
Sudah hampir tiga bulan Nisa dan Ayu bisa hidup berdampingan. Meskipun jauh dari kata akrab setidaknya kedua wanita yang memiliki status sebagai istri Bima itu berusaha untuk hidup rukun dan saling menghormati. Agar keharmonisan itu tetap terjaga, Bima sudah mengatur jadwal untuk dirinya dan kedua istrinya secara adil. Tiga hari dalam seminggu Bima akan tidur di kamar Nisa dan tiga hari berikutnya dia akan tidur di kamar Ayu. Dan satu malam yang tersisa dari seminggu itu, Bima akan tidur di ruang kerjanya, dia tidak mau terlihat berat sebelah.
Meski begitu disaat-saat tertentu, Bima akan lebih memanjakan Nisa karena kondisi wanita itu yang sedang mengandung. Beruntungnya Ayu juga tipe istri yang pengertian, wanita yang berstatus sebagai istri kedua Bima itu tidak mempermasalahkannya.
Siang itu Nisa dan Ayu sama-sama berada di dapur untuk menyiapkan makan siang. Sambil memasak Nisa mulai memberitahu hal apa saja yang disukai dan tidak disukai oleh Bima, bukan karena Nisa ingin menyerahkan tanggung jawabnya kepada Ayu. Bukan! Tetapi sebagai wanita yang juga berstatus sebagai istri Bima, Nisa hanya ingin agar Ayu juga mengetahui semua hal tentang suami mereka.
"Bagaimana kamu sudah paham kan?" tanya Nisa begitu selesai menjelaskan.
"Iya, Mbak. Aku baru tahu kalau Mas Bima ternyata tidak begitu menyukai minuman yang manis pantas saja waktu aku buatin Mas Bima teh manis, dia menghabiskan teh itu dengan wajah terpaksa," seloroh Ayu.
"Memangnya kamu kasih berapa sendok gulanya?"
"Dua sendok penuh, Mbak. Soalnya almarhum Bapak suka minuman yang sangat manis. Kalau takaran gulanya aku kurangin dikit aja, Bapak langsung protes. Jadi, ku kira Mas Bima juga sama," jawab Ayu. Wajahnya berubah sendu saat mengingat almarhum bapaknya.
__ADS_1
Nisa mengusap pelan pundak Ayu. "Kamu pasti sangat menyayangi Bapakmu ya?"
Ayu mengangguk. "Sangat, Mbak. Beliau adalah cinta pertamaku. Sayangnya sebelum aku berhasil menjadi orang sukses Bapak sudah keburu meninggal," jawab Ayu. Dia kemudian meghembuskan napas panjangnya. "Aku dengar dari Mas Bima katanya Mbak Nisa selalu menjadi murid berprestasi di sekolah bahkan sampai kuliah. Pasti orang tua Mbak Nisa sangat bangga sama Mbak Nisa."
Tangan Nisa yang tadinya mengusap pelan punggung Ayu mendadak berhenti.
"Ada apa, Mbak?" tanya Ayu.
"Ku kira hidup Mbak Nisa jauh lebih sempurna dari hidupku ternyata sama saja. Aku jadi sadar kalau setiap manusia selalu punya ujiannya masing-masing. Dan bersyukur adalah cara kita menghargai semua pemberianNya." Ayu menatap Nisa keduanya kemudian tersenyum.
Baru kali ini Nisa dan Ayu merasa lebih akrab, saling memahami satu dengan yang lain.
"Mbak, ternyata bahan-bahan masakan dalam kulkas sudah habis, cuma tinggal daging dan brokoli." Ayu menunjukan dua bahan itu kepada Nisa.
__ADS_1
"Ya sudah. Nanti siang kita beli semua kebutuhan dapur bersama-sama."
Ayu menatap wanita yang menjadi istri pertama dari suaminya penuh tanya. Tidak biasanya wanita itu mau mengajaknya. "Mbak Nisa serius mau ngajak aku membeli kebutuhan dapur?" tanya Ayu. Dia ingin memastikan jika dirinya memang tidak salah mendengar.
"Seriuslah, Yu. Lagian kalau nanti usia kandunganku semakin besar, bukankah kamu yang harus mengurus semuanya," jawab Nisa.
"Aku harap kamu bisa mulai belajar dari sekarang."
"Iya, Mbak," jawab Ayu sambil mengangguk. Ayu merasa cukup bahagia karena akhirnya dia bisa ikut berperan dalam urusan rumah tangga mereka.
"Wah, mama senang melihat kalian seperti ini." Vena yang baru saja datang merasa bahagia karena kedua menantunya terlihat semakin akrab. "Semoga kalian berdua selamanya tetap seperti ini."
Nisa dan Ayu saling beradu pandang, beberapa detik kemudian keduanya sama-sama tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1