Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 91


__ADS_3

Bunyi petir yang cukup keras membuat bibir mereka tidak jadi bersentuhan, keduanya langsung tersadar akan tindakan bodoh yang hampir mereka lakukan barusan. Nisa mendorong tubuh Angga dan sebaliknya, Angga pun melepaskan pinggang wanita itu. Keduanya sama-sama diam dengan perasaan yang serba salah.


"E... Nis, aku... aku pulang ya, sepertinya mau hujan." Angga berpamitan dengan rasa canggung.


"I... iya, Ngga. Silakan," jawab Nisa tak kalah canggung, dia bahkan sampai bingung harus melakukan apa. Nisa sendiri bahkan takut jika, Angga akan memandangnya sebagai janda gatal dan murahan.


Angga melangkah untuk meninggalkan kamar Daffa, namun beberapa detik kemudian langkahnya terhenti.


"Nis," panggil Angga tanpa menoleh.


"Iya."


Angga menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. "Maafkan aku ya, Nis. Aku tidak bermaksud melecehkanmu. Atau berlaku kurang ajar terhadapmu, tolong maafkan aku," ucapnya.


"Aku mengerti," jawab Nisa.


"Jangan menganggap dirimu rendah karena perbuatan bodoh yang hampir aku lakukan kepadamu tadi. Kamu tetaplah wanita terhormat di mataku dan mulai sekarang aku tidak akan ragu lagi untuk mendekatimu dengan cara yang benar." Setelah mengatakan hal itu, Angga kembali melenggang pergi dari sana.


Mendekati? Nisa merasa ambigu dengan kata mendekati yang dikatakan oleh Angga.


"Apa maksudnya dengan mendekatiku? Apa itu artinya dia menyukaiku?" batin Nisa. Entahlah, tiba-tiba saja Nisa merasa ada banyak bunga di hatinya.


***

__ADS_1


Angga merebahkan tubuhnya di sofa ketika ia tiba di rumah pribadinya. Rumah itu terletak persis disamping restoran yang baru ia buka hari ini.


Rumah dengan desain Eropa minimalis itu memang tidak terlalu besar karena Angga membangun rumah tersebut hanya sebagai tempat beristirahat sementara ketika ia lelah dengan pekerjaannya. Angga masih memiliki rumah pribadi lain yang jarang di tempati dan rumah tersebut berada di pusat kota. Ukurannya pun lebih besar dari rumahnya yang sekarang.


Sejak memutuskan untuk mengejar mimpinya, Angga sudah jarang pulang ke rumah itu. Entah sudah menjadi seperti apa rumah itu sekarang.


Dengan lengan dijadikan bantalan, Angga menatap ke langit-langit sambil tersenyum. Dia tidak menyangka jika dihari pembukaan restoran ketiga miliknya ia akan dipertemukan dengan Nisa kembali dan rasanya itu seperti mimpi. Apalagi sekarang ia tahu bahwa wanita pujaannya itu tidak pernah kembali dengan mantan suaminya. Sungguh benar-benar kado tak terduga bukan? Apalagi ternyata bocah kecil yang selama beberapa bulan ini bermain dengannya di taman adalah anak Nisa. Angga yakin kali ini ia akan bisa mengambil hati janda beranak satu tersebut.


"Kamu semakin cantik Nisa," puji Angga dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya.


"Sepertinya lagi happy. Boleh tahu alasannya?"


Suara itu mengagetkan Angga. Bisa-bisanya dia lupa kalau mulai hari ini mantan asistennya tersebut ikut tinggal dengannya.


"Kapan lo datang?" tanya Angga sambil bangun dari posisinya.


"Ada perlu apa lo nyari gue?" tanya Angga.


Angga hapal betul dengan sifat sahabat sekaligus mantan asisten pribadinya tersebut, dia tidak akan datang mengganggunya kalau tidak ada hal yang penting.


"Tuan dan Nyonya Besar nyuruh lo balik ke perusahaan," jawab Cevan.


"Cev, lo udah tahu kan gua sama sekali nggak tertarik sama perusahaan itu. Udah cukup gua jadi boneka orang tua gue bertahun-tahun yang lalu. Dan sekarang, gua sudah bahagia dengan kehidupan gua saat ini," jelas Angga panjang lebar.

__ADS_1


Iya, meski harus tertatih-tatih untuk berada di posisinya sekarang ini, setidaknya Angga merasa bangga dengan dirinya sendiri karena semua pencapaiannya merupakan kerja kerasnya sendiri, bukan sesuatu yang difasilitasi oleh keluarganya.


"Ngga, tapi saat ini perusahaan sedang membutuhkan lo. Saat ini sedang terjadi kekacauan di CHAMP Grup yang tidak bisa diselesaikan oleh orang tua lo," terang Cevan.


"Dan satu lagi. Thania masih menunggu lo, dia memiliki beberapa persen di CHAMP Grup yang bisa membantu menyelesaikan persoalan internal perusahaan," tambah Cevan.


"Cev, untuk masalah Thania, gua minta maaf karena sampai kapan pun, gua nggak bisa melanjutkan pertunangan itu," jawab Angga. "Kalau lo masih masih nganggap gua sahabat, lo nggak akan maksa gua untuk melanjutkan pertunangan itu," lanjut Angga dengan tatapan tegas.


Cevan hanya bisa menghela napasnya. "Baiklah untuk yang satu itu gue nggak akan ikut campur, tapi mengenai perusahaan orang tua lo, sebaiknya lo pikirkan dulu. Memangnya lo mau ngelihat perusahaan yang dibangun dengan susah payah oleh keluarga lo hancur begitu saja? Gue rasa jawabannya adalah tidak! Jadi pikirkankah sekali lagi," ucap Cevan. Dia bangun dari tempat duduknya.


"Ohya, gua lupa ngasih tahu lo sesuatu. Sebenarnya tidak ada orang yang nyuruh gue ke sini. Gue kesini atas inisiatif gua sendiri. Nyokap bokap lo sudah berjanji tidak akan memaksakan kehendak mereka lagi, makanya meski kondisi perusahaan sedang kacau mereka tidak mau meminta bantuan lo. Tapi, sebagai sahabat gua nggak mau lo menyesal karena lo nggak bisa membantu orang tua lo mempertahankan perusahaan itu. Dan satu hal lagi yang harus lo tahu, sudah setahun ini bokap lo sakit-sakitan dan sering bolak balik rumah sakit. Jika lo masih memiliki hati lo pasti pasti bakalan datang buat jenguk beliau." Cevan menepuk bahu Angga kemudian meninggalkan sahabatnya tersebut seorang diri sana.


"Sakit? Papa sakit? Kali ini dia tidak berpura-pura sakit hanya untuk memaksaku pulang kan?" pikir Angga.


Entahlah. Pikiran Angga kembali kacau setelah mendengar kabar tentang perusahaan dan orang tuanya. Baru beberapa menit yang lalu dia merasa bahagia karena bisa bertemu dengan Nisa kembali dan menghabiskan waktu bersama wanita dan Daffa. Tapi, kini? Apa dia benar-benar harus meninggalkan usaha yang sudah dirintisnya sejak lima tahun yang lalu dan kembali ke perusahaan untuk membantu orang tuanya?


"Aaaa!" Teriak Angga sambil mengacak rambutnya.


Jika saja kakaknya masih hidup, Angga yakin segala permasalahan yang terjadi akan bisa ia lalui dengan mudah. Tapi sayangnya gara-gara pengkhiatan seorang wanita, kakaknya harus meregang nyawa karena merasa bertanggung jawab kepada perusahaan. Iya, lagi-lagi karena rasa tanggung jawab terhadap perusahaan. Dan kini harus kah ia juga memikul tanggung jawab itu juga, padahal ia sudah berhasil lepas dari jeratan tanggung jawab itu selama lima tahun ini?


Angga memutuskan kembali ke dapur restoran untuk menghilangkan rasa penat di kepalanya. Saat ia berjibaku dengan spatula dan alat-alat dapur lainnya saat itulah ia baru bisa melupakan segala keruwetan yang terjadi di dalam hidupnya.


Senyum kembali terukir di bibir Angga saat melihat kondisi dapur yang masih berantakan tadi. Hatinya sedikit terhibur kala mengingat momen indah yang ia habiskan bersama Daffa dan Nisa tadi. Iya, sekarang Angga semakin menyadari bukan hanya kegiatan di dapur saja yang bisa membuatnya melupakan segala kegundahan di dalam hati, tetapi mengingat senyum Nisa dan Daffa jauh lebih mujarab dari semua kegiatan itu.

__ADS_1


Selesai membersihkan dapur, Angga kembali menemui Cevan di kamarnya. "Cev, gua mau bicara sama lo."


Cevan yang saat itu sedang menelpon seseorang segera menghentikan kegiatannya dan menatap Angga.


__ADS_2