
Nisa berjalan menjuku ke taman kota yang sempat dilaluinya tadi. Di sana dia melihat ada beberapa keluarga yang sedang duduk santai bersama keluarga untuk saling bercengkerama.
"Dulu inilah impian kita, Mas. Memiliki anak dan hidup bahagia. Tapi, kenapa sekarang semuanya jadi begini?" gumam Nisa. Dia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.
Nisa duduk di sana selama tiga puluh menit, karena merasa lapar ia pun mencoba mencari warung atau restoran yang letaknya tidak jauh dari sana melalui maps. Setelah menentukan lokasi yang ia inginkan, Nisa segera menuju ke titik lokasi dengan berjalan kaki. Tempat itu memang tidak terlalu jauh hanya saja letaknya berada di seberang jalan. Melihat jalanan yang agak ramai, Nisa memilih menyeberang melalui jembatan penyeberangan orang yang biasa disingkat dengan JPO. Nisa mulai menaiki satu persatu anak tangga yang ada di JPO tersebut. Tetapi ketika sampai di atas JPO tersebut mendadak Nisa ingin melihat suasana jalanan dari sana. Nisa berdiri di dekat pagar dan melihat kendaraan yang berlalu lalang di bawahnya.
"Ternyata jika dilihat dari atas lumayan indah," ucap Nisa sambil menengok ke bawah.
Di sisi lain ada seorang laki-laki dengan setelan jas berwarna hitam dengan bahu dan telinga yang mengapit ponsel. Pria itu terlihat sibuk melihat kertas-kertas di tangannya.
__ADS_1
"Aku tutup dulu, kita bicarakan nanti setelah aku tiba di sana." Setelah merapikan kertas-kertas di tangannya. Laki-laki itu kemudian memasukkan benda pipih di tangannya kedalam saku.
Pada saat itulah, tiba-tiba laki-laki tersebut memeluk tubuh Nisa menjauh dari pagar pembatas JPO.
"Nona, jika ada masalah selesaikan baik-baik jangan ambil jalan pintas seperti ini!" sentak laki-laki itu kepada Nisa. Nisa menatap bingung orang tersebut.
"Lepaskan!" sentak Nisa.
"Siapa yang mau loncat sih," ujar Nisa.
__ADS_1
Laki-laki tersebut kemudian melepaskan Nisa dari pelukannya. "Kalau tidak mau loncat, barusan Anda mau ngapain?" tanyanya.
"Aku cuma mau melihat kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana. Pikiranku memang sedang kalut, tapi aku masih punya otak untuk tidak mengakhiri hidupku sendiri. Apalagi di dalam perutku ini ada nyawa yang harus jaga," jawab Nisa, dia menatap orang tersebut sinis.
"Maaf saya kira Anda tadi mau.... " laki-laki itu tidak melanjutkan kalimatnya, dia hanya menunjukkan cengiran kudanya.
"Sudah lupakan saja. Tapi, lain kali jangan memeluk orang sembarangan karena kita bukan muhrim." Setelah mengatakan hal itu Nisa segera meninggalkan laki-laki tersebut. "Dasar orang aneh!" gumamnya sebelum pergi.
"Galak, tapi cantik," puji laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim, ingat Ngga, dia istri orang. Lo nggak boleh kagum sama istri orang." Laki-laki yang menyebut dirinya sendiri dengan Ngga memukul kepalanya sendiri. Dia pun pergi ke arah yang berlawanan dengan Nisa.
"Dasar cowok aneh, seenaknya saja meluk tubuh orang. Pakai alesan ngira aku mau bunuh diri lagi. Siapa juga yang mau bunuh diri. Meskipun masalah hidupku pelik, aku nggak akan pernah mengambil keputusan seerti itu. Aku yakin itu hanya modus tu cowok buat meluk tubuh cewek," gerutu Nisa. Dia yang sebelumnya ingin mencari tempat makan pun mengurungkan niatnya. Dia memilih pulang ke rumah.