. Gadis itu akan menginap di rumah Starla dan mengatakan calon suami.
'Apa jangan-jangan kak Gina ini suka sama papa Adrian? Oemji, ngakak kalau bener' kata Saka dalam hatinya tak percaya.
"Ya udah, tapi helmnya rusak."
"Nggak apa-apa yang penting bisa jalan dan ngelanggar rambu-rambu lalu lintas." Gina memungut helm yang sudah tidak ada kacanya itu dan memakainya. Gina pun menyarankan pada Saka untuk membeli helm baru agar dipakai Starla.
Lantas, mereka pun otw ke rumah Adrian untuk menyusul Starla. Tapi sebelum itu, Saka dan Gina mampir ke kedai eskrim kesukaan Starla. Gina memberitahukan kepada Saka bahwa Starla suka eskrim coklat atau rasa matcha. Saka langsung membelikannya, ia belikan juga untuk Gina sebagai rasa ucapan terimakasih karena Gina sudah memberikan informasi tentang Starla.
Saat sedang membeli eskrim, Saka mengorek informasi tentang Starla sebanyak-banyaknya. Termasuk tentang apa kesukaan Starla dan apa yang tidak disukai wanita itu. Saka yang memang cepat memahami sesuatu, memasukkan infomasi ini ke dalam otaknya.
"Paling cincin nikah, itu pun Mama yang beli." kata Saka dengan polosnya.
"Jielah...kasih dong sesuatu yang buat Starla terkesan dan mau maafin Lo. Sini gue bisikin!" ujar Gina pada Saka. Lalu cowok itu pun mendekat ke arah Gina. Gina membisikkan sesuatu padanya. Saka hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
****
Setelah itu Gina pun memutuskan pulang ke rumah saja lebih dulu agar memberikan waktu kepada Saka dan Starla untuk berbaikan. Sore itu Starla sedang berada di dapur dan mencari-cari makanan, dia seorang diri di rumah.
"Apa dia nggak mau pulang? Kenapa nggak ada kabar sih? Ah...bodoh amat, paling dia lagi selingkuh sama si Elisa." gerutu Starla kesal sendiri.
Brak!
Brak!
Tiba-tiba saja terdengar suara gaduh dari halaman belakang yang membuat Starla terheran-heran. Ia mendekat ke arah halaman belakang.
"Apa itu Papa ya? Atau Saka?" Starla bertanya-tanya. "Atau pencuri?" wanita itu pun berjalan sambil membawa pemukul. Takutnya ada pencuri di sana.
Alangkah kagetnya Starla, saat ia melihat ada sosok badut berpakaian Teddy bear di sana, sambil membawa permen lolipop dan coklat berbentuk hati di tangannya. Sontak saja Starla yang mengira itu adalah psikopat, langsung memukul si badut dengan pemukul kayu itu.
"Kamu pasti psikopat yang kayak di film-film itu kan? Rasain ini huh!" teriak Starla sambil terus memukuli kepala si badut.
"Ahh! Sakit! Star, ini aku...aku bukan psikopat!" seru Saka kesakitan. Kemudian Starla pun menghentikan serangannya dan membuka topeng Teddy bear yang dipakai Saka.
Terlihat kening Saka berdarah, cowok itu juga tampak kesakitan. Starla tercengang melihatnya.
"Astaga! Saka? Kamu.."
__ADS_1
"Sakit..."
Lalu pasangan suami-isteri itu pun duduk di ayunan yang ada di halaman belakang. Kini Starla sudah membawa kotak p3k dan sedang mengobati luka di kening Saka.
"Tega banget kamu KDRT sama suami sendiri," cicit Saka dengan bibir cemberut.
"Apaan sih siapa yang KDRT? Lagian salah sendiri ngagetin aku pakai kostum kayak gini. Apa-apaan coba?" tanya Starla yang tak mau disalahkan. Dia masih mengusap noda darah di kening Saka, lalu ia pun mengoleskan obat merah pada kening Saka. Meniupnya dengan hati-hati.
"La-lagian kostumnya juga bukan kostum psikopat di film Scream kan? Ini kostum lucu, masa dibilang psikopat?" tanya Saka dengan polosnya. Meski Saka kadang bersikap dingin, namun ia memiliki sisi polos didalam dirinya.
"Iya sih, malah aku suka Teddy bear." gumam Starla sambil menempelkan plester pada kening Saka yang terluka.
Diam-diam Saka tersenyum tipis mendengarnya, ternyata benar apa kata Gina. Starla suka Teddy bear.
"Lagian kamu apa-apaan sih pake kostum kayak gini segala? Terus kamu bawa lolipop, coklat, apaan?" tanya Starla seraya melihat ke arah barang bawaan Saka yang ada diatas kursi. Ia baru selesai mengobati luka di kening Saka.
Tanpa menjawab apa-apa, Saka mengambil kertas yang ada dibalik coklat itu dan memperlihatkannya pada Starla. Ada TULISAN maaf di sana. "Aku minta maaf Starla, maafin papa juga ya little star."
Saka mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf pada Starla. Wanita itu tersenyum tipis, lalu memegang tangan Saka.
"Udahlah lupain aja, kita masuk ke dalam yuk!" ajak Starla yang tidak mau membahas masalah yang telah lalu. Baik masalah Elisa ataupun Bisma, lebih baik tidak membahasnya.
"Nggak, kita harus ngomong dulu. Aku ingin kita saling tahu satu sama lain. Kita suami-istri dan aku nggak mau ada yang kita tutupin. Entah itu masa lalu kita!" kata Saka seraya memegang tangan Starla, wanita itu pun duduk kembali disamping Saka.
Mereka saling berpandangan, lalu mulai berbicara bergantian. Tentang masa lalu mereka, tanpa ada yang ditutupi. Terutama tentang Elisa dan Bisma. Hingga akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk berbaikan. Baik Starla, maupun Saka sepakat untuk saling terbuka satu sama lain dan sebisa mungkin menjauhi yang namanya mantan.
"Jadi kita baikan kan?" tanya Saka sambil memegang tangan Starla, seraya menatap netra coklat muda yang tampak cantik itu.
"Hem..."
"Makasih Star, aku janji aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu dan ayah yang baik untuk little star!" kata Saka yang sekarang tangannya beralih pada perut datar Starla.
"Oke, papa muda." sahut Starla sambil tersenyum.
'Starla cantiknya nggak ada obat kalau udah senyum. Benar kata Malvin, aku buta karena selama ini nyangka Starla itu jelek' batin Saka yang terpesona melihat kecantikan istrinya. Dulu dia suka mengejek Starla dan mengatakan Elisa lebih cantik jadi Starla. Dan Malvin selalu menjadi orang yang pertama marah kalau Starla disebut jelek.
Kemudian Saka pun mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Starla yang seolah sudah menggodanya sedari tadi. Starla yang terkejut, hanya bisa terdiam. Namun, lama kelamaan ia membalas pagutan lembut dari Saka.
5 detik kemudian, Saka melepaskan pagutan lembutnya dan dia menyatukan kening mereka. "Aku cinta kamu, Star."
Deg!
Jantung Starla berdegup kencang saat Saka menyatakan cintanya. Padahal dia sudah mendengar itu semalam. Namun jantungnya masih saja berdebar.
"A-aku juga Saka. Aku cinta kamu," balas Starla gugup, sambil menyisir anak rambutnya kebelakang. Dia tidak berani menatap Saka.
Sedetik kemudian, Saka menarik Starla ke dalam dekapannya. Dia berjanji dalam hatinya, ia akan berusaha membahagiakan Starla dan calon bayi mereka dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Ya, Saka akan mulai bekerja paruh waktu nanti.
"Masuk yuk dingin, sekalian makan coklat sama lolipopnya!" kata Saka yang kemudian menggendong Starla ala bridal style.
"O-oke, tapi nggak usah digendong juga kali. Aku kan bisa jalan sendiri," ucap wanita itu malu.
"Jangan remehin aku hanya karena aku anak SMA, ngehamilin kamu sekali tembak aja aku bisa. Apalagi gendong kamu kayak gini!" celetuk Saka yang sontak saja mendapatkan tatapan tajam dari Starla.
"Saka, kamu OMES!" Saka hanya tertawa saat melihat wajah istrinya memerah seperti tuan krab si kepiting yang ada di film Spongebob. Uh, gemasnya.
****
spoiler...
__ADS_1
"Jangan sampai Starla lihat medsos, kalau Lo nggak mau Starla stres!"