
"Yu, kamu dari mana saja? Kok baru pulang? Kata Mas Bima kamu udah pulang sejak dua jam yang lalu?" tanya Nisa begitu melihat istri kedua dari suaminya itu tiba di rumah.
"Nisa-Nisa, Ayu ini suntuk di rumah terus, baru juga jalan-jalan sebentar sudah ditanyain macam-macam. Jangan mentang-mentang kamu itu istri pertamanya si Bima dan status Ayu cuma masih istri terus kamu jadi seenaknya sama dia. Ingat! Yang seharusnya menjadi istrinya Bima itu si Ayu bukan kamu. Jadi, jangan sok berkuasa," justru Tante Meta yang menjawab semua pertanyaan Nisa dengan panjang lebar.
"Bukan begitu maksud aku, Tante. Aku hanya mengkhawatirkan keadaan Ayu. Aku takut dia kenapa-napa di jalan." Nisa menjelaskan maksud dari pertanyaannya.
"Heleh, nggak usah sok baik. Kalau Ayu kenapa-napa di jalan, kamu seneng, kan?" ucap Tante Meta lagi.
Nisa hanya bisa menggeleng, dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Tante Meta berani berbicara kasar kepadanya. Padahal sebelumnya wanita itu masih terlihat sopan. Mungkinkah ini sifat asli dari Tante Ayu itu?
Kembali Nisa menggeleng, berusaha mengenyahkan pikiran negatif tentang Tante Meta dari kepalanya.
"Ngomong-ngomong Yu, apa yang kamu bawa itu?" tanya Nisa melihat sebuah papper bag besar di tangan Ayu.
"Ini.... "
"Itu baju, Ayu sengaja membelinya karena baju-baju Ayu sudah terlihat usang," kembali Tante Meta yang mewakili Ayu menjawab pertanyaan Tante Meta.
"Sepertinya itu baju dari brand ternama, pasti mahal," ucap Nisa setelah melihat logo papper bag yang ada di tangan madunya itu.
"Cuma 50 juta," jawab Tante Meta.
__ADS_1
"Apa?! 50 juta?!" Nisa tercengang mendengar nominal yang Ayu keluarkan untuk membeli baju. Selama lima tahun menikah dengan Bima, dia saja tidak pernah membeli baju dengan nominal sebesar itu.
"Kenapa? Keberatan?" cerocos Tante Meta. "Ayu ini juga istrinya Bima, wajarlah kalau dia senang-senang dengan duit suaminya."
"Bukan begitu, tapi menghabiskan sebegitu besar hanya untuk membeli baju, bukankah itu sangat disayangkan?"
"Sebentar lagi Ayu ini akan menghadiri acara besar, jadi wajarlah dia membeli baju dengan harga mahal," jawab Tante Meta lagi.
"Acara besar? Acara besar apa itu?" tanya Nisa bingung, setahu dia tidak ada acara apa pun dalam waktu dekat ini, entah itu acara keluarga atau pun acara perusahaan. Tapi, jika itu acara kantor, bukankah dia yang akan menemani Bima, bukan Ayu? Lalu acara besar apa yang Tante Meta maksud? Kembali pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepala Nisa.
"Sudahlah, nanti juga kamu akan tahu sendiri," jawab Tante Meta. "Yu, Tante ke kamar dulu ya. Capek, mau istirahat," pamit Tante Meta kepada keponakannya.
"Iya, Tante. Selamat beristirahat," jawab Ayu kepada Tantenya.
"Tidak ada."
"Kalau begitu aku juga mau ke kamar, mau mencoba baju yang baru saja aku beli." Setelah mengatakan itu, Ayu ke kamarnya di lantai dua.
"Ya Allah, ini kah sifat Ayu yang sebenarnya? Semoga saja hanya ini sifat asli yang ia sembunyikan," gumam Nisa. "Ya Allah berikanlah aku hati yang luas, buatlah agar aku bisa selalu sabar menjalani semua takdir yang sudah Engkau gariskan ini."
Nisa hanya bisa menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Dia kembali duduk di sofa sambil membaca majalah yang berisi tentang artikel kehamilan. Nisa ingin agar kelak ia bisa melahirkan secara normal dan bayi yang ia lahirkan dalam keadaan sempurna dan sehat.
__ADS_1
***
Pukul delapan malam Bima baru pulang ke rumah, Nisa dan Ayu menyambut kepulangannya di depan.
"Mas, aku bawakan tasnya," tutur Nisa setelah mencium punggung tangan suaminya.
"Biar aku saja, Mbak. Aku yakin ada yang Mas Bima mau omongin sama Mbak Nisa." Ayu merebut tas kerja Bima dari tangan Nisa.
Mendengar itu, Nisa menatap suaminya. "Memangnya Mas Bima mau ngomong apa?" tanya Nisa.
"Kita bicarakan ini di dalam," jawab Bima. Dia merangkul istri pertamanya tersebut dan membawanya ke ruang keluarga.
"Mas, sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Nisa lagi.
Bima menatap Ayu dan tantenya sebentar, setelah itu ia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya.
"Mas," panggil Nisa, dia semakin penasaran dengan hal yang ingin dibicarakan oleh suaminya.
"Nis, dengan mempertimbangkan berbagai hal akhirnya aku putuskan untuk.... " Bima menjeda kalimatnya.
"Untuk apa, Mas?" tanya Nisa lagi.
__ADS_1
"Aku berencana melegalkan pernikahanku dan Ayu."
"Apa?!" jerit Nisa. Matanya melebar mendengar keputusan sepihak dari suaminya.