Dihamili Berondong

Dihamili Berondong
Bab 75. Sakit teramat sakit


__ADS_3

****


Mendengar kata puasa 13 tahun dan setelah melihat tombak perkasa milik suaminya, mendadak Gina jadi takut. Dia menelan salivanya dengan susah payah, keringat dingin mulai bercucuran dari wajahnya. Gadis itu memalingkan wajah, saat Adrian menunjukkan tombaknya.


"Olive sayang, kenapa kamu buang muka gitu? Bukannya kamu menggoda Mas, untuk ini." tanya Adrian seraya menggoda istrinya yang sudah polosan itu.


"M-mas aku takut, a-aku nggak yakin apa benda itu bisa masuk ke dalam milikku. Punyaku kecil, pasti sakit kan Mas?" tanya Gina terbata, tadi saja dia seperti singa wanita yang agresif dan sekarang dia malah seperti kucing kecil yang sedang bersembunyi.


"Jadi, kamu nggak mau kalau kita melakukannya malam ini? Ya udah, Mas nggak akan maksa kamu. Meskipun Mas akan menahan rasa sakit ini." keluh Adrian yang nafsunya sudah diujung.


Adrian mendes*h, lalu ia beranjak dari tubuh semok Gina tapi tinggi badannya jauh lebih pendek dari pria itu. Adrian duduk diatas ranjang sambil memijat keningnya. Gina merasa bersalah karena membuat Adrian pusing.


Gina yang sudah telanjang itu, ikut duduk disamping Adrian. "Aku nggak mau Mas sakit." lirih Gina.


"Ya mau gimana lagi sayang. Kamu kan takut, aku juga nggak bisa maksa kamu."


"Biar Mas nggak sakit lagi, aku harus gimana?" tanya Gina dengan polosnya.


"Hanya ada satu jalan, Mas harus menyalurkan hasrat ini. Atau Mas harus menunggu sampai gak tegang lagi." Bohong Adrian dengan wajah memelas. Padahal Adrian bisa memakai cara lain agar tidak sakit, tapi dia ingin menggoda Gina.


Lantas Adrian pun memakai celananya kembali karena tak ada jawaban dari Gina. Gina bergeming dalam pikirannya sendiri, dia mulai berpikir yang tidak-tidak saat ingat ucapan Starla.


*Gina, ingat loh! Cowok kalau lagi ngac*ng, bakal kesakitan, pusing dan bisa jadi kalau yang nggak kuat iman...cowok itu bakal melampiaskannya ke cewek lain. Serem ya, gue tau ini dari Toktok*.


'Nggak, pokoknya Mas popeye tidak boleh menyalurkan hasratnya kepada wanita lain' Gina panik sendiri.


Lalu ia pun mendorong tubuh Adrian ke atas ranjang dan mencium bibir Adrian dengan buas. Adrian terkesiap dengan serangan Gina yang tiba-tiba itu.


"Olive sayang? Kenapa? Bukannya kamu nggak mau malam ini?" tanya Adrian begitu mereka selesai berciuman. Adrian melihat Gina berada diatas tubuhnya.


"Aku...aku nggak mau Mas menyalurkan hasrat sama wanita lain. Aku siap kok Mas, aku cuma takut aja!" ujar Gina sambil meraba-raba dada bidangnya dengan sensual. Dan hal ini tentunya memancing hasrat Adrian lagi.


Apalagi Gina yang sudah tanpa sehelai benang, bergerak diatas tubuhnya. Akhirnya Adrian membalikkan keadaan. Pria itu membuat Gina berada di bawah kungkungannya.


"Kamu yakin? Mau?" tanya Adrian yang kembali meyakinkan Gina. Takutnya gadis itu menolak ajakannya.


"Iya Mas, aku yakin. Selama ini aku ingin memiliki kamu...hanya saja aku takut sama itu kamu." kata Gina yang belum bisa melihat tombak milik suaminya.


"Nanti juga jinak kok, malah bisa buat kamu keenakan sayang." lirih Adrian dengan senyuman yang menggoda.


"Mas mesum juga ya. Padahal selama ini Mas kelihatan cuek." Gina terkekeh tidak menyangka bahwa dibalik suaminya yang cuek, Adrian ternyata menyimpan sisi lain.


"Aku cuek sama orang lain, tapi enggak cuek dengan orang aku sayang." tangan Adrian membelai wajah Gina dengan lembut.


"Jadi Mas sayang sama aku?"


"Tentu saja, aku sayang dan cinta." bisik Adrian lembut. Lantas mereka berdua pun saling menatap dalam waktu yang cukup lama. Kemudian, Adrian memulai aksinya mengasah kemampuannya diatas ranjang yang setelah 13 tahun ia tidak melakukannya. Mungkin ia sedikit berkarat? Entahlah, Gina yang akan merasakannya malam ini.


Jika Adrian sama seperti awak kapal atau kapten kapal lainnya, dengan gaji besar, ia bisa menyewa wanita-wanita untuk melampiaskan nafsunya. Akan tetapi Adrian tidak begitu, ia berbeda dengan kapten lainnya. Maka dari itu, Gina beruntung mendapatkan Adrian yang setia.


Rupanya kemampuan Adrian tidak main-main, ia berhasil membuat Gina menggila hanya dengan jari-jarinya saja di bawah sana. Gelombang kenikmatan pun dirasakan Gina, meski ada rasa perih tapi ia akui rasanya enak. Ini baru jari, bagaimana dengan tombak milik Adrian?

__ADS_1


"Ahh...aku pipis, Mas." ucap Gina dengan nafas yang terengah-engah setelah mengeluarkan cairan dari goa viananya.


Adrian tersenyum setelah melihat lembah yang tampak becek itu. Dirasa pemanasan sudah selesai, Adrian mulai mengarahkan tombaknya pada bagian luar goa itu sebelum memasukinya. "Akan sedikit sakit, tapi nanti juga enggak. Sabar ya sayang. Kalau sakit, kamu boleh cakar atau mencengkram bahu Mas."


Jleb!


"Akhh!!" teriak Gina saat merasakan sesuatu yang besar memasuki goanya. Goa yang selama ini ia jaga dari bayi sampai sekarang.


"SAKIT! KELUARIN MAS POPEYE! SAKIT! KEJEPIT, NANTI NGGAK BISA KELUAR! KYAAK!!"


Gina berteriak heboh, ia merasa takut setengah mati saat merasa milik Adrian akan terjepit didalam miliknya. Tapi memang begitu kan. Ya, untunglah kamar hotel kedap suara, sehingga suara Gina tidak terdengar keluar dan hanya menggema didalam ruangan itu. Bayangkan kalau mereka malam pertama di rumah Gina, pasti satu komplek akan heboh dengan suara 20 oktaf milik Gina.


Adrian mengusap pelan kening Gina, kemudian kembali menyambar bibir gadis itu agar meredakan sakitnya. Perlahan ia menggantikan rasa sakit itu dengan kenikmatan, saat Gina sudah mulai terbiasa. Mereka pun sama-sama menikmatinya. Bahkan Gina terus menerus ingin Adrian menggempurnya, tentu saja pria itu tidak akan menolak.


"Harder Please! Give me more, Mas! Ah...Damn!" Gadis yang sekarang sudah menjadi seorang wanita itu, mengumpat karena baru pertama kali ia merasakan surga dunia. Adrian dengan senang hati, menganggahi tubuh istrinya semakin cepat.


"Terima ini sayang, **** Gina! Kamu sangat cantik!" seru Adrian yang juga sangat menikmati penyatuan ini. Tidak peduli dengan tubuh yang banjir keringat, tak terhitung melakukan berapa ronde yang jelas mereka merasa nikmat bersama-sama.


****


Ketika pasangan Gina dan Adrian sedang panas-panasnya. Bahkan mereka langsung bulan madu ke Australia selama seminggu. Hubungan Starla dan Saka semakin renggang karena minimnya komunikasi.


Saka yang menjauh dan Starla yang curiga. Dia tidak mau banyak pikiran demi bayinya, tapi sikap Saka ini membuat Starla kepikiran. Malam itu, secara diam-diam Starla pergi diam-diam dari rumahnya untuk menyusul Saka yang katanya lembut di restoran. Kenapa ia pergi diam-diam? Karena jika ia meminta izin pada kedua mertuanya, pasti mereka tak akan memberi izin.


Pukul 21.30, taksi yang ditumpangi Starla sudah tiba di restoran tempat Saka bekerja. Wanita hamil itu melihat seorang dua orang pria dan seorang wanita yang sedang menutup restoran. Sepertinya mereka karyawan cafe itu.


"Permisi..."


"Maaf, apa Saka ada didalam?" tanya Starla sopan, ia baru dua kali datang ke restoran ini.


"Saka kan sip siang sampe sore mbak, jadi udah pulang dari tadi. Mbak kan kakaknya, apa mbak nggak dikabarin?" tanya seorang pria pada Starla. Raut wajah Starla terlihat kaget saat mendengarnya. Saka sudah pulang dari tadi, lalu kenapa dia bilang kalau dia kerja sip malam.


"Kata siapa saya kakaknya?" tanya Starla pada pria itu.


"Pacarnya yang bilang, kalau wanita yang lagi hamil dan pernah datang kesini sama Saka, itu kakaknya."


"PACAR? Maksud kamu apa ya?" tanya Starla kaget mendengar itu.


"Loh,mbak nggak tau pacar Saka? Dia suka kesini kok, namanya Elisa. Mungkin sekarang Saka lagi pergi sama dia." jelas seorang wanita.


Deg!


Sakit sekali saat Starla mendengarnya, sekarang semua ucapan Galang dan kecurigaannya telah terbukti. Saka memang selingkuh, dengan mantan kekasihnya.


'Tega kamu Saka, tega kamu menyakitiku seperti ini' Starla sudah ingin menangis, namun ia menahannya.


"Makasih infonya." hanya itu yang Starla katakan sebelum dia pergi, dia membawa raganya yang sudah lemas. Akan tetapi ia tetap berusaha berdiri tegak, apalagi ada dua nyawa didalam tubuhnya.


Wanita hamil besar itu berjalan mencari taksi, ia akan pergi menemui Saka di rumah Elisa. Tanpa Starla sadari, ada Malvin dan Fero yang sedang wisata kuliner malam. Melihat Starla masuk ke dalam taksi sambil menangis, Fero dan Malvin pun mengikutinya.


Beberapa saat kemudian, Starla sampai didepan rumah Elisa. Dimana pintu gerbang rumah itu terbuka dan ada motor Saka di sana. Starla tersenyum miris melihatnya, air matang berjatuhan tak tertahankan. Ia tak kuat kalau benar Saka berselingkuh. Berarti selama ini, ia dan twins tidak ada artinya untuk Saka. Ungkapan cinta dan sayang itu, mungkin hanya bualan?

__ADS_1


Starla masih berharap ia salah paham!


Wanita hamil itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Elisa, anehnya di pos satpam tidak ada yang berjaga dan pintu terbuka. Seolah-olah memang tuhan mempermudah Starla untuk masuk ke dalam sana. Di belakang Starla, ada Malvin dan Fero mengikuti Starla. Mereka penasaran juga, kenapa Starla pergi ke rumah Erika.


Begitu Starla sampai diambang pintu rumah, matanya terbelalak saat melihat suaminya sedang berciuman dengan Elisa di sofa ruang depan dengan mesranya.


"Saka..." lirih Starla pelan.


Dadanya naik turun karena emosi, ia memegangi perutnya yang tiba-tiba merasakan denyutan sakit di sana. Mungkin anaknya merasakan sakit yang dirasakan oleh Starla saat ini. Air mata Starla tak terbendung lagi.


Papa kalian tega sekali sama Mama nak, tega.


Malvin dan Fero juga melihat semua itu, mereka kaget dengan apa yang Saka lakukan dengan Elisa.


"SAKA!" teriak Malvin emosi. Saka pun melepaskan pagutan bibirnya dari Elisa. Dua insan yang tadinya sedang bermesraan itu, kaget melihat ada 3 orang yang dikenal mereka di sana.


"Malvin, Fero...Starla sayang..." Saka panik begitu melihat Starla berada di sana, memandanginya dengan tatapan terluka dan penuh rasa sakit.


"Ini nggak seperti yang--" Saka berjalan mendekati Starla, sementara Elisa hanya diam di sana. Ia berdoa agar Starla dan Saka berpisah setelah Elisa memaksa Saka berciuman dengannya sebagai dalih deai ungkapan putus. Tidak disangka, Starla datang di waktu yang tepat, Elisa seperti mendapatkan jackpot!


"Cukup Saka! Kamu nggak usah jelasin apapun." Starla terlalu lelah untuk bicara sekarang. Dadanya bahkan terasa sesak. "Kita bicara di rumah!" ucapnya lagi.


Saka menatap istrinya dengan memelas, baru saja ia akan jujur tentang Elisa. Tapi semua sudah terlambat, sangat terlambat. Wanita itu pergi dari rumah Elisa dengan hati yang hancur.


"Star!"


Tiba-tiba saja Malvin maju ke depan dan menghadiahi Saka dengan bogem mentah. Dia marah kepada Saka yang sudah berani mengkhianati Starla.


"BRENGSEK! BAJINGANN LO ARSHAKA DELANO!"


Saka tidak mempedulikan dulu kedua temannya yang marah, saat ini fokusnya adalah Starla. Dia harus mengejar istrinya dan menjelaskan semuanya.


Starla sedang mencari taksi di sekitar area kompleks perumahan yang sepi itu, namun belum ada yang lewat. Wanita itu menangis, sambil memegangi perutnya yang buncit.


"Star, dengerin aku dulu!" Saka memegang tangan Starla dengan erat.


"Kita bicara di rumah, gue nggak mau berantem sama Lo disini." ucap Starla sinis, lalu menampik tangan Saka dari tangannya. Bahkan gaya bicara Starla berubah menjadi gue elo bukan aku kamu seperti sebelumnya. Dia sudah benar-benar marah. Kebohongan dan perselingkuhan Saka sudah tidak bisa dimaafkan.


"Tapi Star, dengerin dulu...aku mau jelasin semuanya sekarang." Saka tetap kekeh memegang tangan Starla. Namun wanita itu juga kekeh tak mau bicara. Hingga terjadi di tarik menarik tangan di sana. Fero dan Malvin berada dibelakang mereka.


"Lepasin gue! Gue jijik disentuh sama Lo, bangsat!!" maki Starla pada pria itu.


"Star, please..."


Tanpa sengaja Saka melepaskan tangan Starla sehingga tubuh Starla terdorong ke jalanan. Tepat saat itu juga, sebuah motor melintas dengan kecepatan tinggi mengarah padanya.


"KAK STARLA!


"STARLA!"


Bugg!

__ADS_1


*****


__ADS_2