
"Ayu Divia Pridayanthi ... mulai hari ini ... kamu... kamu.... "
"Hentikan, Mas!" sela Nisa. "Jika Mas Bima memang sulit untuk menceraikan dia, jangan lakukan itu."
Bima bernapas lega karena Nisa menghentikannya. Itu artinya istri pertamanya tersebut mau menerima Ayu sebagai madunya.
"Terima kasih ya, Nis, karena kamu bisa menerima kehadiran Ayu. Terima kasih," ucap Bima senang.
"Mas, aku tidak bilang kalau aku menerima pernikahan keduamu."
"Apa maksudmu? Bukankah kamu melarangku untuk menceraikan Ayu?" dahi Bima berkerut.
"Iya, itu benar. Jika kamu memang berat menceraikan Ayu, maka kamu bisa ceraikan aku karena sampai kapan pun aku tidak mau berbagi suami dengan wanita lain," jawab Nisa tanpa ekspresi.
"Nis, aku mohon jangan beri aku pilihan yang sulit!" pinta Bima dengan wajah memelas.
Kedua pilihan tersebut memang terlalu sulit bagi laki-laki yang kini sudah menginjak usia 38 tahun. Satu sisi adalah wanita yang ia cintai, yang sudah mendampingi dirinya mengarungi bahtera rumah tangga selama tiga tahun. Menghabiskan suka dan duka bersama, ditambah dengan saat mereka berpacaran. Semua hal tersebut tidak mungkin bisa ia lepaskan begitu saja. Tetapi disisi lain adalah wanita yang diwasiatkan oleh almarhum papanya, terlebih dia juga sudah berjanji kepada almarhum ibunya Ayu akan selalu menjaga Ayu disisa umurnya. Jadi, mana mungkin dia sanggup untuk mengingkari janji itu.
"Aku tidak menyuruhmu untuk memilih, Mas. Aku hanya memintamu memutuskan, siapa diantara kami berdua yang kamu harapkan tetap berada disisimu," jawab Nisa.
"Nis.... "
"Mas, sudah. Lepaskan saja aku! Ceraikan aku sekarang! Mbak Nisa jauh lebih berhak berada di sisimu ketimbang aku. Dia orang yang kamu cintai sementara aku hanya orang yang kamu kasihani. Jadi, lepaskanlah aku, Mas!" pungkas Ayu.
"Kalau Mas tidak bisa memutuskan biarkan aku yang mundur."
"Ceraikan saja aku, Mas."
Kedua wanita yang masih sah menjadi istri Bima itu sama-sama kukuh meminta untuk diceraikan dan hal tersebut membuat Bima semakin bingung.
__ADS_1
"Mas."
"Mas."
"Cukup!" Teriakan tersebut justru keluar dari Vena. Dia bangun dari tempat duduknya kemudian berdiri di antara ketiga orang yang sedang berdebat minta untuk diceraikan dan menceraikan.
Vena memindai satu per satu wajah anak dan menantunya.
"Bima, kamu memang salah karena menikah tanpa minta izin terlebih dulu kepada Nisa, istri pertamamu. Meskipun itu demi memenuhi wasiat dari almarhum papamu seharusnya sebelum kamu mengambil keputusan untuk menikahi anak Pak Rustam, kamu meminta izin dulu kepadanya, minimal memberitahunya agar Nisa tidak merasa tidak dihargai." Mendengar perkataan mamanya, Bima menunduk. Dia akui itulah awal kesalahannya. "Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Siapa pun yang dilepaskan atau dipertahankan pasti akan saling merasa bersalah."
Kini tatapan Vena beralih ke arah Ayu, menantu keduanya.
"Yu, mama tahu. Kamu juga tidak punya niatan untuk merusak rumah tangga Bima dengan istrinya. Mama percaya kamu orang baik dan mungkin pernikahan kalian adalah takdir terbaik untuk kalian saat ini." Vena menggenggam tangan Ayu sebentar kemudian melepaskannya lagi.
Vena kemudian berdiri tepat dihadapan Nisa. Dan tanpa diduga, wanita yang sudah melahirkan Bima itu berlutut dihadapan Nisa.
"Ma, apa yang Mama lakukan? Jangan begini, Ma! Ayo bangun!" Nisa berusaha membuat mertuanya itu untuk berdiri.
"Ma, bangun, Ma! Jangan begini!" Nisa berusaha membuat mertuanya tersebut untuk berdiri.
"Mama akan berdiri asal kamu berjanji tidak akan meminta cerai dari Bima."
Dengan berat hati Nisa mengangguk. Wanita berhijab krem itu tidak bisa menolak permintaan dari mertuanya.
"Sudah ya, Ma. Ayo bangun!" pinta Nisa. Vena kemudian berdiri dan memeluk Nisa.
"Terima kasih ya, Nak. Terima kasih karena kamu masih mau mengabulkan keinginan mama. Terima kasih." Vena menggenggam tangan Nisa dengan erat.
Nisa mengangguk. Dia sedikit mendongakkan kepala agar air mata yang ia tahan tidak sampai jatuh. Namun sayangnya air mata tersebut tetap lolos dari jatuh di kedua pipinya.
__ADS_1
"Mama tahu, Nis. Bertahan diantara pernikahan poligami itu sangat sulit. Tapi, demi anak yang ada di dalam kandunganmu, mama mohon bertahanlah. Kamu tidak mau kan anakmu hidup dengan keluarga yang tidak harmonis?" Kembali Vena menatap Nisa. "Mama tidak memintamu untuk langsung menerima Ayu sebagai madumu. Tetapi, setidaknya jangan benci dia. Cobalah kamu mengenal dia terlebih dulu. Hm."
Lagi-lagi Nisa hanya bisa mengangguk pasrah. Permintaan Vena juga hal yang sangat penting untuknya. Kehadiran Vena dalam hidup Nisa mampu membuat Nisa merasakan sentuhan seorang ibu yang sudah lama sangat ia rindukan. Iya, meski ibu kandung Nisa masih hidup, tetapi kasih sayang dari wanita yang melahirkannya itu tidak bisa ia rasakan sejak dirinya masuk SMA. Nisa tidak tahu awalnya bagaimana yang jelas ibunya tiba-tiba menderita gangguan kejiwaan yang memaksanya harus membawanya ke rumah sakit jiwa.
Bima berjalan mendekati Nisa. Dia menatap istri pertamanya tersebut sambil tersenyum. "Terima kasih ya, Nis, karena kamu masih mau bertahan disisiku."
Nisa tidak menjawab. Jujur, masih terlalu sulit untuk menerima ini. Tapi, dia akan berusaha bertahan demi anak dan ibu mertua yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
"Yu, sekarang, jangan minta aku untuk menceraikanmu lagi. Berusahalah untuk menjadi teman Nisa. Hidup rukunlah dengannya." Bima mengatakan itu sambil menatap Ayu.
Ayu menatap Nisa beberapa detik, dia tahu wanita itu belum bisa menerima kehadirannya. Tetapi, dia berjanji akan berusaha untuk bisa membuat Nisa menyukainya dan menerima dia tidak hanya sebagai madu juga sebagai adiknya. "Iya, Mas. Aku akan berusaha yang terbaik untuk kalian," jawabnya.
"Hoek." Nisa langsung berlari ke kamar mandi yang berada tidak jauh dari dapur.
Bima, Vena, bahkan Ayu mengikutinya. Ketiga orang tersebut mengkhawatirkan keadaan Nisa.
"Nis, kamu nggak apa-apa kan? Apa ada yang kamu rasakan?" tanya Bima.
"Nisa, nanti coba kamu olesi tengkukmu dengan minyak kayu putih. Siapa tahu bisa mengurangi rasa mualnya." Ini Vena yang berbicara.
"Mbak Nisa, apa ada yang Mbak Nisa inginkan? Mau teh anget? Susu?" Ayu juga ikut bertanya.
Nisa keluar dari kamar mandi setelah merasa perutnya sedikit nyaman. Dia menatap satu persatu orang yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Aneh memang. Tapi, setidaknya dia percaya kalau semua orang itu perduli dan mengkhawatirkan keadaannya dengan tulus.
"Terima kasih, tapi aku baik-baik saja," jawab Nisa. Meski tidak menyukai dengan keadaan baru ini, Nisa berjanji di dalam hatinya untuk menerima semua takdir ini dengan ikhlas.
πΊπΊπΊ
Jangan lupa like, komen, dan votenya ya gaes. Maaf ya Mr. Perfect & Miss Carelles masih belum up π
__ADS_1
Semoga kalian mau tetap menunggu. Terima kasih. Lope you buat kalian.